Kamis, 30 April 2009
Orang Batak Harus Memiliki Kepedulian Terhadap Tercemarnya Danau Toba
Label: Kegiatan
di 00.31 0 komentar
Senin, 06 April 2009
Sidang MPL PGI Wilayah Sumut di Samosir
Samosir (SIB)
Mengembangkan wawasan teologis, oikumenis dan nasionalis yang semakin dewasa dan penerapannya dalam menghadapi tantangan global, menjadi sub tema yang dikemas dalam pelaksanaan Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persatuan Gereja Indonesia Wilayah Sumatera Utara (PGIW SU) di Sopo Toba Ambarita Kabupaten Samosir. Sidang dibuka oleh Gubernur Sumatera Utara diwakili Sekdaprovsu Dr RE Nainggolan MM, Senin (23/3).
Mengapa kita harus hidup oikumenis? Pertanyaan ini harus dijawab dengan tindakan serta dilaksanakan dalam hidup sebagai orang Kristen. Dalam kemajemukan negara kita, umat Kristen merasa terpanggil untuk mengatasi kemiskinan. Apabila kemiskinan tidak dapat diatasi maka kondisi bangsa ini akan rapuh, tugas kita sebagai Gereja juga hadir sebagai perajut dalam krisis global, tugas gereja juga harus merangkul seluruh warga tanpa perbedaan. Hal inilah yang menjadi dasar kita hidup oikumenis, ujar Pdt WTP Simarmata MA dalam sambutannnya pada Sidang MPL PGIW SU di Samosir.
Sikap PGIW SU tentang Pemilu 9 April 2009 menegaskan bahwa tidak berpihak pada salah satu calon legislatif salah satu partai. PGIW SU menganjurkan seluruh warga untuk ikut memilih, harus menggunakan hak suaranya, warga juga diarahkan untuk mengawasi jalannya Pemilu yang berkwalitas. Apabila ada warga yang Golput atau tidak menggunakan hak suaranya dengan unsur kesengajaan, sama artinya tindakannya itu sama dengan tindakan seorang Naji yang mampu merusak tatanan negara kesatuan republik Indonesia, ujar Pdt WTP Simarmata MA.
Sidang MPL PGIW SU akan berakhir Kamis (26/3), hari pertama setelah acara pembukaan diadakan pelantikan anggota baru/pengganti dan pemilihan majelis ketua, penyerahan palu sidang dari Ketua Umum MPH PGIW SU Pdt WTP Simarmata MA kepada Majelis Ketua Pdt Nora B Manahampi STh bersama dua orang anggota majelis terpilih.
Jadwal acara sidang MPL PGIW SU juga mengagendakan pembahasan tentang Pembentukan Provinsi Tapanuli (PROTAP) secara khusus dibahas dalam sidang komisi, dalam rangkaian acara juga diadakan doa khusus bagi saudara – saudara yang sedang menjalani proses hukum karena memperjuangkan Protap. Doa khusus dipimpin oleh Bishop GKPI Pdt DR MSE Simorangkir.
Pelaksanaan sidang MPL PGIW SU mendapat dukungan yang sangat baik dari Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Samosir Ober Sagala SE. Dalam sambutannya mengatakan, hidup oikumene juga menjadi penerapan hidup warga yang ada di Kabupaten Samosir. Masyarakat Samosir juga majemuk terdiri dari penduduk sekitar 71.000 jiwa menganut agama Kristen, 58.202 jiwa agama Katolik, 847 Jiwa agama Islam serta 67 jiwa Kepercayaan lainnya. Ada sekitar 300 rumah ibadah Kristen, 100 unit rumah ibadah Katolik dan 7 unit Masjid berkembang dengan damai di Kabupaten Samosir.
Lebih lanjut Wakil Bupati menjelaskan bahwa seluruh kegiatan keagamaan sangat didukung. Kabupaten Samosir dengan kemajemukannya telah siap untuk memfasilitasi pertemuan yang dilaksanakan oleh berbagai agama yang ada dimiliki bangsa ini, ujarnya. (HS,T12,M35/x)
Label: Kegiatan
di 00.57 2 komentar
Rabu, 04 Maret 2009
Ketua Umum PGI Wil Sumut: PGI Rindu HKBP Menjadi Perekat dan Pendorong Kebersamaan
Medan (SIB)
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) merindukan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menjadi perekat dan pendorong kebersamaan di Sumut. Melalui momen perayaan tahun Diakonia HKBP Sumut itu juga harus dapat dimanfaatkan untuk potensi persatuan di Sumut.
Hal itu disampaikan Ketua Umum PGI Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA didampingi JA Ferdinandus, Bishop GPP Pdt DR JH Manurung, St Amelia Panjaitan Boru Rambe, Drs Monang Simorangkir, Pdt AR Pardede, St Ir Walsen Napitupulu, Drs M Rey Naibaho, dan Pdt P Silaban, Senin (2/3) malam, saat menerima audensi Ketua Umum Panitia Perayaan Tahun Diakonia 2009 DR RE Nainggolan MM dan rombongan di kantornya. Hadir mendampingi RE Nainggolan antara lain, Ketua Pelaksana Rapotan Tambunan SH MM, Sekretaris Drs Bukit Tambunan MAP, Jadi Pane dan lain-lain.
Dia juga menyampaikan, bahwa dirinya bersama pendeta-pendeta berbagai gereja di Sumut akan hadir pada puncak perayaan pada 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan. Sekaligus untuk mendorong dan memeriahkan perayaan itu.
Sebagai hamba Tuhan, katanya, pihaknya tetap berdoa untuk semua panitia dan kesuksesan acara tersebut. “HKBP harus bisa menjadi garam, walaupun kita sedikit tapi kita harus bisa menjadi garam. Kami berdoa agar jangan ada krikil yang mengganjal dalam perjalanan panitia ke depan hingga Perayaan Tahun Diakonia ini terlaksana,” katanya.
Dia yakin seorang RE Nainggolan bersama panitia lainnya bisa mengemban tugas ini. Apalagi RE Nainggolan telah berpengalaman menjadi panitia CCA waktu lalu. “Kami melihat RE Nainggolan dan panitia lainnya dengan gigih bekerja setiap hari mensosialisasikan perayaan tersebut dan kami yakin bahwa warga HKBP akan bisa hadir puluhan ribu, 22 Maret 2009 di Stadion Teladan Medan,” katanya.
Menurut dia, Diakonia adalah awal dari tugas-tugas pelayanan. Tahun Diakonia ini sangat mendasar sekali karena menyentuh jemaat. “Kami juga sangat bersyukur tentang adanya seminar bahaya Aids dan narkoba, karena dengan seminar itu HKBP telah ikut berperan menyelamatkan generasi muda dari bahaya Aids dan narkoba di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, RE Nainggolan memaparkan, dalam konteks Diakonia itu panitia telah melakukan kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, seperti penghijauan dengan penanaman pohon dan akan berlangsung selama tahun 2009 dan tahun-tahun selanjutnya.
Kemudian juga telah dilaksanakan seminar tentang pelayanan orang miskin dan pengangguran yang dihadiri pembicara para tokoh yang mencintai HKBP, seminar HIV/AIDS dan bahaya penyalahgunaan narkoba. Serta pelayanan pengobatan gratis kepada jemaat yang kurang mampu.
RE juga menyampaikan, puncak acara Diakonia itu akan dihadiri keluarga Nommensen dan Gubernur Jerman Utara. Acara itu dibagi dua bagian, pertama Kebaktian Raya dan dilanjutkan acara umum yang dihadiri oleh Menteri Agama Maftuh Basyumi, Menteri Kehutanan MS Kaban, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Gubsu H Syamsul Arifin SE sekaligus menyampaikan kata sambutan pada perayaan tersebut.
Menurut RE, kehadiran Menteri Kehutanan MS Kaban karena peran serta HKBP telah membangun komitmen yang mencerminkan lingkungan/penghijauan, bahkan HKBP dengan Menhut sudah menandatangani MoU tentang penghijauan.
