Rabu, 23 Juli 2008

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH (YOHANES 15:16)

PEMUDA HKBP DIPILIH UNTUK BERBUAH (YOHANES 15:16)

Oleh:

Pdt. Willem TP Simarmata, MA, Sekretaris Jenderal HKBP


Pendahuluan

Thema Youth Camp 2008 ini menjadi sangat relevan ketika masyarakat mempertanyakan eksistensi dan kiprah pemuda gereja akhir-akhir ini. Memang secara defacto ada berbagai organisasi pemuda gereja, namun belum terdengar gaungnya ditengah-tengah pergumulan bangsa dan negara. Secara khusus, pemuda HKBP belum menunjukkan kiprahnya dalam reformasi tatanan sosial politik kemasyarakatan pasca Orde Baru. Oleh karena itu, thema kemah pemuda saat ini patut digumuli secara alkitabiah, dan membangun refleksi aktual, yang mendorong pemuda HKBP memacu pelayanan dan kesaksiannya di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara.

Sebagaimana Gereja membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya berdasarkan firman Tuhan yang mengatakan: “Akulah yang memilih kamu, dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yoh. 15:16). Maka, demikianlah pemuda gereja seyogianya membangun dan mengimplementasikan visi panggilannya dalam berbagai karya nyata, yang sungguh-sungguh dapat mejadi berkat bagi semua.

Pergumulan dan Peluang Pemuda Masa Kini

Sebagai gereja masa depan (the Churchmen of tomorrow), maka pemuda gereja perlu membangun spiritualitas yang benar-benar mampu menghadirkan tanda-tanda kerajaan Allah di tengah-tengah perubahan zaman. Gereja yang tidak membekali pemudanya dengan spiritualitas murid Yesus yang sejati (Matius 28:19) tidak akan dapat berdiri sebagai saksi Kristus. Gedung-gedung gereja yang megah saat ini, sebagaimana telah dialami oleh saudara-saudara kita di Barat, akan menjadi monumen bisu dengan fungsi yang sama sekali jauh dari makna bait suci yang sesungguhnya.

Sering kali kita mendengar ungkapan bahwa “pemuda adalah bunga-bunga gereja.” Pertama-tama hal itu menggambarkan sifat atau kharakter pemuda yang penuh daya tarik, dan hal-hal yang menyenangkan. Kedua, menggambarkan masa depan yang penuh tantangan, di mana tingkat persaingan semakin tinggi, perubahan nilai-nilai dan gaya hidup yang semakin variatif serta kompleks. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memetakan konteks panggilannya pada awal millenium ketiga saat ini.

Ada beberapa catatan yang perlu mendapat perhatian serius dalam upaya memetakan konteks panggilan pemuda HKBP saat ini.

Pertama, Pemuda HKBP perlu memahami panggilannya dalam konteks budaya dan adat istiadat yang berakar kuat dalam tradisi gereja. Pemuda HKBP akhir-akhir ini cenderung abai terhadap kultur Batak yang mengakar di dalam kehidupan bergereja. Apabila pemuda HKBP tercerabut dari akar budayanya, maka hal itu akan menjadi kendala yang serius dalam mengartikulasikan aspirasi dan misi yang diemban di pundak pemuda gereja. Adat dan budaya Batak acap kali dilihat sebagai kendala bahkan hambatan yang perlu disingkirkan agar pemuda gereja bebas mengaktualisasikan diri di tengah-tengah jemaat dan masyarakat. Hal itu tidak perlu terjadi apabila pemuda gereja mampu mengapresiasi nilai-nilai budaya dan adat Batak, yang selama ini terbukti mampu merekat dan mendinamisir persekutuan dan pelayanan HKBP dari waktu ke waktu. Kehadiran HKBP di Singapura, Los Angeles, New York, dan di berbagai penjuru dunia, itu tidak terlepas dari kultur dan tradisi Batak yang melekat dalam diri setiap warga jemaat HKBP. Sebab, ke mana masyarakat Kristen Batak pergi, mereka turut serta membawa gerejanya, HKBP. Apa artinya itu? Pemuda HKBP benar-benar terpanggil untuk membekali diri dengan pemahaman budaya dan adat Batak yang baik dan benar di dalam terang firman Tuhan.

Sebagaimana dikemukakan secara panjang lebar oleh Samuel P. Huntington (2002:111-121), bahwa memudarnya dominasi budaya barat, bukan saja berdampak pada menguatnya akar budaya lokal, tetapi juga potensil menimbulkan benturan budaya pada generasi muda. Sebab tingkat mobilisasi orang-orang muda dan penguasaan teknologi yang tinggi, tanpa dibarengi spiritualitas yang sehat dan benar akan mudah ditunggangi oleh kaum fundamentalist, sehingga sangat potensil melahirkan generasi muda yang ekstrim[1]. Generasi muda yang terperangkap dalam arus fundamentalisme sempit seperti itu tidak akan dapat berbuah, dan mustahil menjadi berkat bagi masyarakat dan bangsa. Pemuda HKBP perlu banyak belajar tentang kearifan lokal, khususnya yang berakar dalam budaya dan adat Batak. Hal itu akan sangat bermanfaat untuk mereduksi fanatisme sempit dalam kehidupan beragam.

Yesus sendiri dalam masa muda-Nya menunjukkan perhatian dan apresiasi yang tinggi terhadap adat dan budaya Yahudi. Sehingga dalam memenuhi panggilan-Nya, (sebagai Mesias di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya yang menderita dalam berbagai aspek kehidupan), Yesus dengan mantap menerjemahkan kasih Allah di dalam adat istiadat nenekmoyang-Nya. Hal itu ditunjukkan oleh Yesus, misalnya dalam kehadirannya di pesta Kana (Yohanes 2:1-11), di mana Yesus mengubah air menjadi anggur yang terbaik bagi tuan rumah yang nyaris kehilangan harga diri karena kekurangan anggur. Lihatlah, bahwa Yesus hadir memberikan buah pelayanan yang membebaskan orang dari rasa malu dan cemooh. Secara eksistensial, pemuda HKBP terpanggil untuk mengubah berbagai kelemahan, kecemasan, dan keprihatinan sosial menjadi kesuksesan, kekuaan dan kebanggaan masyarakat, bangsa dan negara.

Kedua, abad 21 yang dikenal dengan era globalisasi dan informasi memberikan peluang yang besar dan luas bagi pergaulan muda/mudi dengan wawasan global. Sebab, pergaulan lintas budaya dan agama memungkinkan muda-mudi gereja mengenal berbagai kemajuan dalam berbagai bidang, kemudian menarik banyak nilai-nilai positif untuk pengembangan diri dalam karier. Namun, satu hal yang patut dicermati adalah menguatnya kecenderungan untuk melepaskan nilai-nilai lokal dan mengambil alih nilai-nilai global secara gegabah. Sehingga tidak jarang yang terjadi justru bukan pengembangan diri, melainkan kebingungan atau anomali kebudayaan dan religiositas yang mengaburkan spiritualitas pemuda Kristen yang mengarah kepada sinkritisme modern. Hal itu dapat dengan mudah diamati dalam kehidupan pemuda Gereja metropolis, yang dengan mudah dan tanpa beban telah mengalami perubahan gaya hidup menjadi sangat individualistik, liberalistik, materialistik, konsumeristik dan hedonistik.

Sepertinya, era globalisasi dan informasi telah disalah-manfaatkan kaum muda untuk memprotes dan memberontak terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggap menekan emansipasi, membelenggu kebebasan berekspressi dan aktualisasi diri yang dikontrol sangat ketat oleh orangtua. Akibatnya, era globalisasi dan informasi acap kali dimaknai kaum muda sebagai kesempatan untuk membentuk komunitas kecil yang bersifat eksklusif, gaya hidup selebritis, seks bebas, suka minum alkohol dan mengkonsumsi narkoba, dengan harapan memberikan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.

Sehubungan dengan itu, sebaiknya pemuda HKBP duduk bersama merenungkan panggilan Tuhan untuk menghasilkan buah yang lebat dengan membangun komunikasi dan jaringan kerja yang luas. Pemuda HKBP hendaknya memiliki sense of crisis dan sense of urgency di dalam pusaran arus globalisasi dan informasi, agar tidak dikacaukan oleh nilai-nilai global yang diwarnai oleh neo-liberalisme. Neo-liberalisme memperkenalkan kebahagiaan dan harga diri terletak di dalam kesuksesan ekonomi dan kekuasaan politik.[2] Pemuda HKBP perlu menyadari kenyataan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia saat ini secara umum dan pemuda gereja secara khusus. Pada dekade pertama abad 21 ini, paling tidak ada 7 masalah dan tantangan yang dihadapi oleh kaum muda di Indonesia, yaitu keretakan hidup berbangsa dan formalisme agama, korupsi yang merata dari pusat hingga daerah, kemiskinan, pengangguran, premanisme, ketidakadilan genderj dan kekerasan dalam rumah tangga, serta masalah narkotika dan obat terlarang (Philips Tangdilintin, 2008:39-68).

Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memelihara sense of crisis agar mampu membangun solidaritas sosial dan tidak terbuai dengan kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh kemajuan zaman yang semakin kapitalistik. Secara khusus, solidaritas pemuda gereja perlu dibangun untuk menangani depressi yang dialami oleh kaum muda karena tingkat pengangguran yang setiap tahun meningkat. Pada tahun 2003, misalnya dari 100 juta angkatan kerja, terdapat sekitar 40 juta penganggur; pada tahun 2006 melonjak menjadi 10,8 %. Angka itu cenderung akan semakin meningkat pasca kenaikan harga BBM. Beban ekonomi rakyat yang sedemikian berat akan meningkatkan jumlah anak-anak putus sekolah, yang pada gilirannya menjadi anak-anak terlantar. Sebab, kemiskinan juga terus meningkat. Sebagaimana telah diingatkan oleh badan PBB, bahwa saat ini masih ada 1,5 milyar orang yang hidup dari 1 US dollar per hari. Kondisi di Indonesia sendiri, apabila mengikuti kriteria Bank Dunia, maka kemiskinan di Indonesia meliputi 108, 78 juta penduduk yang hidup dengan biaya kurang dari 2 US dollar per hari/per orang. Semua itu terjadi oleh karena kebijakan pembangunan nasional belum berpihak pada rakyat miskin, terutama petani, nelayan, dan buruh, melainkan berpihak kepada para kapitalis (Tangdilintin, 2008: 44-46).

Artinya, pemuda gereja tidak boleh terlena dengan hiruk pikuk agenda globalisasi yang kapitalistik, ataupun bingung di tengah jalan buntu oleh karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Tetapi pemuda gereja harus mampu mengembangkan diri sebagai agen pembaru (agent of change). Pemuda HKBP sudah waktunya mengembangkan diri sebagai pusat pencerahan dan ispirasi bagi banyak remaja dan pemuda yang terlena oleh daya tarik produk-produk era globalisasi. Oleh karena itu, panggilan pemuda HKBP untuk menghasilkan buah harus diterjemahkan dengan pemberdayaan kaum muda untuk mengembangkan kreativitas dan prakarsa pembangunan. Pemuda HKBP perlu mengorganiser diri secara sinergis untuk mengoptimalkan pembentukan kharakter pembaharu yang militan di tengah-tengah arus globalisasi. Sejarah mencatat bahwa revolusi dan reformasi besar biasanya terjadi melalui mobilisasi orang-orang muda yang mengalami pencerahan intelektual, politik dan spiritual, kemudian menyadari berbagai kelemahan ajaran dan kebijakan tradisional, yang menghambat kemajuan serta membelenggu kebebasan individu (Huntington, 2002:116,119).

Ketiga, menguatnya individualisme dan materialisme merupakan fenomena global yang perlu mendapat kajian pemuda gereja dalam mendisain pelayanan yang berdimensi spiritual. Artinya, gejala-gejala kehidupan bergereja di negara-negara kaya akan menjadi kenyataan yang tidak dapat ditunda dalam masyarakat kita pada abad ke-21 ini, di mana menguatnya individualisme bukan saja mempengaruhi sikap enggan mencampuri pribadi orang lain, tetapi lebih jauh dari situ, adalah semakin menguatnya keinginan untuk menentukan pilihan pribadi tanpa harus terbeban dengan penilaian orang lain, baik keluarga maupun masyarakat umum.

Peter Marber secara mendalam menganalisis fenomena bergereja di negara-negara kaya, bahwa penurunan secara drastis jumlah orang yang menghadiri kebaktian di gereja, terutama oleh orang-orang muda, adalah merupakan hasil dari suatu pilihan pribadi dari suatu masyarakat individualistik. Persentase orang Amerika yang dilaporkan datang ke gereja (beribadah) paling tidak satu kali satu bulan, ternyata turun dari 60 % pada tahun 1981 menjadi 55 % pada tahun 1998, bahkan dalam survey yang berbeda dalam 25 tahun ini agaknya penurunan sudah mencapai 10-12 %. Sedangkan di Australia, tingkat kehadiran orang beribadah turun dari 40 % pada tahun 1981 menjadi 25 % pada tahun 1998 (Peter Marber, 2003:98-99).

Di Indonesia, hal itu tidak mudah dianalisis, sebab secara kwantitatif jumlah jemaat yang beribadah di gereja tatap tinggi, namun bila dihitung dari total seluruh warga jemaat yang terdaftar, maka sebenarnya persentase jumlah warga jemaat yang tidak datang beribadah mungkin bekisar di antara 35-50 %. Adalah suatu fenomena umum di gereja-gereja kita, bahwa setelah pelajar katekisasi sidi (parguru manghatindangkon haporseaon) menyelesaikan kursusnya, maka sekitar 50-70 % tidak datang lagi ke gereja, memang sebagian karena melanjutkan studi ke luar daerah, tetapi di perantauan (tempat studinya) pun mereka tidak aktif lagi.

Ada indikasi yang kuat bahwa menurunnya semangat bergereja kaum muda, bukan saja karena faktor globalisasi yang merasuki kaum muda dengan roh individualisme dan materialisme, tetapi terutama oleh karena formalisme agama. Di mana penghayatan agama yang dangkal dan bersifat ritual-seremonial, tidak lagi dihayati sebagai nilai dan sikap hidup pribadi maupun umat Allah. Orang muda masih tetap datang ke gereja dengan jumlah yang signifikan, tetapi apa yang didengar dan dilakukannya di dalam ibadah sama sekali tidak mempengaruhi gaya hidup dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, panggilan Tuhan untuk berbuah mestinya diterjemahkan juga dengan membina persekutuan pemuda HKBP yang dinamis dan intens mendalami relasi vertikal (kehidupan beriman) yang mendorong penguatan relasi horizontal (kehidupan sosial-kemasyarakatan). Artinya, kebaktian dan persekutuan pemuda HKBP hendaknya mendorong pemuda/i gereja semakin dekat kepada Tuhan, dan juga semakin dekat dengan sesama jemaat dan masyarakat sekitar.

Membina Pemuda yang Berbuah Lebat

Pergumulan dan peluang pemuda gereja masa kini yang digambarkan di atas menuntut suatu redefinisi dan reformasi pemuda gereja secara kontekstual. Sudah waktunya gereja memandang pemuda sebagai bagian integral dari persekutuan jemaat. Pemuda gereja bukan lagi sebatas the churchmen of tomorrow, melainkan juga sebagai komponen masa kini (the churchmen of today) yang memiliki hak dan tanggungjawab yang sama dengan orangtua atau anggota jemaat yang sudah berkeluarga. Secara ekklesiologis, jelas bahwa setiap orang yang telah naik sidi telah memiliki hak untuk ikut serta dalam perjamuan kudus, sebagai simbol dari kematangan spiritual untuk menghayati relasi vertikal di dalam kehidupan bersama orang-orang kudus dan lingkungan sekitarnya. Sebagaimana diserukan oleh kaum muda Australia pada suatu Youth Convention di Sydney, 1982: “Today is ours! The hope of today is in our hands. Give us our share of today and only then will we be ready to meet and shape the future.” “Hari ini adalah milik kami! Harapan hari ini terletak di tangan kami. Beri kami kesempatan berperan hari ini, dan hanya dengan cara itu kami akan siap menyongsong dan menaa hari esok.” (Tangdilintin, 2008:34). Artinya, apabila pemuda gereja diharapkan berbuah lebat, maka gereja tidak boleh tidak mesti memperlengkapi dan melatih pemuda gereja untuk memahami panggilannya sesuai dengan kharakter kaum muda di tengah-tengah tantangan globalisasi saat ini.

Pertama, pemuda gereja harus lebih konsern menanganai masalah penghayatan iman yang operasional, dalam arti tidak cukup lagi pendalam alkitab yang bersifat intelektual semata, melainkan mampu memahami kehendak Tuhan dari lubuk hati yang terdalam. Secara intelektual bisa saja orang muda menganggap bahwa adat dan budaya Batak sebagai warisan nenekmoyang yang tidak relevan lagi dengan pergumulan gereja masa kini. Namun, justru Kristus sendiri memenuhi panggillan-Nya di tengah-tengah dunia ini bukan saja mengapresiasi adat dan budaya nenekmoyang-Nya, tetapi turut ambil bagian dalam memelihara adat dan budaya bangsa-Nya untuk kesejahteraan semua orang. Spiritualitas kita yang sesungguhnya baru akan menjadi jelas ketika kita mengambil sikap dan respon yang baik dan tepat atas semua realitas kehidupan yang semakin hari semakin tidak sesuai dengan rencana agung penciptaan, yang “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31).

