Senin, 14 Juli 2008

Pesta Pembangunan Gereja Sending HKBP Sungai Bantal:Terpanggil Untuk Bersaksi dan Membangun Kehidupan yang Bermartabat

Pesta Pembangunan Gereja Sending HKBP Sungai Bantal:

Terpanggil Untuk Bersaksi dan Membangun Kehidupan yang Bermartabat

(Marturia yang Diakoni)

�HKBP adalah Gereja yang ber-Sending�. Ungkapan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi HKBP. Bukan hanya karena HKBP di dalam sejarahnya sebagai buah upaya sending, tetapi oleh karena kesetiaan terhadap pengutusan Yesus Kristus sebagai �Raja Gereja� untuk memberitakan Injil ke semua bangsa dan kepada semua makhluk (Markus 16:15). Untuk itulah HKBP berkewajiban untuk memberitakan Injil dan membawa jiwa kepada pengenalan di dalam iman kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia. Akan tetapi, jemaat HKBP mungkin tidak semua tahu jikakalau HKBP telah memiliki daerah sending sendiri. Atau sudah banyak jemaat yang tahu akan tetapi tidak mengenal persis bagaimana situasi dan kondisi daerah sending HKBP.

HKBP telah menjalankan kegiatan penginjilan ke berbagai daerah, salah satunya adalah Pulau Rupat sejak 1969. Di Pulau Rupat, HKBP telah mendirikan 6 Pos Pekabaran Injil yaitu: Pos PI Kuala Simpur, Pos PI Hutan Ayu, Pos PI Sungai Bantal, Pos PI Sungai Carok, Pos PI Sungai Raya dan Pos PI Gunap dengan jumlah jemaat berkisar 1448 jiwa. Telah dibangun pula 2 Balai Pengobatan, yaitu di Hutan Pancur dan Sei Bantal, dan 2 Balai Pendidikan yaitu di Hutan Ayu dan di Sei Bantal.

Penduduk Pulau Rupat terdiri dari Suku Akit, Melayu, Jawa, Etnis Thionghoa dan Batak. Masyarakat Pulau Rupat masih dibelit berbagai masalah kehidupan. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih sangat memprihatinkan. Mata pencaharian penduduk adalah bertani, nelayan dan pedagang. Pencaharian hanya cukup untuk konsumsi keluarga. Beredar rumor bahwa Pulau Rupat akan menjadi sentra industri dengan jalur Malaysia, Singapura, Rupat dan Batam, sehingga tanah di Pulau Rupat menjadi incaran para pemilik modal. Tidak jarang penduduk setempat menjual tanah mereka dengan harga murah. Tingkat kesehatan juga sangat rendah. Selain karena kemiskinan, juga diakibatkan oleh masih minimnya tenaga medis dan kepercayaan kepada dukun didalam mengobati penyakit. Menurut salah seorang tenaga medis di Puskesmas Hutan Ayu, dr. Tota Br.Simorangkir, angka kematian bayi dan ibu saat melahirkan sangat tinggi di Rupat. Di samping karena usia menikah yang relatif muda, mereka lebih memilih dukun anak daripada bersalin ke Puskesmas.

Malam Penggalangan Dana

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Dumai dengan menumpangi kapal yang disediakan oleh panitia. Perjalanan ke Pulau Rupat sekitar 5 jam. Undangan yang hadir berjumlah sekitar 120 orang yang berasal Rombongan undangan berasal dari berbagai ressort yaitu dari HKBP Dumai, HKBP Sukajadi, HKBP Ressort Bunga Tanjung, HKBP Helvetia I Medan, HKBP Marthin Luther, HKBP Immanuel, HKBP Bukit Datuk, dan HKBP Bengkalis. Ikut juga bersama rombongan, Sekjen HKBP Pdt.W.T.P. Simarmata bersama ibu, Pdt. Tendens Simanjuntak, STh (Kepala Biro Pekabaran Injil HKBP), Pdt. Sedyo Joyo (pendeta di Biro PI HKBP), Pdt. L. Butarbutar,STh (Pendeta ressort HKBP Dumai), Pdt.A. Aritonang, SMTh (pendeta ressort HKBP Sukajadi), Pdt. Nikson Samosir, STh (pendeta HKBP Helvetia Melati Medan), Pdt. R. Silaban, STh (pendeta ressort HKBP Immanuel).

Sesampainya di Pelabuhan Selat Morong Pulau Rupat, seluruh undangan langsung disambut jemaat dengan sukacita, merubah suasana di dalam keletihan menjadi semangat kembali. Rombongan masih harus berjalan sejauh 2 km untuk sampai ke gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal. Sesampainya di Gereja, rasa lapar dan letih terpulihkan dengan hidangan ala kadarnya berupa ubi rebus dan minuman hangat. Walau rombongan tidak sempat lagi untuk mandi karena keterbatasan waktu, acara Malam Penggalangan Dana disambut dengan sukacita. Acara dimulai dengan kebaktian malam yang dipimpin oleh Diak. Sarma Sinaga (litugis) dan Pdt. Sampe Waruwu, STh sebagai pengkotbah (Koordinator Pekabaran Injil Wilayah Pulau Rupat). Pdt.Sampe Waruwu, STh dalam khotbah (Matius 28:18) menekankan bahwa Pemberitaan dan Pewartaan Injil adalah Amanah Agung Yesus Kristus yang telah bangkit karena Pekabaran Injil sangat erat berkaitan dengan keselamatan dunia ini. Oleh karena itu tugas Pekabaran Injil di dalam tugas gereja mesti dilanjutkan dan diwariskan secara berkesinambungan di sepanjang sejarah hingga kesudahannya. Di dalam perjalanannya, Pekabaran Injil memang memiliki konsekuensi dan bahkan membutuhkan pengorbanan. Tetapi oleh karena penyertaan Roh Kudus, segala hambatan dapat diatasi dan Roh Kudus jugalah menguatkan untuk menjalani segala konsekuensinya. Pdt. Sampe Waruwu, STh merefleksikan keadaan Pekabaran Injil di Pulau Rupat sebagai daerah sending HKBP. Pekabaran Injil di Pulau Rupat sudah 39 tahun tetapi keadaan sangat memprihatinkan (sejak 1969, tetapi pembaptisan 28 Nopember 1971). Menurunnya pelayanan karena kurangnya para pelayan yang ditugaskan, padahal tugas pelayanan semakin banyak dan meluas. Secara fisik, bangunan gereja sudah lapuk termakan usia karena terbuat dari kayu. Ini dikarenakan masih kurangnya perhatian, padahal tugas Pekabaran Injil adalah Amanah Yesus Kristus, tetapi cenderung dilupakan dan dikesampingkan. Untuk itulah seluruh jemaat mesti menyemangati Pekabaran Injil kembali agar Nama Tuhan Yesus Kristus dimuliakan di bumi.