HKBP juga bersama-sama mewujudkan pelaksanaan PEMILU damai 2009 serta bersinergi dengan Pemerintah membangun Sumut menuju masyarakat sejahtera, cerdas yang dilandasi iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan sebelum pesta raya, lanjut RE, diadakan festival koor antar Distrik se Sumut. Masing-masing Distrik terlebih dahulu melakukan penyisihan dan mengutus pemenang untuk mengikuti babak Grand Final 20-21 Maret 2009 di Medan dengan total hadiah Rp 30 juta. Para peserta akan menjadi tim koor raksasa yang akan ditampilkan pada puncak acara di stadion Teladan.
Selain itu, kata RE, operette berdurasi 45 sampai 60 menit akan ditampilkan pada perayaan tentang perjalanan Kekristenan HKBP sejak kedatangan Tuan Munson dan Leman, Nommensen dan keadaan HKBP sekarang serta prospek di masa depan. “Pemain dari operetta itu perankan 80 personil dari sanggar UKM teater LKK Unimed,” papar RE.(M35/d)
Label: Kegiatan
di 00.59 0 komentar
Minggu, 22 Februari 2009
Agama di Tengah-tengah Masyarakat Maiemuk
Agama bukanlah sesuatu yang asing bagi kemanusiaan dengan segala persoalannya. Karena apa pun bentuknya agama sangat erat hubungannya dengan manusia. Ia bukan agama kalau tidak manusiawi. Ia dibentuk dan dilembagakan oleh manusia tetapi substansinya serta ajaran-ajarannya tidak bisa dilepaskan dari manusia sebab ajarannya bersumber dari Tuhan. Agama tidak hanya berbicara soal hubungan antara Allah dan manusia, tetapi juga soal hubungan antara manusia, bahkan dengan seluruh ciptaan Allah. Karenanya agama pun menjadi panduan bagi umat manusia bagaimana ber-Tuhan dan bermasyarakat. Bagaimana kita memperlakukan sesama adalah gambaran dari bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Karenanya agama tidak boleh dipaksakan untuk dianut oleh orang lain.
Pada prinsipnya tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mendukung ketidakadilan yang terjadi di antara umat manusia. Tidak ada satu agama pun yang memberi rekomendasi bagi para penganutnya untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki atau menyalahgunakan potensi yang dimiliki dalam sebuah masyarakat. Lebih jauh lagi bahwa tidak ada satu agama pun yang dalam ajarannya melegitimasi kesenjangan sosial, kerusuhan dan ketidakadilan dll. Semua agama mengajarkan hal-hal yang membawa kesehjateraan bagi umat manusia. Karenanya memang semua agama harus mampu saling merangkul, apalagi di tengah masyarakat majemuk seperti bangsa dan Negara Indonesia.
Memang persoalannya adalah, bukankah ketidakadilan itu adalah juga akibat tindakan orang yang beragama? Bukankah penyelewengan jabatan, korupsi dan penipuan itu adalah dilakukan oleh orang yang beragama pula? Bukankah yang miskin dan yang kaya itu adalah orang beragama? Lalu pertanyaan pun muncul: “Apa hubungan agama dengan kenyataan semacam itu ?” atau “Bagaimana orang yang beragama melihat dan mencermati kenyataan semacam itu?" .
Mungkin ada yang beranggapan bahwa agama tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kenyataan sosial seperti itu. Mungkin ada anggapan seolah-olah agama tidak memiliki hubungan apa pun dengan realitas sosial. Atau mungkin agama dianggap hanya bersangkut-paut dengan soal-soal ketuhanan saja atau soal-soal kerohanian saja. Mungkin ada juga
yang beranggapan bahwa agama hanya mempersoalkan hal-hal yang terkait dengan akhir zaman saja.
Agama tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Agama tidak boleh tidak dihubungkan dengan pembicaraan mengenai hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan manusia. Hubungan ini bukan hanya membangun hubungan yang harmonis tetapi juga membangun kesadaran dan tanggungjawab. Tanggungjawab manusia kepada Allah dan tanggungjawab manusia kepada manusia. Karenanya, kepedulian agama
atas persoalan-persoalan kemanusiaan menjadi agenda utama setiap pemikiran dan tindakan yang dikembangkan oleh agama. Kondisi-kondisi kemanusiaan seperti keadilan, keprihatinan, keutuhan masyarakat, kedamaian, kebersamaan dan kesejukan menjadi tugas utama agama untuk dihadirkan ditengah-tengah masyarakat, dikalangan pengusaha, birokrat, penguasa, konglomerat, politisi dan juga rakyat biasa yang sekali pun berbeda agama. Kehidupan seperti itulah seharusnya nampak di dalam kehidupan orang yang beragama, yaitu DAMAI dan RUKUN.
Persoalan yang sering dihadapi adalah: Mengapa penganut sering melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agamanya? Di sinilah pentingnya memberi perhatian kepada ajaran agama itu sendiri. Agama perlu dilihat bukan semata-mata berisikan tumpukan larangan atau hukum terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak benar, tetapi merupakan pendorong, pemberi inspirasi positif dan yang melaluinya manusia lebih dimungkinkan untuk percaya diri. Hal ini berarti percaya pada diri sendiri yang memiliki kemampuan untuk berbuat baik dan juga percaya bahwa orang lain pun mampu berbuat baik sebagai tanggungjawab kepada Tuhan dan sesame manusia. Pada saat seperti inilah, agama yang satu dapat belajar juga dari agama yang lain. Kita sendiri harus mampu mensyukuri perbuatan baik dari agama lain.
Dalam kaitan diatas, ada beberapa catatan penting:
- Perlu memahami peran sejarah yang telah dilakukan oleh agama untuk menolong dan sebagai pembanding yang setia bagi masyarakatnya. Agama sangat berperan di tengah-tengah masyarakat dan ini harus dihargai. Hal ini pun termasuk menghargai peranan agama lain, Dalam bangsa dan Negara yang majemuk ini siapa pun dia harus melihat bahwa peranan agama-agama memang sangat nyata dalam membangun kehidupan baik spiritual maupun moral masyarakat.
- Kita juga harus mampu menghargai perbedaan yang ada. Perbedaan bukan dengan sendirinya sebuah awal dari perlawanan dan permusuhan. Agama-agama berbeda karena sejarah manusia memang berbeda. Umat manusia diciptakan Tuhan tidak sama makanya ada perbedaan dan perbedaan itu pun seharusnya tidak menjadi persoalan.
- Pada pihak lain kita perlu kritis terhadap penampilan agama-agama, termasuk agama yang kita anut sendiri, siapa tahu di dalamnya telah ada sikap dan perilaku yang telah merugikan masyarakat serta yang mengancam kesatuan masyarakat. Karena memang tidak dengan sendirinya agama mampu melakukan fungsi integrative, malahan boleh jadi agama terperangkap sehingga tidak member kontribusi kepada kesatuan dan persatuan.
Label: Artikel
di 21.52 2 komentar
Minggu, 08 Februari 2009
Bishop Gereja Lutheran Belanda Rev. Ilona Fritz Kunjungan Kerja ke PGI Sumut
Label: Kegiatan
di 22.01 0 komentar
Jumat, 06 Februari 2009
PGI Sumut Sangat Prihatin atas Insiden yang Terjadi di Gedung DPRDSU
Pematangsiantar (SIB)
Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di rumahnya kompleks STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Jumat (6/2) menyampaikan sangat prihatin dan menyesalkan atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU Medan, Rabu (3/2). Gereja tidak pernah menginginkan hal-hal yang anarkis karena hal itu dapat merugikan semua pihak.
Tegasnya, gereja tidak pernah menginginkan terjadinya tindakan yang anarkis, tapi tetap komit/konsisten menginginkan terwujudnya kedamaian, kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Dengan ini PGI Wilayah Sumut turut menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya Drs H Abdul Aziz Angkat MSP, Ketua DPRD Sumut.