Sesungguhanya, panggilan untuk berbuah dalam Yohanes 15:16 pertama-tama mengajak kita untuk memeriksa relasi kita dengan Kristus. Sebab, tanpa relasi vertikal yang benar dengan Kristus, maka pemuda gereja tidak akan mampu berbuah lebat. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4-5). Implikasinya adalah orientasi pembinaan harus diarahkan pada character building, melalui proses internalisasi nilai-nilai moral, kultural dan spiritual, sehingga akan lahir suatu generasi gereja yang memiliki kepribadai utuh, dalam arti menadari identitasnya sebagai warga masyarakat dan jemaat pada satu sisi, dan sebagai warga kerajaan sorga yang telah dikuduskan dan dipersekutukan di dalam Kristus pada sisi lain. Oleh karena itu, pemuda gereja harus mengembangkan persekutuan pembacaan/pendalaman Alkiab, tidak boleh lagi berkumpul hanya untuk latihan paduan suara, walaupun itu juga penting. Direktur Pembinaan Pemuda Gereja sudah harus memiliki program pendalaman iman di setiap wilayah pelayanan HKBP. Gereja juga harus secara terbuka mengkaji bentuk-bentuk kebaktian yang bersifat reflektif dan dapat menuntun pemuda menghayati imannya secaa atraktif dan meditatif. Rancangan kebaktian khusus kaum muda hendaknya mampu membangun kesadaran akan pentingnya persekutuan dan kebersamaan dengan jemaat, penghargaan dan kepercaan diri sendiri, dan memiliki komitmen yang kuat untuk menyaksikan imannya di tengah-tengah realitas kehidupannya sehari-hari. Artinya, di mana pun seorang pemuda HKBP berada dengan profesi apa pun, maka di sana ia mampu mengaktualisasikan diri sebai warga jemaat yang bertanggungjawab sebagai saksi Kristus.

Kedua, pemuda gereja yang berbuah lebat membutuhkan pelatihan yang menghasilkan ketaatan sebagai seorang sahabat. Menarik sekali memperhatikan di sini, bahwa ketaatan yang dimaksud bukan saja karena disiplin yang ketat, tetapi malah ketaatan yang didasarkan oleh kasih persaudaraan (philia). Di mana kasih seorang sahabat bukan saja menunjukkan solidaritas sosial yang tinggi, tetapi pengorbanan yang sempurna dengan menyerahkan nyawa sendiri. Kesediaan mengorbankan nyawa sendiri bagi seorang sahabat adalah gambaran dari pengosongan diri yang dilakukan Yesus ( Filipi 2:7-11). Artinya, kepribadian seorang pemuda gereja, yang sungguh-sungguh bersedia mengorbankan nawanya, sudah pasti bersih dari segala virus egoisme dan individualsme yang merasuki manusia pada zaman postmodern saat ini. Orang yang mampu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya adalah mereka yang tidak akan keberatan untuk memenuhi panggilannya secara all out, tuntas dan berkelanjutan.

Pemuda HKBP sudah waktunya merevitalisasi mottonya: “Masitangiangan, Masiurupan, Masihaposan.” Motto itu hanya akan bertumbuh dan operasional dalam persekutuan orang-orang yang benar-benar dipersatukan dalam Tubuh Kristus. Hanya di dalam Kristus orang Kristen umumnya, dan pemuda gereja khususnya dapat hidup sebagai komunitas yang saling mendoakan, saling membantu dan saling percaya. Di luar persekutuan dengan Kristus, pemuda gereja melihat sesamanya sebaagai saingan, yang harus dikalahkan, dan tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, pelayanan terhadap pemuda gereja pada dasarnya juga mesti dilakukan dengan sentuhan cinta kasih sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus.

Pelayanan terhadap kaum muda acap kali mengalami kegagalan atau paling tidak jalan ditempat, oleh karena para majelis dan orangtua memandang pemuda gereja sebagai pembantu, yang dianggap anak bawang, dan belum layak dipercaya untuk tugas pelayanan jemaat. Pelayanan terhadap kaum muda tanpa cinta kasih akhirnya menjadi pelayanan asal jadi, tanpa orientasi yang jelas. Oleh karena itu, pemuda gereja yang diharapkan berbuah lebat mesti diberi kepercayaan dan tanggungjawab untuk mengeksplorasi segala potensi yang ada di dalam jemaat, serta mendorong mereka berperan sosial aktif. Gereja perlu mendorong pemuda untuk menumbuh-kembangkan kepekaan sosial politik, secara khusus memperjuangkan hak azasi manusia tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, bahasa, budaya dan agama mana pun.

Ketiga, panggilan untuk berbuah lebat bagi pemuda HKBP pada saat ini harus dipahami dalam konteks persahabatan lintas sosial budaya, di mana segala bentuk diskriminasi ditiadakan, sehingga hubungan sosial berlangsung sejajar dan penuh kasih persaudaraan. Persekutuan nir-subordinat tersebut berpusat pada Kristus. Di dalam Kristus semua orang berada pada jari-jari lingkaran yang sama dan sebangun. Eksistensi dan kiprah pemuda HKBP baru akan berdampak dalam perputaran roda kehidupan sosial politik apabila semua anggota sama-sama bergerak dalam pelayanan yang saling membangun (masiurupan) di dalam poros pelayanan gereja secara institusional. Oleh karena itu, pemikiran yang memandang pemuda HKBP membangun persekutuan dan pelayanan yang bersifat independen, seperti halnya organisasi pemuda sekuler sejenis KNPI, HMI atau GMKI sekalupun, bukanlah yang dimaksudkan oleh Yesus. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, pemuda gereja merupakan komponen gereja itu sendiri. Gereja sebagai perwujudan Tubuh Kristus di tengah-tengah dunia ini hidup dan berkarya dalam satu tubuh, satu roh, dan satu jiwa, termasuk di dalamnya pemuda.

Lebih jauh dari situ, persekutuan dan pelayanan pemuda mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas meliputi persekutuan oikumenis. Sehingga pemuda gereja dalam semangat oikumenis yang saling menghormati tradisi denominasi masing-masing, dapat mengembangkan pelayanan yang berpihak pada pemberdayaan kaum lemah dan marjinal, terutama di daerah pedesaan dengan masyarakat agraris yang belum sungguh-sungguh mendapat perlindungan pemerintah. Sehubungan dengan itu, ada dua hal yang mesti disadari dan direspon secara teologis alkitabiah, yaitu pada satu sisi globalisasi memberikan signal yang kuat terhadap pemahaman oikumenis yang lebih luas dan terbuka, di mana masyarakat Kristen di berbagai belahan dunia cenderung melepaskan diri dari berbagai ikatan tradisi denominasional. Sehingga, suatu ketika kita tidak akan terkejut melihat pelayanan lintas denominasi semakin eksis, dan itu dapat menimbulkan gangguan psikologis bagi gereja-gereja aliran utama yang dominan selama dua abad terakhir. Memang, gerakan oikumenis seperti itu lebih terpusat pada masyarakat metropolis, di mana akses terhadap media dan komunikasi relatif lebih intens. Namun, jelas bahwa arus terhadap gereja non-denominasi seperti itu dapat menguat di tengah-tengah peradaban global abad 21.

Pada sisi lain, globalisasi yang merambah sampai kepada pelosok-pelosok melalui jaringan komuniasi dan media, bahkan juga dengan kapitalis yang berkiprah dalam agrobisnis organik, memberikan signal yang kuat terhadap benturan tradisi yang dapat mengendurkan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, pemuda gereja perlu memberikan penyadaran terhadap pentingnya nilai-nilai tradisional sebagai simbol identitas bangsa yang dapat digali untuk menjawab tantangan zaman. Masyarakat petani di pelosok-pelosok perlu mendapat pendampingan untuk mengembangkan pertanian organik, yang memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian dengan pupuk kimia. Masyarakat global yang sadar akan bahaya makanan produk kimiawi akan mencari produk organik, sebab masalah harga secara otomatis tidak akan menjadi persoalan, harga komiditas sudah dipercayakan sepenuhnya kepada pasar bebas.