Acara kebaktian diisi dengan lagu pujian yang dibawakan oleh anak Sekolah Minggu dan anak Remaja Pos PI Sungai Bantal. Saat mengharukan adalah ketika anak-anak Sekolah Minggu menyanyikan lagu �Boan Sadanari� sebagai Motto Tahun Marturia. Setelah acara kebaktian berakhir dilanjutkan dengan makan malam ala kadarnya, dan diisi dengan acara tortor dan lelang. Setelah acara selesai (jam 23.30), tempat penginapan rombongan diatur di rumah-rumah jemaat .

Kebaktian Minggu

Prosesi dimulai dari rumah Pdt. Sampe Waruwu, STh. Rombongan prosesi disambut anak Sekolah Minggu dan mengalungkan bunga kepada Sekjen HKBP dan seluruh pendeta yang hadir. Jemaat sudah memenuhi tempat ibadah dengan kerinduan untuk bersekutu dan mendengar FirmanNya. Acara kebaktian dimulai jam 08.30 sebagai Liturgis adalah Pdt. Tendens Simanjuntak, STh dan pengkhotbah Pdt. W.T.P. Simarmata, MA. Sekjen HKBP Pdt.W.T.P. Simarmata, MA mengangkat nas khotbah dari Yeremia 29:4-14. Beliau menekankan di dalam khotbahnya bahwa ciri khas umat Kristen adalah dipanggil menjadi berkat bagi bangsa lain, seperti Abraham �Bapa Orang Percaya� yang dipanggil Tuhan menjadi berkat bagi bangsa lain. Demikian juga halnya dengan Pekabaran Injil adalah untuk membangun martabat dan membangun kesejahteraan kemanusiaan. Gereja hadir menjadi berkat bagi orang lain (the church for others), seperti Yesus yang berkorban dan mati bagi orang lain. Walau terkadang diuji, Tuhan tidak menginginkan umatNya menderita dan sengsara. Tuhan selalu menjanjikan Damai Sejahtera bagi umatNya. Untuk itulah umat harus senantiasa berdoa kepada Tuhan meminta peyertaan dan pertolonganNya. Tuhan menjanjikan Penyertaan ketika umatNya di dalam berpengharapan. Lebih janjut lagi, Sekjen mengimbau di dalam khotbah, bahwa Tuhan menginginkan umatNya untuk bekerja keras memperbaiki kehidupan, memberi keteladanan, mengampuni, menghormati orang tua, membangun damai dengan menjauhkan perseteruan, dan membangun kebersamaan. Beliau merefleksikan bahwa Rupat dipanggil Tuhan untuk �Ber-Marturia yang Diakoni� yaitu Bersaksi tetapi membangun kehidupan. Memberitakan Firman Tuhan adalah membangun kehidupan yang lebih baik dan membangun kesejahteran (melawan kebodohan, kemiskinan dan penyakit). Bersaksi dan membangun kehidupan adalah Pekabaran Injil yang sejati.

Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang dan lelang yang diselingi dengan tortor. Seluruh undangan mendapat kesempatan untuk manortor sesuai dengan asal gerejanya. Satu hal yang sangat mengharukan adalah atas kehadiran seorang jemaat (dipanggil �Ma Tua�) yang dibaptis menjadi Kristen 28 November 1971 (sebagai tahun lahirnya jemaat Pos PI Sungai Bantal). Amang Sekjen mendaulat beliau untuk manortor bersama para pendeta dan jemaat dengan rasa terharu memberikan �Tumpak� kepada �Ma tua�. Setelah itu �Ma Tua� rasa terharu menyampaikan rasa terima kasihnya atas kedatangan undangan dan berpesan agar jemaat di Pulau Rupat jangan diabaikan, sehingga mereka semakin teguh di dalam iman untuk mempercayai Yesus Kristus sebagai Juru Selamat.

Acara berakhir jam 15.00 sore, dan dana yang terkumpul pada pesta pembangunan gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal berkisar 60 juta. Jemaat HKBP jangan tinggal diam untuk memajukan daerah sending. Jemaat Pulau Rupat adalah buah dari penginjilan HKBP, oleh karena itu tanggungjawab itu harus diemban. �Sapala naung tapungka, denggan ma tapareahi�.

foto.jpg

Pdt. Sedyo Joyo, Pdt. Tendens Simanjuntak, STh (Ka Biro Pekabaran Injil), Pdt. W.T.P.Simarmata, MA (Sekjen HKBP) dan Pdt. L. Butar-butar,STh (Pendeta Ressort HKBP Dumai) dalam perjalanan laut menuju Pulau Rupat.

foto6.jpg

Rombongan tiba di Pelabuhan Selat Morong Pulau Rupat.

fot3.jpg

�MaTua� (posisi duduk, salah seorang jemaat yang dibaptis menjadi Kristen pada tanggal 28 Nopember 1971 sebagai Hari berdirinya Gereja Sungai Bantal) didaulat manortor bersama para pendeta.

foto5.jpg

Anak Sekolah Minggu Pos PI Sungai Bantal menyanyikan koor di Malam Penggalangan Dana.

foto7.jpg

Jemaat dengan hikmah beribadah di Malam Penggalangan Dana.

foto4.jpg

Gereja Pos PI HKBP Sungai Bantal (gambar dalam depan) yang akan dibangun.