Dikatakan, tidak ada yang menginginkan keadaan itu, karenanya kita berharap supaya semua pihak dapat menjaga kesejukan di Sumut yang kita cintai ini. Untuk itulah kami mengimbau agar segenap warga masyarakat Sumut tetap saling menjaga agar kondisi Sumut tetap aman dan kondusif. Dalam kaitan itulah kami mengharapkan agar tidak ada pendapat yang simpang-siur atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU, Selasa (3/2). Sebab tidak ada kaitannya dengan kepentingan agama, ras dan suku, tetapi adalah berkaitan dengan adanya kerinduan masyarakat Tapanuli untuk memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap).
Pdt WTP Simarmata MBA berharap agar Poldasu/aparat keamanan segera menuntaskannya atas dasar hukum yang berlaku agar dampak negatif tidak makin meluas. Adalah menjadi keyakinan kita bahwa pihak berwajib memiliki kemampuan secara profesional untuk segera menuntaskan secepatnya insiden di gedung DPRDSU tersebut agar ada suatu keputusan yang berkekuatan hukum. Apalagi menjelang agenda nasional yang sudah semakin mendekat yaitu Pemilu 9 April 2009, kita tentunya membutuhkan kesejukan agar agenda nasional itu dapat berhasil. Kami juga mengajak para pemimpin agama untuk memberi pokok-pokok pemikiran yang sejuk kepada masyarakat sehingga persatuan kesatuan tetap terjamin. Untuk itulah kami sangat berterimakasih dan mendukung apa yang disampaikan Ketua Umum MUI Medan Prof DR H Mohd Hatta yang mengharapkan agar tokoh-tokoh agama dan elemen masyarakat serta pimpinan Ormas untuk memberikan informasi yang sejuk dan segar atas peristiwa insiden di gedung DPRDSU yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat MSP (SIB, Jumat (6/2)). Demikian juga atas ungkapan Letjen (Purn) DR TB Silalahi bahwa “Yakin Sumut tidak akan bentrok” (SIB, Jumat (6/2)).
Secara khusus kepada saudara Ir GM Chandra Panggabean dan kawan-kawan supaya tetap tabah menghadapi proses yang sedang berlangsung. Diharapkan para aparat keamanan secara arif dan profesional untuk menuntaskannya secara cepat demi kepentingan hukum dan bangsa. Kita berharap kerukunan umat beragama dan persaudaraan antar suku-suku yang berbeda dapat terjamin (terwujud) di Sumatera Utara seperti yang sudah kita nikmati selama ini. (S1/d)Pematangsiantar (SIB)
Ketua PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia) Wilayah Sumut Pdt WTP Simarmata MA di rumahnya kompleks STT HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), Jalan Sangnaualuh P Siantar, Jumat (6/2) menyampaikan sangat prihatin dan menyesalkan atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU Medan, Rabu (3/2). Gereja tidak pernah menginginkan hal-hal yang anarkis karena hal itu dapat merugikan semua pihak.
Tegasnya, gereja tidak pernah menginginkan terjadinya tindakan yang anarkis, tapi tetap komit/konsisten menginginkan terwujudnya kedamaian, kesejukan di tengah-tengah masyarakat. Dengan ini PGI Wilayah Sumut turut menyampaikan turut berdukacita atas meninggalnya Drs H Abdul Aziz Angkat MSP, Ketua DPRD Sumut.
Dikatakan, tidak ada yang menginginkan keadaan itu, karenanya kita berharap supaya semua pihak dapat menjaga kesejukan di Sumut yang kita cintai ini. Untuk itulah kami mengimbau agar segenap warga masyarakat Sumut tetap saling menjaga agar kondisi Sumut tetap aman dan kondusif. Dalam kaitan itulah kami mengharapkan agar tidak ada pendapat yang simpang-siur atas insiden yang terjadi di gedung DPRDSU, Selasa (3/2). Sebab tidak ada kaitannya dengan kepentingan agama, ras dan suku, tetapi adalah berkaitan dengan adanya kerinduan masyarakat Tapanuli untuk memperjuangkan pembentukan Propinsi Tapanuli (Protap).
Pdt WTP Simarmata MBA berharap agar Poldasu/aparat keamanan segera menuntaskannya atas dasar hukum yang berlaku agar dampak negatif tidak makin meluas. Adalah menjadi keyakinan kita bahwa pihak berwajib memiliki kemampuan secara profesional untuk segera menuntaskan secepatnya insiden di gedung DPRDSU tersebut agar ada suatu keputusan yang berkekuatan hukum. Apalagi menjelang agenda nasional yang sudah semakin mendekat yaitu Pemilu 9 April 2009, kita tentunya membutuhkan kesejukan agar agenda nasional itu dapat berhasil. Kami juga mengajak para pemimpin agama untuk memberi pokok-pokok pemikiran yang sejuk kepada masyarakat sehingga persatuan kesatuan tetap terjamin. Untuk itulah kami sangat berterimakasih dan mendukung apa yang disampaikan Ketua Umum MUI Medan Prof DR H Mohd Hatta yang mengharapkan agar tokoh-tokoh agama dan elemen masyarakat serta pimpinan Ormas untuk memberikan informasi yang sejuk dan segar atas peristiwa insiden di gedung DPRDSU yang mengakibatkan meninggalnya Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat MSP (SIB, Jumat (6/2)). Demikian juga atas ungkapan Letjen (Purn) DR TB Silalahi bahwa “Yakin Sumut tidak akan bentrok” (SIB, Jumat (6/2)).
Secara khusus kepada saudara Ir GM Chandra Panggabean dan kawan-kawan supaya tetap tabah menghadapi proses yang sedang berlangsung. Diharapkan para aparat keamanan secara arif dan profesional untuk menuntaskannya secara cepat demi kepentingan hukum dan bangsa. Kita berharap kerukunan umat beragama dan persaudaraan antar suku-suku yang berbeda dapat terjamin (terwujud) di Sumatera Utara seperti yang sudah kita nikmati selama ini. (S1/d)
Label: Kegiatan
di 23.43 0 komentar
Selasa, 03 Februari 2009
Protap: Warga Tapanuli Tidak Terhempang Lagi
Pematangsiantar (SIB)
Ketua Umum PGI (Persekutuan-gereja Indonesia) wilayah Sumatera Utara Pdt WTP Simarmata MA melalui telepon, Senin (2/2) mengharapkan agar DPRD Sumut segera memparipurnakan pengesahan Propinsi Tapanuli (Protap).
Ketua DPRDSU Drs H Azis Angkat MSP didampingi para Wakil Ketua DPRSU telah mengungkapkan bahwa pimpinan dewan telah sepakat/setuju jadual paripurna DPRSU pembahasan Protap diadakan 4 Februari 2009 kepada Panitia Pemrakarsa Pembentukan Protap dipimpin Ir GM Chandra Panggabean. Kiranya jadual yang sudah disepakati pimpinan dewan agar dilanjutkan. Kalau tidak dilanjutkan hal itu berarti DPRDSU mau “main-main” dengan jadual yang telah ditetapkan oleh Pimpinan DPRDSU. Tidak jadinya rapat paripurna DPRDSU untuk pembahasan Protap 4 Februari 2009 mengakibatkan masyarakat menjadi heran dan penuh tanda tanya apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa rapat paripurna yang sudah dijadualkan Pimpinan DPRDSU tidak jadi dilaksanakan.
