Senin, 11 Mei 2009

Ucapan Selamat kepada Harian SIB

Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Sampaikan Dirgahayu 39 Tahun Harian SIB, Doakan DR GM Panggabean Tetap Tegar dan Kokoh untuk Memperjuangkan Kepentingan Rakyat *Harian “SIB” Menjadi Saluran untuk Menyuarakan Aspirasi Masyarakat

Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) dalam menyambut Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) 9 Mei 1970-9 Mei 2009 menyatakan bahwa media yang mengalami banyak tantangan dan gejolak adalah bukti dari kematangan dan kedewasaan, apalagi kalau mampu mengatasi berbagai gejolak tersebut seperti yang telah dialami Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) dari sejak awal pendiriannya.
Sebab, terbukti bahwa Harian “SIB” telah menjadi saluran untuk menyuarakan aspirasi dan suara hati warga masyarakat. Karenanya, adalah menjadi doa dan harapan kami bahwa koran “SIB” yang terbit di Kota Medan dan bertaraf nasional ini menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dari upaya pembangunan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, karena media adalah salah satu alat untuk mencerdaskan bangsa dan menjadi alat pembelaan kepada orang-orang yang tidak memiliki pembelaan.
Menurut Pdt Willem TP Simarmata MA, semangat kepelbagaian yang dimiliki Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), itu terbukti dari pemberitaan-pemberitaan yang juga komit membela kepentingan semua komponen masyarakat, dan juga sangat menghargai kemajemukan budaya dan suku.
Karenanya, tambah Pdt WTP Simarmata MA, sebagai pribadi maupun sebagai Ketua Umum PGI Wilayah Sumut menyampaikan Dirgahayu ke-39 Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) kepada Pemimpin Umum Harian “SIB” DR GM Panggabean/keluarga, staf, wartawan dan karyawan, semoga Harian “SIB” tetap jaya untuk menyuarakan kepentingan bangsa, negara dan masyarakat demi demokrasi, persatuan dan pembangunan.
Secara khusus mengucapkan selamat juga kepada pendiri Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB), DR GM Panggabean disertai doa dan harapan kiranya tetap tegar dan kokoh demi memperjuangkan kepentingan masyarakat banyak. Bahkan, dari sejak awal berdirinya Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) mengalami pasang surut, riak dan bahkan gelombang yang menerpanya, namun sampai saat ini Harian “SIB” masih tetap hadir setiap pagi untuk menyampaikan berita-berita segar tentang kehidupan masyarakat kepada para pencintanya, ujar Pdt WTP Simarmata MA. (S1/y)

Harian SIB (10/5/2009)

Kamis, 07 Mei 2009

Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Ag

Sekitar Pencabutan IMB HKBP Depok, Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA Bangga Atas Imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia * Agar Pemeluk Agama Mayoritas Bersikap Bijaksana dan Melindungi Kaum Minoritas


Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut Pdt Willem TP Simarmata MA di Kampus STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Selasa (5/5) menyambut gembira, bangga dan rasa syukur adanya imbauan Sekretaris Jenderal Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad menanggapi pencabutan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) tempat ibadah dan gedung serbaguna HKBP Depok, Jawa Barat yang mengimbau umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas agar bersikap bijaksana dan melindungi kaum minoritas, bukannya bertindak sebaliknya.
Hal itu disampaikan Pdt WTP Simarmata MA menanggapi pemberitaan Harian “SIB”, Selasa (5/5) berjudul “Reaksi Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia terhadap pencabutan IMB HKBP”. Kita merasa bangga, karena imbauan Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia, Ida Nasim Mohammad atas pencabutan IMB HKBP di Depok, karena beliau memiliki semangat nasionalisme sejati yang sangat menghargai kemajemukan dan kepelbagaian bangsa. Sebab, masa depan ini memiliki harapan yang lebih baik, karena kita masih memiliki tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan.
Dikatakan, bahwa tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan kepada yang lain tapi setiap agama sangat mencintai terwujudnya perdamaian. Untuk itu, saya (Pdt WTP Simarmata MA) imbau kiranya masyarakat Sumut khususnya agar menjalin semangat persaudaran dengan warga masyarakat yang berbeda agama.”
Sebab, keutuhan bangsa ini akan semakin kokoh apabila semangat persaudaraan itu dapat dibina lebih baik. Dan pada kesempatan ini sekaligus menyampaikan saran/usul imbauan kepada Pemerintah Daerah Depok, Jawa Barat untuk dapat mempertimbangkan peninjauan ulang keputusan yang diambil oleh Walikota Depok yang mencabut IMB HKBP Depok. Sebab, pemerintah daerah dalam hal ini Walikota Depok, Jawa Barat adalah milik semua warga, maka seyogianya walikota menjadi pelindung dan pengayom bagi warga masyarakat yang majemuk itu.
Karenanya, tokoh-tokoh seperti Sekjen Dewan Kebangkitan Islam Indonesia didukung, karena tidak berpikir sektarian, tetapi memiliki semangat kebersamaan. Untuk itu, barangkali masyarakat pun perlu arif untuk menentukan pilihan dalam pemilihan-pemilihan agar pilihan jatuh kepada tokoh-tokoh yang memiliki semangat kebangsaan yang menghargai kemajemukan,
Sesuai dengan pemberitaan SIB, Senin (4/5), Walikota Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail mengatakan bahwa pihaknya menjamin kebebasan beragama dan juga pendirian tempat beribadah, jika memenuhi persyaratan administratif dan teknis. “Saya tidak pernah menghalang-halangi pembangunan tempat beribadah untuk hadir di Kota Depok,” katanya.
Seperti diberitakan SIB, Kamis (30/4), pada 27 Maret 2009, Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail melalui keputusannya Nomor 645.8/144/Kpts/Sos/Huk/2009 menyatakan mencabut IMB tempat ibadah dan gedung serbaguna atas nama HKBP Pangkalan Jati Gandul yang beralamat di Jalan Puri Pesanggrahan IV Kav.NT-25 Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat. Sebelumnya HKBP telah mendapatkan IMB yang diterbitkan oleh pemerintah Kabupaten Bogor dengan Nomor 453.2/229/TKB/1998 tanggal 13 Juni 1998. (S1/y)

Selasa, 05 Mei 2009

Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA: Aparat Penegak Hukum Agar Memberantas Judi Togel Yang Mulai Marak di Siantar-Simalungun

Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di kompleks STT HKBP, Jalan Sangnaualuh P Siantar, Senin (4/5) mengatakan, sejak dahulu gereja-gereja selalu komit dan konsisten meminta agar aparat penegak hukum/aparat kepolisian bertindak tegas memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi togel.
Hal itu dikatakan menanggapi pemberitaan SIB, Senin (4/5) berjudul “Judi Togel mulai marak di P Siantar-Simalungun, polisi diminta tetap komit berantas judi”. Sebab segala bentuk judi tidak saja bertentangan dengan nilai-nilai hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai moral dan agama yang kita anut.
Untuk itu sangat berharap agar Kapoldasu, Kapolres Simalungun dan Kapolresta P Siantar khususnya segera menurunkan timnya ke lapangan untuk meneliti dan memberantas segala bentuk judi termasuk judi togel yang mulai marak di tengah-tengah kehidupan masyarakat di P Siantar-Simalungun khususnya, serta berusaha menangkap para oknum bandar, juru tulis (jurtul) dan agen-agen judi togel tersebut. Serta sekaligus menghimbau agar masyarakat yang sudah meninggalkan permainan judi togel tersebut jangan mau kembali tergoda bermain judi. Bahkan diyakini asal aparat penegak hukum bertindak tegas memberantas judi togel dan menangkap bandar dan jurtulnya, diyakini beroperasinya judi togel yang mulai marak saat ini di P Siantar Simalungun akan dapat segera dihentikan/diberantas, serta masyarakat pasti akan mendukung sikap tegas aparat penegak hukum yang bertindak memberantas segala bentuk perjudian di daerah ini.
Sebab sewaktu Kapolri dilantik, memiliki komitmen yang tegas untuk memberantas segala bentuk permainan judi di Indonesia. Tegasnya kata Pdt WTP Simarmata MA, sikap Kapolri sekarang ini yang sangat tegas memberantas judi sangat didukung dan dihargai gereja-gereja. Sebab dengan berhentinya segala bentuk perjudian di Sumut dan khususnya di P Siantar-Simalungun, suasana aman dan kondusif cukup terbina baik di Sumut. Mengingat lagi pada 8 Juli 2009 yang akan datang akan berlangsung Pilpres sebagai agenda nasional, untuk itu marilah kita sama-sama menjaga kedamaian di lingkungan kita masing-masing agar pelaksanaan Pilpres dapat berjalan aman dan damai.
Tegasnya, kata Pdt WTP Simarmata MA, segala bentuk judi termasuk judi togel yang saat ini mulai marak di P Siantar-Simalungun harus segera dihentikan atau diberantas serta para pelakunya dapat ditangkap agar dapat diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Ketua Umum PGI Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA menyampaikan terimakasih kepada Polresta Pematangsiantar dan Polres Simalungun yang tetap komit akan memberantas segala bentuk permainan judi termasuk judi toto gelap di Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. (S1/q)

