Jumat, 15 Mei 2009

GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA: ALIRAN UTAMA DAN PERKEMBANGANNYA

1. Gereja-gereja Protestan biasanya dipakai untuk Gereja-gereja yang berpisah dari Gereja Katolik Roma sejak Zaman Reformasi abad 16 yang dimotori oleh Martin Luther dan Calvin, dll. Tetapi gereja protestan di Indonesia terdiri dari ratusan organisasi dan setiap gereja mempunyai nama sendiri: kadang-kadang alirannya disebut jelas tetapi kadang-kadang alirannya tidak disebut tetapi apabila ditelusuri asal-usulnya akan jelas alirannya. Semua gereja-gereja di Indonesia mempunyai asal-usul dari Barat, Eropa dan Amerika yang mengutus para penginjil (misionaris) terutama pada abad 19 dan awal abad 20. Para misionaris yang kebanyakan datang dari Belanda, Jerman, dan lain-lain, dan belakangan dari Amerika, mendirikan organisasi gereja dan sekaligus menanamkan ajaran-ajaran gereja asalnya; ajaran-ajaran itu sampai sekarang masih dipedomani oleh gereja-gereja di Indonesia.

2. Jika kita berbicara tentang aliran maka ia harus dibedakan dari organisasi. Tetapi terlebih dahulu mesti dicamkan apa yang disebut aliran dalam konteks gereja/kekristenan. Aliran-aliran di dalam kekristenan ialah ajaran atau paham yang dijadikan pedoman utama di dalam kehidupan gereja. Biasanya ajaran itu dinyatakan di dalam Konfesi (Ajaran Resmi) dan liturgi (tata ibadah). Kalaupun tidak dinyatakan tegas secara tertulis tetapi gereja-gereja itu sering mengakui aliran acuannya. Ada juga yang tidak mengaku aliran tertentu tetapi ajarannya meneruskan aliran terdahulu. Gereja yang satu aliran tidak harus satu organisasi. Mereka terdiri dari banyak gereja tetapi mengikuti aliran yang sama.

3. Para penginjil sejak zaman VOC sebenarnya telah siap memasuki Indonesia tetapi VOC menolak kehadiran mereka karena kuatir di kemudian hari orang-orang yang mereka injili akan memberontak. Lagipula para penginjil datang dari kalangan warga gereja yang tidak terikat kepada kekuasaan negara. Para penginjil diijinkan masuk barulah setelah Belanda mengambil alih kekuasaan dari VOC pada abad 19. Pemerintah Belanda pada waktu itu mengambil sikap netral terhadap agama. Ini membantah anggapan seolah-olah Belanda dengan sendirinya membantu penginjilan. Dan penginjilan tidak dilakukan oleh pemerintah Belanda melainkan oleh badan-badan sending yang dibentuk atas prakarsa warga-warga gereja.

4. Dilihat dari asal-usulnya aliran-aliran kekristenan (di luar Katolik) dihubungkan dengan tokoh-tokoh reformasi (Luther, Calvin) atau terkait dengan aspek-aspek tertentu saja yang diutamakan melebihi aspek-aspek lain, seperti aliran Pentakosta, Karismatik, Kedatangan Kristus kembali, dsb. Aliran Lutheran mengacu pada ajaran Martin Luther dan aliran Calvinis mengacu pada ajaran Johannes Calvin. Aliran Lutheran

5. Untuk lebih jelas kita memaparkan beberapa aliran utama saja sebab tidak mungkin membicarakan semua aliran yang sangat banyak dalam waktu singkat. Di Indonesia gereja-gereja yang beraliran Lutheran hampir semua berkantor-pusat di Sumatera Utara seperti HKBP, HKI, GKPS, GKPI, GKPM, GKLI, GKPA dan GKPPD. Walaupun gereja-gereja ini mengaku Lutheran dan menjadi anggota LWF, tetapi tata ibadah gereja-gereja ini tidak mencerminkan tradisi Lutheran. Ini tidak terlepas dari latar belakang lembaga sending Jerman yang mengutus para penginjil yakni RMG dari lingkungan jemaat yang menganut aliran uniert (aliran gabungan Lutheran dan Calvinis). Sebuah catatan kecil patut diberikan. RMG (VEM, sekarang UIM) berasal dari Jerman yang setelah lama mengurus ijin dari pemerintah baru dapat memasuki wilayah Tapanuli. Kehadiran Kekristenan di Tapanuli (orang-orang pertama yang dibaptis 1861) telah membuka isolasi suku Batak (Tapanuli Utara) yang masih menganut agama suku. Dengan cepat kekristenan merambat dan ribuan orang menerima agama Kristen. Menjadi orang Kristen dahulu dilihat sebagai langkah awal meraih kemajuan sebab penginjilan juga disertai pembangunan kesehatan (klinik, Rumah Sakit) dan pendidikan, baik pendidikan umum, ketrampilan maupun pendidikan untuk calon-calon pelayan gereja (pendeta, guru jemaat, bibelvrouw, evangelis dan diakones). Banyak orang Batak Toba (juga orang Nias, Simalungun dan Dairi) yang berhasil menjadi pegawai, guru, pedagang, pengusaha dan lain-lain dan bergerak keluar dari Tapanuli dan bermukim di kota-kota di Sumatera utara, Riau, Jawa, Sulawesi,Kalimantan sampai ke Papua dan bahkan sudah banyak yang menetap di luar negeri (Singapura, Malaysia, Eropa dan Amerika Serikat). Persebaran orang-orang Batak tidak terlepas dari pengaruh kehadiran agama Kristen di Sumatra Utara. Di Tapanuli dan di luar Tapanuli, gereja-gereja (seperti HKBP) membangun sarana pendidikan, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi (Universitas HKBP Nomensen di Pematang Siantar dan Medan).

6. Sebuah ciri khas dari orang-orang Batak ialah persebaran mereka ke berbagai wilayah disertai dengan pembangunan gereja tempat mereka di samping beribadah tetapi juga tempat persekutuan sosial dan budaya. Sebagian besar merasa kehidupan religius tidak lengkap apabila tidak diikuti kehidupan social- budaya. Sebagian orang Batak di perkotaan pindah ke gereja-gereja aliran lain karena merasa kehidupan religius lebih mantap di gereja-gereja lain. Biasanya mereka kurang mementingkan kehidupan sosial-budaya dan bersifat lebih urban. Sekarang ini orang Batak dan Nias mudah ditemui yakni dengan mencari gereja-gereja asal Sumatra Utara yang berdiri di mana-mana (HKBP, GKPS, GKPI, HKI, GKPA, BNKP, dll). Aliran Calvinis

7. Gereja-gereja aliran Calvin paling luas wilayah penyebarannya mulai dari Jawa sampai Papua. Aliran ini juga terdapat di Sumatra Utara (GBKP). Walaupun tidak ada yang memakai nama Calvinis tetapi hampir semua mengakui menganut aliran Calvinis seperti GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKJ (Jawa), GKP (Pasundan), GKJW (Jawa Timur), GKE (Kalimantan), GMIM (Sulut), GMIT (Timor), Gereja Toraja, GKI Papua, GPIB, dan masih banyak lagi. Umumnya gereja-gereja ini hasil badan sending Belanda (NZG). Gereja-gereja yang menganut aliran Calvinis bergabung di dalam wadah WAR (World Alliance Reformed Church). Sama seperti aliran Lutheran mengacu pada ajaran Luther, aliran Calvinis mengacu pada ajaran Calvin. Karya besar Calvin yang menjadi pegangan pengajaran di lingkungan Calvin ialah Institutio, berisi uraian tentang pokok-pokok iman Kristen.

8. Gereja-gereja beraliran Calvinis sangat giat membangun sarana pendidikan. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi yang didirikan oleh gereja-gereja Calvinis terkenal dengan mutu yang tinggi. Gereja-gereja di perkotaan diorganisir dengan baik dan rapih sehingga banyak orang-orang Kristen yang tadinya anggota-anggota gereja kesukuan pindah ke GKI dan GPIB.

Aliran-aliran yang berlatar-belakang Amerika


9. Apabila kedua aliran terdahulu berawal dari Eropa, maka sejak abad 20 khususnya dekade kedua/ketiga, aliran Pentakosta yang berasal dari Amerika memasuki beberapa kota di Jawa, dan menyebar dengan cepat secara spontan. Pada mulanya anggota-anggota datang dari kalangan yang kurang mendapat perhatian gereja seperti orang Indo-Eropa dan kemudian warga gereja yang tertarik. Bagi aliran Pentakosta dan Karismati, menginjili anggota-anggota gereja lain dianggap wajar saja. Tetapi bagi gereja-gereja yang sudah lebih dahulu hadir ini dinilai tidak menghargai keberadaan gereja lain atau populer disebut perilaku “mencuri domba”. Tetapi tidak boleh disangkal aliran Pentakosta juga aktif menginjili kalangan penganut agama suku atau non-Kristen. Pentakosta dan Karismatik berkembang pesat karena tidak begitu terikat pada stuktur, spontan dan tergantung pada inisiatif seseorang/kelompok. Jumlah gereja pengikut aliran ini sangat banyak dan bergabung di dalam beberapa rumpun organisasi.