Karena perjuangan pembentukan Protap (Propinsi Tapanuli) oleh rakyat adalah aspirasi masyarakat mengingat ketertinggalan Tapanuli di segala bidang, padahal potensi Tapanuli sebenarnya sangat besar, memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang kreatif dan dinamis, maka sebenarnya Tapanuli harus makmur dan sejahtera. Tapi, kenyataan, kata WTP Simarmata, rakyat Tapanuli sangat miskin di tengah alam yang sangat kaya. Kalau SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber Daya Manusia) dikelola dengan baik, pertanian dan pariwisata dimanfaatkan/dibenahi sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat, belum lagi kekayaan alam Pulau Samosir dan Danau Toba yang tidak ada tandingannya di dunia, ditambah lagi pegunungan dan dataran tinggi yang indah, diyakini Tapanuli tidak daerah yang tertinggal.
Tetapi, DPRDSU sepertinya tidak menginginkan rakyat Tapanuli makmur, sejahtera untuk menikmati kehidupan yang lebih bermartabat dan manusiawi, karena hingga sekarang masih terus menunda-nunda melahirkan keputusan memberikan rekomendasi pembentukan Protap. Untuk itu, masalah penundaan atau tidak jadinya rapat paripurna DPRDSU pembahasan Protap harus segera diatasi dengan segera melaksanakan rapat paripurna untuk pembahasan persetujuan Protap. Sebab, semangat dan kerinduan warga Tapanuli tidak terhempang lagi, bahkan arus deras memperjuangkan pembentukan Protap itu akan mendobrak setiap penghalang yang dianggap berusaha menghalang-halangi pembentukan Protap.
Atas dasar itulah kiranya Ketua DPRDSU dan para anggota dewan yang terhormat agar menangkap aspirasi masyarakat Tapanuli dengan segera rapat paripurna dan Ketua DPRDSU memiliki wibawa dan wewenang untuk itu. Sementara kepada Ketua Panitia Pembentukan Protap Ir GM Chandar Panggabean dan seluruh unsur pengurus tetap “onward never retreat” artinya maju terus pantang mundur, tidak ada kekuatan yang bisa menghempang keinginan masyarakat terbentuknya Protap. Sebab, yang diperjuangkan adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat “Rakyat Tapanuli tentu tidak mau miskin terus”, kata Pdt WTP Simarmata.
Kalau DPRDSU tidak lagi mau mendengar dan menampung aspirasi rakyat Tapanuli, siapa lagi yang mendengar jeritan hati nurani masyarakat. Kita berharap agar Protap segera terbentuk/terwujud/terealisasi dalam tahun ini. Karena hanya dengan cara ini perbaikan taraf hidup warga Tapanuli bisa terwujud. Ketidaksabaran warga Tapanuli bisa “meledak”, untuk itu diharapkan/diimbau agar DPRDSU segera melaksanakan rapat paripurna DPRDSU untuk pembahasan pembentukan Protap, karena perjuangan rakyat sudah berjalan lebih kurang 7 tahun tapi hingga sekarang DPRDSU belum memberikan rekomendasi.
Terwujudnya pembentukan Protap, tujuan inilah yang ada di hati sanubari warga Tapanuli dan kalau tujuan ini terhalang oleh DPRDSU, maka tidak terjabarkan betapa tersinggungnya perasaan warga Tapanuli yang sudah lama merindukan/mendambakan terwujudnya Protap demi meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok tertentu, tegas Pdt WTP Simarmata. (S1/k)
Label: Kegiatan
di 00.30 0 komentar
Selasa, 13 Januari 2009
DR GM Panggabean: Kita Harus Bisa Setangguh Yesus
Medan (SIB)
Sebelum Gubsu menyampaikan kata sambutan, lebih dulu DR GM Panggabean mengucapkan pidato Natal, pada perayaan Natal Bersama Umat Kristen Sumatera Utara di Silangit Siborongborong yang berlangsung sangat meriah, Sabtu 27/12-08.
Di hadapan 50 ribu lebih massa peserta perayaan Natal, Pak GM berkata: “Puji Tuhan, ternyata Natal Sumut yang kedua ini tidak kalah meriah dari Natal Sumut pertama yang diselenggarakan di Stadion Teladan Medan tahun 2007 yang lalu”.
“Natal Sumut pertama, kita adakan di kota Medan, dan puluhan ribu orang datang berbondong-bondong dari desa”.
“Natal Sumut kedua ini, kita adakan di desa dan puluhan ribu orang datang berbondong-bondong dari kota. Sungguh menakjubkan”, kata Pak GM.
Perayaan Natal Bersama Umat Kristen Sumut yang kedua ini, menurut Pak GM,malah mempunyai kelebihan tersendiri. Yaitu adanya teleconference Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono dengan Gubsu dan peserta Natal di Silangit.
“Lihatlah Sdra-Sdra, jika kita bersatu di hadapan Tuhan, berbagai rezeki, anugerah, bahkan mujizat-mujizat pun bisa datang kepada kita”, kata Pak GM.
Pak GM mengajak, agar Natal kita jadikan sumber kekuatan kita, untuk membuat kebaikan, damai dan kemajuan di Sum. Utara.
Dalam pidatonya Pak GM juga menyinggung Propinsi Tapanuli, yang sayang, belum juga terwujud. Gubsu H Syamsul Arifin SE sudah meneken rekomendasi pada bulan lalu, tapi DPRDSU belum, dan ini yang menjadi kendala.
“Sulit dipahami, apa untung mereka (DPRDSU itu) kalau rakyat Tapanuli miskin terus”, kecam Pak GM.
Dia pun mengingatkan, sudah 108 tahun umur kekristenan di Tapanuli, tapi baru hari inilah pertama kali di sini pernah diadakan pesta perayaan Natal bersama Umat Kristen se Sum.Utara yang diikuti berbagai denominasi Gereja.
“Terbukti kita bisa melakukannya!”
“Terbukti kita bisa bersatu!”
“Terbukti kita bisa bekerjasama!” seru Pak GM bersemangat.
“Maka omongkosong, kalau selama ini dikatakan, orang Batak atau orang Kristen tidak bisa bersatu”, tandas Pak GM.
Lebih lanjut Pak GM berkata: “Untuk dapat membangun Daerah Tapanuli ini, saya berpendapat, kita sangat membutuhkan Tuhan, Sdra-Sdra”.
“Mungkin ada yang bertanya, apa urusan Tuhan dengan pembangunan kesejahteraan daerah?” tanya Pak GM yang dijawabnya sendiri: ,,Saya kira ada. Bacalah Mazmur 147. Di sana disebutkan: Megahkanlah Tuhan dan pujilah Allahmu. Sebab Ia akan memberkati anak-anakmu dan memberikan kesejahteraan kepada daerahmu”.
Di bagian akhir pidato Natalnya, Pak GM mengatakan, sekarang kita telah menerima terang Natal. Marilah bersukacita. Bergembiralah. Berdoa dan teruslah berjuang! Lupakan segala derita dan kesusahan. Mari kita ciptakan damai di bumi, dimulai dari semua rumah tangga, dan di semua gereja, dan membersihkan segala noda yang ada.
“Saya percaya, Tuhan tidak akan meninggalkan umat Kristen di Indonesia ini, asal kita pun tidak meninggalkan-Nya, dan tetap percaya akan kuat kuasa Allah yang Mahakuasa”, kata Pak GM.
Pak GM berseru, kita harus bisa setangguh Yesus, dalam menjalani tahun 2009, baik dalam menghadapi krisis finansial global, maupun memperjuangkan terbentuknya Propinsi Tapanuli. Dengan Tuhan Yesus harapan selalu ada!
Pak GM juga mengharap, semoga Desa Silangit Siborongborong tempat perayaan Natal Sumut 2008 ini, yang letaknya dekat dengan langit, diberkati oleh Tuhan, desa ini kelak bisa terwujud menjadi ibukota Propinsi Tapanuli. (Isi lengkap pidato Natal Pak GM tersebut, dimuat di halaman 13).
DUA KALI SUKSES
Telah diberitakan, acara umum kata-kata sambutan ini, diadakan setelah selesai kebaktian Natal yang dilayani 3 Ephorus, 2 Bishop, Uskup Agung dan puluhan Pendeta Pimpinan-pimpinan Gereja baik level nasional maupun level lokal daerah Sumut.
