Senin, 29 November 2010

IBADAH YANG SEJATI

Mg Rogate, 29 Mei 2011

Mazmur 95:1-7

IBADAH YANG SEJATI

  1. Nas ini termasuk adorasi, artinya: perbuatan ibadah, menyembah dan memuja Tuhan, yang hanya ditujukan kepada Allah dan dilakukan dengan rasa takut akan Tuhan serta dalam kesadaran bahwa diri kita sungguh kecil di hadapan-Nya. Adorasi yang dihayati dengan penuh hormat dan cinta serta dimaknai dengan mendalam akan menuntun ybs kepada suatu sujud syukur kepada-Nya serta menyembah tanpa kata. Mazmur ini memanggil kita untuk memastikan bahwa penyembahan dan pujian kita disertai hati yang taat kepada Tuhan.
  2. Suatu kali Soren Kierkegaard menuliskan sebuah perumpamaan tentang masyarakat bebek yang pada suatu hari Minggu pergi ke gereja untuk mendengarkan khotbah. Begitu mereka masuk ke bait suci, ibadah pun dimulai dengan sangat hikmat dan syahdu. Lantas, sang pengkhotbah mulai berkhotbah dengan sangat indah. Dengan penuh semangat, dia berkhotbah tentang Allah yang begitu baik bagi mereka dengan memberikan sepasang sayap sehingga mereka bisa terbang. Dia membuat para bebek sangat terkesan. Dengan mengangkat paruhnya yang panjang dia berkata, “Dengan sayap ini, tidak ada lagi tempat yang tidak bisa kita datangi. Tidak ada lagi tugas yang diberikan Allah yang tidak bisa kita kerjakan. Dengan sayap-sayap kita, kita tidak perlu lagi hanya berjalan kaki sepanjang hidup kita. Kita dapat terbang tinggi di angkasa.” Khotbah itu ditanggapi para bebek dengan sangat antusias dengan berkali-kali menyahut, “Amin!” Pengkhotbah pun menutup khotbahnya dengan kalimat kesimpulan, “Dengan sayap kita, kita dapat terbang sepanjang hidup kita! Kita dapat terbang....! Sambutan, “Amin!” yang sangat luar biasa pun bergemuruh di dalam gereja itu. Semua bebek menyukai ibadah tersebut. Ketika ibadah itu ditutup, semua bebek merasa bahwa pesan khotbah itu sangat jelas dan sangat pasti. Lalu, mereka meninggalkan gereja itu dan pulang ke rumah masing-masing dengan berjalan kaki.
  3. Perumpamaan itu bagi kita mungkin sesuatu yang pantas ditertawakan. Mana mungkin bebek bisa terbang sekalipun punya sepasang sayap? Tanpa bermaksud menghakimi, Soren Kierkegaard hendak mengatakan bahwa kebanyakan orang Kristen dalam hal beribadah adalah seperti jemaat bebek tadi. Kita datang dan meninggalkan gereja dengan cara yang selalu sama, tidak tertantang dan tidak berubah. Ini, katanya, adalah sebuah tragedi karena ibadah yang benar seharusnya melibatkan jawaban atau tanggapan kita sendiri atas karunia Allah dengan memberikan hidup kita sedemikian sehingga Dia mengubah kita dan membuat kita menjadi orang percaya yang lebih baik dari sebelumnya. Ibadah yang benar adalah apabila kita mengalami transformasi, sehingga hidup kita adalah hidup seperti dilukiskan Yesaya 40:31, “Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
  4. Ibadah yang sekadar menjadi rutinitas seringkali berubah menjadi pertemuan sesama manusia saja. Kita bertemu untuk saling membangun atau saling memberikan dorongan. Hal ini tidak salah, tetapi makna ibadah menurut Alkitab jauh lebih dalam dari hal itu. Kita memasuki sebuah ruang ibadah dengan tujuan melakukan suatu ibadah yang layak bagi Tuhan. Dalam Wahyu 4:11 dikatakan, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." William Temple, Uskup Agung Canterbury, pernah mengatakan, “Ibadah adalah penyerahan seantero keberadaan kita kepada Allah.” Dengan kata lain, ibadah adalah respons atau jawaban totalitas keberadaan seorang manusia kepada hakikat dan perbuatan Allah. Ibadah adalah ketika keterbatasan manusia berjumpa dengan karunia Allah yang melimpah, ibadah adalah pertemuan antara hidup kita dengan kehadiran dan kuasa Allah. Dalam ibadah kita mengalami kebenaran Yakobus 4:8 yang berkata: “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
  5. Ibadah yang sejati, itulah yang hendak dipesankan firman Allah kepada kita kali ini. Bagaimana kita dapat berjumpa dengan kasih karunia-Nya di dalam ibadah dan kemudian ditransformasikan dan diubah menjadi murid yang lebih baik? Kita membutuhkan perilaku atau sikap yang layak atau yang seharusnya dalam tiga hal:
  6. Pertama: Sikap yang seharusnya tentang Allah. Dalam ayat 3 nas kita dikatakan, “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.” Ayat ini menggambarkan kemahakuasaan Allah, ketidakterbatasan-Nya. Allah melampaui segala kebesaran yang dapat dikatakan oleh manusia, Dia melampaui segala apa yang bisa kita ungkapkan mengenai Dia. Dalam ayat 5 dikatakan: “Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya.” Dengan kata lain, apabila kita melihat jagad raya ini sudah seharusnya kita tersungkur di hadapan-Nya. Sikap kita yang semestinya mengenai Allah akan memimpin kita kepada sikap yang seharusnya mengenai diri kita sendiri.
  7. Kedua: Sikap yang seharusnya mengenai diri kita sendiri. Dalam Lukas 5 dilukiskan mengenai Simon Petrus yang melaut di Danau Genesaret semalam suntuk namun mengalami “paceklik ikan” dengan tidak mendapat seekor pun. Yesus lalu menyuruhnya melemparkan jalanya ke tempat yang lebih dalam. Simon yang hampir putus asa menjawab bahwa mereka sudah semalam suntuk menangkap ikan dengan hasil yang sia-sia, “Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Lalu, mereka memperoleh jumlah ikan yang sangat banyak. Begitu Petrus mengetahui hal ini, dia sadar bahwa dia berada di hadapan seseorang yang bukan sekadar manusia, tetapi seorang Kristus yang hidup. Ketika Simon Petrus melihat hal itu dia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa"(Luk. 5:8). Menghabiskan waktu di hadapan Allah membuat kita sadar akan diri kita sendiri, membuka mata kita tentang keberdosaan kita, tentang keburukan pikiran dan perbuatan kita sendiri. Berdiri di hadapan Allah yang mahakasih akan memampukan kita melihat hidup kita dengan jernih lagi. Dengan ibadah yang sejati, kita melihat segala hal berdasarkan sudut pandang Allah. Perspektif Allah inilah yang kita peroleh setiap kita sungguh-sungguh beribadah. Sikap yang seharusnya mengenai diri kita sendiri akan menuntun kita kepada sikap yang seharusnya dalam hidup kita sehari-hari.
  8. Ketiga: Sikap yang seharusnya mengenai hidup kita sehari-hari. Ibadah tidak boleh berhenti dengan pengalaman yang mistis saja. Ibadah harus menuntun dan membawa kita kepada pelayanan yang praktis dalam hidup sehari-hari. Oleh karenanya, hidup nyata sehari-hari adalah kesempatan untuk menyembah Allah. Orang yang sungguh beribadah akan mengikuti petunjuk Paulus dalam Roma 12:1-2: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
  9. Dengan demikian, ibadah bukanlah suatu kegiatan rutin sekali dalam seminggu, melainkan suatu gaya hidup atau pola hidup yang kita peragakan dan praktekkan setiap harinya. Ibadah sejati bukanlah ibadah yang selesai ketika ibadah itu berakhir. Allah justru lebih tertarik dengan buah ibadah itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam Yesaya 1:12-17, Dia berfirman: “Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”

AMIN

Rabu, 10 November 2010

Pdt WTP Simarmata MA : Tanpa Wartawan Dunia Ini Gelap Informasi

Pdt WTP Simarmata MA : Tanpa Wartawan Dunia Ini Gelap Informasi

Sumber: http://hariansib.com tanggal 9 November 2010

panitia natal PWI (SIB)
FOTO BERSAMA: Panitia Natal yang audensi foto bersama dengan Ketua PGI Sumut Pdt WTP Simarmata MA, Manapar Manullang, Drs Jumian Situmorang, Drs R Damanik, Drs Eddy M Bukit, Martohap Simarsoit SH, Irwan Ginting SH, Pdt P Silaban dan Pt Sarien Lumbantobing.

Panita Natal PWI Audensi Kepada Ketua PGI Sumut

Medan (SIB)
Ketua PGI Sumut Pdt WTP Simarmata MA menyatakan menyambut gembira perayaan Natal yang akan diadakan PWI Sumut. Ini langkah maju, terlebih kalau disebut ini yang pertama diadakan PWI. Ketua PWI Sumut Drs Mohammad Syahrir yang mendukung kegiatan ini perlu diberi “bintang” dan sampaikan salam dari saya.
Hal itu dikatakan WTP Simarmata yang juga penasehat panitia Natal PWI Sumut saat menerima audensi panitia Natal PWI di Kantor PGI Sumut Jalan Selamat Ketaren, Senin (8/11). Panitia Natal PWI Sumut yang audensi, Manapar Manullang (panitia pengarah), St Drs Jumian Situmorang (ketua), Martohap Sumarsoit SH (wakil ketua), St Drs R Damanik (sekretaris), Drs Eddy M Bukit (bendahara) dan Irwan Ginting SH (Humas), sementara Pdt Simarmata didampingi Plt Sekretaris Pdt P Silaban dan Pendeta mahasiswa Pdt Sarlen Lumbantobing MA.
Sebelumnya, Jumian Situmorang menjelaskan, Natal PWI Sumut direncanakan diadakan 11 Desember 2010 jam 19.00 WIB di Aula Martabe Kantor Gubsu dan diharapkan dihadiri sekitar 1.000 orang dengan thema Natal “Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia”.
Panitia pengarah Manapar Manullang menjelaskan, panitia sudah melakukan audensi ke Pempropsu yang diterima Sekda Propsu Dr RE Nainggolan dan telah banyak menyampaikan arahan dan masukan kepada panitia. Rangkaian acara perayaan juga disampaikan, termasuk permintaan menyampaikan refleksi Natal dan disanggupi Pdt Simarmata.
Tugas wartawan itu bagaikan pahlawan harus menyatakan yang benar walaupun penuh risiko tapi karena memberitakan yang benar pasti dilindungi Tuhan. Dan tugas PWI itu (wartawan) antara lain soal komunikasi. Perayaan Natal juga terkait menyampaikan komunikasi dalam keselamatan dan kabar baik untuk semua orang. Kalau dulu yang digunakan gembala dan kelahiran Yesus ditempat yang sederhana, kata Simarmata.
Dikatakannya, bangsa kita saat ini menghadapi soal yang sangat kompleks antara lain tentang bencana dan kemiskinan. Dalam kemiskinan orang bisa saja merampok bahkan membunuh anaknya sendiri karena kemiskinan dan tak mampu lagi membiayainya. Selain itu, di tengah kemiskinan orang mudah dihasut. Untuk itu perlu upaya pemberdayaan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Tuhan itu memang menciptakan semua baik dan dalam kemajemukan. Justru itu, Ketua PWI Sumut Syahrir yang menghargai perbedaan itu dan mendukung Natal ini maka pemeluk agama lain seperti Hindu, Budha dan lainnya perlu juga di fikirkan untuk menjadikan perayaan sesuai agama masing-masing. Kemajemukan ini perlu dikelola secara baik. Selain perayaan Natal acara Paskah juga perlu diadakan kata Simarmata.
Kita bersyukur, Sumut saat ini masih kondusif. Terkait dengan bangsa kita yang dekat dengan bencana, untuk itu harus ada persiapan dengan membentuk pusat-pusat pengelolaan bencana (krisis center), sehingga kalau ada bencana sudah ada yang menanganinya. Seperti Gunung Pusukbuhit masih diam, namun kita harus tetap memperhitungkannya. Tetapi kita yakin Tuhan menjaga ciptaannya dan sesuai janji-janji Tuhan, kita akan dapat keselamatan.
Pada kesempatan itu, Simarmata juga menyatakan PGI Sumut berterima kasih kepada Pempropsu yang tetap memberi bantuan kepada PGI, sejak Gubernur T Rizal Nurdin dan Gubsu lainnya hingga sekarang ini. Dikatakannya, wartawan itu harus terus kreatif karena tanpa wartawan dunia ini gelap informasi.
MOHON ARAHAN
Pada audensi tersebut Panitia Natal mohon arahan dan petunjuk dari Ketua PGI Wilayah Sumut agar perayaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Jumian menegaskan bahwa perayaan Natal di tubuh PWI Sumut baru pertama kali dilaksanakan di daerah ini, bahkan secara nasional. Untuk itu, panitia mengharapkan dukungan semua pihak, khususnya para tokoh dan ulama.
“Dalam rangkaian Natal ini, Panitia juga mengadakan kunjungan sosial ke berbagai panti asuhan. Direncanakan juga memberi bingkisan kepada keluarga janda PWI Sumut dan warga kurang mampu melalui sinter class,” ujar Jumian.
Ditambahkan, penasehat natal PWI Sumut ini yang terdiri dari DR GM Panggabean, DR RE Nainggolan MM (Sekda Provsu), Drs Rudolf Pardede (Anggota DPD RI), Parlindungan Purba SE, (Anggota DPD RI) dan Rajamin Sirait. (M5/M3/ r)

Pdt WTP Simarmata MA: Kebebasan Beribadah Bukan dari Negara Tetapi Dari Tuhan

Pdt WTP Simarmata MA: Kebebasan Beribadah Bukan dari Negara Tetapi Dari Tuhan

Sumber: http:// hariansib.com tanggal Oktober 18th, 2010

wtp2
Pdt WTP Simarmata MA (nomor 2 dari kanan) menerima Cinderamata bersama pembicara lainnya dari NU dan Muhammadiyah pada acara Talk Show Lintas Agama dan Generasi di Yogyakarta 13 Oktober 2010.

