Sipoholon (SIB)
Ephorus HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Pdt Dr Bonar Napitupulu melantik Pdt WTP Simarmata MA sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP Periode 2009-2013, hasil pemilihan Rapat Pendeta di Auditorium Seminarium Sipoholon, Taput, Jumat (7/8).
Pelantikan dilaksanakan dalam kebaktian bersama sekaligus penutupan Rapat Pendeta yang dihadiri 1.300-an Pendeta dari dalam dan luar negeri. Suasana kebaktian berlangsung hikmat dan penuh suka cita.
Pdt Debora Sinaga MTh dalam khotbahnya yang mengangkat nats Efesus 3:14-21 mengatakan, Paulus berada di dalam penjara bukan karena melakukan kejahatan, tetapi karena memberitakan firman Tuhan. Saat itu Paulus membuat surat ke Efesus dan ada 5 permintaan doa Rasul Paulus kepada umat Kristen; Pertama, supaya dikuatkan di dalam Roh Kudus. Kedua, agar Kristus berdiam di dalam diri umat Kristen. Ketiga, agar kasih setia tumbuh di antara jemaat, Keempat, agar umat tidak putus asa. Dan kelima, umat dipenuhi Roh Kudus.
Dalam khotbahnya itu, Pdt Debora mengajak umat agar memberikan perhatian serius dan mendoakan para saudara-saudara yang berada di Rutan Tanjung Gusta hanya karena memperjuangkan Propinsi Tapanuli. Menurutnya, orang-orang yang memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli jangan dijadikan sebagai kejahatan politik.” Kita menginginkan berdirinya Propinsi Tapanuli. Namun saat ini banyak kuasa-kuasa kegelapan. Untuk itu kita harus tetap mengandalkan kuasa Tuhan,” katanya.
Dalam doa syafaat yang dipimpin Pdt Sarlen Tobing, juga mendoakan agar Pejuang-pejuang Protap yang ditahan mendapat kekuatan, dan perjuangan pembentukan Propinsi Tapanuli dapat terwujud.
Sementara itu, Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu dalam kata sambutannya mengatakan, Ketua Rapat Pendeta yang baru supaya benar-benar bekerja untuk kemuliaan Tuhan dan tetap mempertahankan jati diri HKBP.
“Marilah kita para Pendeta bekerjasama dalam kasih untuk melayani HKBP, agar HKBP yang didirikan Tuhan ini tetap sebagai HKBP yang sebenarnya,” ujar Ephorus.
Sementara itu, sebelumnya Pdt WTP Simarmata mengucapkan banyak terima kasihnya kepada seluruh peserta rapat yang telah memberikan kepercayaan kepada dirinya sebagai Ketua Rapat Pendeta periode 2009-2013. Ke depan pelayanan terhadap para pendeta akan semakin ditingkatkan.
Ephorus pada kesempatan itu juga memberikan cendramata kepada ketua yang lama Pdt Dr Jamilin Sirait. Kebaktian juga diisi dengan acara perjamuan kudus dipimpin Pdt Debora Sinaga, Pdt WTP Simarmata duduk sebagai Ketua Rapat Pendeta setelah mengungguli Pdt BM Siagian dalam perhitungan suara yang dilaksanakan dua putaran. (M19/m)
Sabtu, 08 Agustus 2009
Ephorus Pdt Dr Bonar Napitupulu Lantik Pdt WTP Simarmata MA Sebagai Ketua Rapat Pendeta HKBP
Label: Kegiatan
di 01.38 5 komentar
Jumat, 29 Mei 2009
PENDETA HKBP TERPANGGIL MENINGKATKAN KEBERSAMAAN TERHADAP SESAMA PARTOHONAN DAN MEMBERDAYAKAN WARGA JEMAAT MENJADI BERKAT DI TENGAH GEREJA, MASYARAKAT
1. Judul di atas adalah sub-tema Rapat Pendeta HKBP 2009. Sedangkan tema Rapat Pendeta tahun 2009 ini “Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Rapat Pendeta di Tingkat Distrik tahun 2009 ini diselenggarakan di saat bangsa kita telah merampungkan Pemilu Legislatif dan mempersiapkan Pilpres. Perhatian masyarakat jelas-jelas sedang tertuju sepenuhnya pada Pilpres berikut semua kegiatan kampanye para Capres dan Cawapres serta Tim Sukses masing-masing. Bukan tidak mungkin organisasi-organisasi, baik sosial, budaya dan keagamaan akan terseret perputaran arus eforia Pilpres. Di sisi lain keberadaan kita sebagai bangsa sebenarnya masih prihatin. Pertama, krisis global belum sepenuhnya berakhir. Banyak perusahaan atau badan usaha yang tutup atau gulung tikar. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan sementara tidak sedikit orang kuatir terkena PHK. Jutaan orang mengais rejeki apakah dengan menjadi pedagang kecil, asongan, pekerja harian dan pemulung. Mungkin bagi kelompok-kelompok ini suasana Pilpres sebagai pengalih perhatian dari kesukaran hidup. Kedua, kesehatan masyarakat sedang terancam, baik oleh virus H1 N1 yang popular dengan sebutan flu babi padahal flu burung masih menjadi ancaman. Ini tidak lain pertanda kehidupan umat manusia akibat kerusakan lingkungan hidup dan sangat rentan terhadap ancaman virus. Ketiga, kerukunan hidup antar umat beragama masih merupakan masalah serius. Bulan Mei ini kita (kembali) dikejutkan oleh berita pencabutan IMB gedung gereja HKBP di Cinere oleh Walikota Depok. Kita tahu ini hanya salah satu peristiwa hambatan yang dialami oleh gereja-gereja di Indonesia kendatipun SKB 1969 telah diganti Peraturan Bersama Menag dan Mendagri 2006. Kita mendapat kesan pemerintah mengambil “sikap aman” dengan membiarkan masyarakat menghadapi sendiri masalah pelanggaran HAM. Pemerintah mengambil “sikap aman”dengan membiarkan sekelompok orang menutup atau merusak rumah ibadah, menghancurkan warung-warung dan melakukan razia. Bahkan ketika terjadi musibah rakyat seperti dibiarkan berjuang sendiri. Di mana peranan pemerintah menegakkan hukum dan mengayomi masyarakat seperti digariskan di dalam undang-undang?
2. Gereja HKBP adalah gereja yang paling tersebar. Gereja HKBP terdapat di berbagai kota dan pedesaan di seluruh Indonesia. Bidang pekerjaan yang ditekuni anggota HKBP boleh dikatakan hampir di semua bidang. Berarti dinamika kehidupan gereja HKBP amat beragam sesuai dengan perkembangan tingkat daerah dan nasional. Oleh sebab itu HKBP mesti mengembangkan sikap kritis di semua aras dengan membiasakan diri berdiskusi tentang berbagai gejolak/isu yang berkembang di masyarakat baik nasional maupun internasional.