Acara umum ini, diisi dengan penyambutan rombongan Gubernur Sum.Utara, Kapoldasu, Pangdam I/BB, Pimpinan DPRDSU, para anggota DPR/DPD, para Bupati/Walikota dan undangan lainnya, disusul dengan prosesi dan pagelaran budaya 9 multi etnis di Sum-Utara.
Kata-kata sambutan berturut-turut:
1. Laporan Ketua Umum Panitia: Ir GM Chandra Panggabean.
2. Ketua Umum FKKGSU: Pdt WTP Simarmata MA.
3. Bupati Tap. Utara: Torang L. Tobing.
4. Ketua Dewan Penasehat : DR GM Panggabean
5. Gubernur Sum.Utara : H Syamsul Arifin SE.
Ketua Umum Panitia Ir GM Ghandra Panggabean dalam laporannya mengatakan, Perayaan Natal Bersama Umat Kristen Sum.Utara 2008 yang kedua ini, mendapat dukungan penuh dari semua pimpinan Gereja-Gereja di Sum.Utara. Juga Bapak Gubsu, Kapoldasu, Pangdam I/BB dan Pimpinan DPRDSU memberi dukungan, sehingga acara perayaan ini dapat terlaksana dengan baik.
Duapuluh dari 28 Kabupaten/Kota telah mengirim “kontingennya” ke acara ini, yang difasilitasi para Bupati/Walikota yang bersangkutan. Bahkan ada rombongan dari Kabupaten yang jauh, seperti Langkat, Labuhanbatu dll. Selainnya datang berupa rombongan-rombongan dari Gereja-Gereja dari 28 kabupaten/kota di Sumut.
Pada perayaan Natal ini, ada juga pencanangan penanaman sejuta pohon oleh Gubsu, para pejabat daerah, para pimpinan Gereja dan tokoh masyarakat.
Juga ada pemberian cendramata, mengulosi para undangan utama. Sedang para penyanyi yang tampil secara bergantian mengisi acara hiburan, masing-masing Amsisi 2000 dengan personel Iran Ambarita - Tua Dorens Situmorang, Trio Lasidos (Bhuntora Situmorang, Jack Marpaung, Hilman Padang), Maria br Pasaribu (juara Mamamia Indosiar 2008), Trio Nauli Sister, Dewi Marpaung, Rita Butar-butar dan Roris Band asal Medan sebagai Band pengiring, serta Lamhot Sihombing dosen Unimed yang juga bertindak sebagai MC.
Yang istimewa, menurut Ir Chandra, akan ada teleconference antara Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono dengan peserta Natal Sumut di Silangit, di mana Presiden akan berbicara dalam bahasa Batak dengan Gubsu H Syamsul Arifin SE.
Chandra juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Polri dan TNI yang telah memback-up penuh keamanan, juga diucapkannya terimakasih kepada Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli, yang telah menyediakan lahan kampusnya dijadikan tempat perayaan.
Seperti diketahui, Ir GM Chandra Panggabean sebagai Ketua Umum dan Pdt Dr Elim Simamora sebagai Sekum, dan kawan-kawannya, yang umumnya adalah orang-orang muda, telah dua kali dipercayakan menyelenggarakan Perayaan Natal Bersama Umat Kristen Sum.Utara, dan dua kali itu sukses.
Wartawan SIB melaporkan, acara perayaan Natal ini banyak mendapat pujian, misalnya lagu “Malam Kudus” dinyanyikan menggunakan 8 bahasa masing-masing Indonesia, Batak Toba, Simalungun, Karo, Angkola, Nias, Pakpak dan bahasa Inggris yang mengiringi penyalaan lilin.
BUMI SILANGIT CATAT SEJARAH
Ketum FKKGSU Pdt WTP Simarmata MA, dalam sambutannya mengatakan, bumi Silangit, Siborongborong, tepatnya kampus Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli (UNITA) telah mencatat sejarah dalam pergerakan Oikumene di Sumut.
Melalui Natal ini, kata dia, kita memahami bahwa Yesus Kristus datang ke dunia ini membawa damai bagi seluruh umat manusia. Melalui kelahirannya, Yesus datang mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dan sesamanya. “Tema Natal ini dapat menjadi petunjuk dan pedoman dalam kehidupan kita, berbangsa dan bermasyarakat, khususnya bagi mereka yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya”, kata dia.
Dikatakannya, selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama yakni, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam kerukunan, kedamaian dengan semangat persaudaraan. Namun, menurut dia, akhir-akhir ini “rumah” kita itu sepertinya dipenuhi dengan berbagai ketegangan bahkan krisis keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh sebagian warga. Berbagai benturan antar kelompok dalam masyarakat membuat sebagian warga tidak lagi menikmati hidup damai dan rukun. Berbagai kelompok tertentu berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain.
“Syukurlah di Sumatera Utara hal seperti itu belum terjadi dan tidak akan terjadi karena kita sedang dipimpin oleh seorang gubernur yaitu Bapak Syamsul Arifin, sahabat semua suku yang memahami dan menghargai kemajemukan”, ujar dia.
Pdt Simarmata berharap, ke depan segenap lapisan masyarakat akan makin mampu melihat perbedaan dengan cerdas bahwa kita sebagai bangsa diciptakan Tuhan berbeda karenanya tidak sama tetapi perbedaan itu adalah kekayaan bukan menjadi sumber konflik. “Adalah menjadi tugas kita bersama untuk menciptakan rasa aman dan damai bagi segenap warga bangsa kita tanpa membedakan suku, agama, ras dan affiliasi politik dan organisasi dan itulah Indonesia yang kita cita-citakan”, kata dia.
Dengan rasa aman dan damai itu, lanjut dia, warga masyarakat dapat menjalin relasi dengan warga masyarakat lainnya tanpa merasa tertekan, terancam dan dikucilkan. “Berbagai persoalan dapat diatasi melalui dialog untuk mencapai hidup damai dengan semua orang sehingga tidak akan ada kelompok yang main hakim sendiri atas kelompok lain”, tambahnya.
Melalui perayaan Natal itu, Pdt Simarmata mengajak kita mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan menghindari segala bentuk kekerasan. “Adalah menjadi tugas kita bersama untuk berusaha agar tidak ada ruang di mana kejahatan merajalela. Marilah kita bersatu padu menghadapi tantangan besar di depan yaitu, kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup dan krisis ekonomi global. Menghadapinya adalah dengan bekerja keras dan hemat”, ajak dia.
Pada kesempatan itu, Pdt Simarmata juga menyampaikan terimakasih kepada Gubsu Syamsul Arifin SE, yang berkenan mencanangkan penanaman sejuta pohon bersama para pimpinan gereja.
BERSYUKUR
Bupati Taput Torang Lumban Tobing dalam kata sambutannya mengharapkan, perayaan Natal ini dapat menjadi momentum bagi kesatuan dan persatuan umat Kristiani khususnya dan masyarakat Sumatera Utara.
Ia juga berharap, seluruh umat Kristiani di Sumut dapat menjadi garam dan terang dunia sebagai pembawa kedamaian dan suka cita demi kemuliaan nama Tuhan serta menghayati misi Kristiani yang kita emban. “Kita bersyukur karena bona pasogit Tapanuli Utara yang memiliki beragam etnis, agama dan budaya tetap dalam suasana kondusif, aman, damai dan kerukunan umat beragama terjalin dengan baik sehingga persatuan dan kesatuan semakin kokoh”, kata dia.