Kedengarannya, isu terakhir ini kurang populer bagi kaum muda yang cenderung melirik pusat-pusat kota metropolitan sebagai tempat yang menjanjikan masa depan yang sejahtera. Namun, justru itulah tantangan pemuda gereja, dan masalah spiritualitas pemuda gereja tidak lepas dari komitmennya terhadap pemberdayaan petani dan nelayan, yang sampai hari ini belum mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah. Kebijakan ekonomi kita belum sungguh-sungguh berpihak kepada petani dan nelayan, sebagaimana dapat dilihat dari derasnya impor produk pertanian yang menjatuhkan harga jual produk para petani lokal. Sudah waktunya spiritualitas pemuda gereja diuji kualitasnya dengan seberapa besar berkat yang dapat diberikannya untuk membawa petani dan nelayan Indonesia menikmati kehidupan yang damai dan sejahtera.

Pemuda gereja dapat mengikuti jejak saudara kita dari Gereja-gereja Reform yang telah merumuskan sebuah janji iman yang disebut dengan: Covenanting for justice, yang salah satu statemennya mengatakan, bahwa “kita percaya bahwa Allah memanggil kita untuk berdiri disamping para korban ketidakadilan. Kita tahu bahwa kita diminta oleh Allah untuk melakukan keadilan, cinta kasih, dan jalan yang benar di hadapan Allah (Mikha 6:8). Kita dipanggil oleh Allah untuk melawan segala bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan pengrusakan lingkungan, sehingga keadilan dapat mengalir seperti air dan kebenaran seperti sungai (Amos 5:24). Oleh karena itu, kita menolak semua teologi yang mengatakan bahwa Allah hanya berpihak pada yang kaya, dan kemiskinan adalah akibat kesalahan dan kemalasan orang miskin. Kita menolak segala bentuk ketidakadilan yang menghancurkan hubungan yang baik antar jender, ras, strata sosial dan kecacatan. Kita menolak semua teologi yang menekankan bahwa kepentingan manusia diatas kepentingan alam (Seong-Won Park, 2005:189).

Bahan bacaan:

1. Beyer, Ulrich Berani Tampil Beda, BJU, Medan, 2005.

2. Bluck, John., Evervyday Ecumenism - Can You Take The World Church Home?, WCC Publication, Geneva, 1987.

3. Huntington, Samuel P., The Clash of Civilizations And The Remaking of World Order, Simon & Schuster Australia, Sydney, 2002.

4. Marber, Peter., Money Changes Everything, How Global Prosperity Is Rehsaping Our Needs, Values, and Lifestyles, Financial Times (FT) Prentice Hall, New Jersey, 2003.

5. Park, Seong-Won. (Guest Co-editor), “Covenanting for Justice: the Accra Confession”, dalam Reformed World, Volume 55, September 2005.

6. Rauchfuss, Sonja., “Youth and neoliberal globalization: a German perspective,” dalam Reformed World, Volume 56, March 2006.

7. Stott, Jhon., Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, Penilaian Atas Masalah Sosial dan Moral Kontemporer, YKBK/OMF, Jakarta, 1994.

8. Tangdilintin, Philips, Pembinaan Generasi Muda, dengan proses manajerial VOSRAM, Kanisius, Yogyakarta, 2008.



[1] Generasi muda fundamentalis akan cenderung membalaskan kegagalan masa lalu dengan berbagai tindak kekerasan, seperti terorisme yang merugikan dalam segala hal, termasuk merugikan bagi agama pelakunya. Analisis Huntington tidak dapat dibantah, sebab fakta menunjukkan bahwa mereka yang terlibat dengan jaringan terorisme internasional yang sangat rapi dan canggih, termasuk yang beroperasi di Indonesia, ternyata adalah generasi muda dengan intelektualitas dan mobilitas tinggi, tetapi tidak memiliki arah dan tingkat pertumbuhan spiritual yang baik dan konstruktif. Pertumbuhan Islam secara demografis dan kebangkitan Islam sebagai salah satu akibat dari kemunduran budaya barat (warisan kekristenan), menurut Huntington merupakan faktor utama yang menimbulkan berbagai konflik dengan umat beragama lain.

[2] Pemuda HKBP perlu mengantisipasi pengaruh luas dari neoliberalisme dalam berbagai sektor, yang semestinya menjadi pusat pembentukan moral dan spiritual masyarakat, tetapi kemudian diubah menjadi komoditi yang berorientasi keuntungan ekonomik. Pengaruh neoliberalisme terhadap kaum muda, terutama melalui perubahan ekonomi, ketidakseimbangan demografis, dan pluralisme budaya. Perubahan ekonomi, misalnya dapat diamati melalui penggunaan telepon seluler, internet dan video game. Saat ini para remaja dan pemuda, mulai dari yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama hingga Mahasiswa, merupakan kelompok pengguna telepon selular, video game, dan internet yang paling tinggi. Ini merupakan fenomena global, yang dijumpai hampir di semua negara, terutama di negara-negara kaya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan terhadap kaum muda di Jerman, terbukti bahwa persentase kelompok usia 15-25 tahun merupakan kelompok umur yang secara reguler menggunakan komputer, internet dan video game, dan ternyata sejak tahun 1997 meningkat dua kali lipat dari 21 % menjadi 43 %. Malahan disebutkan, bahwa 80 % pemuda di Jerman secara reguler menggunakan mobile telephone. Penggunaan alat komunikasi canggih dan akses informasi yang komprehensif seperti internet yang demikian tinggi, justru mempertegas individualisme dan kepelbagaian pilihan dan sikap kaum muda di Jerman.

Sekjen HKBP Pdt WTP Simarmata MA Ulosi Pj Bupati Batubara Drs Syaiful Syafri MM

Lima Puluh (SIB)
Sekretaris Jenderal HKBP Pdt. WTP. Simarmata, MA didampingi Preses HKBP Distrik V Sumatera Timur Pdt. DR. Plaston Simanjuntak dan Pendeta Resort HKBP Lima Puluh H. Purba mengulosi Pj. Bupati Batubara Drs. Syaiful Syafri, MM seusai peresmian Gedung Serbaguna Maranata di Jl. Besar Lima Puluh, Minggu 20 Juli 2008.
Menurut Sekjen HKBP Pdt. WTP. Simarmata, MA, pemberian ulos kepada Pj. Bupati Batubara Drs. Syaiful Syafri, MM sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih atas kehadirannya pada peresmian Gedung Serbaguna Maranata yang dibangun putra-putri perantau asal Batubara dengan jemaat HKBP di kecamatan Lima Puluh.
Diharapkan, dengan berdirinya Gedung Serbaguna ini, kata Simarmata, dapat dijadikan tempat untuk melatih masyarakat di bidang pertanian, perkebunan atau lainnya dalam rangka memajukan Kabupaten Batubara. Sekjen HKBP Simarmata juga menekankan agar para pengurus Gedung Serbaguna dapat memanfaatkannya dan merawatnya dengan baik sehingga bantuan perantau dapat dirasakan oleh para jemaah HKBP dan masyarakat luas.
Kerukunan Yang Baik
Sementara itu Preses HKBP Distrik V Sumatera Timur Pdt. DR. Plaston Simanjuntak dalam sambutannya mengatakan, Distrik V mempunyai wilayah kerja kota Siantar, Simalungun dan Batubara. Di Distrik V membawahi 240 gereja dan 44 resort. Salah satu resort HKBP di Lima Puluh ini kata Simanjuntak keberadaan gereja berdiri berdampingan dengan Mesjid Raya di Kecamatan Lima Puluh, dan masyarakatnya hidup rukun dan damai dalam menjalankan ibadah sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Sumut dan Indonesia.
Pj. Bupati Batubara Drs. Syaiful Syafri, MM dalam sambutannya mengatakan merasa bangga bahwa putra-putri perantau Batubara seperti Ir. Perdinan Siahaan, Arifin Siahaan, Firman Siahaan, Ir. Otto Hasibuan, Drs. M. Hutasoit, dll masih mengingat kampung halamannya dan bekerja sama dengan jemaat HKBP di Lima Puluh telah mampu membangun sebuah gedung yang mampu menampung 1000 orang. Diharapkan gedung yang megah ini bisa dijaga kebersihannya, dan untuk mendukung keindahan gedung, kata Syaiful Syafri, pemerintah daerah membantu 9 titik penerangan sehingga gedung ini benar-benar indah. Kepada masyarakat perantau asal Batubara dari suku lainnya hendaknya bisa meniru putra putra perantau Batubara dari suku Batak ini, karena masih banyak masyarakat kita yang membutuhkan uluran tangan perantau untuk perbaikan sarana air bersih, rumah tidak layak huni maupun bantuan permodalan usaha.
Hadir dalam peresmian gedung ini Panitia penyelenggara Erwin Sianipar, Sp.pd., Camat Lima Puluh, Kadis Perhubungan Drs. Sahala Nainggolan, Calon Bupati Batubara Parlindungan Sinaga dan Drs. OK. Arya. (Rel/h)