Selasa, 03 Juni 2008

Seminar Sehari


“Tongkat dan Kayu jadi Tanaman”

(Seminar Sehari: Pelipatgandaan Produksi Padi dan Percepatan Kedaulatan Pangan di Indonesia)

Indonesia sebagai negara agraris memiliki banyak potensi penghasil pangan nasional. Menurut data dari BPS Provinsi Sumut, 73,95 % aktivitas masyarakat Sumut hidup di sektor pertanian. Namun hasil yang diproduksi oleh para petani belum maksimal dimana produksi padi sebesar 3.007.636 Ton/tahun. Banyak metode yang dikembangkan para petani namun belum mengangkat kedaulatan pangan di wilayah Sumut bahkan di Indonesia. Padahal Sumut memiliki curah hujan yang rata-rata 173,5 mm/tahun dan potensi air tanahnya sebesar 119,8 Milyar m3 /tahun. Apakah kedaulatan pangan di Indonesia khususnya Sumut (Tapanuli) dapat ditingkatkan? Apakah kesejahteraan petani akan dapat ditingkatkan dengan jerih payahnya di pertanian? Pada masa sulit seperti ini, dapatkah produksi padi dilipatgandakan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan pergumulan panjang para petani serta para pemerhati kehidupan petani, yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, HKBP yang peduli terhadap kesejahteraan hidup para petani mengadakan seminar sehari. Seminar ini digelar guna memaknai peringatan 100 Tahun Hari Kebangkitan Nasional dengan harapan agar kedaulatan pangan di Indonesia semakin bangkit dan meningkat. Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA yang memprakarsai seminar ini mengundang instansi-instansi pertanian, lembaga pendidikan (sekolah dan universitas), para mahasiswa, para rohaniawan, wartawan dan para petani. Seminar tersebut dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2008 di gedung PGI Wilayah Sumut.

Acara seminar diawali dengan ibadah pembuka yang dipimpin oleh Pdt. Sarlen Lumbantobing, MA yang mengajak setiap gereja agar meneruskan sikap Yesus yang peduli terhadap kebutuhan makanan (Matius 14:13-21). Firman Tuhan ingin mengingatkan agar peduli terhadap kesehatan tanah yang mendukung produksi pangan agar tercapailah seperti yang dikatakan orang dalam syair “tongkat dan kayu jadi tanaman”; serta meningkatkan SDM warga dalam mengelolah potensi alam yang Tuhan ciptakan. Selanjutnya acara dibuka oleh Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA dengan mengatakan bahwa kemajuan suatu bangsa diukur oleh kecerdasan warganya dan ditopang oleh tingkat produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Karenanya kita perlu memiliki konsep pembangunan yang cocok pada jaman ini agar mampu meningkatkan kehidupan masyarakat. Seminar ini membantu kita untuk melihat partisipasi rakyat, peran rakyat dan kebutuhan langsung rakyat untuk memperbaiki kehidupannya dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Seminar sehari tersebut mengusung tema Peran Pendidikan dan Teknologi untuk melipatgandakan produksi padi dan mempercepat pencapaian kedaulatan pangan di Tapanuli. Dengan nara dua sumbernya yang handal yaitu pertama, Prof. Dr. Ir. Tualar Simarmata, MS yang adalah Guru Besar UNPAD dengan judul Teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) untuk Melipatgandakan Produksi Padi dan Percepatan Kedaulatan Pangan di Indonesia. Nara sumber kedua, Ir. Parasetyo Sunarya, MT yang adalah Asdep Kementerian Riset dan Teknologi RI namun diwakili oleh Bapak Dr. Lukito Hasla, MS dengan judul Peran Kementerian Negara Ristek dalam Menunjang Pencapaian Kedaulatan Pangan Nasional. Alur diskusi dalam seminar semakin hangat ketika dipandu oleh Dr. Erikha Pardede.

Seminar tersebut menginformasikan bahwa kedaulatan pangan dapat ditingkat karena telah diketemukannya berbagai teknologi yang dapat melipatgandakan produksi (IPAT-BO). Ada beberapa komoditas pangan di Indonesia yaitu beras, jagung, kedelai, umbi-umbian dan aneka ragam pangan lainnya. Yang paling besar kebutuhan pangan di Indonesia adalah beras karena pertahunnya beras dibutuhkan sebanyak 35 juta ton serta mata rantai produksinya merupakan proses multifungsi dan multisektor. Alasan lainnya, karena beras memiliki kedudukan strategis yang memenuh hajat orang banyak; sesuai dengan karakteristik wilayah dimana didukung oleh letak geografis, iklim, tanah; oleh karena itu beras merupakan Pemersatu Bangsa.

Intensifikasi padi sawah dengan sistem tergenang (anaerob) tidak saja menyebabkan tidak berfungsinya kekuatan biologis tanah (soil biological power), tetapi juga menghambat perkembangan sistem perakaran tanaman padi. Dalam kondisi anaerob, keanekaragaman hayati (biodiversity) tanah sangat terbatas. Biota tanah yang aerob tidak dapat berkembang dan diperkirakan hanya sekitar 25% perakaran tanaman padi yang

berkembang berkembang dengan baik. Untuk membangun kemandirian dan ketahanan pangan (kedaulatan pangan) dengan luas panen hanya sekitar 11 juta ha, kita harus mampu meningkatkan produktivitas padi dari 4 – 6 ton/ha menjadi 6 – 8 ton/ha. Bila ingin menjadi ekspotir beras produktivitas padi harus ditingkatkan menjadi 8 – 12 ton/ha. Di lain pihak, hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa kadar C-organik pada lahan-lahan sawah di sentra produksi padi umumnya sudah rendah (<>han sawah dengan kadar C-organik <>Bahkan indikasi kenaikan produktivitas padi dengan pemupukan yang intensif sudah mencapai titik jenuh (levelling off) dan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kesehatan tanah sawah. Terobosan teknologi merevitalisasi kualitas dan kesehatan tanah (soil health and quality) serta meningkatkan produktivitas tanaman padi dapat dilakukan dengan memanfaatkan kekuatan biologis tanah dalam Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO).