Bupati juga menyampaikan terimakasih kepada DR GM Panggabean yang tetap memberikan perhatiannya dalam pembangunan di Taput dan Sumut, terutama dalam meningkatkan SDM melalui sektor pendidikan dengan dibangunnya UNITA di bumi Silangit, Siborongborong dan telah menjadi kebanggaan masyarakat Taput sekaligus sebagai aset bangsa. (Tim/R1/c)
Label: Kegiatan
di 20.57 2 komentar
Pdt WTP Simarmata MA: Roda Sejarah akan Menggilas Orang yang Halangi Propinsi Tapanuli
Medan (SIB)
Perayaan Natal Harian “Sinar Indonesia Baru” (SIB) di gedung SIB berlangsung meriah dan penuh sukacita, Sabtu (20/12).
Natal tersebut diikuti semua unsur pimpinan termasuk Pak GM dan ibu, Pemimpin Usaha Netty Panggabean, dan semua wartawan dan karyawan SIB, termasuk karyawan Percetakan PT Sere Megawati dan PT Surya Toba Tour & Travel, Wakil Pemimpin Umum SIB Ir GM Chandra Panggabean tak bisa hadir karena berada di Jakarta urusan Protap dan Pemred SIB GM Immanuel Panggabean BBA juga tak bisa hadir karena berada di Siborongborong mempersiapkan lokasi tempat Perayaan Natal Bersama Sumut 2008 27 Desember nanti.
Perayaan Natal ini diselenggarakan oleh dan untuk keluarga besar SIB sendiri, mulai dari liturgi, paduan suara, vocal group sampai kepada pelayanan makan bersama, dilakukan oleh karyawan-karyawati SIB sendiri.
Liturgi bukan hanya diikuti karyawan administrasi tetapi juga para redaktur, wartawan SIB di Medan dan yang datang dari luar kota, sedang penyalaan lilin Natal dilakukan, selain oleh Bapak pendeta pengkhotbah Pdt WTP Simarmata MA, Pak GM dan Ibu, Netty, juga oleh yang mewakili semua unit dan Korda SIB.
Seperti terjadi setiap tahun, pada Natal SIB 2008 ini pun, diadakan liturgi memberitakan kelahiran Yesus Kristus dalam ragam bahasa, mulai bahasa Indonesia, Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, juga bahasa Inggris, China dan … bahasa Arab.
Ratusan peserta pesta Natal tak bisa menahan tawa, ketika wartawan SIB Frans Sihombing yang berpakaian Arab, berjenggot palsu, dengan postur tubuh yang pas, mengucapkan liturginya dalam bahasa Arab dengan fasih.
Di atas semua sukacita itu Ketua Umum Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Sumut Pdt WTP Simarmata MA, yang hadir bersama istri, telah memberi makna rohani kepada perayaan Natal SIB ini, dengan khotbahnya yang sangat bernas, seperti dikutip dari rekaman, di bawah ini.
Khotbah Renungan Natal SIB 2008 oleh Pdt WTP Simarmata MA
Ibu, bapa, saudara yang dikasihi Tuhan secara khusus keluarga besar Harian Sinar Indonesia Baru, PT Sere Megawati dan PT Surya Toba Travel. Kita dengarkan Firman Tuhan yang menjadi thema Natal ini dari Lukas 4:43 “Aku harus memberitakan injil Kerajaan Allah Sebab Untuk itulah Aku Diutus”. Hari ini kita merayakan Natal hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada benua di seluruh dunia yang tidak merayakannya. Bahkan tadi kita dengar Bahasa Arab, dengan pilihan postur tubuh yang bersangkutan sangat pas memakai kostum itu. Inilah kebesaran Allah, tidak ada bangsa yang tidak memuliakan namaNya, selama advent dan saat Natal. Yang kita rayakan ini luar biasa dan semua orang tahu Nama itu, Ia luar biasa Dia manusia tapi Dia adalah Tuhan. Dia mati tapi Dia Bangkit dan Dia lahir di tempat yang sangat sederhana tapi orang-orang yang percaya kepada Dia menjadi orang yang sangat besar.
Dia tidak pernah sekolah secara formal tapi tak terhitung jumlah sekolah yang terinsipirasi oleh karena NamaNya. Dia tidak pernah membangun rumah sakit dan panti-panti asuhan sosial tapi tak terhitung rumah sakit yang dibangun oleh karena visiNya, memang manusia harus dimanusiakan, yang menderita harus ditolong. Ia tidak pernah menulis buku tapi tak terhitung jumlah buku di berbagai perpustakaan, jumlah majalah, bulletin, koran yang memberitakan namaNya, kebesaranNya, kemahakuasaanNya.
Ia tidak pernah menjadi pemberita pembawa kabar yang mendapat pelatihan-pelatihan, tapi gaya berbicara gaya berkhotbahNya menjadi bahan ajaran bagi setiap orang yang bertugas sebagai pekabar Injil, bagi penulis, penyair, kolumnis dan bagi banyak orang yang akan menyampaikan pesan-pesan penting. Dan, bukan hanya orang Kristen yang mengikutinya, banyak umat lain yang beragama lain yang mengikuti prinsip-prinsip kehidupanNya, nilai-nilai yang diajarkanNya. Mahatma Gandi meniru gaya hidup Yesus Kristus dalam menghadapi penjajah dengan apa yang disebut dengan Ahimsah, Swadesi, anti kekerasan. Sesuatu yang sangat luar biasa dalam dirinya, Dia datang justru datang dari sorga ke tengah-tengah dunia kita, ke tengah-tengah keseharian kita.
Natal ini memilih thema “Memberitakan Injil Kerajaan Allah.” Ada banyak pesan dari thema ini. Menjadi pemberita injil tentunya membutuhkan pelatihan, komitmen karena dilatih untuk memberitakan injil adalah wujud dari visi untuk melengkapi, memberdayakan, memampukan orang Kristen untuk menjadi pemberita Injil yang efektif yang cocok dengan zamannya.
Kalau ditanya siapa yang dilatih, tentunya semua warga, semua orang percaya. Kalau gereja dan umat Kristen tidak mampu mengartikulasikan Injil maka krisis besar Kekristenan akan terjadi. Ini yang dialami Eropah. Gereja lalai untuk mewariskan nilai-nilai itu sehingga terpaksa mereka harus ke pantai, nightclub ke gunung-gunung pada saat warga menikmati masa liburannya. Kita masih beruntung umat masih datang berbondong-bondong ke gereja.
Pada umumnya orang Kristen di Eropah tidak mampu lagi mengartikulasikan Injil. Inilah awal dari krisis besar itu. Padahal, Injil adalah kekuatan Allah untuk memampukan manusia. Injil adalah kekuatan Allah menyelamatkan, Injil adalah kekuatan umat manusia untuk mengatasi persoalan-persoalan kehidupannya. Sebab itulah Injil, memampukan kita untuk bermartabat, memampukan kita untuk hidup lebih wajar, memampukan kita untuk hidup lebih manusiawi. Gereja saat ini perlu mencatat hal itu agar warganya mampu mengkomunikasikan Injil pada dunia masa kini, yaitu dunia yang modern dunia yang maju dan warga gereja sangat rindu untuk itu, bersedia untuk itu. Mungkin lewat alat-alat komunikasi elektronik, media cetak bahkan lewat SMS yang setiap hari kita baca.Ini tugas semua orang, kita bersyukur karena harian ini memilih thema ini.
Apa kata Paulus tentang tugas ini, “Celakalah aku jika tidak memberitakan Injil.” Itu artinya setiap orang Kristen wajib memberitakan Injil, karena Injil adalah kabar baik dan berita keselamatan. Ini penting, karena memberitakan Injil bukan pilihan tapi kewajiban. Memberitakan Injil melekat dalam diri kita sebab celakalah apabila tidak memberitakan Injil.