Talk Show Lintas Agama di Yogyakarta

Yogyakarta (SIB)
Kurikulum di Sekolah perlu ditinjau ulang tentang hal pemahaman kemajemukan bangsa agar sejak awal generasi muda bangsa menghargai kemajemukan dan perbedaan yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia.
Perlu rekonstruksi pemahaman pluralitas. Negara Republiik Indonesia dibangun atas atas kemajemukan. Hal ini pula sudah dijamin dalam UUD 1945 dan Pancasila. Karenanya kemajemukan bukan sebuah ancaman. Bahkan kemajemukan dan perbedaan adalah awal dari keindahan dan kesemarakan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Hal tersebut disampaikan Pdt WTP Simarmata MA di Yogyakarta (9/10) dalam sebuah Talk Show Lintas Agama dan Generasi di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Pemuda HKBP Yogyakarta. Hadir sebagai pembicara pada acara tersebut adalah Pdt WTP Simarmata MA, DR Zainuddin dari Nahdatul Ulama dan Inayah Rohmaniyah SAg MHum MA dari Muhammadiyah keduanya adalah Dosen Universitas Negeri Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Diskusi dan tanya jawab pada saat itu sangat tajam dan bersahabat penuh tolerasi dan rasa kekeluargaan sebagai sesama anak bangsa dihadiri sekitar 300 lebih mahasiswa dan pemuda, dosen, pemuka masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat dan agama.
Lebih jauh Pdt Simarmata menegaskan bahwa negara kita bukan negara agama dan bukan pula negara sekuler. Karenanya negara dan pemerintah memiliki tugas dan tanggungjawab bahkan boleh disebut negara wajib melindungi warganya dalam menjalankan ibadahnya. Kebebasan beribadah bukan dari negara apalagi dari pemerintah, sebab kebebasan itu sendiri adalah bersumber dari Tuhan yang Maha Pencipta itu. Pdt WTP Simarmata MA sangat menghargai kerukunan umat dan toleransi beragama di Yogyakarta di mana tokoh-tokoh masyarakat lintas budaya hadir di dalam gereja berbicara bersama bagaimana membangun bangsa hari ini dan ke masa depan. Kami sendiri duduk di depan altar gereja berbicara dengan baik dan tenang dipandu oleh Moderator Ahmad Nyarwi MSi Dosen Ilmu Komunikasi UGM. Hampir jarang ditemukan hal seperti itu.
Menurut Inayah Rohmaniyah MHum MA akar masalah yang sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia lantaran terdapat perbedaan dalam memahami ajaran agama sehingga menghasilkan intepretasi yang berbeda serta adanya kepentngan kepentingan tertentu yang melatarbelakanginya seperti politik dan ekonomi. Sebagian besar yang terlibat dalam kerusuhan tersebut adalah pemuda. Untuk itu para pemuda perlu mendalami lebih tajam lagi sejarah perjuangan bangsa dan sejarah berdirinya bangsa ini. NKRI berdiri bukanlah perjuangan dari satu agama, suku atau budaya.
Dr Zainuddin mengemukakan jika saat ini masih banyak terjadi kerusuhan atas dasar perbedaan yang ada berarti kita belum siap berbeda. Kehadiran kita yang berbeda seharusnya diarahkan kepada keharmonisan.
Kehadiran Pdt WTP Simarmata MA di Yogyakarta adalah dalam rangkaian kunjungannya sebagai Ketua Umum PGI Wil Sumut dan sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP menghadiri berbagai acara seperti Dialog antar umat beragama, pembinaan pelayan HKBP dan Majelis Jemaat.
Pdt Simarmata juga menghadiri acara Jubileum 25 tahun Pdt Monang Silaban STh dan juga Peluncuran Buku 25 Tahun Pelayanannya. Dalam buku tersebut banyak dimuat peran Harian SIB yang telah membantunya dalam memperjuangkan pembangunan gereja HKBP di Binjai. Dalam buku tersebut diucapkan banyak terimakasih kepada DR GM Panggabean atas dorongan dan dukungan yang telah diterima oleh Pdt Monang Silaban selama menjabat Praeses HKBP Distrik Langkat. (R6/s)

Minggu, 10 Oktober 2010

Panitia Natal PWI Sumut 2010 Terbentuk

Panitia Natal PWI Sumut 2010 Terbentuk

sumber http://hariansib.com pada tanggal 7 Oktober 2010

Medan (SIB)
Panitia Perayaan Natal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sumut terbentuk. Rapat pembentukan Panitia Natal yang dilaksanakan di Gedung PWI Cab Sumut, Sabtu (2/10), dihadiri Ketua PWI Cab Sumut Drs M Syahrir, Wakil Ketua Zulkifli Harahap, Zul Ali Marbun, dan Panitia Pengarah Manapar FT Simanulang. Sedang pelaksanaan Natal ini direncanakan Sabtu, 11 Desember 2010.
Ketua PWI Cab Sumut Drs M Syahrir mengatakan, pelaksanaan perayaan Natal tahun 2010 ini, selain mendekatkan diri kepada Tuhan, yang dijadikan sebagai alat perekat kekeluargaan di kalangan PWI. Dengan adanya perayaan Natal ini rasa kebersamaan di tengah keluarga besar PWI terus semakin terjalin dengan baik tanpa membeda-bedakan agama, etnis, kelompok dan standart sosial.
“Mari kita tingkatkan rasa kesetiakawanan, solidaritas, walaupun sesama wartawan berbeda kepercayaan,” ujar M Syahrir seraya mengatakan PWI Cab Sumut mendukung sepenuhnya kegiatan perayaan Natal ini. Untuk itu jangan disia-siakan kesempatan ini, perbuatlah kegiatan Natal ini menjadi sumber kasih yang dapat dirasakan semua orang, khususnya bagi orang yang kurang mampu.
Sementara itu, Ketua Panitia St Drs Jumian Situmorang mengucapkan terimakasih kepada Ketua PWI Cab Sumut atas dukungannya yang begitu besar. Menurutnya, PWI Cab Sumut mencatat sejarah pertama kali merayakan Natal sejak berdiri PWI di Sumut.
“Dalam hal ini, kita semua wartawan anggota PWI Cab Sumut mengapresiasi atas dukungan M Syahrir sebagai Ketua PWI Cab Sumut terhadap pelaksanaan Natal ini,” ujarnya.
Susunan Panitia Perayaan Natal PWI Sumut 2010 antara lain Pelindung, Gubsu H Syamsul Arifin SE, Pangdam I/BB, Ketua DPRD Sumut, Kajatisu, Kapoldasu, dan para walikota/Bupati se-Sumut. Sedang penasehat yakni DR GM Penggabean, Drs Rudolf Pardede (DPD RI), Pdt WTP Simarmata MA (Ketua Umum PGI Sumut), DR RE Nainggolan MM (Sekdaprovsu), JA Fernandus (PGI Sumut), Ferdinand Simangungsong, Parlindungan Purba SH MM (DPD RI), Ir JB Siringo ringo, Rajamin Sirait SE. Panitia Pengarah yakni Manapar FT Simanulang (SIB) dan Drs Baldwin Silitonga (Ka RRI) serta penanggungjawab Ketua PWI Cabang Sumut dan Ketua DKD Cabang Sumut.
Ketua Panitia St Drs Jumian Situmorang (Hr Perjuangan), Wakil Ketua Martohap Simarsoit SH (SIB), Sekretaris St Drs Redihman Damanik (Hr Gaya Medan), Wakil Sekretaris Halomoan Samosir SP (Hr Perjuangan), dan Bendahara Drs Eddy Madyia Bukit. Seksi kerohanian St Sarsin H Siregar SE (Medan Bisnis), Seksi Dana : Anton Penggabean (Koordinator-SIB), Drs Hendri Simon Matondang (Hr Mandiri), Drs Tohap Simamora (Gebrak), Drs Maju Manalu (Medan Pos), Drs Tanda Monang Pasaribu (SIB), Drs Frans Sihombing (SIB), Drs Duga Munthe (Metro 24), Ir Parluhutan Simarmata (SIB), Fredy Hutapea (RRI), Drs Carles Daulay (Pos Kota), Firdaus Perangin-angin (SIB).
Seksi hiburan yakni Idris Pasaribu (Koordinator-Analisa), Wesly Arifin Marpaung (Mimbar Umum), Seksi Pengerahan Massa Drs Amson Purba (Koordinator-Perjuangan), Ferry Lumban Tobing SPT (RRI), lala Zanolo Zebua (Mimbar Umum), Seksi Keamanan Josmarlin Tambunan (Koordinator-Medan Pos), Gaja Sibarani (SIB), Mangampu Sormin (Pos Metro), Bona Saut Marihot (Mimbar Umum).
Seksi Humas/Dokumentasi Irwan Ginting SH (Koordinator-Andalas), Drs Hendri Sianturi (Deli TV), Serasi Sembiring (Warta Indonesia Baru), Seksi Perlengkapan Drs Tumpal Sinaga (Koordinator-RRI), Tunggul Sihite (TVRI, Horas Pasaribu (SIB), Seksi Konsumsi Nelly br Hutabarat (Koordinator-SIB), Lenny Sembiring (TVRI), Tania Depari (Metro Medan), dan Eva Rina Pelawi (SIB). (rel/M3)

Kamis, 17 September 2009

Serah Terima Jabatan Ketua Rapat Pendeta HKBP

Pearaja, 17 September 2009,
Bertempat di Ruang sidang Kantor Pusat HKBP telah berlangsung serah terima jabatan (sertijab) Ketua Rapat Pendeta HKBP periode 2004-2009 dari Pdt Dr Jamilin Sirait kepada Ketua Rapat Pendeta HKBP Periode 2009-2013 Pdt WTP Simarmata, MA. Diawali dengan ibadah dan doa yang dipimpin oleh Pdt Same Siahaan, STh (Sekretaris KRP). Acara dilanjutkan dengan pembacaan berita acara serah terima oleh Pdt Donald Sipahutar,STh (Ka. Biro Personalia ) dan penandatanganan berita acara yang di saksikan langsung oleh Pimpimnan HKBP antara lain Sekretaris Jenderal HKBP, Kadep Diakonia HKBP serta beberapa Kepala Biro dan Staf Kantor Pusat HKBP. Biv Sentiria br Sitorus yang mewakili seluruh Staf dan pegawai Kantor Pusat HKBP sangat berekesan dengan adanya acara serah terima ini.

Sertijab_KRP3.jpg

Ketua Rapat Pendeta yang lama menyerahkan berkas berita acara kepada Ketua Rapat Pendeta yang Baru disaksikan Sekretaris Jenderal HKBP.

Pdt Dr Jamilin Sirait menghimbau agar KRP menjadi Pembina para Pendeta HKBP yang mengalami masalah di dalam pelayanannya. kepada KRP yang baru agar senantiasa memberikan penyadaran kembali arti Tohonan Kependetaan kepada para Pendeta HKBP, karena pelayanan Pendeta HKBP yang baik akan membuahkan hasil yang baik juga bagi persekutuan dimana Pendeta tersebut melayani.

