Jumat, 15 Mei 2009

GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA: ALIRAN UTAMA DAN PERKEMBANGANNYA

1. Gereja-gereja Protestan biasanya dipakai untuk Gereja-gereja yang berpisah dari Gereja Katolik Roma sejak Zaman Reformasi abad 16 yang dimotori oleh Martin Luther dan Calvin, dll. Tetapi gereja protestan di Indonesia terdiri dari ratusan organisasi dan setiap gereja mempunyai nama sendiri: kadang-kadang alirannya disebut jelas tetapi kadang-kadang alirannya tidak disebut tetapi apabila ditelusuri asal-usulnya akan jelas alirannya. Semua gereja-gereja di Indonesia mempunyai asal-usul dari Barat, Eropa dan Amerika yang mengutus para penginjil (misionaris) terutama pada abad 19 dan awal abad 20. Para misionaris yang kebanyakan datang dari Belanda, Jerman, dan lain-lain, dan belakangan dari Amerika, mendirikan organisasi gereja dan sekaligus menanamkan ajaran-ajaran gereja asalnya; ajaran-ajaran itu sampai sekarang masih dipedomani oleh gereja-gereja di Indonesia.

2. Jika kita berbicara tentang aliran maka ia harus dibedakan dari organisasi. Tetapi terlebih dahulu mesti dicamkan apa yang disebut aliran dalam konteks gereja/kekristenan. Aliran-aliran di dalam kekristenan ialah ajaran atau paham yang dijadikan pedoman utama di dalam kehidupan gereja. Biasanya ajaran itu dinyatakan di dalam Konfesi (Ajaran Resmi) dan liturgi (tata ibadah). Kalaupun tidak dinyatakan tegas secara tertulis tetapi gereja-gereja itu sering mengakui aliran acuannya. Ada juga yang tidak mengaku aliran tertentu tetapi ajarannya meneruskan aliran terdahulu. Gereja yang satu aliran tidak harus satu organisasi. Mereka terdiri dari banyak gereja tetapi mengikuti aliran yang sama.

3. Para penginjil sejak zaman VOC sebenarnya telah siap memasuki Indonesia tetapi VOC menolak kehadiran mereka karena kuatir di kemudian hari orang-orang yang mereka injili akan memberontak. Lagipula para penginjil datang dari kalangan warga gereja yang tidak terikat kepada kekuasaan negara. Para penginjil diijinkan masuk barulah setelah Belanda mengambil alih kekuasaan dari VOC pada abad 19. Pemerintah Belanda pada waktu itu mengambil sikap netral terhadap agama. Ini membantah anggapan seolah-olah Belanda dengan sendirinya membantu penginjilan. Dan penginjilan tidak dilakukan oleh pemerintah Belanda melainkan oleh badan-badan sending yang dibentuk atas prakarsa warga-warga gereja.

4. Dilihat dari asal-usulnya aliran-aliran kekristenan (di luar Katolik) dihubungkan dengan tokoh-tokoh reformasi (Luther, Calvin) atau terkait dengan aspek-aspek tertentu saja yang diutamakan melebihi aspek-aspek lain, seperti aliran Pentakosta, Karismatik, Kedatangan Kristus kembali, dsb. Aliran Lutheran mengacu pada ajaran Martin Luther dan aliran Calvinis mengacu pada ajaran Johannes Calvin. Aliran Lutheran

5. Untuk lebih jelas kita memaparkan beberapa aliran utama saja sebab tidak mungkin membicarakan semua aliran yang sangat banyak dalam waktu singkat. Di Indonesia gereja-gereja yang beraliran Lutheran hampir semua berkantor-pusat di Sumatera Utara seperti HKBP, HKI, GKPS, GKPI, GKPM, GKLI, GKPA dan GKPPD. Walaupun gereja-gereja ini mengaku Lutheran dan menjadi anggota LWF, tetapi tata ibadah gereja-gereja ini tidak mencerminkan tradisi Lutheran. Ini tidak terlepas dari latar belakang lembaga sending Jerman yang mengutus para penginjil yakni RMG dari lingkungan jemaat yang menganut aliran uniert (aliran gabungan Lutheran dan Calvinis). Sebuah catatan kecil patut diberikan. RMG (VEM, sekarang UIM) berasal dari Jerman yang setelah lama mengurus ijin dari pemerintah baru dapat memasuki wilayah Tapanuli. Kehadiran Kekristenan di Tapanuli (orang-orang pertama yang dibaptis 1861) telah membuka isolasi suku Batak (Tapanuli Utara) yang masih menganut agama suku. Dengan cepat kekristenan merambat dan ribuan orang menerima agama Kristen. Menjadi orang Kristen dahulu dilihat sebagai langkah awal meraih kemajuan sebab penginjilan juga disertai pembangunan kesehatan (klinik, Rumah Sakit) dan pendidikan, baik pendidikan umum, ketrampilan maupun pendidikan untuk calon-calon pelayan gereja (pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, evangelis dan diakones). Banyak orang Batak Toba (juga orang Nias, Simalungun dan Dairi) yang berhasil menjadi pegawai, guru, pedagang, pengusaha dan lain-lain dan bergerak keluar dari Tapanuli dan bermukim di kota-kota di Sumatera utara, Riau, Jawa, Sulawesi,Kalimantan sampai ke Papua dan bahkan sudah banyak yang menetap di luar negeri (Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat). Persebaran orang-orang Batak tidak terlepas dari pengaruh kehadiran agama Kristen di Sumatra Utara. Di Tapanuli dan di luar Tapanuli, gereja-gereja (seperti HKBP) membangun sarana pendidikan, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi (Universitas HKBP Nomensen di Pematang Siantar dan Medan).