Mengapa harus IPAT-BO? karena IPAT-BO adalah sistem peningkatan produksi holistik yang hemat bibit, air dan pupuk anorganik dengan menitikberatkan pada managemen kekuatan biologis tanah, tanaman, tata air/udara dan pemupukan secara terpadu (by design). IPAT-BO merupakan teknologi andalan dan solusi cepat untuk membangun kedaulatan pangan dan menjadi eksportir beras karena IPAT mampu memberikan kenaikan hasil setidak-tidaknya sekitar 50% dibandingkan dengan pertanian padi sawah konvensional (anaerob). Percepatan penerapan IPAT dapat dilakukan melalui penyebaran DEMPLOT dan Pelatihan Petani maupun Penyuluh serta program pendampingan petani di berbagai Kabupaten. Program pendampingan dapat mengadopsi konsep ABG (Academic, Bussines, Goverment) dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Akademisi, Pelaku Bisnis dan Government atau Pemerintah).

Oleh karena itu disarankan agar perlu dibentuk kelompok Kerja Nasional maupun Daerah (POKJA) dari berbagai Instansi terkait dan stakeholder (Swasta dan Petani) atau memanfaatkan kelembagaan yang telah ada. Perlu disusun perencanaan Master Plan (blue print) tahapan dan target waktu (3 - 5 tahun) untuk mencapai kemandirinan pangan dan menjadi eksportir beras; serta perlu dilakukan perbaikan infrastruktur untuk menunjang kegiatan pertanian khususnya dalam infrastruktur pengairan dan transportasi.

Seminar tersebut berjalan lancar dan dialogis dimana banyak pertanyaan yang sampai pada pembicara dapat dijawab secara memuaskan bahkan tidak ada peserta yang beranjak dari tempat duduknya sejak awal hingga berakhirnya seminar. Para peserta pulang dengan membawa ilmu pertanian dan sertifikat. Demikian pula dengan para sumber, mereka diberikan ulos dari Pdt.WTP Simarmata, MA sebagai ungkapan sukacita dan terimakasih atas kesediaan mereka untuk berbagi ilmu pada seminar tersebut.


Rabu, 21 Mei 2008

Asrama PGIW SUMUT

Pembangunan Christian Centre SUMUT






Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Centre yang direncanakan oleh PGIWSU (PGI Wilayah Sumut). Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara (YUKSU) yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama pembangunan asrama mahasiswa Christian Centre pada tanggal 8 Mei 2008 di kompleks PGIW Sumut.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Centre itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan koran Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Ketua umum YUKSU Nelson Parapat SH pun setuju dengan kesepakatan tersebut pada tanggal 3 Mei 2008.


Peletakan batu pertama (8/5) ini dilaksanakan dengan penuh sukacita karena dirangkai dengan ibadah. Diperkirakan asrama tersebut selesai dikerjakan selama 7 bulan dengan banyak kamar 50 buah dan daya tampung 100 lebih mahasiswa. Acara ini dihadiri oleh banyak orang penting seperti Plt. Sekda Pemprovsu Dr. Drs. R.E. Nainggolan, DR. GM Panggabean, para pendeta dan para utusan ormas-ormas se-Sumut.

Senin, 05 Mei 2008

Penanaman Pohon

Sekjend HKBP dan Sekjend LCA (Lutheran Church of Australia) menghadiri “Workshop and Replanting Trees” di Tele, HKBP Harian Boho, Samosir.


Pada tanggal 28 April 2008, Sekjend HKBP Pdt. W.T.P. Simarmata, MA bersama ibu boru Purba dan Sekjend LCA, Pdt. Dr. Wayne Zweck bersama istrinya Wendy Zweck, menghadiri kegiataan Workshop and Replanting Trees di HKBP Harian Boho Samosir. Kegiatan ini adalah kerjasama antara HKBP Harian Boho Distrik VII Samosir, Pengembangan Masyarakat (Pengmas HKBP, Pdt. R.J.Gultom, S.Th bersama tim ) dan LCA (Lutheran Church of Australia).


Kegiatan ini diawali acara kebaktian dengan pengkotbah Pdt. Dr. Wayne Zweck yang mengambil nats khotbah dari Kejadian 1:31 (sebagai tema kegiatan) “ Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik”. Di dalam khotbahnya, beliau menekankan bahwa segala ciptaan Allah pada hakikatnya adalah baik. Untuk itu tugas manusia adalah memeliharanya bukan merusak.



Setelah acara kebaktian, dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan pembicara yaitu:

1. Dinas Kehutanan Kabupaten Samosir, Limbong

2. Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, STh

3. Pendeta Ressort Harian Boho, Pdt. Andi SH Lbn Gaol, S.Th

4. Sekjend HKBP, Pdt. W.T.P. Simarmata, MA.



Dinas Kehutanan Kab. Samosir menegaskan bahwa keberlangsungan hutan sudah menjadi tanggungjawab bersama yaitu masyarakat dan pemerintah. Pemerintah secara terbuka untuk bekerjasama dengan masyarakat untuk program penghijauan termasuk untuk memfasilitasi kegiatan penghijauan. Apalagi mengingat bahwa keberadaan hutan di daerah kabupaten Samosir sangat memprihatinkan. Dinas Kehutan telah melaksanakan beberapa kegiatan penghijauan untuk merehabilitasi hutan seperti yang dilakukan di Tele, dan di Ronggur ni Huta. Untuk itu perlu kerjasama dengan masyarakat untuk menjaganya supaya usaha itu membuahkan hasil.


Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, Sth mengajak peserta untuk merenung bahwa Allah menciptakan manusia dan tempat tinggalnya yaitu Tanah, Laut dan Langit (Kej 2:5-15). Allah memberikan kuasa kepada manusia berupa tugas untuk memelihara seluruh isi bumi ini dengan bertanggungjawab. Melalui Yesus Kritus seluruh ciptaan telah diperbaharui dari dosa dan kerusakan, sehingga dengan pembaharuan ini manusia semakin menyadari akan tugasnya untuk melestarikan bumi ini. Tetapi yang terjadi sungguh mengenaskan, manusia melupakan tugasnya. Manusia merusak lingkungan dengan membakar, menebangi hutan dan mengotori air dan udara. Sehingga terjadi dampak berupa banjir, panas, gempa, polusi udara dan air. Untuk itu manusia harus sedini mungkin mengakhiri tindakan merusak berobah menjadi memelihara, mencintai alam, membatasi dan menahan diri, dan menata ulang lingkungan.