Sertijab_KRP4.jpg

Poto : Kepala Departemen Diakonia, Kepala Departemen Koinonia, Ketua Rapat Pendeta Periode 2009-2013, Sekretaris Jenderal, diabadikan pada acara serah terima jabatan KRP.

Selanjutnya Pdt WTP Simarmata, MA menyampaikan, Konfessi dan pelaksanaan Rapat Pendeta HKBP yang 1 x 4 tahun menjadi 1 x 2 tahun di amandemen. Banyak saat ini Pendeta HKBP tidak dapat menafsirkan Alkitab dalam kerangka sosial. Hal ini sangat dirasakan adanya pelayanan pendeta hkbp yang kurang antusias dengan keadaan yang terjadi pada sekelilingnya (misalnya kejadian Bencana Alam), dan juga minat membaca para pendeta yang sangat rendah, adapun bacaan yang dibaca bukan sebagai penunjang pelayananannya. Pada saat Bimbingan dari pimpinan HKBP yang dibawakan oleh Ka Dep Diakonia HKBP Pdt Nelson F Siregar,ST menghimbau agar ditingkatkan kembali "Parhahamaranggion" sesama Pendeta HKBP. Perlu juga di ingat bahwa KRP harus benar-benar dapat bekerja sama dengan Pucuk Pimpinan HKBP. Selama ini perubahanlah yang menentukan kemandirian Gereja itu bukan lagi gereja yang menentukan perubahan tersebut. Selamat bertugas kepada KRP HKBP yang baru dan Terima Kasih kepada KRP yang lama atas pengabdiannnya selama 4 tahun.

(Sumber: www.hkbp.or.id)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu Lantik Pdt WTP Simarmata MA Sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP

Sipoholon (SIB)
Ephorus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pdt Dr Bonar Napitupulu melantik Pdt WTP Simarmata MA sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP Periode 2009-2013, hasil pemilihan Rapat Pendeta di Auditorium Seminarium Sipoholon, Taput, Jumat (7/8).
Pelantikan dilaksanakan dalam kebaktian bersama sekaligus penutupan Rapat Pendeta yang dihadiri 1.300-an Pendeta dari dalam dan luar negeri. Suasana kebaktian berlangsung hikmat dan penuh suka cita.
Pdt Debora Sinaga MTh dalam khotbahnya yang mengangkat nats Efesus 3:14-21 mengatakan, Paulus berada di dalam penjara bukan karena melakukan kejahatan, tetapi karena memberitakan firman Tuhan. Saat itu Paulus membuat surat ke Efesus dan ada 5 permintaan doa Rasul Paulus kepada umat Kristen; Pertama, supaya dikuatkan di dalam Roh Kudus. Kedua, agar Kristus berdiam di dalam diri umat Kristen. Ketiga, agar kasih setia tumbuh di antara jemaat, Keempat, agar umat tidak putus asa. Dan kelima, umat dipenuhi Roh Kudus.
Dalam khotbahnya itu, Pdt Debora mengajak umat agar memberikan perhatian serius dan mendoakan para saudara-saudara yang berada di Rutan Tanjung Gusta hanya karena memperjuangkan Propinsi Tapanuli. Menurutnya, orang-orang yang memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli jangan dijadikan sebagai kejahatan politik.” Kita menginginkan berdirinya Propinsi Tapanuli. Namun saat ini banyak kuasa-kuasa kegelapan. Untuk itu kita harus tetap mengandalkan kuasa Tuhan,” katanya.
Dalam doa syafaat yang dipimpin Pdt Sarlen Tobing, juga mendoakan agar Pejuang-pejuang Protap yang ditahan mendapat kekuatan, dan perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli dapat terwujud.
Sementara itu, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu dalam kata sambutannya mengatakan, Ketua Rapat Pendeta yang baru supaya benar-benar bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan tetap mempertahankan jati diri HKBP.
“Marilah kita para Pendeta bekerjasama dalam kasih untuk melayani HKBP, agar HKBP yang didirikan Tuhan ini tetap sebagai HKBP yang sebenarnya,” ujar Ephorus.
Sementara itu, sebelumnya Pdt WTP Simarmata mengucapkan banyak terima kasihnya kepada seluruh peserta rapat yang telah memberikan kepercayaan kepada dirinya sebagai Ketua Rapat Pendeta periode 2009-2013. Ke depan pelayanan terhadap para pendeta akan semakin ditingkatkan.
Ephorus pada kesempatan itu juga memberikan cendramata kepada ketua yang lama Pdt Dr Jamilin Sirait. Kebaktian juga diisi dengan acara perjamuan kudus dipimpin Pdt Debora Sinaga, Pdt WTP Simarmata duduk sebagai Ketua Rapat Pendeta setelah mengungguli Pdt BM Siagian dalam perhitungan suara yang dilaksanakan dua putaran. (M19/m)

Jumat, 29 Mei 2009

PENDETA HKBP TERPANGGIL MENINGKATKAN KEBERSAMAAN TERHADAP SESAMA PARTOHONAN DAN MEMBERDAYAKAN WARGA JEMAAT MENJADI BERKAT DI TENGAH GEREJA, MASYARAKAT

1. Judul di atas adalah sub-tema Rapat Pendeta HKBP 2009. Sedangkan tema Rapat Pendeta tahun 2009 ini “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Rapat Pendeta di Tingkat Distrik tahun 2009 ini diselenggarakan di saat bangsa kita telah merampungkan Pemilu Legislatif dan mempersiapkan Pilpres. Perhatian masyarakat jelas-jelas sedang tertuju sepenuhnya pada Pilpres berikut semua kegiatan kampanye para Capres dan Cawapres serta Tim Sukses masing-masing. Bukan tidak mungkin organisasi-organisasi, baik sosial, budaya dan keagamaan akan terseret perputaran arus eforia Pilpres. Di sisi lain keberadaan kita sebagai bangsa sebenarnya masih prihatin. Pertama, krisis global belum sepenuhnya berakhir. Banyak perusahaan atau badan usaha yang tutup atau gulung tikar. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan sementara tidak sedikit orang kuatir terkena PHK. Jutaan orang mengais rejeki apakah dengan menjadi pedagang kecil, asongan, pekerja harian dan pemulung. Mungkin bagi kelompok-kelompok ini suasana Pilpres sebagai pengalih perhatian dari kesukaran hidup. Kedua, kesehatan masyarakat sedang terancam, baik oleh virus H1 N1 yang popular dengan sebutan flu babi padahal flu burung masih menjadi ancaman. Ini tidak lain pertanda kehidupan umat manusia akibat kerusakan lingkungan hidup dan sangat rentan terhadap ancaman virus. Ketiga, kerukunan hidup antar umat beragama masih merupakan masalah serius. Bulan Mei ini kita (kembali) dikejutkan oleh berita pencabutan IMB gedung gereja HKBP di Cinere oleh Walikota Depok. Kita tahu ini hanya salah satu peristiwa hambatan yang dialami oleh gereja-gereja di Indonesia kendatipun SKB 1969 telah diganti Peraturan Bersama Menag dan Mendagri 2006. Kita mendapat kesan pemerintah mengambil “sikap aman” dengan membiarkan masyarakat menghadapi sendiri masalah pelanggaran HAM. Pemerintah mengambil “sikap aman”dengan membiarkan sekelompok orang menutup atau merusak rumah ibadah, menghancurkan warung-warung dan melakukan razia. Bahkan ketika terjadi musibah rakyat seperti dibiarkan berjuang sendiri. Di mana peranan pemerintah menegakkan hukum dan mengayomi masyarakat seperti digariskan di dalam undang-undang?

2. Gereja HKBP adalah gereja yang paling tersebar. Gereja HKBP terdapat di berbagai kota dan pedesaan di seluruh Indonesia. Bidang pekerjaan yang ditekuni anggota HKBP boleh dikatakan hampir di semua bidang. Berarti dinamika kehidupan gereja HKBP amat beragam sesuai dengan perkembangan tingkat daerah dan nasional. Oleh sebab itu HKBP mesti mengembangkan sikap kritis di semua aras dengan membiasakan diri berdiskusi tentang berbagai gejolak/isu yang berkembang di masyarakat baik nasional maupun internasional.

Pemberdayaan Warga

3. Zaman kita sekarang sejak akhir abad 20 dan di awal abad 21 disebut era globalisasi. Ciri khas era ini adalah dominasi ekonomi oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang merambah keseluruh dunia. Ada beberapa faktor yang mendukung: a. Kemajuan teknologi khususnya elektronik; b. Sistem yang membuat semua terhubung dan c. ideologi neoliberal yang mengutamakan persaingan dan pasar bebas. Akibatnya, banyak usaha tradisional tersingkir, jutaan orang tergusur dari tanah leluhurnya akibat eksploitasi tanpa batas atas sumber alam sehingga kerusakan lingkungan hidup dan proses pemiskinan sedang berlangsung di mana-mana. Dokumen WCC yang berjudul AGAPE (Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth, diterbitkan di Sidang Raya Desember 2006 di Puerto Allegre mencatat; “Kita berhadapan dengan penderitaan, kesenjangan ekonomi dan sosial yang sangat besar, kemiskinan yang hina papa dan penghancuran hidup yang diakibatkan model neoliberal globalisasi ekonomi” (Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi, Jakarta; PMK HKBP 2008, h.7). Data menyedihkan juga dipaparkan seperti 1.5 milyar penduduk dunia, kebanyakan perempuan dan anak-anak, hidup dengan kurang 1 dollar AS perhari, dan 24.000 orang perhari meninggal akibat kemiskinan dan kurang gizi (h.3-4). Kita mesti bertanya berapa orang dari angka itu warga gereja dan berapa orang Indonesia?

4. Pemberdayaan warga gereja harus dilihat dalam perspektif pemberdayaan rakyat yang nota bene sedang menderita kemiskinan, kurang gizi dan daya beli makin lemah. Di samping itu pendidikan cenderung menjadi komoditi mahal akibat berlakunya BHP (Badan Hukum Pendidikan). Orang juga hidup dalam rasa cemas takut kehilangan pekerjaan. Untuk itu gereja perlu: memperhatikan kecenderungan perkembangan masyarakat. Setiap perubahan sekecil apapun di sekitar jemaat perlu diperhatikan. Yang paling penting para partohonan mengembangkan sikap terbuka: terbuka terhadap kebutuhan akan perubahan, terbuka untuk menerima masukan dan terbuka untuk kerjasama dengan semua pihak, organisasi dan kelompok demi upaya pemberdayaan rakyat.

5. Pemberdayaan tidak sama dengan memperjuangkan peningkatan hidup rakyat melainkan bersangkut paut dengan penyadaran rakyat tentang realitas dan mendorong mereka menemukan solusi. Mereka yang mencari solusi bertitik tolak dari pengalaman: mendiskusikan pengalaman, menyelidiki akar persoalan dan bersama-sama merumuskan langkah (aksi) untuk perubahan. Gereja/pelayan merupakan mitra warga dalam mengatasi persoalan kehidupan. Oleh karena itu para pendeta , guru, diakones, bibelvrouw, evangelis dan penatua, sudah seharusnya membekali diri dengan kemampuan analisis sosial. Namun yang paling utama para partohonan mesti memiliki dan mengembangkan spiritualitas yang memihak rakyat/warga yang menderita, bukan malah memihak pada penguasa dan pengusaha yang sering menindas kaum lemah.

Menjadi berkat

6. Menjadi berkat berarti komunitas Kristiani, jemaat, orang Kristen, adalah bagian integral masyarakat dan bangsa dan warga negara, untuk menjadi elemen yang mensejahterakan rakyat. Kita harus merupakan solusion maker bukan problem maker, yang mampu aktif untuk mengembangkan kehidupan masyarakat, kehidupan yang adil dan makmur. Orang Kristen dipanggil sebagai garam dan terang dunia (Mat.5:13-16); berarti kita dalam posisi unggul, posisi pengambil inisiatif, kritis dan partisipatif. Dengan kata lain kita tidak ikut arus dan tidak ikut-ikutan.

7. Panggilan menjadi berkat akan efektif bila kita peka terhadap isu yang sedang berkembang di dalam kehidupan bangsa. Gereja ditempatkan Tuhan di dalam masyarakat agar masyarakat berubah ke arah yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Penegakan HAM dewasa ini sangat mutlak diperlukan untuk membangun masyarakat. HAM tidak terlepas dari demokrasi sebagai sistim sosial-politik dan kita harus turut aktif menegakkan HAM dan membangun demokrasi agar tidak ada kelompok yang ditindas untuk kepentingan kelompok tertentu.