10. Sejak dekade 1960-an seiring menguatnya kemajuan industri dan teknologi muncul gerakan karismatik yang sering juga disebut Pentakosta-Baru. Mereka dari kalangan Pentakosta tetapi menilai pentakosta telah menjelma menjadi organisasi gereja yang mapan dan “kehilangan roh”. Pada awalnya Karismatik adalah suatu gerakan, gerakan untuk menghidupkan “roh pembaruan” di dalam gereja dari mana anggota-anggota berasal. Gerakan ini dianggap sebagai reaksi penyeimbang terhadap kehidupan modern yang sangat teknis sehingga kehilangan keakraban persekutuan dan kehilangan spontanitas. Sesuai dengan namanya (Karismatik dari karisma = karunia), sangat mendambakan mempunyai karisma-karisma tertentu seperti bahasa roh (glosolalia), penyembuhan, penglihatan dan mukjizat. Tetapi sama seperti banyak gerakan-gerakan, gerakan karismatik kemudian membentuk gereja sendiri.

11. Sebenarnya masih adalagi aliran-aliran berasal dari Amerika seperti aliran milenaris: mengharapkan kedatangan kerajaan seribu tahun atau kedatangan Kristus kembali untuk menghakimi umat manusia. Aliran ini terbagi dalam berbagai gereja seperti Gereja Advent dan Saksi Yehuwa. Yang pertama memiliki cukup banyak anggota dan mengelola Rumah Sakit, sekolah dan universitas. Yang terakhir mengutamakan kehidupan kelompok-kelompok yang mempelajari Alkitab dan sangat ulet mengajak orang lain menjadi anggota mereka. Selain itu adalagi kelompok-kelompok (aliran lain) seperti Mormon, Christian Science, Scientologi.

Perkembangan Masyarakat dan Respons Gereja

12. Respon paling nyata dan vokal orang Kristen (Protestan) terhadap perkembangan masyarakat adalah melalui wadah oikumenis, Persekutuan Gerja-gereja di Indonesia (PGI) yang didirikan tahun 1950. Tujuan PGI adalah membentuk Gereja Kristen yang esa di Indonesia. Tujuan ini mencuat karena ada kesadaran umat bahwa perpecahan bukan jatidiri gereja dan tidak lahir di Indonesia melainkan yang dibawa dari negeri pengutus penginjil (Eropa) yang memang sudah berabad-abad hidup di dalam pertikaian karena ajaran. Pendirian PGI tidak terlepas dari semangat oikumenis, suatu gerakan agar di mana saja gereja berada bersama-sama mewujudkan keselamatan di dalam masyarakat melalui pelayanan dan kesaksian.

13. Manifestasi dari kebersamaan gereja-gereja di Indonesia ialah selalu peka merespons setiap perkembangan secara positif, kritis dan realistis. Salah satu respons PGI tampak pada masa Orde Baru yakni terus menerus menyuarakan agar pembangunan benar-benar dinikmati oleh seluruh bangsa. Dan upaya itu tertuang di dalam rumusan GBHN bahwa pembangunan adalah pengamalan Pancasila!

14. Di dalam upaya mempersatukan gereja-gereja, prestasi signifikan dihasilkan PGI tahun 1984 pada Sidang Raya di Ambon yang menerbitkan Dokumen Keesaan Gereja (DKG). Di dalam (DKG) pemahaman dasar tentang berbagai aspek kehidupan bergereja ditetapkan. DKG ini mengungkapkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk membangun persekutuan yang dinamis di dalam konteks Indonesia. Kalau DKG dapat diimplementasikan secara konkret akan banyak manfaat kehadiran gereja-gereja bagi masyarakat dan bangsa.

15. PGI cq Litbang PGI menorehkan sejarah yakni sejak 1980-an menyelenggarakan seminar Agama-agama (SAA) secara berkala setiap tahun.Di forum SAA ini para tokoh lintas agama dan masyarakat duduk bersama membicarakan isu-isu penting yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik. Terbangunnya kerukunan di masyarakat kita tidak terlepas dari penyelenggaraan SAA itu.

16. Menurut hemat saya perhatian gereja-gereja saat ini di Indonesia dan di dunia, harus lebih fokus pada globalisasi. Dokumen WCC yang diputuskan di Sidang Raya-nya di Porto Alegre Brazil berjudul Alternative Globalisation Addressing Peoples and Earth (AGAPE). Dokumen ini adalah satu imbauan serius terhadap orang Kristen agar mencari globalisasi alternatif karena gereja-gereja tidap bisa lepas dari panggilan bagaimana menghayati iman di era globalisasi sekarang ini. Ini suatu proyek besar yang berdampak luas bagi seluruh masyarakat.Merespons globalisasi adalah tugas semua komunitas agar globalisasi tidak memperburuk kemiskinan tetapi membangun kesejahteraan yang adil!

Kamis, 14 Mei 2009

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH
(YOHANES 15:16)[1]
(artikel ini dibawakan pada Seminar Youth Camp 2008)