Harian SIB (5 Mei 2009)

Senin, 04 Mei 2009

Ketua PGPI Kota P Siantar Dukung Ajakan Ketua Umum PGI Sumut Agar Orang Batak Peduli Mengatasi Tercemarnya Danau Toba

Pematangsiantar (SIB)
Badan Kerjasama Antar Gereja (BKAG) Kota P Siantar menyambut baik dan turut mendukung ajakan Gubernur Sumatera Utara, H Syamsul Arifin SE agar orang Batak/umat Kristiani bersedia menggalakkan Marsipature Hutanabe dengan semangat kasih dan Dalihan Na Tolu. Sebab, ajaran Yesus Kristus menekankan kepada orang-orang percaya agar melaksanakan kasih persaudaraan dengan cara mau memperhatikan keperluan orang miskin, yatim piatu, orang tertindas, terhadap lingkungan yang rusak termasuk tercemarnya Danau Toba saat ini.
Demikian Pdt AM Peranginangin MA dan Pdt Marhasil Hutasoit MTh (Ketua Umum dan Sekretaris Umum) BKAG P Siantar, Kamis lalu di Kantor BKAG, Jalan Melanthon Siregar P Siantar. Tegasnya, orang-orang percaya diharapkan menjadi orang terdepan melaksanakan program Marsipature Hutanabe yaitu bersedia membangun kampung halamannya, karena hal itu merupakan suatu tanda atau buah dari iman orang-orang percaya.
Karena itulah sebagai pendeta/orang Kristen tetap komit mendukung perjuangan masyarakat Tapanuli yang menginginkan terwujudnya Propinsi Tapanuli (Protap), karena tujuannya adalah murni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebab, dengan, terbentuknya Protap diyakini masyarakat Tapanuli di Bona Pasogit dan perantauan akan semakin bergairah berpartisipasi membangun kampung halamannya, sehingga secara bertahap “peta kemiskinan” di Tapanuli dapat dihilangkan.
Sementara itu, Ketua PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) Kota P Siantar, Pdt B Manurung, Jumat (24/4) menyambut gembira dan turut mendukung ajakan Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah Sumut, Pdt WTP Simarmata MA yang meminta orang Batak/umat Kristen memiliki kepedulian untuk mengatasi tercemarnya Danau Toba saat ini. Sebab, keindahan Danau Toba merupakan suatu berkat dari Tuhan kepada masyarakat Tapanuli dan karena itu gereja-gereja/umat Kristiani harus memiliki kepedulian untuk mengatasi pencemaran Danau Toba tersebut. (S1/q)

Kamis, 30 April 2009

Orang Batak Harus Memiliki Kepedulian Terhadap Tercemarnya Danau Toba

diambil dari harian SIB (24/04)