6. Sebuah ciri khas dari orang-orang Batak ialah persebaran mereka ke berbagai wilayah disertai dengan pembangunan gereja tempat mereka di samping beribadah tetapi juga tempat persekutuan sosial dan budaya. Sebagian besar merasa kehidupan religius tidak lengkap apabila tidak diikuti kehidupan social- budaya. Sebagian orang Batak di perkotaan pindah ke gereja-gereja aliran lain karena merasa kehidupan religius lebih mantap di gereja-gereja lain. Biasanya mereka kurang mementingkan kehidupan sosial-budaya dan bersifat lebih urban. Sekarang ini orang Batak dan Nias mudah ditemui yakni dengan mencari gereja-gereja asal Sumatra Utara yang berdiri di mana-mana (HKBP, GKPS, GKPI, HKI, GKPA, BNKP, dll). Aliran Calvinis

7. Gereja-gereja aliran Calvin paling luas wilayah penyebarannya mulai dari Jawa sampai Papua. Aliran ini juga terdapat di Sumatra Utara (GBKP). Walaupun tidak ada yang memakai nama Calvinis tetapi hampir semua mengakui menganut aliran Calvinis seperti GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKJ (Jawa), GKP (Pasundan), GKJW (Jawa Timur), GKE (Kalimantan), GMIM (Sulut), GMIT (Timor), Gereja Toraja, GKI Papua, GPIB, dan masih banyak lagi. Umumnya gereja-gereja ini hasil badan sending Belanda (NZG). Gereja-gereja yang menganut aliran Calvinis bergabung di dalam wadah WAR (World Alliance Reformed Church). Sama seperti aliran Lutheran mengacu pada ajaran Luther, aliran Calvinis mengacu pada ajaran Calvin. Karya besar Calvin yang menjadi pegangan pengajaran di lingkungan Calvin ialah Institutio, berisi uraian tentang pokok-pokok iman Kristen.

8. Gereja-gereja beraliran Calvinis sangat giat membangun sarana pendidikan. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi yang didirikan oleh gereja-gereja Calvinis terkenal dengan mutu yang tinggi. Gereja-gereja di perkotaan diorganisir dengan baik dan rapih sehingga banyak orang-orang Kristen yang tadinya anggota-anggota gereja kesukuan pindah ke GKI dan GPIB.

Aliran-aliran yang berlatar-belakang Amerika


9. Apabila kedua aliran terdahulu berawal dari Eropa, maka sejak abad 20 khususnya dekade kedua/ketiga, aliran Pentakosta yang berasal dari Amerika memasuki beberapa kota di Jawa, dan menyebar dengan cepat secara spontan. Pada mulanya anggota-anggota datang dari kalangan yang kurang mendapat perhatian gereja seperti orang Indo-Eropa dan kemudian warga gereja yang tertarik. Bagi aliran Pentakosta dan Karismati, menginjili anggota-anggota gereja lain dianggap wajar saja. Tetapi bagi gereja-gereja yang sudah lebih dahulu hadir ini dinilai tidak menghargai keberadaan gereja lain atau populer disebut perilaku “mencuri domba”. Tetapi tidak boleh disangkal aliran Pentakosta juga aktif menginjili kalangan penganut agama suku atau non-Kristen. Pentakosta dan Karismatik berkembang pesat karena tidak begitu terikat pada stuktur, spontan dan tergantung pada inisiatif seseorang/kelompok. Jumlah gereja pengikut aliran ini sangat banyak dan bergabung di dalam beberapa rumpun organisasi.

10. Sejak dekade 1960-an seiring menguatnya kemajuan industri dan teknologi muncul gerakan karismatik yang sering juga disebut Pentakosta-Baru. Mereka dari kalangan Pentakosta tetapi menilai pentakosta telah menjelma menjadi organisasi gereja yang mapan dan “kehilangan roh”. Pada awalnya Karismatik adalah suatu gerakan, gerakan untuk menghidupkan “roh pembaruan” di dalam gereja dari mana anggota-anggota berasal. Gerakan ini dianggap sebagai reaksi penyeimbang terhadap kehidupan modern yang sangat teknis sehingga kehilangan keakraban persekutuan dan kehilangan spontanitas. Sesuai dengan namanya (Karismatik dari karisma = karunia), sangat mendambakan mempunyai karisma-karisma tertentu seperti bahasa roh (glosolalia), penyembuhan, penglihatan dan mukjizat. Tetapi sama seperti banyak gerakan-gerakan, gerakan karismatik kemudian membentuk gereja sendiri.