Kebersamaan

8. HKBP mungkin gereja yang paling banyak mempunyai pelayan tahbisan. Secara teoritis dengan begitu banyaknya pelayan tahbisan, pelayanan akan maksimal. Tetapi kesan kita banyaknya pelayan tahbisan tidak menambah efektivitasnya dalam dinamika kegiatan gereja. Mengapa? Pertama, pelayan kita masih fokus pada kebaktian /ritual. Semua pelayan apakah pendeta, guru huria, diakones, bibelvrouw, evangelis dan sintua diarahkan untuk kebaktian yang intinya khotbah. Kedua, pelayan kita masih bersifat klasik (kategorial) padahal di sekitar gereja banyak buruh, pedagang, sopir dan kondektur. Apakah kategori ini tidak perlu dilayani? Kita mempunyai evangelis dan diakones tetapi mereka hanya melayani “internal” gereja. Evangelis dan diakones seharusnya lebih mengutamakan pelayanan “eksternal”.

9. Para partohonan mesti “berbeda” yang satu dari yang lain. Masing-masing pelayan mengutamakan jenis pelayanan yang mereka pelajari. Yang kita lihat diakones mengajar sekolah minggu, bibelvrouw mengajar pemuda dan sintua melakukan kegiatan diakoni. Kebersamaan akan efektif apabila setiap partohonan diarahkan bekerja menurut bidang yang khusus untuk mereka: pelayanan diakones sesuai dengan bidangnya, evangelis sesuai dengan bidangnya juga, dll. Kalau tidak ada perbedaan yang jelas untuk apa ada enam pertohonan. Mereka akan maksimal melayani apabila mereka mengembangkan pelayanan sesuai bidangnya masing-masing, sudah tentu dibarengi koordinasi yang terpadu. Pelayanan yang maksimal dan koordinasi memerlukan peraturan yang rinci tentang tugas masing-masing dan garis akuntabilitas yang jelas di dalam AP-HKBP. ______________________________________________________________

Jumat, 15 Mei 2009

HKBP MASA DEPAN: GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN TRANSFORMASI

artikel ini dibawakan di seminar PI DEL

VISI DAN MISI


Pemberdayaan warga untuk transformasi adalah roh dari visi dan misi HKBP (Efesus 4:11-14; Markus 16 :15-18). Visi dan Misi HKBP dalam Aturan dan Peraturan 2002 hanya akan menjadi jasad tanpa roh ketika warga jemaat berada dalam posisi sebagai objek pelayanan yang sepenuhnya bergantung kepada pelayan. HKBP masa depan harus komit memenuhi panggilannya untuk memberdayakan warga jemaat membawa perubahan sosial (transformasi sosial) di tengah-tengah arus globalisasi. HKBP baru benar-benar menjadi gereja yang berkembang, inklusif, dialogis dan terbuka serta mampu mengembangkan kehidupan yang bermutu, apabila persekutuan, kesaksian dan pelayanannya digerakkan oleh roh pemberdayaan yang membawa perubahan sosial di tengah-tengah abad 21. Mutu pelayanan HKBP diukur dari kemampuan warga jemaat membawa perubahan bagi terciptanya kehidupan sosial dan lingkungan yang adil dan penuh damai sejahtera. HKBP harus memasuki lapangan sosial ekonomi masyarakat dan berperan di dalamnya membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil, sejahtera dan religius. Dengan demikian maka HKBP menjadi Gerakan Pemberdayaan dan Transformasi Warga (Movement for People Empowerment and Transformation).

PRINSIP DAN KOMITMEN
Mengasihi, melayani dan kepedulian adalah prinsip yang mesti dipegang teguh oleh semua warga dan pelayan dalam setiap usaha mewujudkan visi dan misi tersebut (Yohanes 3:16; Markus 10:45; 1 Korintus 16:14; 2 Korintus 6:1-10; 9: 10-15). Pelayanan senantiasa harus digerakkan oleh kasih. Pelayanan yang tidak beralaskan kasih pada akhirnya menghasilkan arogansi kekuasaan. Kasih dan pelayanan adalah prinsip yang menentukan keberhasilan program-program pemberdayaan untuk perubahan sosial dan lingkungan. Implikasinya adalah semua program dalam bidang persekutuan, kesaksian dan pelayanan HKBP harus didesain sedemikian rupa berdasarkan pemahaman teologis eklesiologis terhadap tantangan aktual gereja abad 21. Sudah waktunya bagi HKBP keluar dari jebakan aktivitas formal dan rutinitas seremonial, yang hanya akan memperkuat struktur dan melemahkan kemandirian jemaat. HKBP harus fokus kepada pelayanan berdasarkan kasih Kristus, sehingga seluruh jemaat mampu mengaktualisasikan pelayanan yang benar-benar menyentuh, sebagai implementasi pertumbuhan iman, kasih dan pengharapan. Sudah waktunya HKBP menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pelayanan yang menjangkau mereka yang mengalami situasi yang sulit, seperti mereka yang menjadi korban aneka kekerasan dan ketidakadilan, ODHA, akibat kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup dan pemanasan global. The Outreach Ministry harus mendapat perhatian, khususnya melayani sektor yang belum dan tidak tersentuh oleh pelayanan HKBP. Sangat dibutuhkan redefinisi dan reposisi peran sosial HKBP, agar HKBP tidak hanya mengurusi soal-soal yang terkait dengan spiritual sajaa, tetapi juga soal-soal ekonomi, politik, pendidikan dan kebutuhan masyarakat lainnya, agar kehadiran HKBP memiliki dampak sosial.

INTEGRITAS INSTITUSIONAL
Gerakan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan HKBP mesti dilihat secara utuh sebagai organisme spritual dan institusional di tengah-tengah realitas dunia, dan Indonesia khususnya. Sejarah institusional HKBP harus tetap memiliki integritas sebagai tubuh Kristus yang sehat, kuat dan lincah melayani di tengah-tengah arus globalisasi. Oleh karena itu, Aturan dan Peraturan HKBP mestinya menjadi landasan yang kokoh bagi setiap program pemberdayaan warga dan perubahan sosial. Aturan dan Peraturan yang berorientasi pemberdayaan dan transformasi warga jemaat ditandai dengan : a) Peningkatan peran serta dan ruang gerak warga jemaat dalam berbagai pelayanan; b) Identifikasi dan pengembangan talenta dan potensi warga dan pelayan; c) Perluasan pendelegasian wewenang yang jelas dan otonomisasi unit-unit pelayanan berbasis kebutuhan real dan; d) penguatan jejaring dan pelayanan secara sinergis dan akuntabel, baik di tingkat nasional maupun internasional, e) penghargaan kepada keadilan gender dan lingkungan hidup dengan penghargaan kepada segala yang bernafas. Fenomena yang memuka akhir-akhir ini adalah jemaat melayani struktur, padahal sebaiknya adalah struktur yang harus melayani jemaat. Fenomena itu dapat dilihat secara kasat mata di tingkat Huria, Ressort, Distrik, Lembaga dan bahkan di tingkat Hatopan (Pusat), di mana unsur pimpinan di setiap level tampil sebagai master of ceremony, professional (monolog), sementara jemaat diposisikan sebagai audiences yang dermawan dan pantas membayar (dan tidak perlu diapresiasi?). Secara teoretis (dalam kertas) Aturan dan Peraturan HKBP 2002 diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan akselerasi pengambilan kebijakan strategis, dengan menghapus Lembaga Majelis Pusat, dan membentuk Rapat Pimpinan (terdiri dari Ephorus, Sekretaris Jenderal dan ketiga Kepala Departemen) serta Majelis Pekerja Sinode (MPS). Kenyataannya tidak demikian sebab konsep kepemimpinan yang flat belum sesuai dengan harapan, demikian juga dari segi fasilitas kantor maupun dari efektivitas pelayanan ketiga departemen. Beberapa indikasi dapat disebutkan, misalnya a) hingga periode kepemimpinan 2004-2008 akan berakhir beberapa bulan lagi, pembenahan fasilitas pendukung pelayan ketiga departemen belum juga dapat diwujudkan; b) Secara struktural posisi kelima piminan HKBP perlu diatur melalui uraian tugas yang jelas; c) Aturan dan Peraturan HKBP 2002 sama sekali tidak menuntut adanya Sinode Kerja untuk mengevaluasi kinerja para pimpinan; d) MPS memiliki sejumlah kelemahan institusional yang pada gilirannya tidak efektif menjadi perangkat penyambung aspirasi jemaat di setiap distrik, serta tidak memiliki wewenang pengawasan dan evaluasi terhadap program hatopan di HKBP. Integritas institusional HKBP sebagi perwujudan Tubuh Kristus perlu dibangun secara sehat dan kritis dan memperhatikan dimensi-dimensi religius dalam bidang Koinonia, Marturia dan Diakonia. Sebab, gereja mula-mula pun bertumbuh pesat dan pelayanannya menjadi sedemikian kuat dan luas, bukan oleh karena figur dan rekam-jejak para pelayan yang telah sekian lama bersama-sama dengan Kristus di dalam berbagai pelayanan. Kesuksesan tu dicapai oleh integritas dan komitmen orang-orang kudus melanjutkan (mengerjakan) apa yang diprakarsai oleh Yesus dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan-Nya. Integritas dan komitmen seperti itu hanya akan diperoleh apabila Aturan dan Peraturan memberikan ruang gerak yang luas bagi para pelayan dan warga jemaat untuk selalu bersikap kritis terhadap tradisi dan pola-pola kehidupan beragama yang legalistik-fundamentalis. Artinya, gereja harus senantiasa dibaharui dengan mengapresiasi perubahan zaman serta meratifikasi konsep-konsep teologis-eklesiologis yang berkembang dalam rangka pembangunan kerajaan Allah di tengah-tengah realitas dunia (Kis Rasul 6:1-7). Integritas institusional perlu dibenahi melalui pemberdayaan struktural dalam arti merevitalisasi kinerja berbagai lembaga dan unit-unit pelayanan yang ada, sehingga tujuan berdirinya lembaga dan unit-unit kerja itu dapat diaktualisasikan secara optimal. Akhir-akhir ini, ada kecenderungan bahwa Lembaga, Yayasan dan Biro menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tetapi apakah lembaga atau unit kerja itu setia membawa misi gereja bagi pembangunan kerajaan Allah atau tidak, agaknya sudah diabaikan. HKBP masa depan perlu mengevaluasi sistem rekruitmen staf di tingkat Kepala Biro, Pimpinan Lembaga, dan unit pelayanan lainnya. Sehubungan dengan itu, maka sudah waktunya bagi HKBP untuk sepenuh hati merevitaliasi Sekolah Tinggi Theologia, dan pendidikan teologi lainnya di HKBP, demikian juga dengan Badan Penelitian dan Pengembangan HKBP, Komisi Teologi dan Tim Konfessi, serta mendekatkan Universitas HKBP Nommensen (UHN) kepada jemaat dan lembaga-lembaga pendidikan maupun Lembaga Swadaya Gereja. UHN sebenarnya sangat layak menjadi payung dan sekaligus laboratorium pengembangan Credit Union Modifikasi (CUM) yang mulai berkembang di berbagai distrik. Adalah suatu ironi apabila ada warga jemaat yang membutuhkan perawatan medis dari Toba Samosir, tetapi lebih memilih langsung ke Rumah Sakit Umum Porsea, dan sama sekali tidak menghiraukan lagi Rumah Sakit Balige.