Senin, 06 April 2009

Sidang MPL PGI Wilayah Sumut di Samosir

Samosir (SIB)
Mengembangkan wawasan teologis, oikumenis dan nasionalis yang semakin dewasa dan penerapannya dalam menghadapi tantangan global, menjadi sub tema yang dikemas dalam pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGIW SU) di Sopo Toba Ambarita Kabupaten Samosir. Sidang dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara diwakili Sekdaprovsu Dr RE Nainggolan MM, Senin (23/3).
Mengapa kita harus hidup oikumenis? Pertanyaan ini harus dijawab dengan tindakan serta dilaksanakan dalam hidup sebagai orang Kristen. Dalam kemajemukan negara kita, umat Kristen merasa terpanggil untuk mengatasi kemiskinan. Apabila kemiskinan tidak dapat diatasi maka kondisi bangsa ini akan rapuh, tugas kita sebagai Gereja juga hadir sebagai perajut dalam krisis global, tugas gereja juga harus merangkul seluruh warga tanpa perbedaan. Hal inilah yang menjadi dasar kita hidup oikumenis, ujar Pdt WTP Simarmata MA dalam sambutannnya pada Sidang MPL PGIW SU di Samosir.
Sikap PGIW SU tentang Pemilu 9 April 2009 menegaskan bahwa tidak berpihak pada salah satu calon legislatif salah satu partai. PGIW SU menganjurkan seluruh warga untuk ikut memilih, harus menggunakan hak suaranya, warga juga diarahkan untuk mengawasi jalannya Pemilu yang berkwalitas. Apabila ada warga yang Golput atau tidak menggunakan hak suaranya dengan unsur kesengajaan, sama artinya tindakannya itu sama dengan tindakan seorang Naji yang mampu merusak tatanan negara kesatuan republik Indonesia, ujar Pdt WTP Simarmata MA.
Sidang MPL PGIW SU akan berakhir Kamis (26/3), hari pertama setelah acara pembukaan diadakan pelantikan anggota baru/pengganti dan pemilihan majelis ketua, penyerahan palu sidang dari Ketua Umum MPH PGIW SU Pdt WTP Simarmata MA kepada Majelis Ketua Pdt Nora B Manahampi STh bersama dua orang anggota majelis terpilih.
Jadwal acara sidang MPL PGIW SU juga mengagendakan pembahasan tentang Pembentukan Provinsi Tapanuli (PROTAP) secara khusus dibahas dalam sidang komisi, dalam rangkaian acara juga diadakan doa khusus bagi saudara – saudara yang sedang menjalani proses hukum karena memperjuangkan Protap. Doa khusus dipimpin oleh Bishop GKPI Pdt DR MSE Simorangkir.
Pelaksanaan sidang MPL PGIW SU mendapat dukungan yang sangat baik dari Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Samosir Ober Sagala SE. Dalam sambutannya mengatakan, hidup oikumene juga menjadi penerapan hidup warga yang ada di Kabupaten Samosir. Masyarakat Samosir juga majemuk terdiri dari penduduk sekitar 71.000 jiwa menganut agama Kristen, 58.202 jiwa agama Katolik, 847 Jiwa agama Islam serta 67 jiwa Kepercayaan lainnya. Ada sekitar 300 rumah ibadah Kristen, 100 unit rumah ibadah Katolik dan 7 unit Masjid berkembang dengan damai di Kabupaten Samosir.
Lebih lanjut Wakil Bupati menjelaskan bahwa seluruh kegiatan keagamaan sangat didukung. Kabupaten Samosir dengan kemajemukannya telah siap untuk memfasilitasi pertemuan yang dilaksanakan oleh berbagai agama yang ada dimiliki bangsa ini, ujarnya. (HS,T12,M35/x)

Rabu, 04 Maret 2009

Ketua Umum PGI Wil Sumut: PGI Rindu HKBP Menjadi Perekat dan Pendorong Kebersamaan