11. Sebenarnya masih adalagi aliran-aliran berasal dari Amerika seperti aliran milenaris: mengharapkan kedatangan kerajaan seribu tahun atau kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi umat manusia. Aliran ini terbagi dalam berbagai gereja seperti Gereja Advent dan Saksi Yehuwa. Yang pertama memiliki cukup banyak anggota dan mengelola Rumah Sakit, sekolah dan universitas. Yang terakhir mengutamakan kehidupan kelompok-kelompok yang mempelajari Alkitab dan sangat ulet mengajak orang lain menjadi anggota mereka. Selain itu adalagi kelompok-kelompok (aliran lain) seperti Mormon, Christian Science, Scientologi.

Perkembangan Masyarakat dan Respons Gereja

12. Respon paling nyata dan vokal orang Kristen (Protestan) terhadap perkembangan masyarakat adalah melalui wadah oikumenis, Persekutuan Gerja-gereja di Indonesia (PGI) yang didirikan tahun 1950. Tujuan PGI adalah membentuk Gereja Kristen yang esa di Indonesia. Tujuan ini mencuat karena ada kesadaran umat bahwa perpecahan bukan jatidiri gereja dan tidak lahir di Indonesia melainkan yang dibawa dari negeri pengutus penginjil (Eropa) yang memang sudah berabad-abad hidup di dalam pertikaian karena ajaran. Pendirian PGI tidak terlepas dari semangat oikumenis, suatu gerakan agar di mana saja gereja berada bersama-sama mewujudkan keselamatan di dalam masyarakat melalui pelayanan dan kesaksian.

13. Manifestasi dari kebersamaan gereja-gereja di Indonesia ialah selalu peka merespons setiap perkembangan secara positif, kritis dan realistis. Salah satu respons PGI tampak pada masa Orde Baru yakni terus menerus menyuarakan agar pembangunan benar-benar dinikmati oleh seluruh bangsa. Dan upaya itu tertuang di dalam rumusan GBHN bahwa pembangunan adalah pengamalan Pancasila!

14. Di dalam upaya mempersatukan gereja-gereja, prestasi signifikan dihasilkan PGI tahun 1984 pada Sidang Raya di Ambon yang menerbitkan Dokumen Keesaan Gereja (DKG). Di dalam (DKG) pemahaman dasar tentang berbagai aspek kehidupan bergereja ditetapkan. DKG ini mengungkapkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persekutuan yang dinamis di dalam konteks Indonesia. Kalau DKG dapat diimplementasikan secara konkret akan banyak manfaat kehadiran gereja-gereja bagi masyarakat dan bangsa.

15. PGI cq Litbang PGI menorehkan sejarah yakni sejak 1980-an menyelenggarakan seminar Agama-agama (SAA) secara berkala setiap tahun.Di forum SAA ini para tokoh lintas agama dan masyarakat duduk bersama membicarakan isu-isu penting yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik. Terbangunnya kerukunan di masyarakat kita tidak terlepas dari penyelenggaraan SAA itu.

16. Menurut hemat saya perhatian gereja-gereja saat ini di Indonesia dan di dunia, harus lebih fokus pada globalisasi. Dokumen WCC yang diputuskan di Sidang Raya-nya di Porto Alegre Brazil berjudul Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth (AGAPE). Dokumen ini adalah satu imbauan serius terhadap orang Kristen agar mencari globalisasi alternatif karena gereja-gereja tidap bisa lepas dari panggilan bagaimana menghayati iman di era globalisasi sekarang ini. Ini suatu proyek besar yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat.Merespons globalisasi adalah tugas semua komunitas agar globalisasi tidak memperburuk kemiskinan tetapi membangun kesejahteraan yang adil!

2 komentar:

diskusi mengatakan...

saya kalau ditanya sama teman2 tentang kristen pusing pak!karena gereja yang satu dan yang lain sangat beda bahkan cenderung berlawanan tapi disaat yang sama mengklaim diilhami Roh Kudus,bahkan kalau menilai katolik oh miringnya bukan main

new seven generation mengatakan...

menurut saya
gereja bagaikan sebuat tubuh manusia
yang memiliki jaringan dan tugasnya masing masing ......

dan yang jadi permasalahannya sekarang adanya percampuran doktrin dari semuanya......

secara tidak sarad mereka semua menggikinkan orang lain memakai doktrinnya .......

sehingga dapat dikatakan bahwah warga gereja pun harus tahu masalah sebenarnya ......

adamasukan yang lain ....
sekian pendapat saya
(SL-NSG)(s_liputra@yahoo.co.id)