Pdt. Andy SH. Lbn Gaol, Sth menyajikan bahan seminar dengan judul “Strategi Penyelamatan Hutan Partungko Naginjang (Tele) dan Sekitarnya” sebagai usaha untuk meminimalisasi ancaman pemanasan global. Diawal seminarnya, beliau memaparkan Pemanasan Global sudah menjadi agenda pembahasan utama di seluruh bangsa-bangsa di dunia ini. Seperti pertemuan pada tahun 2007 di Bali, yang membicarakan prinsip- prinsip tentang hutan yang menegaskan bahwa Negara-negara pemilik hutan harus melindungi hutan sehingga pemanasan global tidak meluas. Pemanasan Global terjadi akibat dari eksploitasi manusia terhadap alam dengan sewenang-wenang tanpa memikirkan dampak. Untuk itu perlu proses penyadaran, proses Sense of Belonging (bahwa hutan adalah ciptaaan Tuhan yang diberikan terhadap keberlangsungan hidup manusia), melakukan kerjasama yang aktif, mengevaluasi dan merencanakan secara aktif, berani dan bertanggungjawab untuk melibatkan diri secara positif dalam usaha pengelolahan hutan.


Terakhir, Sekjend HKBP, Pdt.W.T.P.Simarmata, MA, menekankan bahwa Paradigma Pembangunan harus dirobah. Pembangunan sering disebut sebagai ukuran kemajuan, yaitu kalau ada perbaikan ekonomi, penguasaan teknologi, hidup mewah, gedung-gedung bertingkat, dsb. Menurut beliau, karena terjebak dalam pemahaman tentang paradigma Pembangunan yang lama itulah menimbulkan dampak yang mengenaskan bagi manusia dan juga bumi ini. Pada kenyataannya, Pembangunan identik dengan pengrusakan lingkungan hidup, semakin banyak pelanggaran HAM, penindasan dan bahkan justu mengakibatkan kemiskinan. Sebagai contoh, sekarang banyak didirikan Rumah Sakit, tetapi banyak orang miskin yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan. Demikian juga banyak berdiri sekolah-sekolah tetapi justru banyak orang yang tidak mengecap pendidikan. Untuk itu perlu Paradigma Baru, tanda atau ukuran kemajuan adalah apabila semuanya harus mementingkan dan berpusat pada rakyat (People Centre Development), lingkungan hidup dan kemandirian (termasuk kemandirian ekonomi, bebas dari penindasan rentenir). Oleh karena itu, beliau tidak setuju jika ada dana Community Development dari perusahaan diberikan kepada pemerintah untuk mengelolanya, tetapi beliau mengharapkan dana itu langsung diberikan kepada rakyat agar cepat dirasakan dan diterima oleh rakyat. Untuk mencapai semuanya itu, perlu tindakan aktif berupa partisipasi seluruh rakyat untuk menciptakan Keadilan Ekonomi, Ekologi dan Etika.


Setelah kegiatan seminar, acara dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai aksi nyata dari kesadaran akan pentingnya kehadiran hutan di tengah-tengah kehidupan manusia ini. Secara simbolis, penanaman pohon dilakukan secara terpisah oleh Pdt.W.T.P.Simarmata, MA, Ibu boru Purba, Pdt.Dr. Wayne Zweck, Wendy Zweck, Pdt. Effendy Purba,S.Th , Pdt. Andy SH Lbn Gaol, S.Th, Dinas Kehutanan Kab.Samosir dan utusan-utusan dari berbagai desa dan denomisasi gereja. Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama secara sederhana tetapi seluruh peserta bersuka cita. Setelah acara makan siang, dilanjutkan dengan “mandok hata” dan memberikan cenderamata “ulos” terhadap pembicara yaitu kepada Sekjend LCA dan ibu, disampaikan oleh Praeses Distrik VII Samosir, Pdt. Effendy Purba, S.Th. Kepada Sekjend HKBP, Pdt.W.T.P.Simarmata, MA dan ibu, disampaikan oleh Pendeta Ressort HKBP Harian Boho Pdt. Andy SH Lbn Gaol, S.Th. Kemudian ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan utusan disampaikan oleh Sekjend HKBP dan pemberian cenderamata berupa Spandel dan buku praktis tentang beternak Babi (Pengmas) oleh Sekjend LCA.


Christian Center




PGIW Sumatera Utara bersama Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara

Membangun Christian Center




Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Center yang direncanakan oleh PGIWSU. Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan yayasan Umat Kristen Sumatera Utara yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis akan terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2008 di lokasi Christian Center pukul 10.00 Wib.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Center itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Selain Christian Center, PGIWSU juga mempunyai program untuk membangun Kampus PGI dan Asrama PGI.

Minggu, 04 Mei 2008

.

Mempertahankan HKBP Ressort Binjai Baru



Pada pukul 00.00 Wib tanggal 1 Mei 2008 di kota Binjai, telah dilaksanakan kesepakatan Musyawarah Pimpinan Daerah Kota Binjai (MUSPIDA) Plus dengan Panitia Pembangunan dan Forum Ummat Islam Bersatu dalam upaya penyelesaian pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru. Pada bulan April 2008 tepatnya setelah usai Pilkada Gubsu/Wagubsu, ada upaya untuk merobohkan Gereja HKBP Binjai Baru oleh masyarakat kelurahan Jati Makmur Kota Binjai yang tidak setuju akan pendirian gereja (yang telah ada di tahun 2001) di daerah mereka. Berita upaya pembongkaran gereja dan kesepakatan tersebut tersebar dari wilayah Sumut hingga Singapura dan Australia melalui website salah satu surat kabar di Sumut. Pihak HKBP tidak tinggal diam, Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA segera membentuk tim Advokad untuk menyelesaikan kasus tersebut dan iapun memberikan penghiburan kepada seluruh jemaat HKBP Binjai Baru agar kuat menghadapi situasi tersebut.