* sumber Harian SIB

Senin, 14 Juli 2008

Pesta Pembangunan Gereja Sending HKBP Sungai Bantal:Terpanggil Untuk Bersaksi dan Membangun Kehidupan yang Bermartabat

Pesta Pembangunan Gereja Sending HKBP Sungai Bantal:

Terpanggil Untuk Bersaksi dan Membangun Kehidupan yang Bermartabat

(Marturia yang Diakoni)

�HKBP adalah Gereja yang ber-Sending�. Ungkapan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi HKBP. Bukan hanya karena HKBP di dalam sejarahnya sebagai buah upaya sending, tetapi oleh karena kesetiaan terhadap pengutusan Yesus Kristus sebagai �Raja Gereja� untuk memberitakan Injil ke semua bangsa dan kepada semua makhluk (Markus 16:15). Untuk itulah HKBP berkewajiban untuk memberitakan Injil dan membawa jiwa kepada pengenalan di dalam iman kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia. Akan tetapi, jemaat HKBP mungkin tidak semua tahu jikakalau HKBP telah memiliki daerah sending sendiri. Atau sudah banyak jemaat yang tahu akan tetapi tidak mengenal persis bagaimana situasi dan kondisi daerah sending HKBP.

HKBP telah menjalankan kegiatan penginjilan ke berbagai daerah, salah satunya adalah Pulau Rupat sejak 1969. Di Pulau Rupat, HKBP telah mendirikan 6 Pos Pekabaran Injil yaitu: Pos PI Kuala Simpur, Pos PI Hutan Ayu, Pos PI Sungai Bantal, Pos PI Sungai Carok, Pos PI Sungai Raya dan Pos PI Gunap dengan jumlah jemaat berkisar 1448 jiwa. Telah dibangun pula 2 Balai Pengobatan, yaitu di Hutan Pancur dan Sei Bantal, dan 2 Balai Pendidikan yaitu di Hutan Ayu dan di Sei Bantal.

Penduduk Pulau Rupat terdiri dari Suku Akit, Melayu, Jawa, Etnis Thionghoa dan Batak. Masyarakat Pulau Rupat masih dibelit berbagai masalah kehidupan. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih sangat memprihatinkan. Mata pencaharian penduduk adalah bertani, nelayan dan pedagang. Pencaharian hanya cukup untuk konsumsi keluarga. Beredar rumor bahwa Pulau Rupat akan menjadi sentra industri dengan jalur Malaysia, Singapura, Rupat dan Batam, sehingga tanah di Pulau Rupat menjadi incaran para pemilik modal. Tidak jarang penduduk setempat menjual tanah mereka dengan harga murah. Tingkat kesehatan juga sangat rendah. Selain karena kemiskinan, juga diakibatkan oleh masih minimnya tenaga medis dan kepercayaan kepada dukun didalam mengobati penyakit. Menurut salah seorang tenaga medis di Puskesmas Hutan Ayu, dr. Tota Br.Simorangkir, angka kematian bayi dan ibu saat melahirkan sangat tinggi di Rupat. Di samping karena usia menikah yang relatif muda, mereka lebih memilih dukun anak daripada bersalin ke Puskesmas.

Malam Penggalangan Dana

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Dumai dengan menumpangi kapal yang disediakan oleh panitia. Perjalanan ke Pulau Rupat sekitar 5 jam. Undangan yang hadir berjumlah sekitar 120 orang yang berasal Rombongan undangan berasal dari berbagai ressort yaitu dari HKBP Dumai, HKBP Sukajadi, HKBP Ressort Bunga Tanjung, HKBP Helvetia I Medan, HKBP Marthin Luther, HKBP Immanuel, HKBP Bukit Datuk, dan HKBP Bengkalis. Ikut juga bersama rombongan, Sekjen HKBP Pdt.W.T.P. Simarmata bersama ibu, Pdt. Tendens Simanjuntak, STh (Kepala Biro Pekabaran Injil HKBP), Pdt. Sedyo Joyo (pendeta di Biro PI HKBP), Pdt. L. Butarbutar,STh (Pendeta ressort HKBP Dumai), Pdt.A. Aritonang, SMTh (pendeta ressort HKBP Sukajadi), Pdt. Nikson Samosir, STh (pendeta HKBP Helvetia Melati Medan), Pdt. R. Silaban, STh (pendeta ressort HKBP Immanuel).

Sesampainya di Pelabuhan Selat Morong Pulau Rupat, seluruh undangan langsung disambut jemaat dengan sukacita, merubah suasana di dalam keletihan menjadi semangat kembali. Rombongan masih harus berjalan sejauh 2 km untuk sampai ke gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal. Sesampainya di Gereja, rasa lapar dan letih terpulihkan dengan hidangan ala kadarnya berupa ubi rebus dan minuman hangat. Walau rombongan tidak sempat lagi untuk mandi karena keterbatasan waktu, acara Malam Penggalangan Dana disambut dengan sukacita. Acara dimulai dengan kebaktian malam yang dipimpin oleh Diak. Sarma Sinaga (litugis) dan Pdt. Sampe Waruwu, STh sebagai pengkotbah (Koordinator Pekabaran Injil Wilayah Pulau Rupat). Pdt.Sampe Waruwu, STh dalam khotbah (Matius 28:18) menekankan bahwa Pemberitaan dan Pewartaan Injil adalah Amanah Agung Yesus Kristus yang telah bangkit karena Pekabaran Injil sangat erat berkaitan dengan keselamatan dunia ini. Oleh karena itu tugas Pekabaran Injil di dalam tugas gereja mesti dilanjutkan dan diwariskan secara berkesinambungan di sepanjang sejarah hingga kesudahannya. Di dalam perjalanannya, Pekabaran Injil memang memiliki konsekuensi dan bahkan membutuhkan pengorbanan. Tetapi oleh karena penyertaan Roh Kudus, segala hambatan dapat diatasi dan Roh Kudus jugalah menguatkan untuk menjalani segala konsekuensinya. Pdt. Sampe Waruwu, STh merefleksikan keadaan Pekabaran Injil di Pulau Rupat sebagai daerah sending HKBP. Pekabaran Injil di Pulau Rupat sudah 39 tahun tetapi keadaan sangat memprihatinkan (sejak 1969, tetapi pembaptisan 28 Nopember 1971). Menurunnya pelayanan karena kurangnya para pelayan yang ditugaskan, padahal tugas pelayanan semakin banyak dan meluas. Secara fisik, bangunan gereja sudah lapuk termakan usia karena terbuat dari kayu. Ini dikarenakan masih kurangnya perhatian, padahal tugas Pekabaran Injil adalah Amanah Yesus Kristus, tetapi cenderung dilupakan dan dikesampingkan. Untuk itulah seluruh jemaat mesti menyemangati Pekabaran Injil kembali agar Nama Tuhan Yesus Kristus dimuliakan di bumi.

Acara kebaktian diisi dengan lagu pujian yang dibawakan oleh anak Sekolah Minggu dan anak Remaja Pos PI Sungai Bantal. Saat mengharukan adalah ketika anak-anak Sekolah Minggu menyanyikan lagu �Boan Sadanari� sebagai Motto Tahun Marturia. Setelah acara kebaktian berakhir dilanjutkan dengan makan malam ala kadarnya, dan diisi dengan acara tortor dan lelang. Setelah acara selesai (jam 23.30), tempat penginapan rombongan diatur di rumah-rumah jemaat .