INTEGRITAS PELAYANAN
Sebagaimana dipaparkan di atas, suka atau tidak suka pada dasarnya orientasi pelayanan HKBP akhir-akhir ini perlu dipertegas dan diperjelas, walaupun di beberapa tempat ada beberapa kegiatan di tingkat Hatopan dan nasional yang patut disyukuri. Namun, masih merupakan aktifitas seremonial atau anniversarial, seperti jubileum dan taon parolopolopon, atau yang sejenis dengan itu. Artinya, HKBP cenderung mengabaikan tujuan panggilannya utnutk memberitakan Injil ke segala makhluk (Markus 16:15-18;). Sebagaimana disebutkan tadi, HKBP sebagai lembaga menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Seharusnya lembaga berkarya untuk umat, masyarakat, bangsa dan seantero dunia (Matius 28:19-20). Oleh karena itu, HKBP masa depan harus kembali menemukan integritas pelayanannya sebagai saksi Kristus yang berdaya dan bermutu, menerjemahkan kabar baik dalam realitas dan tantangan abad 21. Di tengah-tengah realitas Indonesia dalam pusaran arus Globalisasi, HKBP perlu membangun integritas pelayanannya paling tidak dalam 4 (empat) aspek yaitu : KoinoniaMarturiaDiakoniaDidache (pendidikan dan pengajaran ) Pertama, membangun komunitas umat sebagai sumber kekuatan, dimana program-program Koinonia harus menghasilkan sumber energi spritual baru dimana persaudaraan menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan berdampak pada kedewasaan. Ketangguhan dan penguatan setiap warga jemaat untuk merajut kebersamaan dalam kemajemukan umat manusia menghadapi tantangan globalisasi. Warga HKBP telah tersebar ke seluruh dunia, hal ini membutuhkan strategy pelayanan khusus dan bersifat global. Kedua, membangun spiritualitas sebagai saksi Kristus, sehingga program-program Marturia bukan hanya membentuk jemaat yang beriman dengan kemampuan bernyanyi dan rajin beribadah. Tetapi, jauh lebih penting adalah membangun semangat dan tanggung jawab penginjilan dalam diri setiap warga jemaat dalam menjalani hidupnya di bidang sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik, serta di segala bidang kehidupan, bahwa disana mereka adalah saksi Kristus. Ketiga, mendahulukan kaum miskin dan lemah, yang dalam konteks globalisasi akan semakin meningkat jumlahnya, oleh karena itu semua program-program Diakonia tidak cukup lagi hanya menyinggung sepintas keadaan kaum jompo, yatim piatu atau orang cacat, tetapi mampu menerjemahkan cinta kasih Kristus kepada semua orang yang tersingkir, menderita, lemah dan miskin dalam pengertian yang multi dimensi. Sudah waktunya HKBPmelakukan pendampingan bagi pemberdayaan petani, nelayan dan pedagang tradisional agar tidak terus menerus korban kebijakan ekonomi yang pro-konglomerat (Frans Magnis-Suseno, 2004:103-104). Elim, Hepatha dan Rumah Sakit HKBP hendaknya tidak hanya di Pematangsiantar, Laguboti dan Balige, tetapi dalam 4 tahun ke depan sudah ada di kota kota lain di Indonesia. Bahkan sesungguhnya, HKBP pun dalam kurun waktu 4 (empat) tahun ke depan sudah harus menggeluti Pengembangan Ekonomi Produktif termasuk membuka unit usaha yang menghasilkan bagi HKBP yang sebahagian daripadanya adalah pembukaan BPR. Ke depan, Unit Usaha ini diharapkan akan mampu menopang pelayanan HKBP termasuk membantu kesejahteraan pelayan dan jaminan harituanya. Keempat, sangat mendesak untuk memberi perhatian kepada pendidikan dan pengajaran untuk mencerdaskan umat dan mewariskan nilai-nilai kristiani. Pelatihan dan pembinaan harus terus menerus berlanjut dan ditingkatkan bagi warga dan pelayan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa HKBP ke depan harus mampu mengimplementasikan integritas (kesetiaan) pelayanannya dengan memberi perhatian dan komitmen yang kuat terhadap masalah-masalah yang benar-benar mencemaskan masyarakat dunia saat ini. Keberpihakan dan keperdulian terhadap kaum marjinal harus diaplikasikan dalam berbagai bentuk pelayanan pemberdayaan para petani dan nelayan; pendampingan buruh dan anak terlantar/anak jalanan; advokasi terhadap korban kekerasan dan ODHA. Apa yang sudah dilakukan oleh gereja-gereja Reform, ada baiknya juga diakui oleh HKBP, yaitu merumuskan sebuah janji iman yang disebut dengan:covenanting for justice, yang salah satu statemennya mengatakan bahwa :kita percaya bahwa kita diminta oleh Allah untuk melakukan keadilan, cinta kasih, dan jalan yang benar di hadapan-Nya (Mikha 6:8). Kita dipanggil oleh Allah untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan pengrusakan lingkungan, sehingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai (Amos 5:24). Oleh karena itu, kita harus menolak semua teologi yang mengatakan bahwa Allah hanya berpihak kepada yang kaya, dan kemiskinan adalah akibat kesalahan dan kemalasan orang miskin. Kita menolak segala bentuk ketidakadilan yang menghancurkan hubungan yang baik antar jender, ras, strata sosial dan kecacatan. Kita menolak semua teologi yang menekankan bahwa kepentingan manusia di atas kepentingan alam (Seong-Won Park, 2005:189). Integritas pelayanan HKBP juga mesti diaplikasikan dalam konteks pluralisme dalam pengertian yang luas baik secara internal (dalam HKBP dan gereja-gereja) maupun secara eksternal (terhadap umat beragama lain, khususnya Islam). Pelayanan jemaat tidak dapat lagi dibatasi untuk sekedar mengawal tradisi atau memurnikan tradisi (membangun orthodoksi), dimana pelayanan kategorial tidak sesederhana yng kita pahami lagi dalam konteks jemaat agraris tempo dulu. Sebab, warga jemaat sendiri dalam kategori umur (Sekolah Minggu, Remaja dan Naposo Bulung, Ibu dan Bapak) sudah sangat pluralistik baik di tingkat pergumulan dan pemahaman imannya. Lebih-lebih lagi dalam menghadapi umat dari denominasi gereja yang lain, maupun menghadapi saudara-saudara kita yang Islam. Semua itu membutuhkan kesiapan berdialog dan kematangan sikap, sehingga HKBP tidak terjebak dalam sikap defensif, tetapi sesuai dengan visi dan misinya harus mampu mendengar dan memahami komentar dan ketakutan dari saudara-saudara kita yang beragama lain. Visi dan misi HKBP sebagai gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka dalam konteks pluralisme, hanya akan tinggal slogan apabila tidak secara gradual mempersiapkan pemuda gereja yang dewasa dalam iman, peka terhadap perkembangan zaman dan fleksibel dalam pergaulan nasional dan internasional. Sejarah mencatat bahwa revolusi dan reformasi besar biasanya terjadi melalui mobilisasi orang-orang muda yang mengalami pencerahan intelektual , politik dan spritual, kemudian menyadari berbagai kelemahan ajaran dan kebijakan tradisonal, yang menghambat kemajuan serta membelenggu kebebasan individu (Huntington, 2002:116.119).

PENUTUP
Pemberdayaan dan Transformasi adalah thema pokok yang perlu diterjemahkan dalam persekutuan, kesaksian, pelayanan, dan pengembangan pendidikan HKBP. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah dengan memberi kepercayaan kepada warga, menhembangkan prakarsa, meningkatkan keahlian (kompetensi), menggerakkan potensi, dan mengorganisasikan sumberdaya yang ada. Pada pihak lain transformasi berarti mengupayakan pembaharuan menyeluruh, dan melakukan perubahan mendasar guna mencapai mutu yang maksimal termasuk dalam berbagai Peraturan dan kebijakan, serta meninjau dan mengkaji ulang kurikulum Pendidikan Agama Kristen dalam Program Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, kaum Bapak dan Ibu. Tugas mendesak saat ini adalah bekerjakeras untuk mengukuhkan HKBP menjadi gereja sebagai kekuatan pemberdayaan dan transformasi . Bahagian dari tugas itu mungkin termasuk mencari struktur, format dan pengorganisasian yang cocok untuk HKBP, agar berorientasi ke masa depan, mengikuti perkembangan strategis, dan mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Sebelum mengakhiri paparan ini, ijinkan saya mengucapkan untaian terimakasih kepada Universitas HKBP Nommensen dan PI Del yang memprakarsai Seminar yang sangat penting ini. Tuhan memberkati.

GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA: ALIRAN UTAMA DAN PERKEMBANGANNYA

1. Gereja-gereja Protestan biasanya dipakai untuk Gereja-gereja yang berpisah dari Gereja Katolik Roma sejak Zaman Reformasi abad 16 yang dimotori oleh Martin Luther dan Calvin, dll. Tetapi gereja protestan di Indonesia terdiri dari ratusan organisasi dan setiap gereja mempunyai nama sendiri: kadang-kadang alirannya disebut jelas tetapi kadang-kadang alirannya tidak disebut tetapi apabila ditelusuri asal-usulnya akan jelas alirannya. Semua gereja-gereja di Indonesia mempunyai asal-usul dari Barat, Eropa dan Amerika yang mengutus para penginjil (misionaris) terutama pada abad 19 dan awal abad 20. Para misionaris yang kebanyakan datang dari Belanda, Jerman, dan lain-lain, dan belakangan dari Amerika, mendirikan organisasi gereja dan sekaligus menanamkan ajaran-ajaran gereja asalnya; ajaran-ajaran itu sampai sekarang masih dipedomani oleh gereja-gereja di Indonesia.

2. Jika kita berbicara tentang aliran maka ia harus dibedakan dari organisasi. Tetapi terlebih dahulu mesti dicamkan apa yang disebut aliran dalam konteks gereja/kekristenan. Aliran-aliran di dalam kekristenan ialah ajaran atau paham yang dijadikan pedoman utama di dalam kehidupan gereja. Biasanya ajaran itu dinyatakan di dalam Konfesi (Ajaran Resmi) dan liturgi (tata ibadah). Kalaupun tidak dinyatakan tegas secara tertulis tetapi gereja-gereja itu sering mengakui aliran acuannya. Ada juga yang tidak mengaku aliran tertentu tetapi ajarannya meneruskan aliran terdahulu. Gereja yang satu aliran tidak harus satu organisasi. Mereka terdiri dari banyak gereja tetapi mengikuti aliran yang sama.

3. Para penginjil sejak zaman VOC sebenarnya telah siap memasuki Indonesia tetapi VOC menolak kehadiran mereka karena kuatir di kemudian hari orang-orang yang mereka injili akan memberontak. Lagipula para penginjil datang dari kalangan warga gereja yang tidak terikat kepada kekuasaan negara. Para penginjil diijinkan masuk barulah setelah Belanda mengambil alih kekuasaan dari VOC pada abad 19. Pemerintah Belanda pada waktu itu mengambil sikap netral terhadap agama. Ini membantah anggapan seolah-olah Belanda dengan sendirinya membantu penginjilan. Dan penginjilan tidak dilakukan oleh pemerintah Belanda melainkan oleh badan-badan sending yang dibentuk atas prakarsa warga-warga gereja.

4. Dilihat dari asal-usulnya aliran-aliran kekristenan (di luar Katolik) dihubungkan dengan tokoh-tokoh reformasi (Luther, Calvin) atau terkait dengan aspek-aspek tertentu saja yang diutamakan melebihi aspek-aspek lain, seperti aliran Pentakosta, Karismatik, Kedatangan Kristus kembali, dsb. Aliran Lutheran mengacu pada ajaran Martin Luther dan aliran Calvinis mengacu pada ajaran Johannes Calvin. Aliran Lutheran

5. Untuk lebih jelas kita memaparkan beberapa aliran utama saja sebab tidak mungkin membicarakan semua aliran yang sangat banyak dalam waktu singkat. Di Indonesia gereja-gereja yang beraliran Lutheran hampir semua berkantor-pusat di Sumatera Utara seperti HKBP, HKI, GKPS, GKPI, GKPM, GKLI, GKPA dan GKPPD. Walaupun gereja-gereja ini mengaku Lutheran dan menjadi anggota LWF, tetapi tata ibadah gereja-gereja ini tidak mencerminkan tradisi Lutheran. Ini tidak terlepas dari latar belakang lembaga sending Jerman yang mengutus para penginjil yakni RMG dari lingkungan jemaat yang menganut aliran uniert (aliran gabungan Lutheran dan Calvinis). Sebuah catatan kecil patut diberikan. RMG (VEM, sekarang UIM) berasal dari Jerman yang setelah lama mengurus ijin dari pemerintah baru dapat memasuki wilayah Tapanuli. Kehadiran Kekristenan di Tapanuli (orang-orang pertama yang dibaptis 1861) telah membuka isolasi suku Batak (Tapanuli Utara) yang masih menganut agama suku. Dengan cepat kekristenan merambat dan ribuan orang menerima agama Kristen. Menjadi orang Kristen dahulu dilihat sebagai langkah awal meraih kemajuan sebab penginjilan juga disertai pembangunan kesehatan (klinik, Rumah Sakit) dan pendidikan, baik pendidikan umum, ketrampilan maupun pendidikan untuk calon-calon pelayan gereja (pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, evangelis dan diakones). Banyak orang Batak Toba (juga orang Nias, Simalungun dan Dairi) yang berhasil menjadi pegawai, guru, pedagang, pengusaha dan lain-lain dan bergerak keluar dari Tapanuli dan bermukim di kota-kota di Sumatera utara, Riau, Jawa, Sulawesi,Kalimantan sampai ke Papua dan bahkan sudah banyak yang menetap di luar negeri (Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat). Persebaran orang-orang Batak tidak terlepas dari pengaruh kehadiran agama Kristen di Sumatra Utara. Di Tapanuli dan di luar Tapanuli, gereja-gereja (seperti HKBP) membangun sarana pendidikan, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi (Universitas HKBP Nomensen di Pematang Siantar dan Medan).