Keputusan Bersama yang merugikan pihak gereja HKBP Resort Binjai Baru Jl. DR Wahidin Lk. II Kelurahan Jati Makmur Kecamatan Binjai Utara Kota Binjai tersebut dilaksanakan di Ruang Rapat Walikota Binjai yang berisikan:

1. Pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru tidak dilanjutkan dan diambil alih oleh Pemerintah Kota Binjai beserta lahan pertapakannya menjadi asset Pemerintah Kota Binjai.

2. Pemerintah Kota Binjai bersama-sama dengan pihak Panitia Pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru, Perwakilan Forum Ummat Islam Bersatu dan Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) Kota Binjai mencari lokasi yang sesuai untuk pembangunan Gereja HKBP Resort Binjai Baru.

3. Pemerintah Kota Binjai mengganti rugi/mengkompensasi bangunan beserta lahan pertapakannya sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku melalui dana APBD Kota Binjai.

4. Waktu penyelesaian akhir Desember 2008 dan apabila belum terpenuhi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri No. 8 dan 9 akan dimusyawarahkan kembali.

5. Masing-masing pihak segera mensosialisasikan hasil Keputusan Bersama ini kepada seluruh anggota dan jajaran masing-masing serta tetap menjaga ketentraman, ketertiban dan kerukunan ummat beragama di Kota Binjai.


Ketua Panitia Pembangunan Gereja HKBP Binjai G. T. Siregar mengaku terpaksa menandatangani Surat Keputusan Bersama tersebut karena ada ultimatum dari Tim Muspida Plus yang mengatakan: pada tanggal 1 mei harus ada keputusan dan jika tidak ada keputusan maka kami akan meruntuhkan gereja tersebut”. Ultimatum itu diwujudkan-nyatakan dengan sikap Pemko yang membawa alat berat ke lokasi untuk merobohkan gereja. Kondisi surat Keputusan Bersama sangat tidak sah karena tidak memiliki stampel institusi, kop surat, nomor surat apalagi logo institusi sehingga surat tersebut hanya dianggap sebagai gertakan. Untuk sementara lokasi gereja tersebut masih diamankan oleh kepolisian dengan melintangkan garis polisi (police line).

Keputusan Bersama yang dikeluarkan pada tanggal 1 Mei tersebut ditolak oleh jemaat HKBP Binjai Baru melalui Praeses HKBP distrik XXIII Langkat Pdt. Monang Silaban, STh pada malam harinya setelah dirapatkan terlebih dahulu bersama Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA dan tim Advokasi L. Sihotang SH, B. Sidauruk SH, dan O. Nainggolan SH. Adapun isi penolakan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa kami menolak keputusan Rapat Muspida Plus Kota Binjai, karena tidak sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Bahwa peralihan asset HKBP termasuk gereja HKBP Binjai Baru, hanya dapat dilakukan/dialihkan oleh pucuk pimpinan HKBP sesuai dengan aturan yang berlaku.
  3. Kami tetap mengharapkan pemerintah Kota Binjai menjalankan tugas dan kewajibannya sebagaimana tertera pada pasal 4 jo Pasal 6 Peraturan Bersama Menteri Agama No. 8 dan No. 9 tahun 2006.
  4. Menyerahkan sepenuhnya keamanan dan keutuhan gedung gereja HKBP Binjai Baru kepada Pemko Binjai dan aparat kepolisian Polresta Binjai, agar tidak ada yang mengganggunya karena gedung gereja tersebut adalah milik HKBP dan belum diserahkan kepemilikannya kepada pihak manapun oleh pucuk pimpinan HKBP.

Sebelum dikeluarkan surat penolakkan tersebut, jemaat HKBP Binjai Baru merasa resah dan putus asa atas kejadian tersebut. Namun kehadiran Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA pada saat ibadah Pesta Zending Huria tanggal 1 Mei 2008 memberikan penghiburan dan kekuatan kepada seluruh jemaat bukan hanya itu Sekjen HKBP juga memberikan beras sipir ni tondi kepada seluruh jemaat untuk tetap teguh dalam menghadapi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dalam menunjukkan sikap penolakkan dari seluruh jemaat HKBP Binjai Baru maka pada tanggal 5 Mei 2008 bersepakat untuk melakukan unjuk rasa damai di gedung DPRD pukul 10.00 Wib.

.

PGIW Sumatera Utara
bersama Yayasan Umat Kristen Sumatera Utara
Membangun Christian Center




Dalam beberapa tahun belakangan ini, banyak warga Kristen yang mempertanyakan pengelolahan pembangunan Christian Center yang direncanakan oleh PGIWSU. Pertanyaan tersebut hanyalah seputar pengelolaan alokasi dana 2 Milyar yang dianggap tidak jelas, bahkan dipertanyakan pula tentang hubungan PGIWSU dengan yayasan Umat Kristen Sumatera Utara yang tidak akur dalam pengelolaannya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut otomatis akan terjawab ketika dilaksanakannya peletakan batu pertama yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2008 di lokasi Christian Center pukul 10.00 Wib.


Kesepakatan PGIWSU adalah agar pengelolaan dana pembangunan Christian Center itu dipimpin oleh Chandra Panggabean supaya dalam waktu singkat dananya dapat dialokalisasikan secara tepat. Kesepakatan tersebut tercetus oleh Ketua PGIWSU Pdt. WTP Simarmata, MA di kantor pimpinan Sinar Indonesia Baru (SIB) DR. GM. Panggabean. Selain Christian Center, PGIWSU juga mempunyai program untuk membangun Kampus PGI dan Asrama PGI.

Selasa, 15 April 2008

DIES NATALIS STT HKBP XXX

SEKJEN HKBP Pdt. WTP SIMARMATA, MA

AMBIL BAGIAN DALAM PERAYAAN DIES NATALIS STT HKBP XXX




Pada tanggal 12 April 2008, Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA membuka secara resmi acara perayaan Dies Natalis STT HKBP XXX di Jalan Sangnawaluh 6 Pematangsiantar. Acara ini dirangkum dalam tiga bagian yaitu Ibadah pembukaan, seminar dan malam nada bersama para alumni.