Medan (SIB)
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) merindukan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi perekat dan pendorong kebersamaan di Sumut. Melalui momen perayaan tahun Diakonia HKBP Sumut itu juga harus dapat dimanfaatkan untuk potensi persatuan di Sumut.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA didampingi JA Ferdinandus, Bishop GPP Pdt DR JH Manurung, St Amelia Panjaitan Boru Rambe, Drs Monang Simorangkir, Pdt AR Pardede, St Ir Walsen Napitupulu, Drs M Rey Naibaho, dan Pdt P Silaban, Senin (2/3) malam, saat menerima audensi Ketua Umum Panitia Perayaan Tahun Diakonia 2009 DR RE Nainggolan MM dan rombongan di kantornya. Hadir mendampingi RE Nainggolan antara lain, Ketua Pelaksana Rapotan Tambunan SH MM, Sekretaris Drs Bukit Tambunan MAP, Jadi Pane dan lain-lain.
Dia juga menyampaikan, bahwa dirinya bersama pendeta-pendeta berbagai gereja di Sumut akan hadir pada puncak perayaan pada 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan. Sekaligus untuk mendorong dan memeriahkan perayaan itu.
Sebagai hamba Tuhan, katanya, pihaknya tetap berdoa untuk semua panitia dan kesuksesan acara tersebut. “HKBP harus bisa menjadi garam, walaupun kita sedikit tapi kita harus bisa menjadi garam. Kami berdoa agar jangan ada krikil yang mengganjal dalam perjalanan panitia ke depan hingga Perayaan Tahun Diakonia ini terlaksana,” katanya.
Dia yakin seorang RE Nainggolan bersama panitia lainnya bisa mengemban tugas ini. Apalagi RE Nainggolan telah berpengalaman menjadi panitia CCA waktu lalu. “Kami melihat RE Nainggolan dan panitia lainnya dengan gigih bekerja setiap hari mensosialisasikan perayaan tersebut dan kami yakin bahwa warga HKBP akan bisa hadir puluhan ribu, 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan,” katanya.
Menurut dia, Diakonia adalah awal dari tugas-tugas pelayanan. Tahun Diakonia ini sangat mendasar sekali karena menyentuh jemaat. “Kami juga sangat bersyukur tentang adanya seminar bahaya Aids dan narkoba, karena dengan seminar itu HKBP telah ikut berperan menyelamatkan generasi muda dari bahaya Aids dan narkoba di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, RE Nainggolan memaparkan, dalam konteks Diakonia itu panitia telah melakukan kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti penghijauan dengan penanaman pohon dan akan berlangsung selama tahun 2009 dan tahun-tahun selanjutnya.
Kemudian juga telah dilaksanakan seminar tentang pelayanan orang miskin dan pengangguran yang dihadiri pembicara para tokoh yang mencintai HKBP, seminar HIV/AIDS dan bahaya penyalahgunaan narkoba. Serta pelayanan pengobatan gratis kepada jemaat yang kurang mampu.
RE juga menyampaikan, puncak acara Diakonia itu akan dihadiri keluarga Nommensen dan Gubernur Jerman Utara. Acara itu dibagi dua bagian, pertama Kebaktian Raya dan dilanjutkan acara umum yang dihadiri oleh Menteri Agama Maftuh Basyumi, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Gubsu H Syamsul Arifin SE sekaligus menyampaikan kata sambutan pada perayaan tersebut.
Menurut RE, kehadiran Menteri Kehutanan MS Kaban karena peran serta HKBP telah membangun komitmen yang mencerminkan lingkungan/penghijauan, bahkan HKBP dengan Menhut sudah menandatangani MoU tentang penghijauan.
HKBP juga bersama-sama mewujudkan pelaksanaan PEMILU damai 2009 serta bersinergi dengan Pemerintah membangun Sumut menuju masyarakat sejahtera, cerdas yang dilandasi iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan sebelum pesta raya, lanjut RE, diadakan festival koor antar Distrik se Sumut. Masing-masing Distrik terlebih dahulu melakukan penyisihan dan mengutus pemenang untuk mengikuti babak Grand Final 20-21 Maret 2009 di Medan dengan total hadiah Rp 30 juta. Para peserta akan menjadi tim koor raksasa yang akan ditampilkan pada puncak acara di stadion Teladan.
Selain itu, kata RE, operette berdurasi 45 sampai 60 menit akan ditampilkan pada perayaan tentang perjalanan Kekristenan HKBP sejak kedatangan Tuan Munson dan Leman, Nommensen dan keadaan HKBP sekarang serta prospek di masa depan. “Pemain dari operetta itu perankan 80 personil dari sanggar UKM teater LKK Unimed,” papar RE.(M35/d)