Pendahuluan


Thema Youth Camp 2008 ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mempertanyakan eksistensi dan kiprah pemuda gereja akhir-akhir ini. Memang secara defacto ada berbagai organisasi pemuda gereja, namun belum terdengar gaungnya ditengah-tengah pergumulan bangsa dan negara. Secara khusus, pemuda HKBP belum menunjukkan kiprahnya dalam reformasi tatanan sosial politik kemasyarakatan pasca Orde Baru. Oleh karena itu, thema kemah pemuda saat ini patut digumuli secara alkitabiah, dan membangun refleksi aktual, yang mendorong pemuda HKBP memacu pelayanan dan kesaksiannya di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Sebagaimana Gereja membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya berdasarkan firman Tuhan yang mengatakan: “Akulah yang memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh. 15:16). Maka, demikianlah pemuda gereja seyogianya membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya dalam berbagai karya nyata, yang sungguh-sungguh dapat mejadi berkat bagi semua. Pergumulan dan Peluang Pemuda Masa Kini Sebagai gereja masa depan (the Churchmen of tomorrow), maka pemuda gereja perlu membangun spiritualitas yang benar-benar mampu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah-tengah perubahan zaman. Gereja yang tidak membekali pemudanya dengan spiritualitas murid Yesus yang sejati (Matius 28:19) tidak akan dapat berdiri sebagai saksi Kristus. Gedung-gedung gereja yang megah saat ini, sebagaimana telah dialami oleh saudara-saudara kita di Barat, akan menjadi monumen bisu dengan fungsi yang sama sekali jauh dari makna bait suci yang sesungguhnya. Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa “pemuda adalah bunga-bunga gereja.” Pertama-tama hal itu menggambarkan sifat atau kharakter pemuda yang penuh daya tarik, dan hal-hal yang menyenangkan. Kedua, menggambarkan masa depan yang penuh tantangan, di mana tingkat persaingan semakin tinggi, perubahan nilai-nilai dan gaya hidup yang semakin variatif serta kompleks. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memetakan konteks panggilannya pada awal millenium ketiga saat ini. Ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya memetakan konteks panggilan pemuda HKBP saat ini. Pertama, Pemuda HKBP perlu memahami panggilannya dalam konteks budaya dan adat istiadat yang berakar kuat dalam tradisi gereja. Pemuda HKBP akhir-akhir ini cenderung abai terhadap kultur Batak yang mengakar di dalam kehidupan bergereja. Apabila pemuda HKBP tercerabut dari akar budayanya, maka hal itu akan menjadi kendala yang serius dalam mengartikulasikan aspirasi dan misi yang diemban di pundak pemuda gereja. Adat dan budaya Batak acap kali dilihat sebagai kendala bahkan hambatan yang perlu disingkirkan agar pemuda gereja bebas mengaktualisasikan diri di tengah-tengah jemaat dan masyarakat. Hal itu tidak perlu terjadi apabila pemuda gereja mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya dan adat Batak, yang selama ini terbukti mampu merekat dan mendinamisir persekutuan dan pelayanan HKBP dari waktu ke waktu. Kehadiran HKBP di Singapura, Los Angeles, New York, dan di berbagai penjuru dunia, itu tidak terlepas dari kultur dan tradisi Batak yang melekat dalam diri setiap warga jemaat HKBP. Sebab, ke mana masyarakat Kristen Batak pergi, mereka turut serta membawa gerejanya, HKBP. Apa artinya itu? Pemuda HKBP benar-benar terpanggil untuk membekali diri dengan pemahaman budaya dan adat Batak yang baik dan benar di dalam terang firman Tuhan. Sebagaimana dikemukakan secara panjang lebar oleh Samuel P. Huntington (2002:111-121), bahwa memudarnya dominasi budaya barat, bukan saja berdampak pada menguatnya akar budaya lokal, tetapi juga potensil menimbulkan benturan budaya pada generasi muda. Sebab tingkat mobilisasi orang-orang muda dan penguasaan teknologi yang tinggi, tanpa dibarengi spiritualitas yang sehat dan benar akan mudah ditunggangi oleh kaum fundamentalist, sehingga sangat potensil melahirkan generasi muda yang ekstrim[2]. Generasi muda yang terperangkap dalam arus fundamentalisme sempit seperti itu tidak akan dapat berbuah, dan mustahil menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Pemuda HKBP perlu banyak belajar tentang kearifan lokal, khususnya yang berakar dalam budaya dan adat Batak. Hal itu akan sangat bermanfaat untuk mereduksi fanatisme sempit dalam kehidupan beragam. Yesus sendiri dalam masa muda-Nya menunjukkan perhatian dan apresiasi yang tinggi terhadap adat dan budaya Yahudi. Sehingga dalam memenuhi panggilan-Nya, (sebagai Mesias di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya yang menderita dalam berbagai aspek kehidupan), Yesus dengan mantap menerjemahkan kasih Allah di dalam adat istiadat nenekmoyang-Nya. Hal itu ditunjukkan oleh Yesus, misalnya dalam kehadirannya di pesta Kana (Yohanes 2:1-11), di mana Yesus mengubah air menjadi anggur yang terbaik bagi tuan rumah yang nyaris kehilangan harga diri karena kekurangan anggur. Lihatlah, bahwa Yesus hadir memberikan buah pelayanan yang membebaskan orang dari rasa malu dan cemooh. Secara eksistensial, pemuda HKBP terpanggil untuk mengubah berbagai kelemahan, kecemasan, dan keprihatinan sosial menjadi kesuksesan, kekuaan dan kebanggaan masyarakat, bangsa dan negara. Kedua, abad 21 yang dikenal dengan era globalisasi dan informasi memberikan peluang yang besar dan luas bagi pergaulan muda/mudi dengan wawasan global. Sebab, pergaulan lintas budaya dan agama memungkinkan muda-mudi gereja mengenal berbagai kemajuan dalam berbagai bidang, kemudian menarik banyak nilai-nilai positif untuk pengembangan diri dalam karier. Namun, satu hal yang patut dicermati adalah menguatnya kecenderungan untuk melepaskan nilai-nilai lokal dan mengambil alih nilai-nilai global secara gegabah. Sehingga tidak jarang yang terjadi justru bukan pengembangan diri, melainkan kebingungan atau anomali kebudayaan dan religiositas yang mengaburkan spiritualitas pemuda Kristen yang mengarah kepada sinkritisme modern. Hal itu dapat dengan mudah diamati dalam kehidupan pemuda Gereja metropolis, yang dengan mudah dan tanpa beban telah mengalami perubahan gaya hidup menjadi sangat individualistik, liberalistik, materialistik, konsumeristik dan hedonistik. Sepertinya, era globalisasi dan informasi telah disalah-manfaatkan kaum muda untuk memprotes dan memberontak terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggap menekan emansipasi, membelenggu kebebasan berekspressi dan aktualisasi diri yang dikontrol sangat ketat oleh orangtua. Akibatnya, era globalisasi dan informasi acap kali dimaknai kaum muda sebagai kesempatan untuk membentuk komunitas kecil yang bersifat eksklusif, gaya hidup selebritis, seks bebas, suka minum alkohol dan mengkonsumsi narkoba, dengan harapan memberikan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan. Sehubungan dengan itu, sebaiknya pemuda HKBP duduk bersama merenungkan panggilan Tuhan untuk menghasilkan buah yang lebat dengan membangun komunikasi dan jaringan kerja yang luas. Pemuda HKBP hendaknya memiliki sense of crisis dan sense of urgency di dalam pusaran arus globalisasi dan informasi, agar tidak dikacaukan oleh nilai-nilai global yang diwarnai oleh neo-liberalisme. Neo-liberalisme memperkenalkan kebahagiaan dan harga diri terletak di dalam kesuksesan ekonomi dan kekuasaan politik.[3] Pemuda HKBP perlu menyadari kenyataan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia saat ini secara umum dan pemuda gereja secara khusus. Pada dekade pertama abad 21 ini, paling tidak ada 7 masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda di Indonesia, yaitu keretakan hidup berbangsa dan formalisme agama, korupsi yang merata dari pusat hingga daerah, kemiskinan, pengangguran, premanisme, ketidakadilan genderj dan kekerasan dalam rumah tangga, serta masalah narkotika dan obat terlarang (Philips Tangdilintin, 2008:39-68). Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memelihara sense of crisis agar mampu membangun solidaritas sosial dan tidak terbuai dengan kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh kemajuan zaman yang semakin kapitalistik. Secara khusus, solidaritas pemuda gereja perlu dibangun untuk menangani depressi yang dialami oleh kaum muda karena tingkat pengangguran yang setiap tahun meningkat. Pada tahun 2003, misalnya dari 100 juta angkatan kerja, terdapat sekitar 40 juta penganggur; pada tahun 2006 melonjak menjadi 10,8 %. Angka itu cenderung akan semakin meningkat pasca kenaikan harga BBM. Beban ekonomi rakyat yang sedemikian berat akan meningkatkan jumlah anak-anak putus sekolah, yang pada gilirannya menjadi anak-anak terlantar. Sebab, kemiskinan juga terus meningkat. Sebagaimana telah diingatkan oleh badan PBB, bahwa saat ini masih ada 1,5 milyar orang yang hidup dari 1 US dollar per hari. Kondisi di Indonesia sendiri, apabila mengikuti kriteria Bank Dunia, maka kemiskinan di Indonesia meliputi 108, 78 juta penduduk yang hidup dengan biaya kurang dari 2 US dollar per hari/per orang. Semua itu terjadi oleh karena kebijakan pembangunan nasional belum berpihak pada rakyat miskin, terutama petani, nelayan, dan buruh, melainkan berpihak kepada para kapitalis (Tangdilintin, 2008: 44-46). Artinya, pemuda gereja tidak boleh terlena dengan hiruk pikuk agenda globalisasi yang kapitalistik, ataupun bingung di tengah jalan buntu oleh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Tetapi pemuda gereja harus mampu mengembangkan diri sebagai agen pembaru (agent of change). Pemuda HKBP sudah waktunya mengembangkan diri sebagai pusat pencerahan dan ispirasi bagi banyak remaja dan pemuda yang terlena oleh daya tarik produk-produk era globalisasi. Oleh karena itu, panggilan pemuda HKBP untuk menghasilkan buah harus diterjemahkan dengan pemberdayaan kaum muda untuk mengembangkan kreativitas dan prakarsa pembangunan. Pemuda HKBP perlu mengorganiser diri secara sinergis untuk mengoptimalkan pembentukan kharakter pembaharu yang militan di tengah-tengah arus globalisasi. Sejarah mencatat bahwa revolusi dan reformasi besar biasanya terjadi melalui mobilisasi orang-orang muda yang mengalami pencerahan intelektual, politik dan spiritual, kemudian menyadari berbagai kelemahan ajaran dan kebijakan tradisional, yang menghambat kemajuan serta membelenggu kebebasan individu (Huntington, 2002:116,119). Ketiga, menguatnya individualisme dan materialisme merupakan fenomena global yang perlu mendapat kajian pemuda gereja dalam mendisain pelayanan yang berdimensi spiritual. Artinya, gejala-gejala kehidupan bergereja di negara-negara kaya akan menjadi kenyataan yang tidak dapat ditunda dalam masyarakat kita pada abad ke-21 ini, di mana menguatnya individualisme bukan saja mempengaruhi sikap enggan mencampuri pribadi orang lain, tetapi lebih jauh dari situ, adalah semakin menguatnya keinginan untuk menentukan pilihan pribadi tanpa harus terbeban dengan penilaian orang lain, baik keluarga maupun masyarakat umum. Peter Marber secara mendalam menganalisis fenomena bergereja di negara-negara kaya, bahwa penurunan secara drastis jumlah orang yang menghadiri kebaktian di gereja, terutama oleh orang-orang muda, adalah merupakan hasil dari suatu pilihan pribadi dari suatu masyarakat individualistik. Persentase orang Amerika yang dilaporkan datang ke gereja (beribadah) paling tidak satu kali satu bulan, ternyata turun dari 60 % pada tahun 1981 menjadi 55 % pada tahun 1998, bahkan dalam survey yang berbeda dalam 25 tahun ini agaknya penurunan sudah mencapai 10-12 %. Sedangkan di Australia, tingkat kehadiran orang beribadah turun dari 40 % pada tahun 1981 menjadi 25 % pada tahun 1998 (Peter Marber, 2003:98-99). Di Indonesia, hal itu tidak mudah dianalisis, sebab secara kwantitatif jumlah jemaat yang beribadah di gereja tatap tinggi, namun bila dihitung dari total seluruh warga jemaat yang terdaftar, maka sebenarnya persentase jumlah warga jemaat yang tidak datang beribadah mungkin bekisar di antara 35-50 %. Adalah suatu fenomena umum di gereja-gereja kita, bahwa setelah pelajar katekisasi sidi (parguru manghatindangkon haporseaon) menyelesaikan kursusnya, maka sekitar 50-70 % tidak datang lagi ke gereja, memang sebagian karena melanjutkan studi ke luar daerah, tetapi di perantauan (tempat studinya) pun mereka tidak aktif lagi. Ada indikasi yang kuat bahwa menurunnya semangat bergereja kaum muda, bukan saja karena faktor globalisasi yang merasuki kaum muda dengan roh individualisme dan materialisme, tetapi terutama oleh karena formalisme agama. Di mana penghayatan