Pada perayaan Dies Natalis STT HKBP XXX ini dihadiri oleh banyak pendeta antara lain Kepala Departemen Diakonia Pdt. Nelson F. Siregar, STh, praeses Silindung Pdt. Welman P. Tampubolon, STh, praeses Sumatera Timur Pdt. Dr. Plasthon Simanjuntak, praese Tanah Alas Pdt. Marolop P. Sinaga, MTh, praeses Humbang Pdt. Rahman T. Munthe, MTh, praeses Jakarta-2 Pdt. Armada Sitorus, MTh, praeses Tebing Tinggi Deli Pdt. Victor Sihotang, STh, dan banyak lagi.

.
.
.

Pdt. WTP Simarmata, MA memandu ceramah
dari Ev. John Bidel Pasaribu, PhD

.

Dalam kata sambutannya, Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA mengungkapkan bahwa STT HKBP harus tetap menjaga mutu dari lulusannya, untuk mendukung itu maka peranan dan perhatian para alumni sangat berpengaruh untuk kemajuan almamaternya.

.

Tambah lagi, Sekjen HKBP mengatakan “untuk terjun ke masyarakat, lulusan STT HKBP hendaknya memperlengkap diri dengan disiplin ilmu yang lain dalam mengelolah gereja kelak seperti akuntansi, teknologi, hukum, pertanian, peternakan dan lain sebagainya. Hal itu telah diterapkan di Filipina dan Korea sehingga lulusan mereka telah matang dalam melayani.”

Seminar yang digelar dalam perayaan tersebut mengangkat pokok-pokok penting dalam peningkatan mutu dan kualitas STT HKBP, yaitu, STT HKBP Menghadapi Strategis yang berubah oleh M.S. Siahaan, SE, MM, M.Min, Pendidikan dan Pelatihan Menghadapi Globalisasi Dunia oleh Capt. Drs. Parlindungan Siahaan, MM, kedua pembicara ini dipandu oleh Pdt. Dr. Ir. Fridz P. Sihombing, Revitalisasi dan Efesiensi STT HKBP oleh Ev. John Bidel Pasaribu, PhD dengan moderator Pdt. WTP Simarmata, MA.

Pada kesempatan itu juga, Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA menjadi perantara dalam penyerahan penghargaan Muller-Kruger Awards kepada Pdt. Dr. Ir. Fridz Pardamean Sihombing yang disampaikan oleh Eyangka Desilva yang mewakili Muller-Kruger Fondation. Kegiatan ini berjalan dengan baik yang dihadiri oleh 200 orang peserta.


MP

Pesta Pembangunan HKBP Ebenezer

Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA
dalam Pesta Pembangunan HKBP Ebenezer dan Seminar
Distrik XXVI Labuhan Batu


Pada tanggal 13 April 2008, Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata, MA memimpin ibadah dan memeriahkan Pesta Pembangunan di Gereja HKBP Ressort Ebenezer Distrik XXVI Labuhan Batu. Jemaat yang telah menantikan kehadiran Sekjen HKBP menyambut dengan hangatnya. Gereja yang masih sederhana itu dipadati oleh 300 orang pada saat mendengarkan khotbah Sekjen HKBP. Sukacita meliputi ibadah sebab yang melayani mimbar adalah para pendeta dimana liturgis dibawakan oleh Praeses Labuhan Batu Pdt. STP Siahaan, pembacaan tingting dibawakan oleh Pendeta Ressort Ebenezer Pdt. T. Limbong dan yang berkhotbah adalah Sekjen HKBP Pdt. WTP Simarmata.

Firman Tuhan mengajak setiap jemaat untuk tetap bersukacita di dalam segala situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Zefanya 3: 14-20 merupakan janji Tuhan yang menjamin kesejahteraan bagi umatNya pada masa penderitaan. Jemaat disadarkan agar lebih mempercayai janji-janji Tuhan dalam firmanNya. FirmanNya tidak pernah berubah, apapun yang difirmankanNya pasti terjadi. Oleh karena itu, firman Tuhan menyapa setiap umatNya disegala masa baik masa lalu, masa kini maupun masa depan untuk menikmati janjiNya.

Partisipasi jemaat dalam kesuksesan Pesta Pembangunan Gereja HKBP Ebenezer sangatlah besar sebab semua aktif untuk ambil bagian dalam pekerjaan baik dalam melayani domestik, penginapan para tamu maupun menyumbangkan dana. Pesta ini dihadiri bukan saja jemaat lokal namun jemaat gereja tetanggapun ikut ambil bagian di dalamnya seperti HKI, GKPI, Pentakosta dll. Di tengah-tengah acara ini juga diadakan pelantikan pengurus harian PGI Daerah Labuhan Batu yang dilantik secara langsung oleh Ketua PGI Wilayah SUMUT Pdt. WTP Simarmata, MA.

Kebersamaan jemaat dengan Sekjen HKBP bukan saja berhenti pada kegiatan formal gerejawi namun dilanjutkan dengan sharing, berbagi pengalaman, masalah dan kendala yang dihadapi mereka selama ini melalui media seminar yang dilaksanakan pada tanggal 14 April 2008 di HKBP Ebenezer. Sekjen HKBP menyatakan bahwa tantangan pelayanan dipengaruhi oleh Sikap konservatif gereja, gereja sibuk memperkuat diri sebagai lembaga dan pengaruh globalisasi. Oleh karena itu, sikap yang inklusif sangat menentukan dalam gerak langkah gereja di masa depan serta media-media globalisasi harus dikuasai oleh semua pelayan.