3. Zaman kita sekarang sejak akhir abad 20 dan di awal abad 21 disebut era globalisasi. Ciri khas era ini adalah dominasi ekonomi oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang merambah keseluruh dunia. Ada beberapa faktor yang mendukung: a. Kemajuan teknologi khususnya elektronik; b. Sistem yang membuat semua terhubung dan c. ideologi neoliberal yang mengutamakan persaingan dan pasar bebas. Akibatnya, banyak usaha tradisional tersingkir, jutaan orang tergusur dari tanah leluhurnya akibat eksploitasi tanpa batas atas sumber alam sehingga kerusakan lingkungan hidup dan proses pemiskinan sedang berlangsung di mana-mana. Dokumen WCC yang berjudul AGAPE (Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth, diterbitkan di Sidang Raya Desember 2006 di Puerto Allegre mencatat; “Kita berhadapan dengan penderitaan, kesenjangan ekonomi dan sosial yang sangat besar, kemiskinan yang hina papa dan penghancuran hidup yang diakibatkan model neoliberal globalisasi ekonomi” (Globalisasi Alternatif Mengutamakan Rakyat dan Bumi, Jakarta; PMK HKBP 2008, h.7). Data menyedihkan juga dipaparkan seperti 1.5 milyar penduduk dunia, kebanyakan perempuan dan anak-anak, hidup dengan kurang 1 dollar AS perhari, dan 24.000 orang perhari meninggal akibat kemiskinan dan kurang gizi (h.3-4). Kita mesti bertanya berapa orang dari angka itu warga gereja dan berapa orang Indonesia?
4. Pemberdayaan warga gereja harus dilihat dalam perspektif pemberdayaan rakyat yang nota bene sedang menderita kemiskinan, kurang gizi dan daya beli makin lemah. Di samping itu pendidikan cenderung menjadi komoditi mahal akibat berlakunya BHP (Badan Hukum Pendidikan). Orang juga hidup dalam rasa cemas takut kehilangan pekerjaan. Untuk itu gereja perlu: memperhatikan kecenderungan perkembangan masyarakat. Setiap perubahan sekecil apapun di sekitar jemaat perlu diperhatikan. Yang paling penting para partohonan mengembangkan sikap terbuka: terbuka terhadap kebutuhan akan perubahan, terbuka untuk menerima masukan dan terbuka untuk kerjasama dengan semua pihak, organisasi dan kelompok demi upaya pemberdayaan rakyat.
5. Pemberdayaan tidak sama dengan memperjuangkan peningkatan hidup rakyat melainkan bersangkut paut dengan penyadaran rakyat tentang realitas dan mendorong mereka menemukan solusi. Mereka yang mencari solusi bertitik tolak dari pengalaman: mendiskusikan pengalaman, menyelidiki akar persoalan dan bersama-sama merumuskan langkah (aksi) untuk perubahan. Gereja/pelayan merupakan mitra warga dalam mengatasi persoalan kehidupan. Oleh karena itu para pendeta , guru, diakones, bibelvrouw, evangelis dan penatua, sudah seharusnya membekali diri dengan kemampuan analisis sosial. Namun yang paling utama para partohonan mesti memiliki dan mengembangkan spiritualitas yang memihak rakyat/warga yang menderita, bukan malah memihak pada penguasa dan pengusaha yang sering menindas kaum lemah.
7. Panggilan menjadi berkat akan efektif bila kita peka terhadap isu yang sedang berkembang di dalam kehidupan bangsa. Gereja ditempatkan Tuhan di dalam masyarakat agar masyarakat berubah ke arah yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Penegakan HAM dewasa ini sangat mutlak diperlukan untuk membangun masyarakat. HAM tidak terlepas dari demokrasi sebagai sistim sosial-politik dan kita harus turut aktif menegakkan HAM dan membangun demokrasi agar tidak ada kelompok yang ditindas untuk kepentingan kelompok tertentu.
8. HKBP mungkin gereja yang paling banyak mempunyai pelayan tahbisan. Secara teoritis dengan begitu banyaknya pelayan tahbisan, pelayanan akan maksimal. Tetapi kesan kita banyaknya pelayan tahbisan tidak menambah efektivitasnya dalam dinamika kegiatan gereja. Mengapa? Pertama, pelayan kita masih fokus pada kebaktian /ritual. Semua pelayan apakah pendeta, guru huria, diakones, bibelvrouw, evangelis dan sintua diarahkan untuk kebaktian yang intinya khotbah. Kedua, pelayan kita masih bersifat klasik (kategorial) padahal di sekitar gereja banyak buruh, pedagang, sopir dan kondektur. Apakah kategori ini tidak perlu dilayani? Kita mempunyai evangelis dan diakones tetapi mereka hanya melayani “internal” gereja. Evangelis dan diakones seharusnya lebih mengutamakan pelayanan “eksternal”.
9. Para partohonan mesti “berbeda” yang satu dari yang lain. Masing-masing pelayan mengutamakan jenis pelayanan yang mereka pelajari. Yang kita lihat diakones mengajar sekolah minggu, bibelvrouw mengajar pemuda dan sintua melakukan kegiatan diakoni. Kebersamaan akan efektif apabila setiap partohonan diarahkan bekerja menurut bidang yang khusus untuk mereka: pelayanan diakones sesuai dengan bidangnya, evangelis sesuai dengan bidangnya juga, dll. Kalau tidak ada perbedaan yang jelas untuk apa ada enam pertohonan. Mereka akan maksimal melayani apabila mereka mengembangkan pelayanan sesuai bidangnya masing-masing, sudah tentu dibarengi koordinasi yang terpadu. Pelayanan yang maksimal dan koordinasi memerlukan peraturan yang rinci tentang tugas masing-masing dan garis akuntabilitas yang jelas di dalam AP-HKBP. ______________________________________________________________
Label: Artikel
di 01.01 2 komentar
Jumat, 15 Mei 2009
HKBP MASA DEPAN: GERAKAN PEMBERDAYAAN DAN TRANSFORMASI
artikel ini dibawakan di seminar PI DEL
VISI DAN MISI
Pemberdayaan warga untuk transformasi adalah roh dari visi dan misi HKBP (Efesus 4:11-14; Markus 16 :15-18). Visi dan Misi HKBP dalam Aturan dan Peraturan 2002 hanya akan menjadi jasad tanpa roh ketika warga jemaat berada dalam posisi sebagai objek pelayanan yang sepenuhnya bergantung kepada pelayan. HKBP masa depan harus komit memenuhi panggilannya untuk memberdayakan warga jemaat membawa perubahan sosial (transformasi sosial) di tengah-tengah arus globalisasi. HKBP baru benar-benar menjadi gereja yang berkembang, inklusif, dialogis dan terbuka serta mampu mengembangkan kehidupan yang bermutu, apabila persekutuan, kesaksian dan pelayanannya digerakkan oleh roh pemberdayaan yang membawa perubahan sosial di tengah-tengah abad 21. Mutu pelayanan HKBP diukur dari kemampuan warga jemaat membawa perubahan bagi terciptanya kehidupan sosial dan lingkungan yang adil dan penuh damai sejahtera. HKBP harus memasuki lapangan sosial ekonomi masyarakat dan berperan di dalamnya membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih adil, sejahtera dan religius. Dengan demikian maka HKBP menjadi Gerakan Pemberdayaan dan Transformasi Warga (Movement for People Empowerment and Transformation).