agama yang dangkal dan bersifat ritual-seremonial, tidak lagi dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi maupun umat Allah. Orang muda masih tetap datang ke gereja dengan jumlah yang signifikan, tetapi apa yang didengar dan dilakukannya di dalam ibadah sama sekali tidak mempengaruhi gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, panggilan Tuhan untuk berbuah mestinya diterjemahkan juga dengan membina persekutuan pemuda HKBP yang dinamis dan intens mendalami relasi vertikal (kehidupan beriman) yang mendorong penguatan relasi horizontal (kehidupan sosial-kemasyarakatan). Artinya, kebaktian dan persekutuan pemuda HKBP hendaknya mendorong pemuda/i gereja semakin dekat kepada Tuhan, dan juga semakin dekat dengan sesama jemaat dan masyarakat sekitar. Membina Pemuda yang Berbuah Lebat Pergumulan dan peluang pemuda gereja masa kini yang digambarkan di atas menuntut suatu redefinisi dan reformasi pemuda gereja secara kontekstual. Sudah waktunya gereja memandang pemuda sebagai bagian integral dari persekutuan jemaat. Pemuda gereja bukan lagi sebatas the churchmen of tomorrow, melainkan juga sebagai komponen masa kini (the churchmen of today) yang memiliki hak dan tanggungjawab yang sama dengan orangtua atau anggota jemaat yang sudah berkeluarga. Secara ekklesiologis, jelas bahwa setiap orang yang telah naik sidi telah memiliki hak untuk ikut serta dalam perjamuan kudus, sebagai simbol dari kematangan spiritual untuk menghayati relasi vertikal di dalam kehidupan bersama orang-orang kudus dan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana diserukan oleh kaum muda Australia pada suatu Youth Convention di Sydney, 1982: “Today is ours! The hope of today is in our hands. Give us our share of today and only then will we be ready to meet and shape the future.” “Hari ini adalah milik kami! Harapan hari ini terletak di tangan kami. Beri kami kesempatan berperan hari ini, dan hanya dengan cara itu kami akan siap menyongsong dan menaa hari esok.” (Tangdilintin, 2008:34). Artinya, apabila pemuda gereja diharapkan berbuah lebat, maka gereja tidak boleh tidak mesti memperlengkapi dan melatih pemuda gereja untuk memahami panggilannya sesuai dengan kharakter kaum muda di tengah-tengah tantangan globalisasi saat ini. Pertama, pemuda gereja harus lebih konsern menanganai masalah penghayatan iman yang operasional, dalam arti tidak cukup lagi pendalam alkitab yang bersifat intelektual semata, melainkan mampu memahami kehendak Tuhan dari lubuk hati yang terdalam. Secara intelektual bisa saja orang muda menganggap bahwa adat dan budaya Batak sebagai warisan nenekmoyang yang tidak relevan lagi dengan pergumulan gereja masa kini. Namun, justru Kristus sendiri memenuhi panggillan-Nya di tengah-tengah dunia ini bukan saja mengapresiasi adat dan budaya nenekmoyang-Nya, tetapi turut ambil bagian dalam memelihara adat dan budaya bangsa-Nya untuk kesejahteraan semua orang. Spiritualitas kita yang sesungguhnya baru akan menjadi jelas ketika kita mengambil sikap dan respon yang baik dan tepat atas semua realitas kehidupan yang semakin hari semakin tidak sesuai dengan rencana agung penciptaan, yang “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Sesungguhanya, panggilan untuk berbuah dalam Yohanes 15:16 pertama-tama mengajak kita untuk memeriksa relasi kita dengan Kristus. Sebab, tanpa relasi vertikal yang benar dengan Kristus, maka pemuda gereja tidak akan mampu berbuah lebat. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5). Implikasinya adalah orientasi pembinaan harus diarahkan pada character building, melalui proses internalisasi nilai-nilai moral, kultural dan spiritual, sehingga akan lahir suatu generasi gereja yang memiliki kepribadai utuh, dalam arti menadari identitasnya sebagai warga masyarakat dan jemaat pada satu sisi, dan sebagai warga kerajaan sorga yang telah dikuduskan dan dipersekutukan di dalam Kristus pada sisi lain. Oleh karena itu, pemuda gereja harus mengembangkan persekutuan pembacaan/pendalaman Alkiab, tidak boleh lagi berkumpul hanya untuk latihan paduan suara, walaupun itu juga penting. Direktur Pembinaan Pemuda Gereja sudah harus memiliki program pendalaman iman di setiap wilayah pelayanan HKBP. Gereja juga harus secara terbuka mengkaji bentuk-bentuk kebaktian yang bersifat reflektif dan dapat menuntun pemuda menghayati imannya secaa atraktif dan meditatif. Rancangan kebaktian khusus kaum muda hendaknya mampu membangun kesadaran akan pentingnya persekutuan dan kebersamaan dengan jemaat, penghargaan dan kepercaan diri sendiri, dan memiliki komitmen yang kuat untuk menyaksikan imannya di tengah-tengah realitas kehidupannya sehari-hari. Artinya, di mana pun seorang pemuda HKBP berada dengan profesi apa pun, maka di sana ia mampu mengaktualisasikan diri sebai warga jemaat yang bertanggungjawab sebagai saksi Kristus. Kedua, pemuda gereja yang berbuah lebat membutuhkan pelatihan yang menghasilkan ketaatan sebagai seorang sahabat. Menarik sekali memperhatikan di sini, bahwa ketaatan yang dimaksud bukan saja karena disiplin yang ketat, tetapi malah ketaatan yang didasarkan oleh kasih persaudaraan (philia). Di mana kasih seorang sahabat bukan saja menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi, tetapi pengorbanan yang sempurna dengan menyerahkan nyawa sendiri. Kesediaan mengorbankan nyawa sendiri bagi seorang sahabat adalah gambaran dari pengosongan diri yang dilakukan Yesus ( Filipi 2:7-11). Artinya, kepribadian seorang pemuda gereja, yang sungguh-sungguh bersedia mengorbankan nawanya, sudah pasti bersih dari segala virus egoisme dan individualsme yang merasuki manusia pada zaman postmodern saat ini. Orang yang mampu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya adalah mereka yang tidak akan keberatan untuk memenuhi panggilannya secara all out, tuntas dan berkelanjutan. Pemuda HKBP sudah waktunya merevitalisasi mottonya: “Masitangiangan, Masiurupan, Masihaposan.” Motto itu hanya akan bertumbuh dan operasional dalam persekutuan orang-orang yang benar-benar dipersatukan dalam Tubuh Kristus. Hanya di dalam Kristus orang Kristen umumnya, dan pemuda gereja khususnya dapat hidup sebagai komunitas yang saling mendoakan, saling membantu dan saling percaya. Di luar persekutuan dengan Kristus, pemuda gereja melihat sesamanya sebaagai saingan, yang harus dikalahkan, dan tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, pelayanan terhadap pemuda gereja pada dasarnya juga mesti dilakukan dengan sentuhan cinta kasih sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus. Pelayanan terhadap kaum muda acap kali mengalami kegagalan atau paling tidak jalan ditempat, oleh karena para majelis dan orangtua memandang pemuda gereja sebagai pembantu, yang dianggap anak bawang, dan belum layak dipercaya untuk tugas pelayanan jemaat. Pelayanan terhadap kaum muda tanpa cinta kasih akhirnya menjadi pelayanan asal jadi, tanpa orientasi yang jelas. Oleh karena itu, pemuda gereja yang diharapkan berbuah lebat mesti diberi kepercayaan dan tanggungjawab untuk mengeksplorasi segala potensi yang ada di dalam jemaat, serta mendorong mereka berperan sosial aktif. Gereja perlu mendorong pemuda untuk menumbuh-kembangkan kepekaan sosial politik, secara khusus memperjuangkan hak azasi manusia tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, bahasa, budaya dan agama mana pun. Ketiga, panggilan untuk berbuah lebat bagi pemuda HKBP pada saat ini harus dipahami dalam konteks persahabatan lintas sosial budaya, di mana segala bentuk diskriminasi ditiadakan, sehingga hubungan sosial berlangsung sejajar dan penuh kasih persaudaraan. Persekutuan nir-subordinat tersebut berpusat pada Kristus. Di dalam Kristus semua orang berada pada jari-jari lingkaran yang sama dan sebangun. Eksistensi dan kiprah pemuda HKBP baru akan berdampak dalam perputaran roda kehidupan sosial politik apabila semua anggota sama-sama bergerak dalam pelayanan yang saling membangun (masiurupan) di dalam poros pelayanan gereja secara institusional. Oleh karena itu, pemikiran yang memandang pemuda HKBP membangun persekutuan dan pelayanan yang bersifat independen, seperti halnya organisasi pemuda sekuler sejenis KNPI, HMI atau GMKI sekalupun, bukanlah yang dimaksudkan oleh Yesus. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemuda gereja merupakan komponen gereja itu sendiri. Gereja sebagai perwujudan Tubuh Kristus di tengah-tengah dunia ini hidup dan berkarya dalam satu tubuh, satu roh, dan satu jiwa, termasuk di dalamnya pemuda. Lebih jauh dari situ, persekutuan dan pelayanan pemuda mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas meliputi persekutuan oikumenis. Sehingga pemuda gereja dalam semangat oikumenis yang saling menghormati tradisi denominasi masing-masing, dapat mengembangkan pelayanan yang berpihak pada pemberdayaan kaum lemah dan marjinal, terutama di daerah pedesaan dengan masyarakat agraris yang belum sungguh-sungguh mendapat perlindungan pemerintah. Sehubungan dengan itu, ada dua hal yang mesti disadari dan direspon secara teologis alkitabiah, yaitu pada satu sisi globalisasi memberikan signal yang kuat terhadap pemahaman oikumenis yang lebih luas dan terbuka, di mana masyarakat Kristen di berbagai belahan dunia cenderung melepaskan diri dari berbagai ikatan tradisi denominasional. Sehingga, suatu ketika kita tidak akan terkejut melihat pelayanan lintas denominasi semakin eksis, dan itu dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi gereja-gereja aliran utama yang dominan selama dua abad terakhir. Memang, gerakan oikumenis seperti itu lebih terpusat pada masyarakat metropolis, di mana akses terhadap media dan komunikasi relatif lebih intens. Namun, jelas bahwa arus terhadap gereja non-denominasi seperti itu dapat menguat di tengah-tengah peradaban global abad 21. Pada sisi lain, globalisasi yang merambah sampai kepada pelosok-pelosok melalui jaringan komuniasi dan media, bahkan juga dengan kapitalis yang berkiprah dalam agrobisnis organik, memberikan signal yang kuat terhadap benturan tradisi yang dapat mengendurkan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memberikan penyadaran terhadap pentingnya nilai-nilai tradisional sebagai simbol identitas bangsa yang dapat digali untuk menjawab tantangan zaman. Masyarakat petani di pelosok-pelosok perlu mendapat pendampingan untuk mengembangkan pertanian organik, yang memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian dengan pupuk kimia. Masyarakat global yang sadar akan bahaya makanan produk kimiawi akan mencari produk organik, sebab masalah harga secara otomatis tidak akan menjadi persoalan, harga komiditas sudah dipercayakan sepenuhnya kepada pasar bebas. Kedengarannya, isu terakhir ini kurang populer bagi kaum muda yang cenderung melirik pusat-pusat kota metropolitan sebagai tempat yang menjanjikan masa depan yang sejahtera. Namun, justru itulah tantangan pemuda gereja, dan masalah spiritualitas pemuda gereja tidak lepas dari komitmennya terhadap pemberdayaan petani dan nelayan, yang sampai hari ini belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah. Kebijakan ekonomi kita belum sungguh-sungguh berpihak kepada petani dan nelayan, sebagaimana dapat dilihat dari derasnya impor produk pertanian yang menjatuhkan harga jual produk para petani lokal. Sudah waktunya spiritualitas pemuda gereja diuji kualitasnya dengan seberapa besar berkat yang dapat diberikannya untuk membawa petani dan nelayan Indonesia menikmati kehidupan yang damai dan sejahtera. Pemuda gereja dapat mengikuti jejak saudara kita dari Gereja-gereja Reform yang telah merumuskan sebuah janji iman yang disebut dengan: Covenanting for justice, yang salah satu statemennya mengatakan, bahwa “kita percaya bahwa Allah memanggil kita untuk berdiri disamping para korban ketidakadilan. Kita tahu bahwa kita diminta oleh Allah untuk melakukan keadilan, cinta kasih, dan jalan yang benar di hadapan Allah (Mikha 6:8). Kita dipanggil oleh Allah untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan pengrusakan lingkungan, sehingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai (Amos 5:24). Oleh karena itu, kita menolak semua teologi yang mengatakan bahwa Allah hanya berpihak pada yang kaya, dan kemiskinan adalah akibat kesalahan dan kemalasan orang miskin. Kita menolak segala bentuk ketidakadilan yang menghancurkan hubungan yang baik antar jender, ras, strata sosial dan kecacatan. Kita menolak semua teologi yang menekankan bahwa kepentingan manusia diatas kepentingan alam (Seong-Won Park, 2005:189).