Kebaktian Minggu

Prosesi dimulai dari rumah Pdt. Sampe Waruwu, STh. Rombongan prosesi disambut anak Sekolah Minggu dan mengalungkan bunga kepada Sekjen HKBP dan seluruh pendeta yang hadir. Jemaat sudah memenuhi tempat ibadah dengan kerinduan untuk bersekutu dan mendengar FirmanNya. Acara kebaktian dimulai jam 08.30 sebagai Liturgis adalah Pdt. Tendens Simanjuntak, STh dan pengkhotbah Pdt. W.T.P. Simarmata, MA. Sekjen HKBP Pdt.W.T.P. Simarmata, MA mengangkat nas khotbah dari Yeremia 29:4-14. Beliau menekankan di dalam khotbahnya bahwa ciri khas umat Kristen adalah dipanggil menjadi berkat bagi bangsa lain, seperti Abraham �Bapa Orang Percaya� yang dipanggil Tuhan menjadi berkat bagi bangsa lain. Demikian juga halnya dengan Pekabaran Injil adalah untuk membangun martabat dan membangun kesejahteraan kemanusiaan. Gereja hadir menjadi berkat bagi orang lain (the church for others), seperti Yesus yang berkorban dan mati bagi orang lain. Walau terkadang diuji, Tuhan tidak menginginkan umatNya menderita dan sengsara. Tuhan selalu menjanjikan Damai Sejahtera bagi umatNya. Untuk itulah umat harus senantiasa berdoa kepada Tuhan meminta peyertaan dan pertolonganNya. Tuhan menjanjikan Penyertaan ketika umatNya di dalam berpengharapan. Lebih janjut lagi, Sekjen mengimbau di dalam khotbah, bahwa Tuhan menginginkan umatNya untuk bekerja keras memperbaiki kehidupan, memberi keteladanan, mengampuni, menghormati orang tua, membangun damai dengan menjauhkan perseteruan, dan membangun kebersamaan. Beliau merefleksikan bahwa Rupat dipanggil Tuhan untuk �Ber-Marturia yang Diakoni� yaitu Bersaksi tetapi membangun kehidupan. Memberitakan Firman Tuhan adalah membangun kehidupan yang lebih baik dan membangun kesejahteran (melawan kebodohan, kemiskinan dan penyakit). Bersaksi dan membangun kehidupan adalah Pekabaran Injil yang sejati.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan lelang yang diselingi dengan tortor. Seluruh undangan mendapat kesempatan untuk manortor sesuai dengan asal gerejanya. Satu hal yang sangat mengharukan adalah atas kehadiran seorang jemaat (dipanggil �Ma Tua�) yang dibaptis menjadi Kristen 28 November 1971 (sebagai tahun lahirnya jemaat Pos PI Sungai Bantal). Amang Sekjen mendaulat beliau untuk manortor bersama para pendeta dan jemaat dengan rasa terharu memberikan �Tumpak� kepada �Ma tua�. Setelah itu �Ma Tua� rasa terharu menyampaikan rasa terima kasihnya atas kedatangan undangan dan berpesan agar jemaat di Pulau Rupat jangan diabaikan, sehingga mereka semakin teguh di dalam iman untuk mempercayai Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.

Acara berakhir jam 15.00 sore, dan dana yang terkumpul pada pesta pembangunan gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal berkisar 60 juta. Jemaat HKBP jangan tinggal diam untuk memajukan daerah sending. Jemaat Pulau Rupat adalah buah dari penginjilan HKBP, oleh karena itu tanggungjawab itu harus diemban. �Sapala naung tapungka, denggan ma tapareahi�.

foto.jpg

Pdt. Sedyo Joyo, Pdt. Tendens Simanjuntak, STh (Ka Biro Pekabaran Injil), Pdt. W.T.P.Simarmata, MA (Sekjen HKBP) dan Pdt. L. Butar-butar,STh (Pendeta Ressort HKBP Dumai) dalam perjalanan laut menuju Pulau Rupat.

foto6.jpg

Rombongan tiba di Pelabuhan Selat Morong Pulau Rupat.

fot3.jpg

�MaTua� (posisi duduk, salah seorang jemaat yang dibaptis menjadi Kristen pada tanggal 28 Nopember 1971 sebagai Hari berdirinya Gereja Sungai Bantal) didaulat manortor bersama para pendeta.

foto5.jpg

Anak Sekolah Minggu Pos PI Sungai Bantal menyanyikan koor di Malam Penggalangan Dana.

foto7.jpg

Jemaat dengan hikmah beribadah di Malam Penggalangan Dana.

foto4.jpg

Gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal (gambar dalam depan) yang akan dibangun.

Selasa, 03 Juni 2008

Seminar Sehari


“Tongkat dan Kayu jadi Tanaman”

(Seminar Sehari: Pelipatgandaan Produksi Padi dan Percepatan Kedaulatan Pangan di Indonesia)

Indonesia sebagai negara agraris memiliki banyak potensi penghasil pangan nasional. Menurut data dari BPS Provinsi Sumut, 73,95 % aktivitas masyarakat Sumut hidup di sektor pertanian. Namun hasil yang diproduksi oleh para petani belum maksimal dimana produksi padi sebesar 3.007.636 Ton/tahun. Banyak metode yang dikembangkan para petani namun belum mengangkat kedaulatan pangan di wilayah Sumut bahkan di Indonesia. Padahal Sumut memiliki curah hujan yang rata-rata 173,5 mm/tahun dan potensi air tanahnya sebesar 119,8 Milyar m3 /tahun. Apakah kedaulatan pangan di Indonesia khususnya Sumut (Tapanuli) dapat ditingkatkan? Apakah kesejahteraan petani akan dapat ditingkatkan dengan jerih payahnya di pertanian? Pada masa sulit seperti ini, dapatkah produksi padi dilipatgandakan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pergumulan panjang para petani serta para pemerhati kehidupan petani, yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, HKBP yang peduli terhadap kesejahteraan hidup para petani mengadakan seminar sehari. Seminar ini digelar guna memaknai peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional dengan harapan agar kedaulatan pangan di Indonesia semakin bangkit dan meningkat. Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA yang memprakarsai seminar ini mengundang instansi-instansi pertanian, lembaga pendidikan (sekolah dan universitas), para mahasiswa, para rohaniawan, wartawan dan para petani. Seminar tersebut dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2008 di gedung PGI Wilayah Sumut.

Acara seminar diawali dengan ibadah pembuka yang dipimpin oleh Pdt. Sarlen Lumbantobing, MA yang mengajak setiap gereja agar meneruskan sikap Yesus yang peduli terhadap kebutuhan makanan (Matius 14:13-21). Firman Tuhan ingin mengingatkan agar peduli terhadap kesehatan tanah yang mendukung produksi pangan agar tercapailah seperti yang dikatakan orang dalam syair “tongkat dan kayu jadi tanaman”; serta meningkatkan SDM warga dalam mengelolah potensi alam yang Tuhan ciptakan. Selanjutnya acara dibuka oleh Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA dengan mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa diukur oleh kecerdasan warganya dan ditopang oleh tingkat produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Karenanya kita perlu memiliki konsep pembangunan yang cocok pada jaman ini agar mampu meningkatkan kehidupan masyarakat. Seminar ini membantu kita untuk melihat partisipasi rakyat, peran rakyat dan kebutuhan langsung rakyat untuk memperbaiki kehidupannya dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Seminar sehari tersebut mengusung tema Peran Pendidikan dan Teknologi untuk melipatgandakan produksi padi dan mempercepat pencapaian kedaulatan pangan di Tapanuli. Dengan nara dua sumbernya yang handal yaitu pertama, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, MS yang adalah Guru Besar UNPAD dengan judul Teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) untuk Melipatgandakan Produksi Padi dan Percepatan Kedaulatan Pangan di Indonesia. Nara sumber kedua, Ir. Parasetyo Sunarya, MT yang adalah Asdep Kementerian Riset dan Teknologi RI namun diwakili oleh Bapak Dr. Lukito Hasla, MS dengan judul Peran Kementerian Negara Ristek dalam Menunjang Pencapaian Kedaulatan Pangan Nasional. Alur diskusi dalam seminar semakin hangat ketika dipandu oleh Dr. Erikha Pardede.

Seminar tersebut menginformasikan bahwa kedaulatan pangan dapat ditingkat karena telah diketemukannya berbagai teknologi yang dapat melipatgandakan produksi (IPAT-BO). Ada beberapa komoditas pangan di Indonesia yaitu beras, jagung, kedelai, umbi-umbian dan aneka ragam pangan lainnya. Yang paling besar kebutuhan pangan di Indonesia adalah beras karena pertahunnya beras dibutuhkan sebanyak 35 juta ton serta mata rantai produksinya merupakan proses multifungsi dan multisektor. Alasan lainnya, karena beras memiliki kedudukan strategis yang memenuh hajat orang banyak; sesuai dengan karakteristik wilayah dimana didukung oleh letak geografis, iklim, tanah; oleh karena itu beras merupakan Pemersatu Bangsa.