PRINSIP DAN KOMITMEN
Mengasihi, melayani dan kepedulian adalah prinsip yang mesti dipegang teguh oleh semua warga dan pelayan dalam setiap usaha mewujudkan visi dan misi tersebut (Yohanes 3:16; Markus 10:45; 1 Korintus 16:14; 2 Korintus 6:1-10; 9: 10-15). Pelayanan senantiasa harus digerakkan oleh kasih. Pelayanan yang tidak beralaskan kasih pada akhirnya menghasilkan arogansi kekuasaan. Kasih dan pelayanan adalah prinsip yang menentukan keberhasilan program-program pemberdayaan untuk perubahan sosial dan lingkungan. Implikasinya adalah semua program dalam bidang persekutuan, kesaksian dan pelayanan HKBP harus didesain sedemikian rupa berdasarkan pemahaman teologis eklesiologis terhadap tantangan aktual gereja abad 21. Sudah waktunya bagi HKBP keluar dari jebakan aktivitas formal dan rutinitas seremonial, yang hanya akan memperkuat struktur dan melemahkan kemandirian jemaat. HKBP harus fokus kepada pelayanan berdasarkan kasih Kristus, sehingga seluruh jemaat mampu mengaktualisasikan pelayanan yang benar-benar menyentuh, sebagai implementasi pertumbuhan iman, kasih dan pengharapan. Sudah waktunya HKBP menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pelayanan yang menjangkau mereka yang mengalami situasi yang sulit, seperti mereka yang menjadi korban aneka kekerasan dan ketidakadilan, ODHA, akibat kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup dan pemanasan global. The Outreach Ministry harus mendapat perhatian, khususnya melayani sektor yang belum dan tidak tersentuh oleh pelayanan HKBP. Sangat dibutuhkan redefinisi dan reposisi peran sosial HKBP, agar HKBP tidak hanya mengurusi soal-soal yang terkait dengan spiritual sajaa, tetapi juga soal-soal ekonomi, politik, pendidikan dan kebutuhan masyarakat lainnya, agar kehadiran HKBP memiliki dampak sosial.
INTEGRITAS INSTITUSIONAL
Gerakan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan HKBP mesti dilihat secara utuh sebagai organisme spritual dan institusional di tengah-tengah realitas dunia, dan Indonesia khususnya. Sejarah institusional HKBP harus tetap memiliki integritas sebagai tubuh Kristus yang sehat, kuat dan lincah melayani di tengah-tengah arus globalisasi. Oleh karena itu, Aturan dan Peraturan HKBP mestinya menjadi landasan yang kokoh bagi setiap program pemberdayaan warga dan perubahan sosial. Aturan dan Peraturan yang berorientasi pemberdayaan dan transformasi warga jemaat ditandai dengan : a) Peningkatan peran serta dan ruang gerak warga jemaat dalam berbagai pelayanan; b) Identifikasi dan pengembangan talenta dan potensi warga dan pelayan; c) Perluasan pendelegasian wewenang yang jelas dan otonomisasi unit-unit pelayanan berbasis kebutuhan real dan; d) penguatan jejaring dan pelayanan secara sinergis dan akuntabel, baik di tingkat nasional maupun internasional, e) penghargaan kepada keadilan gender dan lingkungan hidup dengan penghargaan kepada segala yang bernafas. Fenomena yang memuka akhir-akhir ini adalah jemaat melayani struktur, padahal sebaiknya adalah struktur yang harus melayani jemaat. Fenomena itu dapat dilihat secara kasat mata di tingkat Huria, Ressort, Distrik, Lembaga dan bahkan di tingkat Hatopan (Pusat), di mana unsur pimpinan di setiap level tampil sebagai master of ceremony, professional (monolog), sementara jemaat diposisikan sebagai audiences yang dermawan dan pantas membayar (dan tidak perlu diapresiasi?). Secara teoretis (dalam kertas) Aturan dan Peraturan HKBP 2002 diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan akselerasi pengambilan kebijakan strategis, dengan menghapus Lembaga Majelis Pusat, dan membentuk Rapat Pimpinan (terdiri dari Ephorus, Sekretaris Jenderal dan ketiga Kepala Departemen) serta Majelis Pekerja Sinode (MPS). Kenyataannya tidak demikian sebab konsep kepemimpinan yang flat belum sesuai dengan harapan, demikian juga dari segi fasilitas kantor maupun dari efektivitas pelayanan ketiga departemen. Beberapa indikasi dapat disebutkan, misalnya a) hingga periode kepemimpinan 2004-2008 akan berakhir beberapa bulan lagi, pembenahan fasilitas pendukung pelayan ketiga departemen belum juga dapat diwujudkan; b) Secara struktural posisi kelima piminan HKBP perlu diatur melalui uraian tugas yang jelas; c) Aturan dan Peraturan HKBP 2002 sama sekali tidak menuntut adanya Sinode Kerja untuk mengevaluasi kinerja para pimpinan; d) MPS memiliki sejumlah kelemahan institusional yang pada gilirannya tidak efektif menjadi perangkat penyambung aspirasi jemaat di setiap distrik, serta tidak memiliki wewenang pengawasan dan evaluasi terhadap program hatopan di HKBP. Integritas institusional HKBP sebagi perwujudan Tubuh Kristus perlu dibangun secara sehat dan kritis dan memperhatikan dimensi-dimensi religius dalam bidang Koinonia, Marturia dan Diakonia. Sebab, gereja mula-mula pun bertumbuh pesat dan pelayanannya menjadi sedemikian kuat dan luas, bukan oleh karena figur dan rekam-jejak para pelayan yang telah sekian lama bersama-sama dengan Kristus di dalam berbagai pelayanan. Kesuksesan tu dicapai oleh integritas dan komitmen orang-orang kudus melanjutkan (mengerjakan) apa yang diprakarsai oleh Yesus dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan-Nya. Integritas dan komitmen seperti itu hanya akan diperoleh apabila Aturan dan Peraturan memberikan ruang gerak yang luas bagi para pelayan dan warga jemaat untuk selalu bersikap kritis terhadap tradisi dan pola-pola kehidupan beragama yang legalistik-fundamentalis. Artinya, gereja harus senantiasa dibaharui dengan mengapresiasi perubahan zaman serta meratifikasi konsep-konsep teologis-eklesiologis yang berkembang dalam rangka pembangunan kerajaan Allah di tengah-tengah realitas dunia (Kis Rasul 6:1-7). Integritas institusional perlu dibenahi melalui pemberdayaan struktural dalam arti merevitalisasi kinerja berbagai lembaga dan unit-unit pelayanan yang ada, sehingga tujuan berdirinya lembaga dan unit-unit kerja itu dapat diaktualisasikan secara optimal. Akhir-akhir ini, ada kecenderungan bahwa Lembaga, Yayasan dan Biro menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tetapi apakah lembaga atau unit kerja itu setia membawa misi gereja bagi pembangunan kerajaan Allah atau tidak, agaknya sudah diabaikan. HKBP masa depan perlu mengevaluasi sistem rekruitmen staf di tingkat Kepala Biro, Pimpinan Lembaga, dan unit pelayanan lainnya. Sehubungan dengan itu, maka sudah waktunya bagi HKBP untuk sepenuh hati merevitaliasi Sekolah Tinggi Theologia, dan pendidikan teologi lainnya di HKBP, demikian juga dengan Badan Penelitian dan Pengembangan HKBP, Komisi Teologi dan Tim Konfessi, serta mendekatkan Universitas HKBP Nommensen (UHN) kepada jemaat dan lembaga-lembaga pendidikan maupun Lembaga Swadaya Gereja. UHN sebenarnya sangat layak menjadi payung dan sekaligus laboratorium pengembangan Credit Union Modifikasi (CUM) yang mulai berkembang di berbagai distrik. Adalah suatu ironi apabila ada warga jemaat yang membutuhkan perawatan medis dari Toba Samosir, tetapi lebih memilih langsung ke Rumah Sakit Umum Porsea, dan sama sekali tidak menghiraukan lagi Rumah Sakit Balige.