Bahan bacaan:
1. Beyer, Ulrich Berani Tampil Beda, BJU, Medan, 2005.
2. Bluck, John., Evervyday Ecumenism - Can You Take The World Church Home?, WCC Publication, Geneva, 1987.
3. Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations And The Remaking of World Order, Simon & Schuster Australia, Sydney, 2002.
4. Marber, Peter., Money Changes Everything, How Global Prosperity Is Rehsaping Our Needs, Values, and Lifestyles, Financial Times (FT) Prentice Hall, New Jersey, 2003.
5. Park, Seong-Won. (Guest Co-editor), “Covenanting for Justice: the Accra Confession”, dalam Reformed World, Volume 55, September 2005.
6. Rauchfuss, Sonja., “Youth and neoliberal globalization: a German perspective,” dalam Reformed World, Volume 56, March 2006.
7. Stott, Jhon., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer, YKBK/OMF, Jakarta, 1994.
8. Tangdilintin, Philips, Pembinaan Generasi Muda, dengan proses manajerial VOSRAM, Kanisius, Yogyakarta, 2008.


[1] Pdt. Willem TP Simarmata, MA, Sekretaris Jenderal HKBP, dalam HKBP Youth Camp, 1 Juli 2008.
[2] Generasi muda fundamentalis akan cenderung membalaskan kegagalan masa lalu dengan berbagai tindak kekerasan, seperti terorisme yang merugikan dalam segala hal, termasuk merugikan bagi agama pelakunya. Analisis Huntington tidak dapat dibantah, sebab fakta menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dengan jaringan terorisme internasional yang sangat rapi dan canggih, termasuk yang beroperasi di Indonesia, ternyata adalah generasi muda dengan intelektualitas dan mobilitas tinggi, tetapi tidak memiliki arah dan tingkat pertumbuhan spiritual yang baik dan konstruktif. Pertumbuhan Islam secara demografis dan kebangkitan Islam sebagai salah satu akibat dari kemunduran budaya barat (warisan kekristenan), menurut Huntington merupakan faktor utama yang menimbulkan berbagai konflik dengan umat beragama lain.
[3] Pemuda HKBP perlu mengantisipasi pengaruh luas dari neoliberalisme dalam berbagai sektor, yang semestinya menjadi pusat pembentukan moral dan spiritual masyarakat, tetapi kemudian diubah menjadi komoditi yang berorientasi keuntungan ekonomik. Pengaruh neoliberalisme terhadap kaum muda, terutama melalui perubahan ekonomi, ketidakseimbangan demografis, dan pluralisme budaya. Perubahan ekonomi, misalnya dapat diamati melalui penggunaan telepon seluler, internet dan video game. Saat ini para remaja dan pemuda, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga Mahasiswa, merupakan kelompok pengguna telepon selular, video game, dan internet yang paling tinggi. Ini merupakan fenomena global, yang dijumpai hampir di semua negara, terutama di negara-negara kaya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap kaum muda di Jerman, terbukti bahwa persentase kelompok usia 15-25 tahun merupakan kelompok umur yang secara reguler menggunakan komputer, internet dan video game, dan ternyata sejak tahun 1997 meningkat dua kali lipat dari 21 % menjadi 43 %. Malahan disebutkan, bahwa 80 % pemuda di Jerman secara reguler menggunakan mobile telephone. Penggunaan alat komunikasi canggih dan akses informasi yang komprehensif seperti internet yang demikian tinggi, justru mempertegas individualisme dan kepelbagaian pilihan dan sikap kaum muda di Jerman.