Intensifikasi padi sawah dengan sistem tergenang (anaerob) tidak saja menyebabkan tidak berfungsinya kekuatan biologis tanah (soil biological power), tetapi juga menghambat perkembangan sistem perakaran tanaman padi. Dalam kondisi anaerob, keanekaragaman hayati (biodiversity) tanah sangat terbatas. Biota tanah yang aerob tidak dapat berkembang dan diperkirakan hanya sekitar 25% perakaran tanaman padi yang

berkembang berkembang dengan baik. Untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan (kedaulatan pangan) dengan luas panen hanya sekitar 11 juta ha, kita harus mampu meningkatkan produktivitas padi dari 4 – 6 ton/ha menjadi 6 – 8 ton/ha. Bila ingin menjadi ekspotir beras produktivitas padi harus ditingkatkan menjadi 8 – 12 ton/ha. Di lain pihak, hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa kadar C-organik pada lahan-lahan sawah di sentra produksi padi umumnya sudah rendah (<>han sawah dengan kadar C-organik <>Bahkan indikasi kenaikan produktivitas padi dengan pemupukan yang intensif sudah mencapai titik jenuh (levelling off) dan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kesehatan tanah sawah. Terobosan teknologi merevitalisasi kualitas dan kesehatan tanah (soil health and quality) serta meningkatkan produktivitas tanaman padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan biologis tanah dalam Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO).

Mengapa harus IPAT-BO? karena IPAT-BO adalah sistem peningkatan produksi holistik yang hemat bibit, air dan pupuk anorganik dengan menitikberatkan pada managemen kekuatan biologis tanah, tanaman, tata air/udara dan pemupukan secara terpadu (by design). IPAT-BO merupakan teknologi andalan dan solusi cepat untuk membangun kedaulatan pangan dan menjadi eksportir beras karena IPAT mampu memberikan kenaikan hasil setidak-tidaknya sekitar 50% dibandingkan dengan pertanian padi sawah konvensional (anaerob). Percepatan penerapan IPAT dapat dilakukan melalui penyebaran DEMPLOT dan Pelatihan Petani maupun Penyuluh serta program pendampingan petani di berbagai Kabupaten. Program pendampingan dapat mengadopsi konsep ABG (Academic, Bussines, Goverment) dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Akademisi, Pelaku Bisnis dan Government atau Pemerintah).

Oleh karena itu disarankan agar perlu dibentuk kelompok Kerja Nasional maupun Daerah (POKJA) dari berbagai Instansi terkait dan stakeholder (Swasta dan Petani) atau memanfaatkan kelembagaan yang telah ada. Perlu disusun perencanaan Master Plan (blue print) tahapan dan target waktu (3 - 5 tahun) untuk mencapai kemandirinan pangan dan menjadi eksportir beras; serta perlu dilakukan perbaikan infrastruktur untuk menunjang kegiatan pertanian khususnya dalam infrastruktur pengairan dan transportasi.

Seminar tersebut berjalan lancar dan dialogis dimana banyak pertanyaan yang sampai pada pembicara dapat dijawab secara memuaskan bahkan tidak ada peserta yang beranjak dari tempat duduknya sejak awal hingga berakhirnya seminar. Para peserta pulang dengan membawa ilmu pertanian dan sertifikat. Demikian pula dengan para sumber, mereka diberikan ulos dari Pdt.WTP Simarmata, MA sebagai ungkapan sukacita dan terimakasih atas kesediaan mereka untuk berbagi ilmu pada seminar tersebut.


Rabu, 21 Mei 2008

Asrama PGIW SUMUT

Pembangunan Christian Centre SUMUT






Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Centre yang direncanakan oleh PGIWSU (PGI Wilayah Sumut). Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara (YUKSU) yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre pada tanggal 8 Mei 2008 di kompleks PGIW Sumut.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Centre itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan koran Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Ketua umum YUKSU Nelson Parapat SH pun setuju dengan kesepakatan tersebut pada tanggal 3 Mei 2008.


Peletakan batu pertama (8/5) ini dilaksanakan dengan penuh sukacita karena dirangkai dengan ibadah. Diperkirakan asrama tersebut selesai dikerjakan selama 7 bulan dengan banyak kamar 50 buah dan daya tampung 100 lebih mahasiswa. Acara ini dihadiri oleh banyak orang penting seperti Plt. Sekda Pemprovsu Dr. Drs. R.E. Nainggolan, DR. GM Panggabean, para pendeta dan para utusan ormas-ormas se-Sumut.

Senin, 05 Mei 2008

Penanaman Pohon

Sekjend HKBP dan Sekjend LCA (Lutheran Church of Australia) menghadiri “Workshop and Replanting Trees” di Tele, HKBP Harian Boho, Samosir.


Pada tanggal 28 April 2008, Sekjend HKBP Pdt. W.T.P. Simarmata, MA bersama ibu boru Purba dan Sekjend LCA, Pdt. Dr. Wayne Zweck bersama istrinya Wendy Zweck, menghadiri kegiataan Workshop and Replanting Trees di HKBP Harian Boho Samosir. Kegiatan ini adalah kerjasama antara HKBP Harian Boho Distrik VII Samosir, Pengembangan Masyarakat (Pengmas HKBP, Pdt. R.J.Gultom, S.Th bersama tim ) dan LCA (Lutheran Church of Australia).


Kegiatan ini diawali acara kebaktian dengan pengkotbah Pdt. Dr. Wayne Zweck yang mengambil nats khotbah dari Kejadian 1:31 (sebagai tema kegiatan) “ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik”. Di dalam khotbahnya, beliau menekankan bahwa segala ciptaan Allah pada hakikatnya adalah baik. Untuk itu tugas manusia adalah memeliharanya bukan merusak.



Setelah acara kebaktian, dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan pembicara yaitu:

1. Dinas Kehutanan Kabupaten Samosir, Limbong

2. Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, STh

3. Pendeta Ressort Harian Boho, Pdt. Andi SH Lbn Gaol, S.Th

4. Sekjend HKBP, Pdt. W.T.P. Simarmata, MA.



Dinas Kehutanan Kab. Samosir menegaskan bahwa keberlangsungan hutan sudah menjadi tanggungjawab bersama yaitu masyarakat dan pemerintah. Pemerintah secara terbuka untuk bekerjasama dengan masyarakat untuk program penghijauan termasuk untuk memfasilitasi kegiatan penghijauan. Apalagi mengingat bahwa keberadaan hutan di daerah kabupaten Samosir sangat memprihatinkan. Dinas Kehutan telah melaksanakan beberapa kegiatan penghijauan untuk merehabilitasi hutan seperti yang dilakukan di Tele, dan di Ronggur ni Huta. Untuk itu perlu kerjasama dengan masyarakat untuk menjaganya supaya usaha itu membuahkan hasil.


Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, Sth mengajak peserta untuk merenung bahwa Allah menciptakan manusia dan tempat tinggalnya yaitu Tanah, Laut dan Langit (Kej 2:5-15). Allah memberikan kuasa kepada manusia berupa tugas untuk memelihara seluruh isi bumi ini dengan bertanggungjawab. Melalui Yesus Kritus seluruh ciptaan telah diperbaharui dari dosa dan kerusakan, sehingga dengan pembaharuan ini manusia semakin menyadari akan tugasnya untuk melestarikan bumi ini. Tetapi yang terjadi sungguh mengenaskan, manusia melupakan tugasnya. Manusia merusak lingkungan dengan membakar, menebangi hutan dan mengotori air dan udara. Sehingga terjadi dampak berupa banjir, panas, gempa, polusi udara dan air. Untuk itu manusia harus sedini mungkin mengakhiri tindakan merusak berobah menjadi memelihara, mencintai alam, membatasi dan menahan diri, dan menata ulang lingkungan.


Pdt. Andy SH. Lbn Gaol, Sth menyajikan bahan seminar dengan judul “Strategi Penyelamatan Hutan Partungko Naginjang (Tele) dan Sekitarnya” sebagai usaha untuk meminimalisasi ancaman pemanasan global. Diawal seminarnya, beliau memaparkan Pemanasan Global sudah menjadi agenda pembahasan utama di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini. Seperti pertemuan pada tahun 2007 di Bali, yang membicarakan prinsip- prinsip tentang hutan yang menegaskan bahwa Negara-negara pemilik hutan harus melindungi hutan sehingga pemanasan global tidak meluas. Pemanasan Global terjadi akibat dari eksploitasi manusia terhadap alam dengan sewenang-wenang tanpa memikirkan dampak. Untuk itu perlu proses penyadaran, proses Sense of Belonging (bahwa hutan adalah ciptaaan Tuhan yang diberikan terhadap keberlangsungan hidup manusia), melakukan kerjasama yang aktif, mengevaluasi dan merencanakan secara aktif, berani dan bertanggungjawab untuk melibatkan diri secara positif dalam usaha pengelolahan hutan.