INTEGRITAS PELAYANAN
Sebagaimana dipaparkan di atas, suka atau tidak suka pada dasarnya orientasi pelayanan HKBP akhir-akhir ini perlu dipertegas dan diperjelas, walaupun di beberapa tempat ada beberapa kegiatan di tingkat Hatopan dan nasional yang patut disyukuri. Namun, masih merupakan aktifitas seremonial atau anniversarial, seperti jubileum dan taon parolopolopon, atau yang sejenis dengan itu. Artinya, HKBP cenderung mengabaikan tujuan panggilannya utnutk memberitakan Injil ke segala makhluk (Markus 16:15-18;). Sebagaimana disebutkan tadi, HKBP sebagai lembaga menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Seharusnya lembaga berkarya untuk umat, masyarakat, bangsa dan seantero dunia (Matius 28:19-20). Oleh karena itu, HKBP masa depan harus kembali menemukan integritas pelayanannya sebagai saksi Kristus yang berdaya dan bermutu, menerjemahkan kabar baik dalam realitas dan tantangan abad 21. Di tengah-tengah realitas Indonesia dalam pusaran arus Globalisasi, HKBP perlu membangun integritas pelayanannya paling tidak dalam 4 (empat) aspek yaitu : KoinoniaMarturiaDiakoniaDidache (pendidikan dan pengajaran ) Pertama, membangun komunitas umat sebagai sumber kekuatan, dimana program-program Koinonia harus menghasilkan sumber energi spritual baru dimana persaudaraan menjadi kenyataan yang dapat dirasakan dan berdampak pada kedewasaan. Ketangguhan dan penguatan setiap warga jemaat untuk merajut kebersamaan dalam kemajemukan umat manusia menghadapi tantangan globalisasi. Warga HKBP telah tersebar ke seluruh dunia, hal ini membutuhkan strategy pelayanan khusus dan bersifat global. Kedua, membangun spiritualitas sebagai saksi Kristus, sehingga program-program Marturia bukan hanya membentuk jemaat yang beriman dengan kemampuan bernyanyi dan rajin beribadah. Tetapi, jauh lebih penting adalah membangun semangat dan tanggung jawab penginjilan dalam diri setiap warga jemaat dalam menjalani hidupnya di bidang sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan politik, serta di segala bidang kehidupan, bahwa disana mereka adalah saksi Kristus. Ketiga, mendahulukan kaum miskin dan lemah, yang dalam konteks globalisasi akan semakin meningkat jumlahnya, oleh karena itu semua program-program Diakonia tidak cukup lagi hanya menyinggung sepintas keadaan kaum jompo, yatim piatu atau orang cacat, tetapi mampu menerjemahkan cinta kasih Kristus kepada semua orang yang tersingkir, menderita, lemah dan miskin dalam pengertian yang multi dimensi. Sudah waktunya HKBPmelakukan pendampingan bagi pemberdayaan petani, nelayan dan pedagang tradisional agar tidak terus menerus korban kebijakan ekonomi yang pro-konglomerat (Frans Magnis-Suseno, 2004:103-104). Elim, Hepatha dan Rumah Sakit HKBP hendaknya tidak hanya di Pematangsiantar, Laguboti dan Balige, tetapi dalam 4 tahun ke depan sudah ada di kota kota lain di Indonesia. Bahkan sesungguhnya, HKBP pun dalam kurun waktu 4 (empat) tahun ke depan sudah harus menggeluti Pengembangan Ekonomi Produktif termasuk membuka unit usaha yang menghasilkan bagi HKBP yang sebahagian daripadanya adalah pembukaan BPR. Ke depan, Unit Usaha ini diharapkan akan mampu menopang pelayanan HKBP termasuk membantu kesejahteraan pelayan dan jaminan harituanya. Keempat, sangat mendesak untuk memberi perhatian kepada pendidikan dan pengajaran untuk mencerdaskan umat dan mewariskan nilai-nilai kristiani. Pelatihan dan pembinaan harus terus menerus berlanjut dan ditingkatkan bagi warga dan pelayan. Secara singkat dapat dikatakan, bahwa HKBP ke depan harus mampu mengimplementasikan integritas (kesetiaan) pelayanannya dengan memberi perhatian dan komitmen yang kuat terhadap masalah-masalah yang benar-benar mencemaskan masyarakat dunia saat ini. Keberpihakan dan keperdulian terhadap kaum marjinal harus diaplikasikan dalam berbagai bentuk pelayanan pemberdayaan para petani dan nelayan; pendampingan buruh dan anak terlantar/anak jalanan; advokasi terhadap korban kekerasan dan ODHA. Apa yang sudah dilakukan oleh gereja-gereja Reform, ada baiknya juga diakui oleh HKBP, yaitu merumuskan sebuah janji iman yang disebut dengan:covenanting for justice, yang salah satu statemennya mengatakan bahwa :kita percaya bahwa kita diminta oleh Allah untuk melakukan keadilan, cinta kasih, dan jalan yang benar di hadapan-Nya (Mikha 6:8). Kita dipanggil oleh Allah untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan pengrusakan lingkungan, sehingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai (Amos 5:24). Oleh karena itu, kita harus menolak semua teologi yang mengatakan bahwa Allah hanya berpihak kepada yang kaya, dan kemiskinan adalah akibat kesalahan dan kemalasan orang miskin. Kita menolak segala bentuk ketidakadilan yang menghancurkan hubungan yang baik antar jender, ras, strata sosial dan kecacatan. Kita menolak semua teologi yang menekankan bahwa kepentingan manusia di atas kepentingan alam (Seong-Won Park, 2005:189). Integritas pelayanan HKBP juga mesti diaplikasikan dalam konteks pluralisme dalam pengertian yang luas baik secara internal (dalam HKBP dan gereja-gereja) maupun secara eksternal (terhadap umat beragama lain, khususnya Islam). Pelayanan jemaat tidak dapat lagi dibatasi untuk sekedar mengawal tradisi atau memurnikan tradisi (membangun orthodoksi), dimana pelayanan kategorial tidak sesederhana yng kita pahami lagi dalam konteks jemaat agraris tempo dulu. Sebab, warga jemaat sendiri dalam kategori umur (Sekolah Minggu, Remaja dan Naposo Bulung, Ibu dan Bapak) sudah sangat pluralistik baik di tingkat pergumulan dan pemahaman imannya. Lebih-lebih lagi dalam menghadapi umat dari denominasi gereja yang lain, maupun menghadapi saudara-saudara kita yang Islam. Semua itu membutuhkan kesiapan berdialog dan kematangan sikap, sehingga HKBP tidak terjebak dalam sikap defensif, tetapi sesuai dengan visi dan misinya harus mampu mendengar dan memahami komentar dan ketakutan dari saudara-saudara kita yang beragama lain. Visi dan misi HKBP sebagai gereja yang inklusif, dialogis dan terbuka dalam konteks pluralisme, hanya akan tinggal slogan apabila tidak secara gradual mempersiapkan pemuda gereja yang dewasa dalam iman, peka terhadap perkembangan zaman dan fleksibel dalam pergaulan nasional dan internasional. Sejarah mencatat bahwa revolusi dan reformasi besar biasanya terjadi melalui mobilisasi orang-orang muda yang mengalami pencerahan intelektual , politik dan spritual, kemudian menyadari berbagai kelemahan ajaran dan kebijakan tradisonal, yang menghambat kemajuan serta membelenggu kebebasan individu (Huntington, 2002:116.119).