Senin, 11 Mei 2009

Ucapan Selamat kepada Harian SIB

Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Sampaikan Dirgahayu 39 Tahun Harian SIB, Doakan DR GM Panggabean Tetap Tegar dan Kokoh untuk Memperjuangkan Kepentingan Rakyat *Harian “SIB” Menjadi Saluran untuk Menyuarakan Aspirasi Masyarakat

Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) dalam menyambut Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) 9 Mei 1970-9 Mei 2009 menyatakan bahwa media yang mengalami banyak tantangan dan gejolak adalah bukti dari kematangan dan kedewasaan, apalagi kalau mampu mengatasi berbagai gejolak tersebut seperti yang telah dialami Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) dari sejak awal pendiriannya.
Sebab, terbukti bahwa Harian “SIB” telah menjadi saluran untuk menyuarakan aspirasi dan suara hati warga masyarakat. Karenanya, adalah menjadi doa dan harapan kami bahwa koran “SIB” yang terbit di Kota Medan dan bertaraf nasional ini menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari upaya pembangunan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, karena media adalah salah satu alat untuk mencerdaskan bangsa dan menjadi alat pembelaan kepada orang-orang yang tidak memiliki pembelaan.
Menurut Pdt Willem TP Simarmata MA, semangat kepelbagaian yang dimiliki Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), itu terbukti dari pemberitaan-pemberitaan yang juga komit membela kepentingan semua komponen masyarakat, dan juga sangat menghargai kemajemukan budaya dan suku.
Karenanya, tambah Pdt WTP Simarmata MA, sebagai pribadi maupun sebagai Ketua Umum PGI Wilayah Sumut menyampaikan Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) kepada Pemimpin Umum Harian “SIB” DR GM Panggabean/keluarga, staf, wartawan dan karyawan, semoga Harian “SIB” tetap jaya untuk menyuarakan kepentingan bangsa, negara dan masyarakat demi demokrasi, persatuan dan pembangunan.
Secara khusus mengucapkan selamat juga kepada pendiri Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), DR GM Panggabean disertai doa dan harapan kiranya tetap tegar dan kokoh demi memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak. Bahkan, dari sejak awal berdirinya Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) mengalami pasang surut, riak dan bahkan gelombang yang menerpanya, namun sampai saat ini Harian “SIB” masih tetap hadir setiap pagi untuk menyampaikan berita-berita segar tentang kehidupan masyarakat kepada para pencintanya, ujar Pdt WTP Simarmata MA. (S1/y)

Harian SIB (10/5/2009)

Kamis, 07 Mei 2009

Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Ag

Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Agar Pemeluk Agama Mayoritas Bersikap Bijaksana dan Melindungi Kaum Minoritas


Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) menyambut gembira, bangga dan rasa syukur adanya imbauan Sekretaris Jenderal Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad menanggapi pencabutan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) tempat ibadah dan gedung serbaguna HKBP Depok, Jawa Barat yang mengimbau umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas agar bersikap bijaksana dan melindungi kaum minoritas, bukannya bertindak sebaliknya.
Hal itu disampaikan Pdt WTP Simarmata MA menanggapi pemberitaan Harian “SIB”, Selasa (5/5) berjudul “Reaksi Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia terhadap pencabutan IMB HKBP”. Kita merasa bangga, karena imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad atas pencabutan IMB HKBP di Depok, karena beliau memiliki semangat nasionalisme sejati yang sangat menghargai kemajemukan dan kepelbagaian bangsa. Sebab, masa depan ini memiliki harapan yang lebih baik, karena kita masih memiliki tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan.
Dikatakan, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan kepada yang lain tapi setiap agama sangat mencintai terwujudnya perdamaian. Untuk itu, saya (Pdt WTP Simarmata MA) imbau kiranya masyarakat Sumut khususnya agar menjalin semangat persaudaran dengan warga masyarakat yang berbeda agama.”
Sebab, keutuhan bangsa ini akan semakin kokoh apabila semangat persaudaraan itu dapat dibina lebih baik. Dan pada kesempatan ini sekaligus menyampaikan saran/usul imbauan kepada Pemerintah Daerah Depok, Jawa Barat untuk dapat mempertimbangkan peninjauan ulang keputusan yang diambil oleh Walikota Depok yang mencabut IMB HKBP Depok. Sebab, pemerintah daerah dalam hal ini Walikota Depok, Jawa Barat adalah milik semua warga, maka seyogianya walikota menjadi pelindung dan pengayom bagi warga masyarakat yang majemuk itu.
Karenanya, tokoh-tokoh seperti Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia didukung, karena tidak berpikir sektarian, tetapi memiliki semangat kebersamaan. Untuk itu, barangkali masyarakat pun perlu arif untuk menentukan pilihan dalam pemilihan-pemilihan agar pilihan jatuh kepada tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan yang menghargai kemajemukan,
Sesuai dengan pemberitaan SIB, Senin (4/5), Walikota Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan bahwa pihaknya menjamin kebebasan beragama dan juga pendirian tempat beribadah, jika memenuhi persyaratan administratif dan teknis. “Saya tidak pernah menghalang-halangi pembangunan tempat beribadah untuk hadir di Kota Depok,” katanya.
Seperti diberitakan SIB, Kamis (30/4), pada 27 Maret 2009, Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail melalui keputusannya Nomor 645.8/144/Kpts/Sos/Huk/2009 menyatakan mencabut IMB tempat ibadah dan gedung serbaguna atas nama HKBP Pangkalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggrahan IV Kav.NT-25 Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan oleh pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998. (S1/y)

Selasa, 05 Mei 2009

Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA: Aparat Penegak Hukum Agar Memberantas Judi Togel Yang Mulai Marak di Siantar-Simalungun

Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di kompleks STT HKBP, Jalan Sangnaualuh P Siantar, Senin (4/5) mengatakan, sejak dahulu gereja-gereja selalu komit dan konsisten meminta agar aparat penegak hukum/aparat kepolisian bertindak tegas memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi togel.
Hal itu dikatakan menanggapi pemberitaan SIB, Senin (4/5) berjudul “Judi Togel mulai marak di P Siantar-Simalungun, polisi diminta tetap komit berantas judi”. Sebab segala bentuk judi tidak saja bertentangan dengan nilai-nilai hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama yang kita anut.
Untuk itu sangat berharap agar Kapoldasu, Kapolres Simalungun dan Kapolresta P Siantar khususnya segera menurunkan timnya ke lapangan untuk meneliti dan memberantas segala bentuk judi termasuk judi togel yang mulai marak di tengah-tengah kehidupan masyarakat di P Siantar-Simalungun khususnya, serta berusaha menangkap para oknum bandar, juru tulis (jurtul) dan agen-agen judi togel tersebut. Serta sekaligus menghimbau agar masyarakat yang sudah meninggalkan permainan judi togel tersebut jangan mau kembali tergoda bermain judi. Bahkan diyakini asal aparat penegak hukum bertindak tegas memberantas judi togel dan menangkap bandar dan jurtulnya, diyakini beroperasinya judi togel yang mulai marak saat ini di P Siantar Simalungun akan dapat segera dihentikan/diberantas, serta masyarakat pasti akan mendukung sikap tegas aparat penegak hukum yang bertindak memberantas segala bentuk perjudian di daerah ini.
Sebab sewaktu Kapolri dilantik, memiliki komitmen yang tegas untuk memberantas segala bentuk permainan judi di Indonesia. Tegasnya kata Pdt WTP Simarmata MA, sikap Kapolri sekarang ini yang sangat tegas memberantas judi sangat didukung dan dihargai gereja-gereja. Sebab dengan berhentinya segala bentuk perjudian di Sumut dan khususnya di P Siantar-Simalungun, suasana aman dan kondusif cukup terbina baik di Sumut. Mengingat lagi pada 8 Juli 2009 yang akan datang akan berlangsung Pilpres sebagai agenda nasional, untuk itu marilah kita sama-sama menjaga kedamaian di lingkungan kita masing-masing agar pelaksanaan Pilpres dapat berjalan aman dan damai.
Tegasnya, kata Pdt WTP Simarmata MA, segala bentuk judi termasuk judi togel yang saat ini mulai marak di P Siantar-Simalungun harus segera dihentikan atau diberantas serta para pelakunya dapat ditangkap agar dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Ketua Umum PGI Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA menyampaikan terimakasih kepada Polresta Pematangsiantar dan Polres Simalungun yang tetap komit akan memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi toto gelap di Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. (S1/q)