Di saat kehadiran Sekjen HKBP inilah merupakan kesempatan besar jemaat untuk minta didoakan dalam menghadapi pergumulan mereka. Doa tersebut dilakukan secara bersama-sama bahkan ada yang didoakan secara pribadi. Salah satu jemaat HKBP Ebenezer mengaku bahwa semua jemaat dipuaskan oleh lawatan Tuhan melalui kehadiran Pdt. WTP Simarmata, MA. Pendeta yang kharismatis seperti inilah yang dinantikan oleh jemaat di HKBP. Banyak hal telah diterima oleh jemaat HKBP Ebenezer dengan kehadiran Sekjen HKBP bahkan diakhir pertemuan tersebut Sekjen HKBP membagikan banyak buku untuk menambah wawasan pelayan dan jemaat dalam melihat peluang untuk transformasi jaman.

MP

Kamis, 10 April 2008

Kata Sambutan Sekjen HKBP Pada Rapat Pendeta Se-Distrik II Silindung

Parapat, Distrik II Silindung mengadakan rapat Pendeta HKBP se-distrik Silindung yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 April 2008 di Mess HKBP Tornauli, Parapat dengan tema �Beritakanlah Injil Kepada Segala Mahkluk!� (Markus 16:15b). Rapat ini dibuka secara resmi oleh Ephorus HKBP, Pdt. Dr. B. Napitpulu dan ditutup oleh Ketua Rapat Pendeta, Pdt. Dr. J. Sirait. Pada tanggal 9 April 2008 tepatnya pada saat sebelum dilaksanakan Rapat Pleno, panitia memberikan kesempatan kepada Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA untuk memberikan kata sambutannya atas berjalannya Rapat Pendeta HKBP Distrik II Silindung. Berikut ini adalah rekaman singkat mengenai kata sambutan dari Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA.

sekjen.jpg

Sekjen HKBP, Pdt. WTP Simarmata, MA saat memberikan kata sambutan kepada peserta Rapat Pendeta.

Selamat Marrapot ma di hita!! Memang pada tahun ini kita sedang mempersiapkan Jubilium 150 Tahun HKBP yang disongsong dengan tahun Koinonia, Marturia dan tahun depan Diakonia. Sekedar mengingat kebelakang, Universitas Nommensen beserta sarana dan prasarananya di kompleks itu merupakan bagian dari peringatan ulang tahun HKBP, tugu peringatan di depan rumah dinas Sekjen HKBP merupakan tugu peringatan ulang tahun HKBP ke-100, serta buah dari ulang tahun HKBP ke-125 adalah gedung kantor pusat yang di atas dan Auditoriumnya. Jadi artinya setiap ada peringatan selalu ada tugu peringatan. Jadi mungkin untuk Jubilium ke-150 tahun kitalah yang memikirkan generasi yang sedang melayani saat ini di samping menjawab HKBP yang bagaimana kelak yang merayakan Jubilium ke-150. Pada saat ini, karena kita melangkah pada tahun Marturia maka bukan lagi kita menonjolkan monumental fisical tapi menatap medan pelayanan di HKBP kelak terutama di wilayah yang tradisional/pedesaan/petani yang dikategorikan miskin bahkan yang tidak dapat mambalanjoi dirinya sendiri. Apabila mereka tidak dapat mambalanjoi dirinya sendiri maka bagaimana mereka dapat mambalanjoi pelayan, kalau mereka tidak dapat mambalanjoi para pelayan maka bagaimana mereka bisa produktif dalam melayani, bagaimana mereka dapat membenahi segala sesuatu yang penting bagi hidupnya termasuk kesejahteraan, kesehatan.

Nommensen menerapkan pelayanan yang holistik dengan 4 bidang yaitu 25 % melayani di gereja (mendirikan gereja), 25% melayani di bidang pendidikan, 25% melayani di bidang kesehatan (mendirikan balai pengobatan), 25% pemberdayaan ekonomi. Tapi pada masa kini, banyak gereja hanya berfokus pada pelayanan di gereja sehingga jati diri kita yang sebenarnya hanya melayani 25%.

Dalam menyongsong tahun Marturia guna membangun kerajaan Allah maka diperlukan pemahaman teologinya, gereja bukan untuk membaptis, bukan mengkristenkan orang tetapi untuk membangun kerajaan Allah. Dalam hal membangun kerajaan Allah, orang-orang yang bersekutu di dalamnya mau dibaptis itu karena pertobatan oleh Roh Kudus. Inilah satu konsep teologi yang harus dianut dalam rangka hadir di tengah-tengah dunia yang sangat majemuk.

Perlu mengkaji ulang pemahaman pekabaran Injil karena yang kita pahami masih tradisional seperti penginjilan ke pulau Rupat, Mentawai dan orang-orang terbelakang. Tetapi sesungguhnya ada pemahaman baru yang disebut dengan era baru penginjilan yang bukan saja di daerah terpencil tapi juga harus menyentuh korban HIV/AIDS, jender, anak jalanan, aron di Sidikalang, kemiskinan, penjualan perempuan dan lain-lain.

Firman Tuhanmenunjukkan tentang oikumene yaitu pertama adalah oikos-monos (satu rumah) yaitu bumi ini adalah satu rumah untuk dihuni oleh umat manusia, yang kedua adalah oikos-nomos (ekonomi) yaitu bumi ini adalah sesuatu yang bisa menghasilkan kepada manusia. Yang ketiga adalah oikos-logos yaitu bumi ini harus dirawat, dijaga, dipetanggungjawabkan dan diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang. Inilah yang dikembangkan oleh Dewan Gereja se-Dunia yang membawa kita pada pemahaman Theo-Eko-Geo Oikumene. Theo Oikumene merupakan keyakinan bahwa Tuhan menciptakan dan sikap menghargai Tuhan yang menciptakan langit dan merawat bumi. Eko Oikumene yaitu menghargai bumi dengan merawat ekosistem dan merawat ciptaan Tuhan seperti tumbuhan dan lain sebagainya. Geo Oikumene (cth. geografi) yaitu penghargaan terhadap perbedaan (seperti suku, budaya, dll). Dengan pemahaman ini maka pendeta harus menjadi pionir untuk menunjukkan sikap oikumenis tersebut.

sekjen2.jpg

Sekjen HKBP menyerahkan buku kepada Praeses Distrik II Silindung, Pdt. Welman Tampubolon, S.Th