Oleh karena itu, profesi memberitakan Injil tidak boleh kita katakan baiklah karena saya tidak diterima di sini, baiklah saya menjadi pekabar Injil. Menjadi pekabar Injil bukanlah pilihan tetapi kewajiban yang harus kita lakukan dan kerjakan. Dan, untuk itulah sesungguhnya Yesus datang ke dunia ini dan bahkan mati di salib untuk memberitakan itu. Karenanya, memberitakan Injil bukan tanpa tantangan bukan tanpa bahaya dan kalau Harian SIB memilih thema “Aku Harus Memberitakan Injil” ini memiliki implikasi Koran SIB bukan tanpa bahaya, bukan tanpa tantangan dan mungkin bukan tanpa konflik. Koran SIB sesuai dengan perjalanannya pernah mengalami tantangan dan bahkan cobaan yang berat tapi kita bersyukur SIB tidak tenggelam tidak karam. Bahkan, pendiri Koran SIB tetap tegar dan saat ini bersama-sama dengan kita.
Aku akan menjadi pemberita Injil, ini artinya jadilah saksinya. Dan hal ini harus diikuti oleh semua orang yang ikut di dalamnya. Apakah redaksi, koordinator-koordinator wilayah, wartawan, administrasi, keuangan, loper atau siapa pun itu, jadilah saksinya. Sebab itu adalah janji iman saat ini minimal satu tahun ini sebelum kita masuk Natal yang akan datang dengan thema yang baru. Aku harus memberitakan Injil!
Ketika kita menerima keselamatan itu, maka kita wajib memberitakan Injil kita wajib menyebarluaskan Injil, kita wajib menyampaikannya kepada orang lain. Dan jangan tunda dengan berbagai alasan dengan mengatakan,”Bagaimana mungkin saya menjadi pemberita Injil sebab saya kurang hafal ayat-ayat Alkitab. Bagaimanakah saya menjadi pekabar Injil sebab saya tidak tahu. Alkitab firman Tuhan dan lain-lain.”
Memberitakan Injil adalah kesaksian bukan harus di mimbar. Memberitakan Injil adalah menjadi saksi. Memberitakan Injil adalah membela yang lemah. Inilah yang dilakukan Koran SIB. Memberitakan Injil adalah mengasihi orang-orang di Panti Asuhan, memberitakan Injil memberi minum orang yang haus, memberi makan orang yang lapar, mengasihi orang yang menanggung persoalan kehidupan, korban bencana yang ada di penjara, orang sakit.
Bahkan dalam Lukas 4:18-19, teks yang dikutib Yesus dari Yesaya mengatakan, “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tertawan dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang,” Inilah Injil itu yang disebarkan luas ke seluruh penjuru dunia.
Ibu, Bapa, setiap hari pasti pegang Koran SIB. Pasti membacanya, ada tiga kata di atas halaman satu kata yang sangat luar biasa yang menjadi bagian dari Injil, yaitu motto SIB: Untuk Demokrasi, Untuk Persatuan, Untuk Pembangunan. Dengan pengaruhnya yang sangat besar, koran SIB akan mengawasi tiap kekuatan yang melawan demokrasi. Kehadirannya setiap hari tentunya Koran SIB akan melawan setiap gerakan yang melawan persatuan dan ide-ide yang ditulis dan diterbitkan tentunya membangun untuk menikmati kehidupan yang lebih baik yaitu pembangunan. Demokrasi adalah penghargaan kepada perbedaan, begitu juga Injil.
Persatuan adalah keutuhan yang tak boleh terpecah, begitu pula Injil. Sebab persekutuan diciptakan oleh Tuhan. Pembangunan adalah upaya untuk menikmati kehidupan yang lebih baik. Karena itu melalui pemberitaannya orang SIB melakukan pembelaan terhadap demokrasi, kepada persatuan dan pembangunan.
Kita yakin, bukan karena Pak GM orang Batak dan orang Kristen maka membela upaya pembongkaran gereja HKBP di Binjai, tapi karena demokrasi dan persatuan. Karena demokrasi itu penghargaan, itu visi harian SIB. Karena persatuan juga visinya maka SIB tidak membeda-bedakan, maka di dalamnya ada makna keutuhan. Bukan pembelaan soal izin pembangunan gereja HKBP Binjai Baru saja, tetapi juga rumah-rumah ibadah umat beragama lain seperti Mesjid, Vihara, rumah persaktian untuk Parmalim. Sebab, ibadah kepada Tuhan diberikan oleh Tuhan, keyakinan bukan pemberian manusia tetapi pemberian Tuhan. Tidak mungkin kita memanggil nama Tuhan sementara kita menjauhkan diri dari sesama. Tidak mungkin kita mendekati Tuhan, sementara kita menganggap orang lain lebih rendah, gereja lain lebih kecil, agama lain lebih tidak bermoral. Itulah Injil menghargai orang lain, menghargai segala yang bernafas dan semua ini ajakan kepada kita agar tindakan kita pun menghargai Injil.
Implikasi dari semua itu bahwa Koran SIB telah menjadi tempat mengadu bagi orang yang lemah khususnya bagi orang yang tak ada pembelanya. SIB tidak pilih kasih, tidak membedakan agama dan suku tetapi untuk bangsa dan masyarakat. Sebab memang benar yang kita layani adalah dunia bukan hanya gereja dan umat Kristen tetapi semua umat manusia.
Catatan penting dari thema ini adalah kerajaan Allah lebih luas dari gereja. Kerajaan Allah akan lebih luas dari bumi ini dan segala isinya, cakrawala, dan galaksi, itulah kerajaan Allah sementara gereja ada lokasinya ada lingkungannya. Karenanya gereja lebih kecil dari kerajaan Allah. Kalau kita memberitakan Injil kerajaan Allah, itu artinya luas sekali…luas sekali, ini sesuatu yang sangat luar biasa.
Dan injil kerajaan Allah itu adalah pembawa keselamatan, pembawa kehidupan, pembawa martabat, pembawa harkat kemanusiaan dan Injil itu adalah untuk orang lain. Injil adalah jawaban atas persoalan kehidupan, Injil dapat mengatasi berbagai persoalan lewat kemahakuasaan Allah.
Teks ini sangat manarik: tidak menghina orang lain adalah baik, tidak mencuri uang orang lain adalah baik, tidak merendahkan orang lain adalah baik, tidak mengambil makanan yang seharusnya untuk orang lain adalah baik, menghindari diri dari segala perbuatan jahat dan tercela adalah baik. Tetapi itu tidak cukup, meski tidak membunuh, tidak melakukan segala sesuatu yang merugikan orang lain. Tetapi kalau kita membiarkan orang lain dalam kesukaran dan dalam penderitaan padahal kita mampu menolongnya, itu juga adalah pembunuh. Ini bedanya nilai Kekristenan Kerajaan Allah dengan hukum duniawi.
Andaikan kita naik kapal di Danau Toba, kapal itu karam lalu ada papan satu lembar kita raih kita pergi, secara hukum itu benar. Tetapi membiarkan satu orang tenggelam itu bertentangan dengan Kekristenan. Memang berat, sangat sulit tetapi untunglah Tuhan itu maha kasih. Kurang-kurang sedikit dosa kita diampuni. Itulah kemahakuasaanNya. Rumah Allah selalu tersedia bagi setiap orang, maka datanglah!. Kasihnya lebih besar dari dosa apapun. KemahakuasaanNya lebih besar dari pelanggaran kita. Besar pun dosa kita, kasihNya lebih besar, besar pun persoalan kita tetapi kemahakuasaanNya lebih besar mengampuni kita. Karena itu, Injil kerajaan Allah tidak hanya kata-kata, tidak hanya prinsip, tidak hanya nilai-nilai tetapi Injil adalah tindakan, action. Injil juga adalah perbuatan bahkan Injil itu adalah pengorbanan untuk orang lain dan memang Yesus datang untuk orang lain.