Harian SIB (5 Mei 2009)

Senin, 04 Mei 2009

Ketua PGPI Kota P Siantar Dukung Ajakan Ketua Umum PGI Sumut Agar Orang Batak Peduli Mengatasi Tercemarnya Danau Toba

Pematangsiantar (SIB)
Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota P Siantar menyambut baik dan turut mendukung ajakan Gubernur Sumatera Utara, H Syamsul Arifin SE agar orang Batak/umat Kristiani bersedia menggalakkan Marsipature Hutanabe dengan semangat kasih dan Dalihan Na Tolu. Sebab, ajaran Yesus Kristus menekankan kepada orang-orang percaya agar melaksanakan kasih persaudaraan dengan cara mau memperhatikan keperluan orang miskin, yatim piatu, orang tertindas, terhadap lingkungan yang rusak termasuk tercemarnya Danau Toba saat ini.
Demikian Pdt AM Peranginangin MA dan Pdt Marhasil Hutasoit MTh (Ketua Umum dan Sekretaris Umum) BKAG P Siantar, Kamis lalu di Kantor BKAG, Jalan Melanthon Siregar P Siantar. Tegasnya, orang-orang percaya diharapkan menjadi orang terdepan melaksanakan program Marsipature Hutanabe yaitu bersedia membangun kampung halamannya, karena hal itu merupakan suatu tanda atau buah dari iman orang-orang percaya.
Karena itulah sebagai pendeta/orang Kristen tetap komit mendukung perjuangan masyarakat Tapanuli yang menginginkan terwujudnya Propinsi Tapanuli (Protap), karena tujuannya adalah murni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, dengan, terbentuknya Protap diyakini masyarakat Tapanuli di Bona Pasogit dan perantauan akan semakin bergairah berpartisipasi membangun kampung halamannya, sehingga secara bertahap “peta kemiskinan” di Tapanuli dapat dihilangkan.
Sementara itu, Ketua PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) Kota P Siantar, Pdt B Manurung, Jumat (24/4) menyambut gembira dan turut mendukung ajakan Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA yang meminta orang Batak/umat Kristen memiliki kepedulian untuk mengatasi tercemarnya Danau Toba saat ini. Sebab, keindahan Danau Toba merupakan suatu berkat dari Tuhan kepada masyarakat Tapanuli dan karena itu gereja-gereja/umat Kristiani harus memiliki kepedulian untuk mengatasi pencemaran Danau Toba tersebut. (S1/q)

Kamis, 30 April 2009

Orang Batak Harus Memiliki Kepedulian Terhadap Tercemarnya Danau Toba

diambil dari harian SIB (24/04)

Senin, 06 April 2009

Sidang MPL PGI Wilayah Sumut di Samosir

Samosir (SIB)
Mengembangkan wawasan teologis, oikumenis dan nasionalis yang semakin dewasa dan penerapannya dalam menghadapi tantangan global, menjadi sub tema yang dikemas dalam pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGIW SU) di Sopo Toba Ambarita Kabupaten Samosir. Sidang dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara diwakili Sekdaprovsu Dr RE Nainggolan MM, Senin (23/3).
Mengapa kita harus hidup oikumenis? Pertanyaan ini harus dijawab dengan tindakan serta dilaksanakan dalam hidup sebagai orang Kristen. Dalam kemajemukan negara kita, umat Kristen merasa terpanggil untuk mengatasi kemiskinan. Apabila kemiskinan tidak dapat diatasi maka kondisi bangsa ini akan rapuh, tugas kita sebagai Gereja juga hadir sebagai perajut dalam krisis global, tugas gereja juga harus merangkul seluruh warga tanpa perbedaan. Hal inilah yang menjadi dasar kita hidup oikumenis, ujar Pdt WTP Simarmata MA dalam sambutannnya pada Sidang MPL PGIW SU di Samosir.
Sikap PGIW SU tentang Pemilu 9 April 2009 menegaskan bahwa tidak berpihak pada salah satu calon legislatif salah satu partai. PGIW SU menganjurkan seluruh warga untuk ikut memilih, harus menggunakan hak suaranya, warga juga diarahkan untuk mengawasi jalannya Pemilu yang berkwalitas. Apabila ada warga yang Golput atau tidak menggunakan hak suaranya dengan unsur kesengajaan, sama artinya tindakannya itu sama dengan tindakan seorang Naji yang mampu merusak tatanan negara kesatuan republik Indonesia, ujar Pdt WTP Simarmata MA.
Sidang MPL PGIW SU akan berakhir Kamis (26/3), hari pertama setelah acara pembukaan diadakan pelantikan anggota baru/pengganti dan pemilihan majelis ketua, penyerahan palu sidang dari Ketua Umum MPH PGIW SU Pdt WTP Simarmata MA kepada Majelis Ketua Pdt Nora B Manahampi STh bersama dua orang anggota majelis terpilih.
Jadwal acara sidang MPL PGIW SU juga mengagendakan pembahasan tentang Pembentukan Provinsi Tapanuli (PROTAP) secara khusus dibahas dalam sidang komisi, dalam rangkaian acara juga diadakan doa khusus bagi saudara – saudara yang sedang menjalani proses hukum karena memperjuangkan Protap. Doa khusus dipimpin oleh Bishop GKPI Pdt DR MSE Simorangkir.
Pelaksanaan sidang MPL PGIW SU mendapat dukungan yang sangat baik dari Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Samosir Ober Sagala SE. Dalam sambutannya mengatakan, hidup oikumene juga menjadi penerapan hidup warga yang ada di Kabupaten Samosir. Masyarakat Samosir juga majemuk terdiri dari penduduk sekitar 71.000 jiwa menganut agama Kristen, 58.202 jiwa agama Katolik, 847 Jiwa agama Islam serta 67 jiwa Kepercayaan lainnya. Ada sekitar 300 rumah ibadah Kristen, 100 unit rumah ibadah Katolik dan 7 unit Masjid berkembang dengan damai di Kabupaten Samosir.
Lebih lanjut Wakil Bupati menjelaskan bahwa seluruh kegiatan keagamaan sangat didukung. Kabupaten Samosir dengan kemajemukannya telah siap untuk memfasilitasi pertemuan yang dilaksanakan oleh berbagai agama yang ada dimiliki bangsa ini, ujarnya. (HS,T12,M35/x)

Rabu, 04 Maret 2009

Ketua Umum PGI Wil Sumut: PGI Rindu HKBP Menjadi Perekat dan Pendorong Kebersamaan