6. Sebuah ciri khas dari orang-orang Batak ialah persebaran mereka ke berbagai wilayah disertai dengan pembangunan gereja tempat mereka di samping beribadah tetapi juga tempat persekutuan sosial dan budaya. Sebagian besar merasa kehidupan religius tidak lengkap apabila tidak diikuti kehidupan social- budaya. Sebagian orang Batak di perkotaan pindah ke gereja-gereja aliran lain karena merasa kehidupan religius lebih mantap di gereja-gereja lain. Biasanya mereka kurang mementingkan kehidupan sosial-budaya dan bersifat lebih urban. Sekarang ini orang Batak dan Nias mudah ditemui yakni dengan mencari gereja-gereja asal Sumatra Utara yang berdiri di mana-mana (HKBP, GKPS, GKPI, HKI, GKPA, BNKP, dll). Aliran Calvinis

7. Gereja-gereja aliran Calvin paling luas wilayah penyebarannya mulai dari Jawa sampai Papua. Aliran ini juga terdapat di Sumatra Utara (GBKP). Walaupun tidak ada yang memakai nama Calvinis tetapi hampir semua mengakui menganut aliran Calvinis seperti GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKJ (Jawa), GKP (Pasundan), GKJW (Jawa Timur), GKE (Kalimantan), GMIM (Sulut), GMIT (Timor), Gereja Toraja, GKI Papua, GPIB, dan masih banyak lagi. Umumnya gereja-gereja ini hasil badan sending Belanda (NZG). Gereja-gereja yang menganut aliran Calvinis bergabung di dalam wadah WAR (World Alliance Reformed Church). Sama seperti aliran Lutheran mengacu pada ajaran Luther, aliran Calvinis mengacu pada ajaran Calvin. Karya besar Calvin yang menjadi pegangan pengajaran di lingkungan Calvin ialah Institutio, berisi uraian tentang pokok-pokok iman Kristen.

8. Gereja-gereja beraliran Calvinis sangat giat membangun sarana pendidikan. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi yang didirikan oleh gereja-gereja Calvinis terkenal dengan mutu yang tinggi. Gereja-gereja di perkotaan diorganisir dengan baik dan rapih sehingga banyak orang-orang Kristen yang tadinya anggota-anggota gereja kesukuan pindah ke GKI dan GPIB.

Aliran-aliran yang berlatar-belakang Amerika


9. Apabila kedua aliran terdahulu berawal dari Eropa, maka sejak abad 20 khususnya dekade kedua/ketiga, aliran Pentakosta yang berasal dari Amerika memasuki beberapa kota di Jawa, dan menyebar dengan cepat secara spontan. Pada mulanya anggota-anggota datang dari kalangan yang kurang mendapat perhatian gereja seperti orang Indo-Eropa dan kemudian warga gereja yang tertarik. Bagi aliran Pentakosta dan Karismati, menginjili anggota-anggota gereja lain dianggap wajar saja. Tetapi bagi gereja-gereja yang sudah lebih dahulu hadir ini dinilai tidak menghargai keberadaan gereja lain atau populer disebut perilaku “mencuri domba”. Tetapi tidak boleh disangkal aliran Pentakosta juga aktif menginjili kalangan penganut agama suku atau non-Kristen. Pentakosta dan Karismatik berkembang pesat karena tidak begitu terikat pada stuktur, spontan dan tergantung pada inisiatif seseorang/kelompok. Jumlah gereja pengikut aliran ini sangat banyak dan bergabung di dalam beberapa rumpun organisasi.

10. Sejak dekade 1960-an seiring menguatnya kemajuan industri dan teknologi muncul gerakan karismatik yang sering juga disebut Pentakosta-Baru. Mereka dari kalangan Pentakosta tetapi menilai pentakosta telah menjelma menjadi organisasi gereja yang mapan dan “kehilangan roh”. Pada awalnya Karismatik adalah suatu gerakan, gerakan untuk menghidupkan “roh pembaruan” di dalam gereja dari mana anggota-anggota berasal. Gerakan ini dianggap sebagai reaksi penyeimbang terhadap kehidupan modern yang sangat teknis sehingga kehilangan keakraban persekutuan dan kehilangan spontanitas. Sesuai dengan namanya (Karismatik dari karisma = karunia), sangat mendambakan mempunyai karisma-karisma tertentu seperti bahasa roh (glosolalia), penyembuhan, penglihatan dan mukjizat. Tetapi sama seperti banyak gerakan-gerakan, gerakan karismatik kemudian membentuk gereja sendiri.

11. Sebenarnya masih adalagi aliran-aliran berasal dari Amerika seperti aliran milenaris: mengharapkan kedatangan kerajaan seribu tahun atau kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi umat manusia. Aliran ini terbagi dalam berbagai gereja seperti Gereja Advent dan Saksi Yehuwa. Yang pertama memiliki cukup banyak anggota dan mengelola Rumah Sakit, sekolah dan universitas. Yang terakhir mengutamakan kehidupan kelompok-kelompok yang mempelajari Alkitab dan sangat ulet mengajak orang lain menjadi anggota mereka. Selain itu adalagi kelompok-kelompok (aliran lain) seperti Mormon, Christian Science, Scientologi.

Perkembangan Masyarakat dan Respons Gereja

12. Respon paling nyata dan vokal orang Kristen (Protestan) terhadap perkembangan masyarakat adalah melalui wadah oikumenis, Persekutuan Gerja-gereja di Indonesia (PGI) yang didirikan tahun 1950. Tujuan PGI adalah membentuk Gereja Kristen yang esa di Indonesia. Tujuan ini mencuat karena ada kesadaran umat bahwa perpecahan bukan jatidiri gereja dan tidak lahir di Indonesia melainkan yang dibawa dari negeri pengutus penginjil (Eropa) yang memang sudah berabad-abad hidup di dalam pertikaian karena ajaran. Pendirian PGI tidak terlepas dari semangat oikumenis, suatu gerakan agar di mana saja gereja berada bersama-sama mewujudkan keselamatan di dalam masyarakat melalui pelayanan dan kesaksian.

13. Manifestasi dari kebersamaan gereja-gereja di Indonesia ialah selalu peka merespons setiap perkembangan secara positif, kritis dan realistis. Salah satu respons PGI tampak pada masa Orde Baru yakni terus menerus menyuarakan agar pembangunan benar-benar dinikmati oleh seluruh bangsa. Dan upaya itu tertuang di dalam rumusan GBHN bahwa pembangunan adalah pengamalan Pancasila!

14. Di dalam upaya mempersatukan gereja-gereja, prestasi signifikan dihasilkan PGI tahun 1984 pada Sidang Raya di Ambon yang menerbitkan Dokumen Keesaan Gereja (DKG). Di dalam (DKG) pemahaman dasar tentang berbagai aspek kehidupan bergereja ditetapkan. DKG ini mengungkapkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persekutuan yang dinamis di dalam konteks Indonesia. Kalau DKG dapat diimplementasikan secara konkret akan banyak manfaat kehadiran gereja-gereja bagi masyarakat dan bangsa.

15. PGI cq Litbang PGI menorehkan sejarah yakni sejak 1980-an menyelenggarakan seminar Agama-agama (SAA) secara berkala setiap tahun.Di forum SAA ini para tokoh lintas agama dan masyarakat duduk bersama membicarakan isu-isu penting yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik. Terbangunnya kerukunan di masyarakat kita tidak terlepas dari penyelenggaraan SAA itu.

16. Menurut hemat saya perhatian gereja-gereja saat ini di Indonesia dan di dunia, harus lebih fokus pada globalisasi. Dokumen WCC yang diputuskan di Sidang Raya-nya di Porto Alegre Brazil berjudul Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth (AGAPE). Dokumen ini adalah satu imbauan serius terhadap orang Kristen agar mencari globalisasi alternatif karena gereja-gereja tidap bisa lepas dari panggilan bagaimana menghayati iman di era globalisasi sekarang ini. Ini suatu proyek besar yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat.Merespons globalisasi adalah tugas semua komunitas agar globalisasi tidak memperburuk kemiskinan tetapi membangun kesejahteraan yang adil!

Kamis, 14 Mei 2009

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH
(YOHANES 15:16)[1]
(artikel ini dibawakan pada Seminar Youth Camp 2008)