Minggu, 22 Februari 2009

Agama di Tengah-tengah Masyarakat Maiemuk

Agama bukanlah sesuatu yang asing bagi kemanusiaan dengan segala persoalannya. Karena apa pun bentuknya agama sangat erat hubungannya dengan manusia. Ia bukan agama kalau tidak manusiawi. Ia dibentuk dan dilembagakan oleh manusia tetapi substansinya serta ajaran-ajarannya tidak bisa dilepaskan dari manusia sebab ajarannya bersumber dari Tuhan. Agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia, tetapi juga soal hubungan antara manusia, bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Karenanya agama pun menjadi panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan dan bermasyarakat. Bagaimana kita memperlakukan sesama adalah gambaran dari bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Karenanya agama tidak boleh dipaksakan untuk dianut oleh orang lain.
Pada prinsipnya tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mendukung ketidakadilan yang terjadi di antara umat manusia. Tidak ada satu agama pun yang memberi rekomendasi bagi para penganutnya untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki atau menyalahgunakan potensi yang dimiliki dalam sebuah masyarakat. Lebih jauh lagi bahwa tidak ada satu agama pun yang dalam ajarannya melegitimasi kesenjangan sosial, kerusuhan dan ketidakadilan dll. Semua agama mengajarkan hal-hal yang membawa kesehjateraan bagi umat manusia. Karenanya memang semua agama harus mampu saling merangkul, apalagi di tengah masyarakat majemuk seperti bangsa dan Negara Indonesia.
Memang persoalannya adalah, bukankah ketidakadilan itu adalah juga akibat tindakan orang yang beragama? Bukankah penyelewengan jabatan, korupsi dan penipuan itu adalah dilakukan oleh orang yang beragama pula? Bukankah yang miskin dan yang kaya itu adalah orang beragama? Lalu pertanyaan pun muncul: “Apa hubungan agama dengan kenyataan semacam itu ?” atau “Bagaimana orang yang beragama melihat dan mencermati kenyataan semacam itu?" .
Mungkin ada yang beranggapan bahwa agama tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kenyataan sosial seperti itu. Mungkin ada anggapan seolah-olah agama tidak memiliki hubungan apa pun dengan realitas sosial. Atau mungkin agama dianggap hanya bersangkut-paut dengan soal-soal ketuhanan saja atau soal-soal kerohanian saja. Mungkin ada juga
yang beranggapan bahwa agama hanya mempersoalkan hal-hal yang terkait dengan akhir zaman saja.
Agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Agama tidak boleh tidak dihubungkan dengan pembicaraan mengenai hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan manusia. Hubungan ini bukan hanya membangun hubungan yang harmonis tetapi juga membangun kesadaran dan tanggungjawab. Tanggungjawab manusia kepada Allah dan tanggungjawab manusia kepada manusia. Karenanya, kepedulian agama
atas persoalan-persoalan kemanusiaan menjadi agenda utama setiap pemikiran dan tindakan yang dikembangkan oleh agama. Kondisi-kondisi kemanusiaan seperti keadilan, keprihatinan, keutuhan masyarakat, kedamaian, kebersamaan dan kesejukan menjadi tugas utama agama untuk dihadirkan ditengah-tengah masyarakat, dikalangan pengusaha, birokrat, penguasa, konglomerat, politisi dan juga rakyat biasa yang sekali pun berbeda agama. Kehidupan seperti itulah seharusnya nampak di dalam kehidupan orang yang beragama, yaitu DAMAI dan RUKUN.
Persoalan yang sering dihadapi adalah: Mengapa penganut sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya? Di sinilah pentingnya memberi perhatian kepada ajaran agama itu sendiri. Agama perlu dilihat bukan semata-mata berisikan tumpukan larangan atau hukum terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak benar, tetapi merupakan pendorong, pemberi inspirasi positif dan yang melaluinya manusia lebih dimungkinkan untuk percaya diri. Hal ini berarti percaya pada diri sendiri yang memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan juga percaya bahwa orang lain pun mampu berbuat baik sebagai tanggungjawab kepada Tuhan dan sesame manusia. Pada saat seperti inilah, agama yang satu dapat belajar juga dari agama yang lain. Kita sendiri harus mampu mensyukuri perbuatan baik dari agama lain.
Dalam kaitan diatas, ada beberapa catatan penting:

  1. Perlu memahami peran sejarah yang telah dilakukan oleh agama untuk menolong dan sebagai pembanding yang setia bagi masyarakatnya. Agama sangat berperan di tengah-tengah masyarakat dan ini harus dihargai. Hal ini pun termasuk menghargai peranan agama lain, Dalam bangsa dan Negara yang majemuk ini siapa pun dia harus melihat bahwa peranan agama-agama memang sangat nyata dalam membangun kehidupan baik spiritual maupun moral masyarakat.
  2. Kita juga harus mampu menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan bukan dengan sendirinya sebuah awal dari perlawanan dan permusuhan. Agama-agama berbeda karena sejarah manusia memang berbeda. Umat manusia diciptakan Tuhan tidak sama makanya ada perbedaan dan perbedaan itu pun seharusnya tidak menjadi persoalan.
  3. Pada pihak lain kita perlu kritis terhadap penampilan agama-agama, termasuk agama yang kita anut sendiri, siapa tahu di dalamnya telah ada sikap dan perilaku yang telah merugikan masyarakat serta yang mengancam kesatuan masyarakat. Karena memang tidak dengan sendirinya agama mampu melakukan fungsi integrative, malahan boleh jadi agama terperangkap sehingga tidak member kontribusi kepada kesatuan dan persatuan.
Sering terjadi agama-agama terbawa arus kepentingan kelompoknya sehingga tidak memberikan kontribusi kepada rekonsiliasi malah menjadi sumber konflik. Ini yang harus dihindari secara serius agar agama tidak terseret kepada posisi diperalat untuk kepentingan tertentu.