Medan (SIB)
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) merindukan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi perekat dan pendorong kebersamaan di Sumut. Melalui momen perayaan tahun Diakonia HKBP Sumut itu juga harus dapat dimanfaatkan untuk potensi persatuan di Sumut.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA didampingi JA Ferdinandus, Bishop GPP Pdt DR JH Manurung, St Amelia Panjaitan Boru Rambe, Drs Monang Simorangkir, Pdt AR Pardede, St Ir Walsen Napitupulu, Drs M Rey Naibaho, dan Pdt P Silaban, Senin (2/3) malam, saat menerima audensi Ketua Umum Panitia Perayaan Tahun Diakonia 2009 DR RE Nainggolan MM dan rombongan di kantornya. Hadir mendampingi RE Nainggolan antara lain, Ketua Pelaksana Rapotan Tambunan SH MM, Sekretaris Drs Bukit Tambunan MAP, Jadi Pane dan lain-lain.
Dia juga menyampaikan, bahwa dirinya bersama pendeta-pendeta berbagai gereja di Sumut akan hadir pada puncak perayaan pada 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan. Sekaligus untuk mendorong dan memeriahkan perayaan itu.
Sebagai hamba Tuhan, katanya, pihaknya tetap berdoa untuk semua panitia dan kesuksesan acara tersebut. “HKBP harus bisa menjadi garam, walaupun kita sedikit tapi kita harus bisa menjadi garam. Kami berdoa agar jangan ada krikil yang mengganjal dalam perjalanan panitia ke depan hingga Perayaan Tahun Diakonia ini terlaksana,” katanya.
Dia yakin seorang RE Nainggolan bersama panitia lainnya bisa mengemban tugas ini. Apalagi RE Nainggolan telah berpengalaman menjadi panitia CCA waktu lalu. “Kami melihat RE Nainggolan dan panitia lainnya dengan gigih bekerja setiap hari mensosialisasikan perayaan tersebut dan kami yakin bahwa warga HKBP akan bisa hadir puluhan ribu, 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan,” katanya.
Menurut dia, Diakonia adalah awal dari tugas-tugas pelayanan. Tahun Diakonia ini sangat mendasar sekali karena menyentuh jemaat. “Kami juga sangat bersyukur tentang adanya seminar bahaya Aids dan narkoba, karena dengan seminar itu HKBP telah ikut berperan menyelamatkan generasi muda dari bahaya Aids dan narkoba di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, RE Nainggolan memaparkan, dalam konteks Diakonia itu panitia telah melakukan kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti penghijauan dengan penanaman pohon dan akan berlangsung selama tahun 2009 dan tahun-tahun selanjutnya.
Kemudian juga telah dilaksanakan seminar tentang pelayanan orang miskin dan pengangguran yang dihadiri pembicara para tokoh yang mencintai HKBP, seminar HIV/AIDS dan bahaya penyalahgunaan narkoba. Serta pelayanan pengobatan gratis kepada jemaat yang kurang mampu.
RE juga menyampaikan, puncak acara Diakonia itu akan dihadiri keluarga Nommensen dan Gubernur Jerman Utara. Acara itu dibagi dua bagian, pertama Kebaktian Raya dan dilanjutkan acara umum yang dihadiri oleh Menteri Agama Maftuh Basyumi, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Gubsu H Syamsul Arifin SE sekaligus menyampaikan kata sambutan pada perayaan tersebut.
Menurut RE, kehadiran Menteri Kehutanan MS Kaban karena peran serta HKBP telah membangun komitmen yang mencerminkan lingkungan/penghijauan, bahkan HKBP dengan Menhut sudah menandatangani MoU tentang penghijauan.
HKBP juga bersama-sama mewujudkan pelaksanaan PEMILU damai 2009 serta bersinergi dengan Pemerintah membangun Sumut menuju masyarakat sejahtera, cerdas yang dilandasi iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan sebelum pesta raya, lanjut RE, diadakan festival koor antar Distrik se Sumut. Masing-masing Distrik terlebih dahulu melakukan penyisihan dan mengutus pemenang untuk mengikuti babak Grand Final 20-21 Maret 2009 di Medan dengan total hadiah Rp 30 juta. Para peserta akan menjadi tim koor raksasa yang akan ditampilkan pada puncak acara di stadion Teladan.
Selain itu, kata RE, operette berdurasi 45 sampai 60 menit akan ditampilkan pada perayaan tentang perjalanan Kekristenan HKBP sejak kedatangan Tuan Munson dan Leman, Nommensen dan keadaan HKBP sekarang serta prospek di masa depan. “Pemain dari operetta itu perankan 80 personil dari sanggar UKM teater LKK Unimed,” papar RE.(M35/d)

Minggu, 22 Februari 2009

Agama di Tengah-tengah Masyarakat Maiemuk

Agama bukanlah sesuatu yang asing bagi kemanusiaan dengan segala persoalannya. Karena apa pun bentuknya agama sangat erat hubungannya dengan manusia. Ia bukan agama kalau tidak manusiawi. Ia dibentuk dan dilembagakan oleh manusia tetapi substansinya serta ajaran-ajarannya tidak bisa dilepaskan dari manusia sebab ajarannya bersumber dari Tuhan. Agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia, tetapi juga soal hubungan antara manusia, bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Karenanya agama pun menjadi panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan dan bermasyarakat. Bagaimana kita memperlakukan sesama adalah gambaran dari bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Karenanya agama tidak boleh dipaksakan untuk dianut oleh orang lain.
Pada prinsipnya tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mendukung ketidakadilan yang terjadi di antara umat manusia. Tidak ada satu agama pun yang memberi rekomendasi bagi para penganutnya untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki atau menyalahgunakan potensi yang dimiliki dalam sebuah masyarakat. Lebih jauh lagi bahwa tidak ada satu agama pun yang dalam ajarannya melegitimasi kesenjangan sosial, kerusuhan dan ketidakadilan dll. Semua agama mengajarkan hal-hal yang membawa kesehjateraan bagi umat manusia. Karenanya memang semua agama harus mampu saling merangkul, apalagi di tengah masyarakat majemuk seperti bangsa dan Negara Indonesia.
Memang persoalannya adalah, bukankah ketidakadilan itu adalah juga akibat tindakan orang yang beragama? Bukankah penyelewengan jabatan, korupsi dan penipuan itu adalah dilakukan oleh orang yang beragama pula? Bukankah yang miskin dan yang kaya itu adalah orang beragama? Lalu pertanyaan pun muncul: “Apa hubungan agama dengan kenyataan semacam itu ?” atau “Bagaimana orang yang beragama melihat dan mencermati kenyataan semacam itu?" .
Mungkin ada yang beranggapan bahwa agama tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kenyataan sosial seperti itu. Mungkin ada anggapan seolah-olah agama tidak memiliki hubungan apa pun dengan realitas sosial. Atau mungkin agama dianggap hanya bersangkut-paut dengan soal-soal ketuhanan saja atau soal-soal kerohanian saja. Mungkin ada juga
yang beranggapan bahwa agama hanya mempersoalkan hal-hal yang terkait dengan akhir zaman saja.
Agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Agama tidak boleh tidak dihubungkan dengan pembicaraan mengenai hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan manusia. Hubungan ini bukan hanya membangun hubungan yang harmonis tetapi juga membangun kesadaran dan tanggungjawab. Tanggungjawab manusia kepada Allah dan tanggungjawab manusia kepada manusia. Karenanya, kepedulian agama
atas persoalan-persoalan kemanusiaan menjadi agenda utama setiap pemikiran dan tindakan yang dikembangkan oleh agama. Kondisi-kondisi kemanusiaan seperti keadilan, keprihatinan, keutuhan masyarakat, kedamaian, kebersamaan dan kesejukan menjadi tugas utama agama untuk dihadirkan ditengah-tengah masyarakat, dikalangan pengusaha, birokrat, penguasa, konglomerat, politisi dan juga rakyat biasa yang sekali pun berbeda agama. Kehidupan seperti itulah seharusnya nampak di dalam kehidupan orang yang beragama, yaitu DAMAI dan RUKUN.
Persoalan yang sering dihadapi adalah: Mengapa penganut sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya? Di sinilah pentingnya memberi perhatian kepada ajaran agama itu sendiri. Agama perlu dilihat bukan semata-mata berisikan tumpukan larangan atau hukum terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak benar, tetapi merupakan pendorong, pemberi inspirasi positif dan yang melaluinya manusia lebih dimungkinkan untuk percaya diri. Hal ini berarti percaya pada diri sendiri yang memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan juga percaya bahwa orang lain pun mampu berbuat baik sebagai tanggungjawab kepada Tuhan dan sesame manusia. Pada saat seperti inilah, agama yang satu dapat belajar juga dari agama yang lain. Kita sendiri harus mampu mensyukuri perbuatan baik dari agama lain.
Dalam kaitan diatas, ada beberapa catatan penting:

  1. Perlu memahami peran sejarah yang telah dilakukan oleh agama untuk menolong dan sebagai pembanding yang setia bagi masyarakatnya. Agama sangat berperan di tengah-tengah masyarakat dan ini harus dihargai. Hal ini pun termasuk menghargai peranan agama lain, Dalam bangsa dan Negara yang majemuk ini siapa pun dia harus melihat bahwa peranan agama-agama memang sangat nyata dalam membangun kehidupan baik spiritual maupun moral masyarakat.
  2. Kita juga harus mampu menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan bukan dengan sendirinya sebuah awal dari perlawanan dan permusuhan. Agama-agama berbeda karena sejarah manusia memang berbeda. Umat manusia diciptakan Tuhan tidak sama makanya ada perbedaan dan perbedaan itu pun seharusnya tidak menjadi persoalan.
  3. Pada pihak lain kita perlu kritis terhadap penampilan agama-agama, termasuk agama yang kita anut sendiri, siapa tahu di dalamnya telah ada sikap dan perilaku yang telah merugikan masyarakat serta yang mengancam kesatuan masyarakat. Karena memang tidak dengan sendirinya agama mampu melakukan fungsi integrative, malahan boleh jadi agama terperangkap sehingga tidak member kontribusi kepada kesatuan dan persatuan.
Sering terjadi agama-agama terbawa arus kepentingan kelompoknya sehingga tidak memberikan kontribusi kepada rekonsiliasi malah menjadi sumber konflik. Ini yang harus dihindari secara serius agar agama tidak terseret kepada posisi diperalat untuk kepentingan tertentu.