Pendahuluan


Thema Youth Camp 2008 ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mempertanyakan eksistensi dan kiprah pemuda gereja akhir-akhir ini. Memang secara defacto ada berbagai organisasi pemuda gereja, namun belum terdengar gaungnya ditengah-tengah pergumulan bangsa dan negara. Secara khusus, pemuda HKBP belum menunjukkan kiprahnya dalam reformasi tatanan sosial politik kemasyarakatan pasca Orde Baru. Oleh karena itu, thema kemah pemuda saat ini patut digumuli secara alkitabiah, dan membangun refleksi aktual, yang mendorong pemuda HKBP memacu pelayanan dan kesaksiannya di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana Gereja membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya berdasarkan firman Tuhan yang mengatakan: “Akulah yang memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh. 15:16). Maka, demikianlah pemuda gereja seyogianya membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya dalam berbagai karya nyata, yang sungguh-sungguh dapat mejadi berkat bagi semua. Pergumulan dan Peluang Pemuda Masa Kini Sebagai gereja masa depan (the Churchmen of tomorrow), maka pemuda gereja perlu membangun spiritualitas yang benar-benar mampu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah-tengah perubahan zaman. Gereja yang tidak membekali pemudanya dengan spiritualitas murid Yesus yang sejati (Matius 28:19) tidak akan dapat berdiri sebagai saksi Kristus. Gedung-gedung gereja yang megah saat ini, sebagaimana telah dialami oleh saudara-saudara kita di Barat, akan menjadi monumen bisu dengan fungsi yang sama sekali jauh dari makna bait suci yang sesungguhnya. Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa “pemuda adalah bunga-bunga gereja.” Pertama-tama hal itu menggambarkan sifat atau kharakter pemuda yang penuh daya tarik, dan hal-hal yang menyenangkan. Kedua, menggambarkan masa depan yang penuh tantangan, di mana tingkat persaingan semakin tinggi, perubahan nilai-nilai dan gaya hidup yang semakin variatif serta kompleks. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memetakan konteks panggilannya pada awal millenium ketiga saat ini. Ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya memetakan konteks panggilan pemuda HKBP saat ini. Pertama, Pemuda HKBP perlu memahami panggilannya dalam konteks budaya dan adat istiadat yang berakar kuat dalam tradisi gereja. Pemuda HKBP akhir-akhir ini cenderung abai terhadap kultur Batak yang mengakar di dalam kehidupan bergereja. Apabila pemuda HKBP tercerabut dari akar budayanya, maka hal itu akan menjadi kendala yang serius dalam mengartikulasikan aspirasi dan misi yang diemban di pundak pemuda gereja. Adat dan budaya Batak acap kali dilihat sebagai kendala bahkan hambatan yang perlu disingkirkan agar pemuda gereja bebas mengaktualisasikan diri di tengah-tengah jemaat dan masyarakat. Hal itu tidak perlu terjadi apabila pemuda gereja mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya dan adat Batak, yang selama ini terbukti mampu merekat dan mendinamisir persekutuan dan pelayanan HKBP dari waktu ke waktu. Kehadiran HKBP di Singapura, Los Angeles, New York, dan di berbagai penjuru dunia, itu tidak terlepas dari kultur dan tradisi Batak yang melekat dalam diri setiap warga jemaat HKBP. Sebab, ke mana masyarakat Kristen Batak pergi, mereka turut serta membawa gerejanya, HKBP. Apa artinya itu? Pemuda HKBP benar-benar terpanggil untuk membekali diri dengan pemahaman budaya dan adat Batak yang baik dan benar di dalam terang firman Tuhan. Sebagaimana dikemukakan secara panjang lebar oleh Samuel P. Huntington (2002:111-121), bahwa memudarnya dominasi budaya barat, bukan saja berdampak pada menguatnya akar budaya lokal, tetapi juga potensil menimbulkan benturan budaya pada generasi muda. Sebab tingkat mobilisasi orang-orang muda dan penguasaan teknologi yang tinggi, tanpa dibarengi spiritualitas yang sehat dan benar akan mudah ditunggangi oleh kaum fundamentalist, sehingga sangat potensil melahirkan generasi muda yang ekstrim[2]. Generasi muda yang terperangkap dalam arus fundamentalisme sempit seperti itu tidak akan dapat berbuah, dan mustahil menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Pemuda HKBP perlu banyak belajar tentang kearifan lokal, khususnya yang berakar dalam budaya dan adat Batak. Hal itu akan sangat bermanfaat untuk mereduksi fanatisme sempit dalam kehidupan beragam. Yesus sendiri dalam masa muda-Nya menunjukkan perhatian dan apresiasi yang tinggi terhadap adat dan budaya Yahudi. Sehingga dalam memenuhi panggilan-Nya, (sebagai Mesias di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya yang menderita dalam berbagai aspek kehidupan), Yesus dengan mantap menerjemahkan kasih Allah di dalam adat istiadat nenekmoyang-Nya. Hal itu ditunjukkan oleh Yesus, misalnya dalam kehadirannya di pesta Kana (Yohanes 2:1-11), di mana Yesus mengubah air menjadi anggur yang terbaik bagi tuan rumah yang nyaris kehilangan harga diri karena kekurangan anggur. Lihatlah, bahwa Yesus hadir memberikan buah pelayanan yang membebaskan orang dari rasa malu dan cemooh. Secara eksistensial, pemuda HKBP terpanggil untuk mengubah berbagai kelemahan, kecemasan, dan keprihatinan sosial menjadi kesuksesan, kekuaan dan kebanggaan masyarakat, bangsa dan negara. Kedua, abad 21 yang dikenal dengan era globalisasi dan informasi memberikan peluang yang besar dan luas bagi pergaulan muda/mudi dengan wawasan global. Sebab, pergaulan lintas budaya dan agama memungkinkan muda-mudi gereja mengenal berbagai kemajuan dalam berbagai bidang, kemudian menarik banyak nilai-nilai positif untuk pengembangan diri dalam karier. Namun, satu hal yang patut dicermati adalah menguatnya kecenderungan untuk melepaskan nilai-nilai lokal dan mengambil alih nilai-nilai global secara gegabah. Sehingga tidak jarang yang terjadi justru bukan pengembangan diri, melainkan kebingungan atau anomali kebudayaan dan religiositas yang mengaburkan spiritualitas pemuda Kristen yang mengarah kepada sinkritisme modern. Hal itu dapat dengan mudah diamati dalam kehidupan pemuda Gereja metropolis, yang dengan mudah dan tanpa beban telah mengalami perubahan gaya hidup menjadi sangat individualistik, liberalistik, materialistik, konsumeristik dan hedonistik. Sepertinya, era globalisasi dan informasi telah disalah-manfaatkan kaum muda untuk memprotes dan memberontak terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggap menekan emansipasi, membelenggu kebebasan berekspressi dan aktualisasi diri yang dikontrol sangat ketat oleh orangtua. Akibatnya, era globalisasi dan informasi acap kali dimaknai kaum muda sebagai kesempatan untuk membentuk komunitas kecil yang bersifat eksklusif, gaya hidup selebritis, seks bebas, suka minum alkohol dan mengkonsumsi narkoba, dengan harapan memberikan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Sehubungan dengan itu, sebaiknya pemuda HKBP duduk bersama merenungkan panggilan Tuhan untuk menghasilkan buah yang lebat dengan membangun komunikasi dan jaringan kerja yang luas. Pemuda HKBP hendaknya memiliki sense of crisis dan sense of urgency di dalam pusaran arus globalisasi dan informasi, agar tidak dikacaukan oleh nilai-nilai global yang diwarnai oleh neo-liberalisme. Neo-liberalisme memperkenalkan kebahagiaan dan harga diri terletak di dalam kesuksesan ekonomi dan kekuasaan politik.[3] Pemuda HKBP perlu menyadari kenyataan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia saat ini secara umum dan pemuda gereja secara khusus. Pada dekade pertama abad 21 ini, paling tidak ada 7 masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda di Indonesia, yaitu keretakan hidup berbangsa dan formalisme agama, korupsi yang merata dari pusat hingga daerah, kemiskinan, pengangguran, premanisme, ketidakadilan genderj dan kekerasan dalam rumah tangga, serta masalah narkotika dan obat terlarang (Philips Tangdilintin, 2008:39-68). Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memelihara sense of crisis agar mampu membangun solidaritas sosial dan tidak terbuai dengan kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh kemajuan zaman yang semakin kapitalistik. Secara khusus, solidaritas pemuda gereja perlu dibangun untuk menangani depressi yang dialami oleh kaum muda karena tingkat pengangguran yang setiap tahun meningkat. Pada tahun 2003, misalnya dari 100 juta angkatan kerja, terdapat sekitar 40 juta penganggur; pada tahun 2006 melonjak menjadi 10,8 %. Angka itu cenderung akan semakin meningkat pasca kenaikan harga BBM. Beban ekonomi rakyat yang sedemikian berat akan meningkatkan jumlah anak-anak putus sekolah, yang pada gilirannya menjadi anak-anak terlantar. Sebab, kemiskinan juga terus meningkat. Sebagaimana telah diingatkan oleh badan PBB, bahwa saat ini masih ada 1,5 milyar orang yang hidup dari 1 US dollar per hari. Kondisi di Indonesia sendiri, apabila mengikuti kriteria Bank Dunia, maka kemiskinan di Indonesia meliputi 108, 78 juta penduduk yang hidup dengan biaya kurang dari 2 US dollar per hari/per orang. Semua itu terjadi oleh karena kebijakan pembangunan nasional belum berpihak pada rakyat miskin, terutama petani, nelayan, dan buruh, melainkan berpihak kepada para kapitalis (Tangdilintin, 2008: 44-46). Artinya, pemuda gereja tidak boleh terlena dengan hiruk pikuk agenda globalisasi yang kapitalistik, ataupun bingung di tengah jalan buntu oleh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Tetapi pemuda gereja harus mampu mengembangkan diri sebagai agen pembaru (agent of change). Pemuda HKBP sudah waktunya mengembangkan diri sebagai pusat pencerahan dan ispirasi bagi banyak remaja dan pemuda yang terlena oleh daya tarik produk-produk era globalisasi. Oleh karena itu, panggilan pemuda HKBP untuk menghasilkan buah harus diterjemahkan dengan pemberdayaan kaum muda untuk mengembangkan kreativitas dan prakarsa pembangunan. Pemuda HKBP perlu mengorganiser diri secara sinergis untuk mengoptimalkan pembentukan kharakter pembaharu yang militan di tengah-tengah arus globalisasi. Sejarah mencatat bahwa revolusi dan reformasi besar biasanya terjadi melalui mobilisasi orang-orang muda yang mengalami pencerahan intelektual, politik dan spiritual, kemudian menyadari berbagai kelemahan ajaran dan kebijakan tradisional, yang menghambat kemajuan serta membelenggu kebebasan individu (Huntington, 2002:116,119). Ketiga, menguatnya individualisme dan materialisme merupakan fenomena global yang perlu mendapat kajian pemuda gereja dalam mendisain pelayanan yang berdimensi spiritual. Artinya, gejala-gejala kehidupan bergereja di negara-negara kaya akan menjadi kenyataan yang tidak dapat ditunda dalam masyarakat kita pada abad ke-21 ini, di mana menguatnya individualisme bukan saja mempengaruhi sikap enggan mencampuri pribadi orang lain, tetapi lebih jauh dari situ, adalah semakin menguatnya keinginan untuk menentukan pilihan pribadi tanpa harus terbeban dengan penilaian orang lain, baik keluarga maupun masyarakat umum. Peter Marber secara mendalam menganalisis fenomena bergereja di negara-negara kaya, bahwa penurunan secara drastis jumlah orang yang menghadiri kebaktian di gereja, terutama oleh orang-orang muda, adalah merupakan hasil dari suatu pilihan pribadi dari suatu masyarakat individualistik. Persentase orang Amerika yang dilaporkan datang ke gereja (beribadah) paling tidak satu kali satu bulan, ternyata turun dari 60 % pada tahun 1981 menjadi 55 % pada tahun 1998, bahkan dalam survey yang berbeda dalam 25 tahun ini agaknya penurunan sudah mencapai 10-12 %. Sedangkan di Australia, tingkat kehadiran orang beribadah turun dari 40 % pada tahun 1981 menjadi 25 % pada tahun 1998 (Peter Marber, 2003:98-99). Di Indonesia, hal itu tidak mudah dianalisis, sebab secara kwantitatif jumlah jemaat yang beribadah di gereja tatap tinggi, namun bila dihitung dari total seluruh warga jemaat yang terdaftar, maka sebenarnya persentase jumlah warga jemaat yang tidak datang beribadah mungkin bekisar di antara 35-50 %. Adalah suatu fenomena umum di gereja-gereja kita, bahwa setelah pelajar katekisasi sidi (parguru manghatindangkon haporseaon) menyelesaikan kursusnya, maka sekitar 50-70 % tidak datang lagi ke gereja, memang sebagian karena melanjutkan studi ke luar daerah, tetapi di perantauan (tempat studinya) pun mereka tidak aktif lagi. Ada indikasi yang kuat bahwa menurunnya semangat bergereja kaum muda, bukan saja karena faktor globalisasi yang merasuki kaum muda dengan roh individualisme dan materialisme, tetapi terutama oleh karena formalisme agama. Di mana penghayatan agama yang dangkal dan bersifat ritual-seremonial, tidak lagi dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi maupun umat Allah. Orang muda masih tetap datang ke gereja dengan jumlah yang signifikan, tetapi apa yang didengar dan dilakukannya di dalam ibadah sama sekali tidak mempengaruhi gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, panggilan Tuhan untuk berbuah mestinya diterjemahkan juga dengan membina persekutuan pemuda HKBP yang dinamis dan intens mendalami relasi vertikal (kehidupan beriman) yang mendorong penguatan relasi horizontal (kehidupan sosial-kemasyarakatan). Artinya, kebaktian dan persekutuan pemuda HKBP hendaknya mendorong pemuda/i gereja semakin dekat kepada Tuhan, dan juga semakin dekat dengan sesama jemaat dan masyarakat sekitar. Membina Pemuda yang Berbuah Lebat Pergumulan dan peluang pemuda gereja masa kini yang digambarkan di atas menuntut suatu redefinisi dan reformasi pemuda gereja secara kontekstual. Sudah waktunya gereja memandang pemuda sebagai bagian integral dari persekutuan jemaat. Pemuda gereja bukan lagi sebatas the churchmen of tomorrow, melainkan juga sebagai komponen masa kini (the churchmen of today) yang memiliki hak dan tanggungjawab yang sama dengan orangtua atau anggota jemaat yang sudah berkeluarga. Secara ekklesiologis, jelas bahwa setiap orang yang telah naik sidi telah memiliki hak untuk ikut serta dalam perjamuan kudus, sebagai simbol dari kematangan spiritual untuk menghayati relasi vertikal di dalam kehidupan bersama orang-orang kudus dan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana diserukan oleh kaum muda Australia pada suatu Youth Convention di Sydney, 1982: “Today is ours! The hope of today is in our hands. Give us our share of today and only then will we be ready to meet and shape the future.” “Hari ini adalah milik kami! Harapan hari ini terletak di tangan kami. Beri kami kesempatan berperan hari ini, dan hanya dengan cara itu kami akan siap menyongsong dan menaa hari esok.” (Tangdilintin, 2008:34). Artinya, apabila pemuda gereja diharapkan berbuah lebat, maka gereja tidak boleh tidak mesti memperlengkapi dan melatih pemuda gereja untuk memahami panggilannya sesuai dengan kharakter kaum muda di tengah-tengah tantangan globalisasi saat ini. Pertama, pemuda gereja harus lebih konsern menanganai masalah penghayatan iman yang operasional, dalam arti tidak cukup lagi pendalam alkitab yang bersifat intelektual semata, melainkan mampu memahami kehendak Tuhan dari lubuk hati yang terdalam. Secara intelektual bisa saja orang muda menganggap bahwa adat dan budaya Batak sebagai warisan nenekmoyang yang tidak relevan lagi dengan pergumulan gereja masa kini. Namun, justru Kristus sendiri memenuhi panggillan-Nya di tengah-tengah dunia ini bukan saja mengapresiasi adat dan budaya nenekmoyang-Nya, tetapi turut ambil bagian dalam memelihara adat dan budaya bangsa-Nya untuk kesejahteraan semua orang. Spiritualitas kita yang sesungguhnya baru akan menjadi jelas ketika kita mengambil sikap dan respon yang baik dan tepat atas semua realitas kehidupan yang semakin hari semakin tidak sesuai dengan rencana agung penciptaan, yang “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Sesungguhanya, panggilan untuk berbuah dalam Yohanes 15:16 pertama-tama mengajak kita untuk memeriksa relasi kita dengan Kristus. Sebab, tanpa relasi vertikal yang benar dengan Kristus, maka pemuda gereja tidak akan mampu berbuah lebat. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5). Implikasinya adalah orientasi pembinaan harus diarahkan pada character building, melalui proses internalisasi nilai-nilai moral, kultural dan spiritual, sehingga akan lahir suatu generasi gereja yang memiliki kepribadai utuh, dalam arti menadari identitasnya sebagai warga masyarakat dan jemaat pada satu sisi, dan sebagai warga kerajaan sorga yang telah dikuduskan dan dipersekutukan di dalam Kristus pada sisi lain. Oleh karena itu, pemuda gereja harus mengembangkan persekutuan pembacaan/pendalaman Alkiab, tidak boleh lagi berkumpul hanya untuk latihan paduan suara, walaupun itu juga penting. Direktur Pembinaan Pemuda Gereja sudah harus memiliki program pendalaman iman di setiap wilayah pelayanan HKBP. Gereja juga harus secara terbuka mengkaji bentuk-bentuk kebaktian yang bersifat reflektif dan dapat menuntun pemuda menghayati imannya secaa atraktif dan meditatif. Rancangan kebaktian khusus kaum muda hendaknya mampu membangun kesadaran akan pentingnya persekutuan dan kebersamaan dengan jemaat, penghargaan dan kepercaan diri sendiri, dan memiliki komitmen yang kuat untuk menyaksikan imannya di tengah-tengah realitas kehidupannya sehari-hari. Artinya, di mana pun seorang pemuda HKBP berada dengan profesi apa pun, maka di sana ia mampu mengaktualisasikan diri sebai warga jemaat yang bertanggungjawab sebagai saksi Kristus. Kedua, pemuda gereja yang berbuah lebat membutuhkan pelatihan yang menghasilkan ketaatan sebagai seorang sahabat. Menarik sekali memperhatikan di sini, bahwa ketaatan yang dimaksud bukan saja karena disiplin yang ketat, tetapi malah ketaatan yang didasarkan oleh kasih persaudaraan (philia). Di mana kasih seorang sahabat bukan saja menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi, tetapi pengorbanan yang sempurna dengan menyerahkan nyawa sendiri. Kesediaan mengorbankan nyawa sendiri bagi seorang sahabat adalah gambaran dari pengosongan diri yang dilakukan Yesus ( Filipi 2:7-11). Artinya, kepribadian seorang pemuda gereja, yang sungguh-sungguh bersedia mengorbankan nawanya, sudah pasti bersih dari segala virus egoisme dan individualsme yang merasuki manusia pada zaman postmodern saat ini. Orang yang mampu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya adalah mereka yang tidak akan keberatan untuk memenuhi panggilannya secara all out, tuntas dan berkelanjutan. Pemuda HKBP sudah waktunya merevitalisasi mottonya: “Masitangiangan, Masiurupan, Masihaposan.” Motto itu hanya akan bertumbuh dan operasional dalam persekutuan orang-orang yang benar-benar dipersatukan dalam Tubuh Kristus. Hanya di dalam Kristus orang Kristen umumnya, dan pemuda gereja khususnya dapat hidup sebagai komunitas yang saling mendoakan, saling membantu dan saling percaya. Di luar persekutuan dengan Kristus, pemuda gereja melihat sesamanya sebaagai saingan, yang harus dikalahkan, dan tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, pelayanan terhadap pemuda gereja pada dasarnya juga mesti dilakukan dengan sentuhan cinta kasih sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus. Pelayanan terhadap kaum muda acap kali mengalami kegagalan atau paling tidak jalan ditempat, oleh karena para majelis dan orangtua memandang pemuda gereja sebagai pembantu, yang dianggap anak bawang, dan belum layak dipercaya untuk tugas pelayanan jemaat. Pelayanan terhadap kaum muda tanpa cinta kasih akhirnya menjadi pelayanan asal jadi, tanpa orientasi yang jelas. Oleh karena itu, pemuda gereja yang diharapkan berbuah lebat mesti diberi kepercayaan dan tanggungjawab untuk mengeksplorasi segala potensi yang ada di dalam jemaat, serta mendorong mereka berperan sosial aktif. Gereja perlu mendorong pemuda untuk menumbuh-kembangkan kepekaan sosial politik, secara khusus memperjuangkan hak azasi manusia tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, bahasa, budaya dan agama mana pun. Ketiga, panggilan untuk berbuah lebat bagi pemuda HKBP pada saat ini harus dipahami dalam konteks persahabatan lintas sosial budaya, di mana segala bentuk diskriminasi ditiadakan, sehingga hubungan sosial berlangsung sejajar dan penuh kasih persaudaraan. Persekutuan nir-subordinat tersebut berpusat pada Kristus. Di dalam Kristus semua orang berada pada jari-jari lingkaran yang sama dan sebangun. Eksistensi dan kiprah pemuda HKBP baru akan berdampak dalam perputaran roda kehidupan sosial politik apabila semua anggota sama-sama bergerak dalam pelayanan yang saling membangun (masiurupan) di dalam poros pelayanan gereja secara institusional. Oleh karena itu, pemikiran yang memandang pemuda HKBP membangun persekutuan dan pelayanan yang bersifat independen, seperti halnya organisasi pemuda sekuler sejenis KNPI, HMI atau GMKI sekalupun, bukanlah yang dimaksudkan oleh Yesus. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemuda gereja merupakan komponen gereja itu sendiri. Gereja sebagai perwujudan Tubuh Kristus di tengah-tengah dunia ini hidup dan berkarya dalam satu tubuh, satu roh, dan satu jiwa, termasuk di dalamnya pemuda. Lebih jauh dari situ, persekutuan dan pelayanan pemuda mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas meliputi persekutuan oikumenis. Sehingga pemuda gereja dalam semangat oikumenis yang saling menghormati tradisi denominasi masing-masing, dapat mengembangkan pelayanan yang berpihak pada pemberdayaan kaum lemah dan marjinal, terutama di daerah pedesaan dengan masyarakat agraris yang belum sungguh-sungguh mendapat perlindungan pemerintah. Sehubungan dengan itu, ada dua hal yang mesti disadari dan direspon secara teologis alkitabiah, yaitu pada satu sisi globalisasi memberikan signal yang kuat terhadap pemahaman oikumenis yang lebih luas dan terbuka, di mana masyarakat Kristen di berbagai belahan dunia cenderung melepaskan diri dari berbagai ikatan tradisi denominasional. Sehingga, suatu ketika kita tidak akan terkejut melihat pelayanan lintas denominasi semakin eksis, dan itu dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi gereja-gereja aliran utama yang dominan selama dua abad terakhir. Memang, gerakan oikumenis seperti itu lebih terpusat pada masyarakat metropolis, di mana akses terhadap media dan komunikasi relatif lebih intens. Namun, jelas bahwa arus terhadap gereja non-denominasi seperti itu dapat menguat di tengah-tengah peradaban global abad 21. Pada sisi lain, globalisasi yang merambah sampai kepada pelosok-pelosok melalui jaringan komuniasi dan media, bahkan juga dengan kapitalis yang berkiprah dalam agrobisnis organik, memberikan signal yang kuat terhadap benturan tradisi yang dapat mengendurkan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memberikan penyadaran terhadap pentingnya nilai-nilai tradisional sebagai simbol identitas bangsa yang dapat digali untuk menjawab tantangan zaman. Masyarakat petani di pelosok-pelosok perlu mendapat pendampingan untuk mengembangkan pertanian organik, yang memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian dengan pupuk kimia. Masyarakat global yang sadar akan bahaya makanan produk kimiawi akan mencari produk organik, sebab masalah harga secara otomatis tidak akan menjadi persoalan, harga komiditas sudah dipercayakan sepenuhnya kepada pasar bebas. Kedengarannya, isu terakhir ini kurang populer bagi kaum muda yang cenderung melirik pusat-pusat kota metropolitan sebagai tempat yang menjanjikan masa depan yang sejahtera. Namun, justru itulah tantangan pemuda gereja, dan masalah spiritualitas pemuda gereja tidak lepas dari komitmennya terhadap pemberdayaan petani dan nelayan, yang sampai hari ini belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah. Kebijakan ekonomi kita belum sungguh-sungguh berpihak kepada petani dan nelayan, sebagaimana dapat dilihat dari derasnya impor produk pertanian yang menjatuhkan harga jual produk para petani lokal. Sudah waktunya spiritualitas pemuda gereja diuji kualitasnya dengan seberapa besar berkat yang dapat diberikannya untuk membawa petani dan nelayan Indonesia menikmati kehidupan yang damai dan sejahtera. Pemuda gereja dapat mengikuti jejak saudara kita dari Gereja-gereja Reform yang telah merumuskan sebuah janji iman yang disebut dengan: Covenanting for justice, yang salah satu statemennya mengatakan, bahwa “kita percaya bahwa Allah memanggil kita untuk berdiri disamping para korban ketidakadilan. Kita tahu bahwa kita diminta oleh Allah untuk melakukan keadilan, cinta kasih, dan jalan yang benar di hadapan Allah (Mikha 6:8). Kita dipanggil oleh Allah untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan pengrusakan lingkungan, sehingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai (Amos 5:24). Oleh karena itu, kita menolak semua teologi yang mengatakan bahwa Allah hanya berpihak pada yang kaya, dan kemiskinan adalah akibat kesalahan dan kemalasan orang miskin. Kita menolak segala bentuk ketidakadilan yang menghancurkan hubungan yang baik antar jender, ras, strata sosial dan kecacatan. Kita menolak semua teologi yang menekankan bahwa kepentingan manusia diatas kepentingan alam (Seong-Won Park, 2005:189).