Harian Sinar Indonesia Baru ini dipimpin oleh pendirinya yaitu Pak GM, yang memimpin sejak awal, sejak kecil dengan perjuangan pahit getirnya perjalanan hingga akhirnya besar. Saya bisa mengikuti semua itu sebab pada saat saya mahasiswa saya ikut di sini, pada waktu Pak Manapar Manullang pimpinan di Biro Siantar. Meja tulis saya masih saya simpan hasil dari tulisan-tulisan yang ada di koran SIB sejak dahulu. Pak GM putra Sumut tetapi menjadi tokoh nasional memiliki pendirian yang gigih, berjuang, berprakarsa dan pemberani. Ini filosofis. Saya sengaja sebutkan kata pemberani. Memang sukses itu seringkali datang pada mereka yang berani bertindak dan jarang sukses menghampiri orang penakut dan tidak berani mengambil konsekuensi.
Banyak tokoh-tokoh dunia yang berhasil mengatakan itu,. Keberanian mengambil keputusan pada saat-saat sulit Bill Gates, terkaya, terbanyak dana sosialnya tetapi terbanyak untungnya juga mengambil resiko saat memulai usahanya. Dia bukan sarjana yang lulus dari perguruan tinggi malah drop out tetapi apa rahasianya setiap jam 10 dia izinkan karyawannya untuk latihan spritual sesuai dengan agama masing-masing, apakah Kristen Katolik, Budha, Islam dan yang atheis dan bebas. Karena dengan itu mereka makin disiplin, menghargai waktu, makin jujur, makin menghargai pentingnya administrasi yang rapi dan produktivitas semakin tinggi dan keuntungan dia raih sebesar-besarnya.
Hal lain yang saya katakan, orang SIB pun dengan gigih memperjuangkan Propinsi Tapanuli. Keyakinan kita Propinsi Tapanuli pun pasti berhasil, kita pasti menikmatinya. Ini filosofis lagi, Siapapun yang merentangkan tangan menghentikan roda sejarah maka jari jemarinya akan hancur karena roda sejarah itu sendiri akan berlari kencang dan saatnya akan terjadi. Kalau kita memilih memberitakan injil semangat tak boleh kendor, semangat tidak boleh surut, kesuksesan selalu ada di depan. Tuhan memberkati. Amin. (M28/R1/f)
Label: Kegiatan
di 20.54 0 komentar
Kamis, 11 Desember 2008
Pdt WTP Simarmata : Jajaran Bank Sumut Dapat Berubah Mengarah Kepada Akal Budi
Medan (SIB)
Perayaan Natal Keluarga Besar PT Bank Sumut bersama para pensiunan dan mitra kerja berlangsung hikmat di Convention Hall Hotel Danau Toba Internasional Jalan Imam Bonjol Medan, Sabtu malam (6/12).
Hadir dalam acara itu Ketua I PGI Wilayah Sumut JA Ferdinandus, AN Sidauruk, Ir Edward Sitorus Pemimpin BI Medan diwakili Kabid Ekonomi dan Moneter BI Medan Maurids Damanik, mewakili Polda Joko S, mewakili nasabah AKBP Roslinda Sianturi.
Pdt WTP Simarmata dalam khotbah Natalnya meminta agar jajaran Keluarga Besar PT Bank Sumut dapat melakukan perubahan bukan secara lahiriah, tapi seluruh aspek hidup, eksistensi dan keberadaan hidup.
Berubah kata Ketua PGI Wilayah Sumut yakni melalui kelahiran kembali yang mengarah kepada perubahan akal budi. Berbicara tentang akal budi agak filosofis dan intelektual.
Tapi, tegasnya, membangun bangsa harus dimulai dari kepala. Kalau cerdas akan gampang menyelesaikan persoalan, tantangan dan kepahitan.
Lihat di Malaysia, papar Simarmata, membangun kepala lebih banyak biaya pendidikan. Di Brazil pertaniannya luar biasa.
“Jadi bangunlah akal budi, sebab dunia akan diperbaiki dengan baik. Sesuai thema Natal ‘Berubahlah oleh Pembaharuan Budimu yang berkenan kepada Allah yang Sempurna,” tegasnya.
Simarmata memberi contoh perubahan seperti ular meskipun bertukar kulit namanya tetap ular. Berbeda dengan kepompong berubah menjadi kupu-kupu yang cantik diuber anak-anak karena indah.
“Jadi pilihlah perubahan yang indah dan berubahlah oleh akal budimu yang membutuhkan norma-norma yang berpatokan pada kehendak Allah,” imbuhnya.
Natal dengan kelahiran Yesus Kristus ini hendaknya memberi kemampuan memperbaharui diri untuk memilih kehendak Allah. Berubah atas kuasa Allah dan yang mampu melakukan perubahan sebenarnya adalah Tuhan Yesus dengan rohnya.
Dikatakannya, ada budaya baru bahwa Natal ini merupakan sebuah janji iman dan komitmen, kinerja baru. Karyawan Kristen harus lebih disiplin, bermoral, memegang komitmen, lebih bertanggung jawab apa yang diembannya. Berubalah dengan tekad dan janji iman karena hidup kita adalah ibadah kepada Tuhan Yesus.
Dia juga menyinggung kemiskinan yang katanya perlu diperbaiki dengan adil. Kita dapat merasakan bagaimana rumitnya kalau kemajemukan tidak kita kelola dengan baik dan adil, diyakinnya bangsa kita ini akan mengalami hal-hal rumit.
Menurutnya, Bank Sumut telah berperan melawan kemiskinan, karena itu mari kita berdoa agar bank ini menjadi berkat bagi orang miskin. Artinya Bank Sumut jadi alat untuk kemakmuran agar semakin banyak orang-orang termasuk orang miskin banyak menikmati anugerah.
“Kita yakin Bank Sumut menghargai kemajemukan sebab itu adalah pemberian Tuhan bagi kita, tegasnya sambil menyebutkan Yusuf penerima Nobel mampu melawan kemiskinan dengan memberi pinjaman dana dengan uangnya sendiri kepada banyak orang.
Mengenai pelayanan, kata Simarmata, Bank Sumut cukup baik. Sebab, ketika dia menjadi Sekjen HKBP selama 10 tahun dan Ketua PGI 10 tahun, tetap menjadi nasabah Bank Sumut. Semua dilayani dengan baik. Diharapkan Bank Sumut ke depan semakin sukses.
GUBSU
Sementara itu Gubsu diwakili Asisten Pemerintahan Umum Hasiholan Silaen SH dalam sambutannya antara lain mengucapkan terima kasih banyak kepada Bank Sumut yang banyak membantu saudara-saudara kita yang kekurangan. Ini karena Yesus lahir di tempat yang sangat sederhana dan lahir membawa perubahan dunia.
Melalui Natal ini, Gubsu berharap, Bank Sumut dapat mencerminkan rasa kebersamaan dan persaudaraan. Kita harus bisa meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengamalan dan pencerahan sesuai ajaran agama yang hakiki. “Natal pertanda sukacita bagi umat Nasrani karena kelahiran Yesus Kristus di suatu kota kecil. Ia datang untuk menjadi teladan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia, imbuhnya.
Pemimpin BI Medan diwakili Maurids H Damanik dalam sambutannya antara lain mengatakan, Bank Sumut tidak mau kalah dengan Presiden AS terpilih yang melakukan perubahan.
“Kalau AS bisa berubah secara drastis tentunya BI juga berharap perubahan itu akan merasuk pada Bank Sumut, tegasnya.
Dikatakannya, Bank Sumut berhasil keluar dari krisis. Krisis tidak ada lagi ditengah-tengah bank. Diharapkan bank ini semakin berperan dengan ekonomi rakyat, sehingga bisa berkiprah menjadi bank devisa yang dapat memberi pelayanan ditengah kehidupan berbangsa.
Dengan semangat kebersamaan antara BI dengan perbankan akan bisa memberikan kontribusi terbaik bagi Gubsu dan dewan lainnya.
Usai acara kebaktian dilanjutkan dengan acara hiburan dihadiri Direktur Umum M Yahya didampingi Direktur Pemasaran Bank Sumut Zenilhar, Dewan Komisaris Prof Bachtiar Hassan Miraza dan Nyonya Naya Miraza. (M8/v)
Label: Berita
di 00.08 0 komentar