Minggu, 08 Februari 2009

Bishop Gereja Lutheran Belanda Rev. Ilona Fritz Kunjungan Kerja ke PGI Sumut

Jumat, 06 Februari 2009

PGI Sumut Sangat Prihatin atas Insiden yang Terjadi di Gedung DPRDSU

Pematangsiantar (SIB)
Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di rumahnya kompleks STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Jumat (6/2) menyampaikan sangat prihatin dan menyesalkan atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU Medan, Rabu (3/2). Gereja tidak pernah menginginkan hal-hal yang anarkis karena hal itu dapat merugikan semua pihak.
Tegasnya, gereja tidak pernah menginginkan terjadinya tindakan yang anarkis, tapi tetap komit/konsisten menginginkan terwujudnya kedamaian, kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Dengan ini PGI Wilayah Sumut turut menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya Drs H Abdul Aziz Angkat MSP, Ketua DPRD Sumut.
Dikatakan, tidak ada yang menginginkan keadaan itu, karenanya kita berharap supaya semua pihak dapat menjaga kesejukan di Sumut yang kita cintai ini. Untuk itulah kami mengimbau agar segenap warga masyarakat Sumut tetap saling menjaga agar kondisi Sumut tetap aman dan kondusif. Dalam kaitan itulah kami mengharapkan agar tidak ada pendapat yang simpang-siur atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU, Selasa (3/2). Sebab tidak ada kaitannya dengan kepentingan agama, ras dan suku, tetapi adalah berkaitan dengan adanya kerinduan masyarakat Tapanuli untuk memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap).
Pdt WTP Simarmata MBA berharap agar Poldasu/aparat keamanan segera menuntaskannya atas dasar hukum yang berlaku agar dampak negatif tidak makin meluas. Adalah menjadi keyakinan kita bahwa pihak berwajib memiliki kemampuan secara profesional untuk segera menuntaskan secepatnya insiden di gedung DPRDSU tersebut agar ada suatu keputusan yang berkekuatan hukum. Apalagi menjelang agenda nasional yang sudah semakin mendekat yaitu Pemilu 9 April 2009, kita tentunya membutuhkan kesejukan agar agenda nasional itu dapat berhasil. Kami juga mengajak para pemimpin agama untuk memberi pokok-pokok pemikiran yang sejuk kepada masyarakat sehingga persatuan kesatuan tetap terjamin. Untuk itulah kami sangat berterimakasih dan mendukung apa yang disampaikan Ketua Umum MUI Medan Prof DR H Mohd Hatta yang mengharapkan agar tokoh-tokoh agama dan elemen masyarakat serta pimpinan Ormas untuk memberikan informasi yang sejuk dan segar atas peristiwa insiden di gedung DPRDSU yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat MSP (SIB, Jumat (6/2)). Demikian juga atas ungkapan Letjen (Purn) DR TB Silalahi bahwa “Yakin Sumut tidak akan bentrok” (SIB, Jumat (6/2)).
Secara khusus kepada saudara Ir GM Chandra Panggabean dan kawan-kawan supaya tetap tabah menghadapi proses yang sedang berlangsung. Diharapkan para aparat keamanan secara arif dan profesional untuk menuntaskannya secara cepat demi kepentingan hukum dan bangsa. Kita berharap kerukunan umat beragama dan persaudaraan antar suku-suku yang berbeda dapat terjamin (terwujud) di Sumatera Utara seperti yang sudah kita nikmati selama ini. (S1/d)Pematangsiantar (SIB)
Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di rumahnya kompleks STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Jumat (6/2) menyampaikan sangat prihatin dan menyesalkan atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU Medan, Rabu (3/2). Gereja tidak pernah menginginkan hal-hal yang anarkis karena hal itu dapat merugikan semua pihak.
Tegasnya, gereja tidak pernah menginginkan terjadinya tindakan yang anarkis, tapi tetap komit/konsisten menginginkan terwujudnya kedamaian, kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Dengan ini PGI Wilayah Sumut turut menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya Drs H Abdul Aziz Angkat MSP, Ketua DPRD Sumut.
Dikatakan, tidak ada yang menginginkan keadaan itu, karenanya kita berharap supaya semua pihak dapat menjaga kesejukan di Sumut yang kita cintai ini. Untuk itulah kami mengimbau agar segenap warga masyarakat Sumut tetap saling menjaga agar kondisi Sumut tetap aman dan kondusif. Dalam kaitan itulah kami mengharapkan agar tidak ada pendapat yang simpang-siur atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU, Selasa (3/2). Sebab tidak ada kaitannya dengan kepentingan agama, ras dan suku, tetapi adalah berkaitan dengan adanya kerinduan masyarakat Tapanuli untuk memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap).
Pdt WTP Simarmata MBA berharap agar Poldasu/aparat keamanan segera menuntaskannya atas dasar hukum yang berlaku agar dampak negatif tidak makin meluas. Adalah menjadi keyakinan kita bahwa pihak berwajib memiliki kemampuan secara profesional untuk segera menuntaskan secepatnya insiden di gedung DPRDSU tersebut agar ada suatu keputusan yang berkekuatan hukum. Apalagi menjelang agenda nasional yang sudah semakin mendekat yaitu Pemilu 9 April 2009, kita tentunya membutuhkan kesejukan agar agenda nasional itu dapat berhasil. Kami juga mengajak para pemimpin agama untuk memberi pokok-pokok pemikiran yang sejuk kepada masyarakat sehingga persatuan kesatuan tetap terjamin. Untuk itulah kami sangat berterimakasih dan mendukung apa yang disampaikan Ketua Umum MUI Medan Prof DR H Mohd Hatta yang mengharapkan agar tokoh-tokoh agama dan elemen masyarakat serta pimpinan Ormas untuk memberikan informasi yang sejuk dan segar atas peristiwa insiden di gedung DPRDSU yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat MSP (SIB, Jumat (6/2)). Demikian juga atas ungkapan Letjen (Purn) DR TB Silalahi bahwa “Yakin Sumut tidak akan bentrok” (SIB, Jumat (6/2)).
Secara khusus kepada saudara Ir GM Chandra Panggabean dan kawan-kawan supaya tetap tabah menghadapi proses yang sedang berlangsung. Diharapkan para aparat keamanan secara arif dan profesional untuk menuntaskannya secara cepat demi kepentingan hukum dan bangsa. Kita berharap kerukunan umat beragama dan persaudaraan antar suku-suku yang berbeda dapat terjamin (terwujud) di Sumatera Utara seperti yang sudah kita nikmati selama ini. (S1/d)