PENUTUP
Pemberdayaan dan Transformasi adalah thema pokok yang perlu diterjemahkan dalam persekutuan, kesaksian, pelayanan, dan pengembangan pendidikan HKBP. Pemberdayaan yang dimaksudkan adalah dengan memberi kepercayaan kepada warga, menhembangkan prakarsa, meningkatkan keahlian (kompetensi), menggerakkan potensi, dan mengorganisasikan sumberdaya yang ada. Pada pihak lain transformasi berarti mengupayakan pembaharuan menyeluruh, dan melakukan perubahan mendasar guna mencapai mutu yang maksimal termasuk dalam berbagai Peraturan dan kebijakan, serta meninjau dan mengkaji ulang kurikulum Pendidikan Agama Kristen dalam Program Sekolah Minggu, Remaja, Pemuda, kaum Bapak dan Ibu. Tugas mendesak saat ini adalah bekerjakeras untuk mengukuhkan HKBP menjadi gereja sebagai kekuatan pemberdayaan dan transformasi . Bahagian dari tugas itu mungkin termasuk mencari struktur, format dan pengorganisasian yang cocok untuk HKBP, agar berorientasi ke masa depan, mengikuti perkembangan strategis, dan mampu menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Sebelum mengakhiri paparan ini, ijinkan saya mengucapkan untaian terimakasih kepada Universitas HKBP Nommensen dan PI Del yang memprakarsai Seminar yang sangat penting ini. Tuhan memberkati.
Label: Artikel
di 01.06 0 komentar
GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA: ALIRAN UTAMA DAN PERKEMBANGANNYA
1. Gereja-gereja Protestan biasanya dipakai untuk Gereja-gereja yang berpisah dari Gereja Katolik Roma sejak Zaman Reformasi abad 16 yang dimotori oleh Martin Luther dan Calvin, dll. Tetapi gereja protestan di Indonesia terdiri dari ratusan organisasi dan setiap gereja mempunyai nama sendiri: kadang-kadang alirannya disebut jelas tetapi kadang-kadang alirannya tidak disebut tetapi apabila ditelusuri asal-usulnya akan jelas alirannya. Semua gereja-gereja di Indonesia mempunyai asal-usul dari Barat, Eropa dan Amerika yang mengutus para penginjil (misionaris) terutama pada abad 19 dan awal abad 20. Para misionaris yang kebanyakan datang dari Belanda, Jerman, dan lain-lain, dan belakangan dari Amerika, mendirikan organisasi gereja dan sekaligus menanamkan ajaran-ajaran gereja asalnya; ajaran-ajaran itu sampai sekarang masih dipedomani oleh gereja-gereja di Indonesia.
2. Jika kita berbicara tentang aliran maka ia harus dibedakan dari organisasi. Tetapi terlebih dahulu mesti dicamkan apa yang disebut aliran dalam konteks gereja/kekristenan. Aliran-aliran di dalam kekristenan ialah ajaran atau paham yang dijadikan pedoman utama di dalam kehidupan gereja. Biasanya ajaran itu dinyatakan di dalam Konfesi (Ajaran Resmi) dan liturgi (tata ibadah). Kalaupun tidak dinyatakan tegas secara tertulis tetapi gereja-gereja itu sering mengakui aliran acuannya. Ada juga yang tidak mengaku aliran tertentu tetapi ajarannya meneruskan aliran terdahulu. Gereja yang satu aliran tidak harus satu organisasi. Mereka terdiri dari banyak gereja tetapi mengikuti aliran yang sama.
3. Para penginjil sejak zaman VOC sebenarnya telah siap memasuki Indonesia tetapi VOC menolak kehadiran mereka karena kuatir di kemudian hari orang-orang yang mereka injili akan memberontak. Lagipula para penginjil datang dari kalangan warga gereja yang tidak terikat kepada kekuasaan negara. Para penginjil diijinkan masuk barulah setelah Belanda mengambil alih kekuasaan dari VOC pada abad 19. Pemerintah Belanda pada waktu itu mengambil sikap netral terhadap agama. Ini membantah anggapan seolah-olah Belanda dengan sendirinya membantu penginjilan. Dan penginjilan tidak dilakukan oleh pemerintah Belanda melainkan oleh badan-badan sending yang dibentuk atas prakarsa warga-warga gereja.
4. Dilihat dari asal-usulnya aliran-aliran kekristenan (di luar Katolik) dihubungkan dengan tokoh-tokoh reformasi (Luther, Calvin) atau terkait dengan aspek-aspek tertentu saja yang diutamakan melebihi aspek-aspek lain, seperti aliran Pentakosta, Karismatik, Kedatangan Kristus kembali, dsb. Aliran Lutheran mengacu pada ajaran Martin Luther dan aliran Calvinis mengacu pada ajaran Johannes Calvin. Aliran Lutheran
5. Untuk lebih jelas kita memaparkan beberapa aliran utama saja sebab tidak mungkin membicarakan semua aliran yang sangat banyak dalam waktu singkat. Di Indonesia gereja-gereja yang beraliran Lutheran hampir semua berkantor-pusat di Sumatera Utara seperti HKBP, HKI, GKPS, GKPI, GKPM, GKLI, GKPA dan GKPPD. Walaupun gereja-gereja ini mengaku Lutheran dan menjadi anggota LWF, tetapi tata ibadah gereja-gereja ini tidak mencerminkan tradisi Lutheran. Ini tidak terlepas dari latar belakang lembaga sending Jerman yang mengutus para penginjil yakni RMG dari lingkungan jemaat yang menganut aliran uniert (aliran gabungan Lutheran dan Calvinis). Sebuah catatan kecil patut diberikan. RMG (VEM, sekarang UIM) berasal dari Jerman yang setelah lama mengurus ijin dari pemerintah baru dapat memasuki wilayah Tapanuli. Kehadiran Kekristenan di Tapanuli (orang-orang pertama yang dibaptis 1861) telah membuka isolasi suku Batak (Tapanuli Utara) yang masih menganut agama suku. Dengan cepat kekristenan merambat dan ribuan orang menerima agama Kristen. Menjadi orang Kristen dahulu dilihat sebagai langkah awal meraih kemajuan sebab penginjilan juga disertai pembangunan kesehatan (klinik, Rumah Sakit) dan pendidikan, baik pendidikan umum, ketrampilan maupun pendidikan untuk calon-calon pelayan gereja (pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, evangelis dan diakones). Banyak orang Batak Toba (juga orang Nias, Simalungun dan Dairi) yang berhasil menjadi pegawai, guru, pedagang, pengusaha dan lain-lain dan bergerak keluar dari Tapanuli dan bermukim di kota-kota di Sumatera utara, Riau, Jawa, Sulawesi,Kalimantan sampai ke Papua dan bahkan sudah banyak yang menetap di luar negeri (Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat). Persebaran orang-orang Batak tidak terlepas dari pengaruh kehadiran agama Kristen di Sumatra Utara. Di Tapanuli dan di luar Tapanuli, gereja-gereja (seperti HKBP) membangun sarana pendidikan, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi (Universitas HKBP Nomensen di Pematang Siantar dan Medan).