Terakhir, Sekjend HKBP, Pdt.W.T.P.Simarmata, MA, menekankan bahwa Paradigma Pembangunan harus dirobah. Pembangunan sering disebut sebagai ukuran kemajuan, yaitu kalau ada perbaikan ekonomi, penguasaan teknologi, hidup mewah, gedung-gedung bertingkat, dsb. Menurut beliau, karena terjebak dalam pemahaman tentang paradigma Pembangunan yang lama itulah menimbulkan dampak yang mengenaskan bagi manusia dan juga bumi ini. Pada kenyataannya, Pembangunan identik dengan pengrusakan lingkungan hidup, semakin banyak pelanggaran HAM, penindasan dan bahkan justu mengakibatkan kemiskinan. Sebagai contoh, sekarang banyak didirikan Rumah Sakit, tetapi banyak orang miskin yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Demikian juga banyak berdiri sekolah-sekolah tetapi justru banyak orang yang tidak mengecap pendidikan. Untuk itu perlu Paradigma Baru, tanda atau ukuran kemajuan adalah apabila semuanya harus mementingkan dan berpusat pada rakyat (People Centre Development), lingkungan hidup dan kemandirian (termasuk kemandirian ekonomi, bebas dari penindasan rentenir). Oleh karena itu, beliau tidak setuju jika ada dana Community Development dari perusahaan diberikan kepada pemerintah untuk mengelolanya, tetapi beliau mengharapkan dana itu langsung diberikan kepada rakyat agar cepat dirasakan dan diterima oleh rakyat. Untuk mencapai semuanya itu, perlu tindakan aktif berupa partisipasi seluruh rakyat untuk menciptakan Keadilan Ekonomi, Ekologi dan Etika.


Setelah kegiatan seminar, acara dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai aksi nyata dari kesadaran akan pentingnya kehadiran hutan di tengah-tengah kehidupan manusia ini. Secara simbolis, penanaman pohon dilakukan secara terpisah oleh Pdt.W.T.P.Simarmata, MA, Ibu boru Purba, Pdt.Dr. Wayne Zweck, Wendy Zweck, Pdt. Effendy Purba,S.Th , Pdt. Andy SH Lbn Gaol, S.Th, Dinas Kehutanan Kab.Samosir dan utusan-utusan dari berbagai desa dan denomisasi gereja. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana tetapi seluruh peserta bersuka cita. Setelah acara makan siang, dilanjutkan dengan “mandok hata” dan memberikan cenderamata “ulos” terhadap pembicara yaitu kepada Sekjend LCA dan ibu, disampaikan oleh Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, S.Th. Kepada Sekjend HKBP, Pdt.W.T.P.Simarmata, MA dan ibu, disampaikan oleh Pendeta Ressort HKBP Harian Boho Pdt. Andy SH Lbn Gaol, S.Th. Kemudian ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan utusan disampaikan oleh Sekjend HKBP dan pemberian cenderamata berupa Spandel dan buku praktis tentang beternak Babi (Pengmas) oleh Sekjend LCA.


Christian Center




PGIW Sumatera Utara bersama Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara

Membangun Christian Center




Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Center yang direncanakan oleh PGIWSU. Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan yayasan Umat Kristen Sumatera Utara yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis akan terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2008 di lokasi Christian Center pukul 10.00 Wib.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Center itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Selain Christian Center, PGIWSU juga mempunyai program untuk membangun Kampus PGI dan Asrama PGI.

Minggu, 04 Mei 2008

.

Mempertahankan HKBP Ressort Binjai Baru



Pada pukul 00.00 Wib tanggal 1 Mei 2008 di kota Binjai, telah dilaksanakan kesepakatan Musyawarah Pimpinan Daerah Kota Binjai (MUSPIDA) Plus dengan Panitia Pembangunan dan Forum Ummat Islam Bersatu dalam upaya penyelesaian pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru. Pada bulan April 2008 tepatnya setelah usai Pilkada Gubsu/Wagubsu, ada upaya untuk merobohkan Gereja HKBP Binjai Baru oleh masyarakat kelurahan Jati Makmur Kota Binjai yang tidak setuju akan pendirian gereja (yang telah ada di tahun 2001) di daerah mereka. Berita upaya pembongkaran gereja dan kesepakatan tersebut tersebar dari wilayah Sumut hingga Singapura dan Australia melalui website salah satu surat kabar di Sumut. Pihak HKBP tidak tinggal diam, Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA segera membentuk tim Advokad untuk menyelesaikan kasus tersebut dan iapun memberikan penghiburan kepada seluruh jemaat HKBP Binjai Baru agar kuat menghadapi situasi tersebut.

Keputusan Bersama yang merugikan pihak gereja HKBP Resort Binjai Baru Jl. DR Wahidin Lk. II Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Walikota Binjai yang berisikan:

1. Pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru tidak dilanjutkan dan diambil alih oleh Pemerintah Kota Binjai beserta lahan pertapakannya menjadi asset Pemerintah Kota Binjai.

2. Pemerintah Kota Binjai bersama-sama dengan pihak Panitia Pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru, Perwakilan Forum Ummat Islam Bersatu dan Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) Kota Binjai mencari lokasi yang sesuai untuk pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru.

3. Pemerintah Kota Binjai mengganti rugi/mengkompensasi bangunan beserta lahan pertapakannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku melalui dana APBD Kota Binjai.

4. Waktu penyelesaian akhir Desember 2008 dan apabila belum terpenuhi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri No. 8 dan 9 akan dimusyawarahkan kembali.

5. Masing-masing pihak segera mensosialisasikan hasil Keputusan Bersama ini kepada seluruh anggota dan jajaran masing-masing serta tetap menjaga ketentraman, ketertiban dan kerukunan ummat beragama di Kota Binjai.


Ketua Panitia Pembangunan Gereja HKBP Binjai G. T. Siregar mengaku terpaksa menandatangani Surat Keputusan Bersama tersebut karena ada ultimatum dari Tim Muspida Plus yang mengatakan: pada tanggal 1 mei harus ada keputusan dan jika tidak ada keputusan maka kami akan meruntuhkan gereja tersebut”. Ultimatum itu diwujudkan-nyatakan dengan sikap Pemko yang membawa alat berat ke lokasi untuk merobohkan gereja. Kondisi surat Keputusan Bersama sangat tidak sah karena tidak memiliki stampel institusi, kop surat, nomor surat apalagi logo institusi sehingga surat tersebut hanya dianggap sebagai gertakan. Untuk sementara lokasi gereja tersebut masih diamankan oleh kepolisian dengan melintangkan garis polisi (police line).

Keputusan Bersama yang dikeluarkan pada tanggal 1 Mei tersebut ditolak oleh jemaat HKBP Binjai Baru melalui Praeses HKBP distrik XXIII Langkat Pdt. Monang Silaban, STh pada malam harinya setelah dirapatkan terlebih dahulu bersama Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA dan tim Advokasi L. Sihotang SH, B. Sidauruk SH, dan O. Nainggolan SH. Adapun isi penolakan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa kami menolak keputusan Rapat Muspida Plus Kota Binjai, karena tidak sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Bahwa peralihan asset HKBP termasuk gereja HKBP Binjai Baru, hanya dapat dilakukan/dialihkan oleh pucuk pimpinan HKBP sesuai dengan aturan yang berlaku.
  3. Kami tetap mengharapkan pemerintah Kota Binjai menjalankan tugas dan kewajibannya sebagaimana tertera pada pasal 4 jo Pasal 6 Peraturan Bersama Menteri Agama No. 8 dan No. 9 tahun 2006.
  4. Menyerahkan sepenuhnya keamanan dan keutuhan gedung gereja HKBP Binjai Baru kepada Pemko Binjai dan aparat kepolisian Polresta Binjai, agar tidak ada yang mengganggunya karena gedung gereja tersebut adalah milik HKBP dan belum diserahkan kepemilikannya kepada pihak manapun oleh pucuk pimpinan HKBP.

Sebelum dikeluarkan surat penolakkan tersebut, jemaat HKBP Binjai Baru merasa resah dan putus asa atas kejadian tersebut. Namun kehadiran Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA pada saat ibadah Pesta Zending Huria tanggal 1 Mei 2008 memberikan penghiburan dan kekuatan kepada seluruh jemaat bukan hanya itu Sekjen HKBP juga memberikan beras sipir ni tondi kepada seluruh jemaat untuk tetap teguh dalam menghadapi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dalam menunjukkan sikap penolakkan dari seluruh jemaat HKBP Binjai Baru maka pada tanggal 5 Mei 2008 bersepakat untuk melakukan unjuk rasa damai di gedung DPRD pukul 10.00 Wib.

.

PGIW Sumatera Utara
bersama Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara
Membangun Christian Center




Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Center yang direncanakan oleh PGIWSU. Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan yayasan Umat Kristen Sumatera Utara yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis akan terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2008 di lokasi Christian Center pukul 10.00 Wib.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Center itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Selain Christian Center, PGIWSU juga mempunyai program untuk membangun Kampus PGI dan Asrama PGI.