Bahan bacaan:
1. Beyer, Ulrich Berani Tampil Beda, BJU, Medan, 2005.
2. Bluck, John., Evervyday Ecumenism - Can You Take The World Church Home?, WCC Publication, Geneva, 1987.
3. Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations And The Remaking of World Order, Simon & Schuster Australia, Sydney, 2002.
4. Marber, Peter., Money Changes Everything, How Global Prosperity Is Rehsaping Our Needs, Values, and Lifestyles, Financial Times (FT) Prentice Hall, New Jersey, 2003.
5. Park, Seong-Won. (Guest Co-editor), “Covenanting for Justice: the Accra Confession”, dalam Reformed World, Volume 55, September 2005.
6. Rauchfuss, Sonja., “Youth and neoliberal globalization: a German perspective,” dalam Reformed World, Volume 56, March 2006.
7. Stott, Jhon., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer, YKBK/OMF, Jakarta, 1994.
8. Tangdilintin, Philips, Pembinaan Generasi Muda, dengan proses manajerial VOSRAM, Kanisius, Yogyakarta, 2008.


[1] Pdt. Willem TP Simarmata, MA, Sekretaris Jenderal HKBP, dalam HKBP Youth Camp, 1 Juli 2008.
[2] Generasi muda fundamentalis akan cenderung membalaskan kegagalan masa lalu dengan berbagai tindak kekerasan, seperti terorisme yang merugikan dalam segala hal, termasuk merugikan bagi agama pelakunya. Analisis Huntington tidak dapat dibantah, sebab fakta menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dengan jaringan terorisme internasional yang sangat rapi dan canggih, termasuk yang beroperasi di Indonesia, ternyata adalah generasi muda dengan intelektualitas dan mobilitas tinggi, tetapi tidak memiliki arah dan tingkat pertumbuhan spiritual yang baik dan konstruktif. Pertumbuhan Islam secara demografis dan kebangkitan Islam sebagai salah satu akibat dari kemunduran budaya barat (warisan kekristenan), menurut Huntington merupakan faktor utama yang menimbulkan berbagai konflik dengan umat beragama lain.
[3] Pemuda HKBP perlu mengantisipasi pengaruh luas dari neoliberalisme dalam berbagai sektor, yang semestinya menjadi pusat pembentukan moral dan spiritual masyarakat, tetapi kemudian diubah menjadi komoditi yang berorientasi keuntungan ekonomik. Pengaruh neoliberalisme terhadap kaum muda, terutama melalui perubahan ekonomi, ketidakseimbangan demografis, dan pluralisme budaya. Perubahan ekonomi, misalnya dapat diamati melalui penggunaan telepon seluler, internet dan video game. Saat ini para remaja dan pemuda, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga Mahasiswa, merupakan kelompok pengguna telepon selular, video game, dan internet yang paling tinggi. Ini merupakan fenomena global, yang dijumpai hampir di semua negara, terutama di negara-negara kaya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap kaum muda di Jerman, terbukti bahwa persentase kelompok usia 15-25 tahun merupakan kelompok umur yang secara reguler menggunakan komputer, internet dan video game, dan ternyata sejak tahun 1997 meningkat dua kali lipat dari 21 % menjadi 43 %. Malahan disebutkan, bahwa 80 % pemuda di Jerman secara reguler menggunakan mobile telephone. Penggunaan alat komunikasi canggih dan akses informasi yang komprehensif seperti internet yang demikian tinggi, justru mempertegas individualisme dan kepelbagaian pilihan dan sikap kaum muda di Jerman.