6. Sebuah ciri khas dari orang-orang Batak ialah persebaran mereka ke berbagai wilayah disertai dengan pembangunan gereja tempat mereka di samping beribadah tetapi juga tempat persekutuan sosial dan budaya. Sebagian besar merasa kehidupan religius tidak lengkap apabila tidak diikuti kehidupan social- budaya. Sebagian orang Batak di perkotaan pindah ke gereja-gereja aliran lain karena merasa kehidupan religius lebih mantap di gereja-gereja lain. Biasanya mereka kurang mementingkan kehidupan sosial-budaya dan bersifat lebih urban. Sekarang ini orang Batak dan Nias mudah ditemui yakni dengan mencari gereja-gereja asal Sumatra Utara yang berdiri di mana-mana (HKBP, GKPS, GKPI, HKI, GKPA, BNKP, dll). Aliran Calvinis
7. Gereja-gereja aliran Calvin paling luas wilayah penyebarannya mulai dari Jawa sampai Papua. Aliran ini juga terdapat di Sumatra Utara (GBKP). Walaupun tidak ada yang memakai nama Calvinis tetapi hampir semua mengakui menganut aliran Calvinis seperti GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKJ (Jawa), GKP (Pasundan), GKJW (Jawa Timur), GKE (Kalimantan), GMIM (Sulut), GMIT (Timor), Gereja Toraja, GKI Papua, GPIB, dan masih banyak lagi. Umumnya gereja-gereja ini hasil badan sending Belanda (NZG). Gereja-gereja yang menganut aliran Calvinis bergabung di dalam wadah WAR (World Alliance Reformed Church). Sama seperti aliran Lutheran mengacu pada ajaran Luther, aliran Calvinis mengacu pada ajaran Calvin. Karya besar Calvin yang menjadi pegangan pengajaran di lingkungan Calvin ialah Institutio, berisi uraian tentang pokok-pokok iman Kristen.
Aliran-aliran yang berlatar-belakang Amerika
9. Apabila kedua aliran terdahulu berawal dari Eropa, maka sejak abad 20 khususnya dekade kedua/ketiga, aliran Pentakosta yang berasal dari Amerika memasuki beberapa kota di Jawa, dan menyebar dengan cepat secara spontan. Pada mulanya anggota-anggota datang dari kalangan yang kurang mendapat perhatian gereja seperti orang Indo-Eropa dan kemudian warga gereja yang tertarik. Bagi aliran Pentakosta dan Karismati, menginjili anggota-anggota gereja lain dianggap wajar saja. Tetapi bagi gereja-gereja yang sudah lebih dahulu hadir ini dinilai tidak menghargai keberadaan gereja lain atau populer disebut perilaku “mencuri domba”. Tetapi tidak boleh disangkal aliran Pentakosta juga aktif menginjili kalangan penganut agama suku atau non-Kristen. Pentakosta dan Karismatik berkembang pesat karena tidak begitu terikat pada stuktur, spontan dan tergantung pada inisiatif seseorang/kelompok. Jumlah gereja pengikut aliran ini sangat banyak dan bergabung di dalam beberapa rumpun organisasi.
10. Sejak dekade 1960-an seiring menguatnya kemajuan industri dan teknologi muncul gerakan karismatik yang sering juga disebut Pentakosta-Baru. Mereka dari kalangan Pentakosta tetapi menilai pentakosta telah menjelma menjadi organisasi gereja yang mapan dan “kehilangan roh”. Pada awalnya Karismatik adalah suatu gerakan, gerakan untuk menghidupkan “roh pembaruan” di dalam gereja dari mana anggota-anggota berasal. Gerakan ini dianggap sebagai reaksi penyeimbang terhadap kehidupan modern yang sangat teknis sehingga kehilangan keakraban persekutuan dan kehilangan spontanitas. Sesuai dengan namanya (Karismatik dari karisma = karunia), sangat mendambakan mempunyai karisma-karisma tertentu seperti bahasa roh (glosolalia), penyembuhan, penglihatan dan mukjizat. Tetapi sama seperti banyak gerakan-gerakan, gerakan karismatik kemudian membentuk gereja sendiri.
11. Sebenarnya masih adalagi aliran-aliran berasal dari Amerika seperti aliran milenaris: mengharapkan kedatangan kerajaan seribu tahun atau kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi umat manusia. Aliran ini terbagi dalam berbagai gereja seperti Gereja Advent dan Saksi Yehuwa. Yang pertama memiliki cukup banyak anggota dan mengelola Rumah Sakit, sekolah dan universitas. Yang terakhir mengutamakan kehidupan kelompok-kelompok yang mempelajari Alkitab dan sangat ulet mengajak orang lain menjadi anggota mereka. Selain itu adalagi kelompok-kelompok (aliran lain) seperti Mormon, Christian Science, Scientologi.
12. Respon paling nyata dan vokal orang Kristen (Protestan) terhadap perkembangan masyarakat adalah melalui wadah oikumenis, Persekutuan Gerja-gereja di Indonesia (PGI) yang didirikan tahun 1950. Tujuan PGI adalah membentuk Gereja Kristen yang esa di Indonesia. Tujuan ini mencuat karena ada kesadaran umat bahwa perpecahan bukan jatidiri gereja dan tidak lahir di Indonesia melainkan yang dibawa dari negeri pengutus penginjil (Eropa) yang memang sudah berabad-abad hidup di dalam pertikaian karena ajaran. Pendirian PGI tidak terlepas dari semangat oikumenis, suatu gerakan agar di mana saja gereja berada bersama-sama mewujudkan keselamatan di dalam masyarakat melalui pelayanan dan kesaksian.
13. Manifestasi dari kebersamaan gereja-gereja di Indonesia ialah selalu peka merespons setiap perkembangan secara positif, kritis dan realistis. Salah satu respons PGI tampak pada masa Orde Baru yakni terus menerus menyuarakan agar pembangunan benar-benar dinikmati oleh seluruh bangsa. Dan upaya itu tertuang di dalam rumusan GBHN bahwa pembangunan adalah pengamalan Pancasila!
14. Di dalam upaya mempersatukan gereja-gereja, prestasi signifikan dihasilkan PGI tahun 1984 pada Sidang Raya di Ambon yang menerbitkan Dokumen Keesaan Gereja (DKG). Di dalam (DKG) pemahaman dasar tentang berbagai aspek kehidupan bergereja ditetapkan. DKG ini mengungkapkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persekutuan yang dinamis di dalam konteks Indonesia. Kalau DKG dapat diimplementasikan secara konkret akan banyak manfaat kehadiran gereja-gereja bagi masyarakat dan bangsa.
15. PGI cq Litbang PGI menorehkan sejarah yakni sejak 1980-an menyelenggarakan seminar Agama-agama (SAA) secara berkala setiap tahun.Di forum SAA ini para tokoh lintas agama dan masyarakat duduk bersama membicarakan isu-isu penting yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik. Terbangunnya kerukunan di masyarakat kita tidak terlepas dari penyelenggaraan SAA itu.
16. Menurut hemat saya perhatian gereja-gereja saat ini di Indonesia dan di dunia, harus lebih fokus pada globalisasi. Dokumen WCC yang diputuskan di Sidang Raya-nya di Porto Alegre Brazil berjudul Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth (AGAPE). Dokumen ini adalah satu imbauan serius terhadap orang Kristen agar mencari globalisasi alternatif karena gereja-gereja tidap bisa lepas dari panggilan bagaimana menghayati iman di era globalisasi sekarang ini. Ini suatu proyek besar yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat.Merespons globalisasi adalah tugas semua komunitas agar globalisasi tidak memperburuk kemiskinan tetapi membangun kesejahteraan yang adil!
Label: Artikel
di 01.01 6 komentar
Kamis, 14 Mei 2009
PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH
(YOHANES 15:16)[1]
(artikel ini dibawakan pada Seminar Youth Camp 2008)
Pendahuluan
Bahan bacaan:
1. Beyer, Ulrich Berani Tampil Beda, BJU, Medan, 2005.
2. Bluck, John., Evervyday Ecumenism - Can You Take The World Church Home?, WCC Publication, Geneva, 1987.
3. Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations And The Remaking of World Order, Simon & Schuster Australia, Sydney, 2002.
4. Marber, Peter., Money Changes Everything, How Global Prosperity Is Rehsaping Our Needs, Values, and Lifestyles, Financial Times (FT) Prentice Hall, New Jersey, 2003.
5. Park, Seong-Won. (Guest Co-editor), “Covenanting for Justice: the Accra Confession”, dalam Reformed World, Volume 55, September 2005.
6. Rauchfuss, Sonja., “Youth and neoliberal globalization: a German perspective,” dalam Reformed World, Volume 56, March 2006.
7. Stott, Jhon., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer, YKBK/OMF, Jakarta, 1994.
8. Tangdilintin, Philips, Pembinaan Generasi Muda, dengan proses manajerial VOSRAM, Kanisius, Yogyakarta, 2008.
[1] Pdt. Willem TP Simarmata, MA, Sekretaris Jenderal HKBP, dalam HKBP Youth Camp, 1 Juli 2008.
[2] Generasi muda fundamentalis akan cenderung membalaskan kegagalan masa lalu dengan berbagai tindak kekerasan, seperti terorisme yang merugikan dalam segala hal, termasuk merugikan bagi agama pelakunya. Analisis Huntington tidak dapat dibantah, sebab fakta menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dengan jaringan terorisme internasional yang sangat rapi dan canggih, termasuk yang beroperasi di Indonesia, ternyata adalah generasi muda dengan intelektualitas dan mobilitas tinggi, tetapi tidak memiliki arah dan tingkat pertumbuhan spiritual yang baik dan konstruktif. Pertumbuhan Islam secara demografis dan kebangkitan Islam sebagai salah satu akibat dari kemunduran budaya barat (warisan kekristenan), menurut Huntington merupakan faktor utama yang menimbulkan berbagai konflik dengan umat beragama lain.
[3] Pemuda HKBP perlu mengantisipasi pengaruh luas dari neoliberalisme dalam berbagai sektor, yang semestinya menjadi pusat pembentukan moral dan spiritual masyarakat, tetapi kemudian diubah menjadi komoditi yang berorientasi keuntungan ekonomik. Pengaruh neoliberalisme terhadap kaum muda, terutama melalui perubahan ekonomi, ketidakseimbangan demografis, dan pluralisme budaya. Perubahan ekonomi, misalnya dapat diamati melalui penggunaan telepon seluler, internet dan video game. Saat ini para remaja dan pemuda, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga Mahasiswa, merupakan kelompok pengguna telepon selular, video game, dan internet yang paling tinggi. Ini merupakan fenomena global, yang dijumpai hampir di semua negara, terutama di negara-negara kaya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap kaum muda di Jerman, terbukti bahwa persentase kelompok usia 15-25 tahun merupakan kelompok umur yang secara reguler menggunakan komputer, internet dan video game, dan ternyata sejak tahun 1997 meningkat dua kali lipat dari 21 % menjadi 43 %. Malahan disebutkan, bahwa 80 % pemuda di Jerman secara reguler menggunakan mobile telephone. Penggunaan alat komunikasi canggih dan akses informasi yang komprehensif seperti internet yang demikian tinggi, justru mempertegas individualisme dan kepelbagaian pilihan dan sikap kaum muda di Jerman.
Label: Artikel
di 18.22 0 komentar
Senin, 11 Mei 2009
Ucapan Selamat kepada Harian SIB
Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Sampaikan Dirgahayu 39 Tahun Harian SIB, Doakan DR GM Panggabean Tetap Tegar dan Kokoh untuk Memperjuangkan Kepentingan Rakyat *Harian “SIB” Menjadi Saluran untuk Menyuarakan Aspirasi Masyarakat
Pematangsiantar (SIB)Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) dalam menyambut Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) 9 Mei 1970-9 Mei 2009 menyatakan bahwa media yang mengalami banyak tantangan dan gejolak adalah bukti dari kematangan dan kedewasaan, apalagi kalau mampu mengatasi berbagai gejolak tersebut seperti yang telah dialami Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) dari sejak awal pendiriannya.
Sebab, terbukti bahwa Harian “SIB” telah menjadi saluran untuk menyuarakan aspirasi dan suara hati warga masyarakat. Karenanya, adalah menjadi doa dan harapan kami bahwa koran “SIB” yang terbit di Kota Medan dan bertaraf nasional ini menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari upaya pembangunan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, karena media adalah salah satu alat untuk mencerdaskan bangsa dan menjadi alat pembelaan kepada orang-orang yang tidak memiliki pembelaan.
Menurut Pdt Willem TP Simarmata MA, semangat kepelbagaian yang dimiliki Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), itu terbukti dari pemberitaan-pemberitaan yang juga komit membela kepentingan semua komponen masyarakat, dan juga sangat menghargai kemajemukan budaya dan suku.
Karenanya, tambah Pdt WTP Simarmata MA, sebagai pribadi maupun sebagai Ketua Umum PGI Wilayah Sumut menyampaikan Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) kepada Pemimpin Umum Harian “SIB” DR GM Panggabean/keluarga, staf, wartawan dan karyawan, semoga Harian “SIB” tetap jaya untuk menyuarakan kepentingan bangsa, negara dan masyarakat demi demokrasi, persatuan dan pembangunan.
Secara khusus mengucapkan selamat juga kepada pendiri Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), DR GM Panggabean disertai doa dan harapan kiranya tetap tegar dan kokoh demi memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak. Bahkan, dari sejak awal berdirinya Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) mengalami pasang surut, riak dan bahkan gelombang yang menerpanya, namun sampai saat ini Harian “SIB” masih tetap hadir setiap pagi untuk menyampaikan berita-berita segar tentang kehidupan masyarakat kepada para pencintanya, ujar Pdt WTP Simarmata MA. (S1/y)
Label: Kegiatan
di 20.10 0 komentar
Kamis, 07 Mei 2009
Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Ag
Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Agar Pemeluk Agama Mayoritas Bersikap Bijaksana dan Melindungi Kaum Minoritas
Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) menyambut gembira, bangga dan rasa syukur adanya imbauan Sekretaris Jenderal Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad menanggapi pencabutan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) tempat ibadah dan gedung serbaguna HKBP Depok, Jawa Barat yang mengimbau umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas agar bersikap bijaksana dan melindungi kaum minoritas, bukannya bertindak sebaliknya.
Hal itu disampaikan Pdt WTP Simarmata MA menanggapi pemberitaan Harian “SIB”, Selasa (5/5) berjudul “Reaksi Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia terhadap pencabutan IMB HKBP”. Kita merasa bangga, karena imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad atas pencabutan IMB HKBP di Depok, karena beliau memiliki semangat nasionalisme sejati yang sangat menghargai kemajemukan dan kepelbagaian bangsa. Sebab, masa depan ini memiliki harapan yang lebih baik, karena kita masih memiliki tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan.
Dikatakan, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan kepada yang lain tapi setiap agama sangat mencintai terwujudnya perdamaian. Untuk itu, saya (Pdt WTP Simarmata MA) imbau kiranya masyarakat Sumut khususnya agar menjalin semangat persaudaran dengan warga masyarakat yang berbeda agama.”
Sebab, keutuhan bangsa ini akan semakin kokoh apabila semangat persaudaraan itu dapat dibina lebih baik. Dan pada kesempatan ini sekaligus menyampaikan saran/usul imbauan kepada Pemerintah Daerah Depok, Jawa Barat untuk dapat mempertimbangkan peninjauan ulang keputusan yang diambil oleh Walikota Depok yang mencabut IMB HKBP Depok. Sebab, pemerintah daerah dalam hal ini Walikota Depok, Jawa Barat adalah milik semua warga, maka seyogianya walikota menjadi pelindung dan pengayom bagi warga masyarakat yang majemuk itu.
Karenanya, tokoh-tokoh seperti Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia didukung, karena tidak berpikir sektarian, tetapi memiliki semangat kebersamaan. Untuk itu, barangkali masyarakat pun perlu arif untuk menentukan pilihan dalam pemilihan-pemilihan agar pilihan jatuh kepada tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan yang menghargai kemajemukan,
Sesuai dengan pemberitaan SIB, Senin (4/5), Walikota Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan bahwa pihaknya menjamin kebebasan beragama dan juga pendirian tempat beribadah, jika memenuhi persyaratan administratif dan teknis. “Saya tidak pernah menghalang-halangi pembangunan tempat beribadah untuk hadir di Kota Depok,” katanya.
Seperti diberitakan SIB, Kamis (30/4), pada 27 Maret 2009, Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail melalui keputusannya Nomor 645.8/144/Kpts/Sos/Huk/2009 menyatakan mencabut IMB tempat ibadah dan gedung serbaguna atas nama HKBP Pangkalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggrahan IV Kav.NT-25 Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan oleh pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998. (S1/y)
Label: Kegiatan
di 20.03 1 komentar
Selasa, 05 Mei 2009
Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA: Aparat Penegak Hukum Agar Memberantas Judi Togel Yang Mulai Marak di Siantar-Simalungun
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di kompleks STT HKBP, Jalan Sangnaualuh P Siantar, Senin (4/5) mengatakan, sejak dahulu gereja-gereja selalu komit dan konsisten meminta agar aparat penegak hukum/aparat kepolisian bertindak tegas memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi togel.
Hal itu dikatakan menanggapi pemberitaan SIB, Senin (4/5) berjudul “Judi Togel mulai marak di P Siantar-Simalungun, polisi diminta tetap komit berantas judi”. Sebab segala bentuk judi tidak saja bertentangan dengan nilai-nilai hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama yang kita anut.
Untuk itu sangat berharap agar Kapoldasu, Kapolres Simalungun dan Kapolresta P Siantar khususnya segera menurunkan timnya ke lapangan untuk meneliti dan memberantas segala bentuk judi termasuk judi togel yang mulai marak di tengah-tengah kehidupan masyarakat di P Siantar-Simalungun khususnya, serta berusaha menangkap para oknum bandar, juru tulis (jurtul) dan agen-agen judi togel tersebut. Serta sekaligus menghimbau agar masyarakat yang sudah meninggalkan permainan judi togel tersebut jangan mau kembali tergoda bermain judi. Bahkan diyakini asal aparat penegak hukum bertindak tegas memberantas judi togel dan menangkap bandar dan jurtulnya, diyakini beroperasinya judi togel yang mulai marak saat ini di P Siantar Simalungun akan dapat segera dihentikan/diberantas, serta masyarakat pasti akan mendukung sikap tegas aparat penegak hukum yang bertindak memberantas segala bentuk perjudian di daerah ini.
Sebab sewaktu Kapolri dilantik, memiliki komitmen yang tegas untuk memberantas segala bentuk permainan judi di Indonesia. Tegasnya kata Pdt WTP Simarmata MA, sikap Kapolri sekarang ini yang sangat tegas memberantas judi sangat didukung dan dihargai gereja-gereja. Sebab dengan berhentinya segala bentuk perjudian di Sumut dan khususnya di P Siantar-Simalungun, suasana aman dan kondusif cukup terbina baik di Sumut. Mengingat lagi pada 8 Juli 2009 yang akan datang akan berlangsung Pilpres sebagai agenda nasional, untuk itu marilah kita sama-sama menjaga kedamaian di lingkungan kita masing-masing agar pelaksanaan Pilpres dapat berjalan aman dan damai.
Tegasnya, kata Pdt WTP Simarmata MA, segala bentuk judi termasuk judi togel yang saat ini mulai marak di P Siantar-Simalungun harus segera dihentikan atau diberantas serta para pelakunya dapat ditangkap agar dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Ketua Umum PGI Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA menyampaikan terimakasih kepada Polresta Pematangsiantar dan Polres Simalungun yang tetap komit akan memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi toto gelap di Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. (S1/q)
Label: Kegiatan
di 21.11 0 komentar
Senin, 04 Mei 2009
Ketua PGPI Kota P Siantar Dukung Ajakan Ketua Umum PGI Sumut Agar Orang Batak Peduli Mengatasi Tercemarnya Danau Toba
Pematangsiantar (SIB)
Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota P Siantar menyambut baik dan turut mendukung ajakan Gubernur Sumatera Utara, H Syamsul Arifin SE agar orang Batak/umat Kristiani bersedia menggalakkan Marsipature Hutanabe dengan semangat kasih dan Dalihan Na Tolu. Sebab, ajaran Yesus Kristus menekankan kepada orang-orang percaya agar melaksanakan kasih persaudaraan dengan cara mau memperhatikan keperluan orang miskin, yatim piatu, orang tertindas, terhadap lingkungan yang rusak termasuk tercemarnya Danau Toba saat ini.
Demikian Pdt AM Peranginangin MA dan Pdt Marhasil Hutasoit MTh (Ketua Umum dan Sekretaris Umum) BKAG P Siantar, Kamis lalu di Kantor BKAG, Jalan Melanthon Siregar P Siantar. Tegasnya, orang-orang percaya diharapkan menjadi orang terdepan melaksanakan program Marsipature Hutanabe yaitu bersedia membangun kampung halamannya, karena hal itu merupakan suatu tanda atau buah dari iman orang-orang percaya.
Karena itulah sebagai pendeta/orang Kristen tetap komit mendukung perjuangan masyarakat Tapanuli yang menginginkan terwujudnya Propinsi Tapanuli (Protap), karena tujuannya adalah murni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, dengan, terbentuknya Protap diyakini masyarakat Tapanuli di Bona Pasogit dan perantauan akan semakin bergairah berpartisipasi membangun kampung halamannya, sehingga secara bertahap “peta kemiskinan” di Tapanuli dapat dihilangkan.
Sementara itu, Ketua PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) Kota P Siantar, Pdt B Manurung, Jumat (24/4) menyambut gembira dan turut mendukung ajakan Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA yang meminta orang Batak/umat Kristen memiliki kepedulian untuk mengatasi tercemarnya Danau Toba saat ini. Sebab, keindahan Danau Toba merupakan suatu berkat dari Tuhan kepada masyarakat Tapanuli dan karena itu gereja-gereja/umat Kristiani harus memiliki kepedulian untuk mengatasi pencemaran Danau Toba tersebut. (S1/q)
Label: Kegiatan
di 20.16 0 komentar